Desember 28, 2016
Cerita Tiga Kota
Bagi mahasiswa iseng seperti saya, yang masuk kuliah hanya karena iseng-iseng. Iseng ikut UMPTN, iseng memilih jurusan Bahasa Indonesia, dan iseng-iseng diterima. Ternyata Pentagon lantai 3 menjadi tempat yang bukan sekadar tempat iseng-iseng.
Di lantai 3 gedung Pentagon, saya bertemu Eddi Koben, Anka Wijaya, dan banyak nama lainnya (nama-nama lain akan saya ceritakan di lain waktu). Koben dan Anka, dua tahun lebih tua dibanding saya. Merekalah yang mengospek saya saat saya masuk ke kampus UPI (dulunya IKIP). Koben menjadi ketua himpunan saat itu. Anka, saya ingat dia juga bagian dari senior yang aktif (tidur) di kampus.
Saat masih tingkat satu, iseng-iseng saya main ke Himpunan yang letaknya di lantai 3 itu. Keisengan saya berlanjut, sampai akhirnya, saya lebih senang kuliah di sebuah ruangan bekas toilet dibandingkan kuliah di kelas. Saya lebih senang mendengarkan pelajaran dari para senior ketimbang menyimak pelajaran dari para dosen.
Bersama Koben dan Anka, saya seringkali menghabiskan malam-malam di kampus. Mencari buah-buahan yang matang, mencuri singkong di kebun orang, sampai suatu kali kami pernah mendapati ikan lele menggelepar di sebuah gedung asrama putri.
Koben orangnya kalem, baik hati dan tidak sombong. Dia tipe pria idaman wanita. Sedangkan Anka, laki-laki satu ini, punya kemampuan yang unik. Sinyalnya 4G jika berhubungan dengan mahasiswi. Dia akan tahu jika beberapa menit lagi akan ada mahasiswi yang datang. Saya seringkali merasa menjadi laki-laki juga jika sedang bersama mereka berdua.
Lantai 3 gedung tua itu menjadi saksi bagaimana saya belajar mencatat segala peristiwa. Menyusun sunyi jadi puisi. Menangkap riuh dan gelegak jadi sajak. Saya belajar menangkap kata-kata yang berhamburan untuk dituliskan. Di sana juga, saya mengasah kata-kata menjadi senjata.
Waktu bergulir. Saya melepaskan diri dari kampus, menyusur jalan sendiri. Belasan tahun saya berpisah dengan seluruh penghuni lantai 3. Belasan tahun berpisah adalah belajar memendam rindu, menyimpan baik-baik seluruh kenangan agar bisa dikenang di saat yang tepat.
Koben yang pertama menikah di antara kami bertiga. Dia sempat merantau ke Serang lalu kembali ke Cimahi. Saya sendiri menikah tahun 2009. Selepas menikah, saya menetap di Ciamis. Sedangkan Anka, akhirnya menikah di tahun ini dengan gadis Sukabumi. Sukabumi kini menjadi rumahnya.
Tahun 2016 mempertemukan kami kembali. Lalu muncul keinginan untuk membuat buku bersama. Sebagai pengajar, Koben ingin bukunya menjadi bahan bacaan pelajar. Maka dia memberi gambaran, bahwa cerpen-cerpen yang kami kirimkan untuk buku haruslah layak dibaca oleh pelajar.
Maka buku kumpulan cerpen Cerita Tiga Kota ini adalah bentuk reuni sederhana kami.
Desember 22, 2016
Menjadi Perempuan
Saya atau pun juga Anda, tentu tidak pernah bisa menentukan ingin dilahirkan sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Saya hanya memahami bahwa menjadi perempuan adalah menampung seluruh perasaan yang ada di alam semesta.
Menjadi perempuan adalah memahami seluruh duka nestapa yang dikirim pada seluruh umat manusia. Menjadi perempuan adalah belajar sepanjang hayat untuk selalu ikhlas menerima kepergian, dan terbuka pada segala kedatangan. Anak-anak yang pergi, lalu kembali saat mereka ingin kembali.
Menjadi perempuan tidak selamanya menjadi ibu. Tapi tidak ada perempuan yang tidak lahir dari seorang ibu.
Selamat hari perempuan. Selamat hari Ibu. Selamat hari Ibu. Selamat hari Ibu, untukmu....
November 29, 2016
Buku dan Dapur
Saya rasa, tak banyak orang yang berpikiran bahwa buku itu identik dengan dapur. Buku mungkin lebih identik dengan perpustakaan, ruang keluarga, cafe, atau sejumlah tempat lain yang lebih prestisius dibandingkan sebuah dapur. Namun bagi kami, buku sangatlah erat dengan dapur.
Dapur kami ngebul karena ada penerbit yang mau menerbitkan karya kami menjadi sebuah buku. Saya seringkali terbantu dengan buku-buku yang telah diterbitkan itu. Apalagi jika kondisi sedang terdesak. Kami sudah tak punya uang sama sekali. Sedangkan dalam hati, kami berjanji, bahwa kami sebisa mungkin untuk tidak meminta atau meminjam dalam urusan dapur.
Lalu saya mulai menghubungi beberapa teman yang belum memiliki buku kami. Saya tawarkan buku-buku kami itu kepada beberapa kawan. Dan beruntung, kami punya kawan-kawan yang peduli. Yang mau membeli buku di saat kami sedang terdesak keuangan. Saat itulah, saya seringkali merasa bahwa buku menyelamatkan hidup kami. Dapur kami ngebul kembali.
Suatu hari, tulisan kami tak ada satu pun yang dimuat di media. Ada honor tulisan, tapi entah kapan tiba. Sedangkan hari itu, uang kami hanya tinggal dua ribu rupiah saja. Saya memutar otak, mencoba mengingat, siapa kawan yang belum memiliki buku kami. Tapi saya menyerah.
Entah kenapa, saat itu saya tiba-tiba teringat perpustakaan daerah. Saya pikir, menawarkan buku kami ke perpustakaan adalah ide yang bagus. Kami tinggal di sebuah daerah, dan perpustakaan daerah di kota ini belum memiliki buku kami, yang notabene penulis yang menetap di daerah ini.
Dengan keyakinan penuh, kami berangkat ke perpustakaan. Beberapa pejabat di sana, kami mengenalnya. Sebab ada yang selalu meminta kami menjadi juri lomba dongeng atau juri baca puisi jika perpustakaan sedang memiliki kegiatan.
Sesampainya di perpustakaan, anak-anak kami biarkan membaca di ruangan khusus anak. Kami akhirnya berbincang dengan salah seorang pejabat di sana. Kami mengutarakan maksud kami untuk menjual buku-buku kami ke perpustakaan, agar pembaca yang datang bisa membaca karya penulis dari daerahnya sendiri.
“Di sini, ada agenda rutin untuk membeli buku, ada jadwal khusus. Kami harus mengajukan dulu ajuan anggaran untuk bisa membeli buku baru. Dan biasanya, kami membeli tidak secara eceran.” Begitu jawaban diplomatis dari pejabat perpustakaan itu. “Tapi kami sangat menerima sekali, jika ada yang mau menyumbangkan buku-bukunya.” Lanjutnya lagi.
Sesaat badan saya lemas. Saya berkata, kami tidak butuh dibeli banyak-banyak. Cukup satu eksemplar untuk satu judul. Itu artinya, hanya 3 eksemplar saja. Tapi Ibu itu bergeming. Dia keukeuh, bahwa perpustakaan tidak membeli secara eceran. Kalau mau menyumbang, silakan saja.
Andai ibu pejabat itu mau, cukup dia membeli satu eksemplar buku saja, itu telah membuat dapur kami ngebul kembali. Tapi ibu itu mungkin kurang peka. Dikiranya, penulis macam kami ini mau minta proyek mungkin.
Hari itu, saya masih ingat, kami pulang ke rumah dengan tangan hampa. Dalam tas yang kami bawa, tiga buah buku saling berpelukan.
NB: Terima kasih tak terhingga, untuk kawan-kawan yang berkenan membeli buku kami di saat-saat sulit kami. Kalian adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kami.
November 23, 2016
Mahar dan Sajak
Awal
tahun 2009 tak pernah tebersit dalam pikiran saya bahwa saya akan menjadi
seorang istri, mengurus rumah tangga, mengasuh anak-anak. Saat itu saya tak
pernah punya niat untuk menikah. Saya adalah perempuan yang paling tidak cocok
untuk dijadikan seorang istri.
Begajulan,
tak bisa memasak, hidup seenaknya saja. Paling tak suka dinasihati. Paling
bandel dalam berbagai variasi. Itu juga mungkin yang menyebabkan orangtua
menyerah untuk menasehati dan akhirnya membiarkan saya hidup seenaknya.
Lalu
menjelang akhir tahun itu, seorang laki-laki yang baru saya kenal tiga bulan
terakhir tiba-tiba mengajak saya menikah. Ajakan yang sungguh tak masuk akal.
Manusia macam apa yang ingin menjadikan saya sebagai seorang istri?
Butuh
waktu satu bulan lebih untuk meyakinkan diri dan menjawab iya. Dan tepat pada
tanggal 23 November 2009, kami akhirnya menikah. Maharnya dibeli dengan sebuah
sajak yang ditulis olehnya.
Tepat
sebulan sebelum menikah, sajaknya mendapat hadiah dari Lembaga Basa jeung
Sastra Sunda (LBSS). Hadiahnya langsung dibelikan mahar. Sampai hari ini, saya
masih mengingat sajak itu.
Nu
Lumampah ti Peuting
Ngimpleng-ngimpleng
pangreureuhan
Sabot
damar sakarat. Boa lebah janari
dina
dzikir reumis
lebah
sora ajag nu pamungkas
Ngimpleng-ngimpleng
pangreureuhan
Sabot
damar sakarat. Boa lebah balébat
Dina
salambar halimun
Lebah
sora manuk munggaran
Ngimpleng-ngimpleng
pangreureuhan
Damar
saukur dadamaran
Da
léngkah geuning
tuluy lumampah
Boa
moal kungsi reureuh: duh tatu geus ngakut lukut!
Jika
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira begini bunyi sajaknya:
Yang
Berjalan Tengah Malam
Membayangkan
tempat istirah
Sementara
cahaya damar sekarat. Mungkin di dini hari
dalam
dzikir embun
pada
penghujung suara seekor srigala
Membayangkan
tempat istirah
Sementara
cahaya damar sekarat. Mungkin pada sebuah fajar
dalam
selembar kabut
Pada
suara pertama seekor burung
Membayangkan
tempat istirah
Cahaya
damar cuma bayang-bayang
Sebab
langkah mewujud perjalanan
Mungkin
tak akan pernah istirah: duh, luka sudah mengakut lumut
November 14, 2016
Bandung dan Banjir
Saya
tinggal dan besar di Bandung. Tepatnya di Karang Tinggal Dalam, Kelurahan
Cipedes, Kecamatan Sukajadi. Dulu, kalau ada yang nanya, saya bandungnya di
mana, saya bilang di Sukajadi. Sekarang, kalau ada yang nanya dengan pertanyaan
yang sama, jawabnya lebih mudah lagi. Rumah orangtua saya tepat di belakang
Mall Paris Van Java atau PVJ.
Meski
saya tidak lahir di Bandung, tapi Bandung bagi saya seperti kampung halaman.
Saya merasakan bagaimana sejak kecil main hujan-hujanan. Saya masih ingat
sampai sekarang, hari itu hari Senin. Saya ke sekolah memakai sepatu baru yang
dibelikan ibu. Tepat saat pulang sekolah, hujan turun. Dan saya, saat hujan
seperti itu, seringkali memilih pulang daripada menunggu hujan reda di sekolah.
Saat
itu, saya buka sepatu baru saya karena takut basah. Saya masukan keresek, lalu
kereseknya saya talikan di tas punggung saya. Lalu dengan bahagianya, saya
pulang hujan-hujanan. Hujan yang besar membuat saya semakin bahagia. Beberapa
teman melakukan hal yang sama. Kami pulang dan hujan-hujanan bersama.
Sampai
rumah, saya dimarahi. Tapi ini bukan karena pulang hujan-hujanan. Ini lebih
karena sepatu yang saya gantungkan di tas punggung saya raib. Hilang entah ke
mana. Mungkin karena ikatannya tak kuat, jadi terlepas begitu saja saat saya
terlalu bahagia main hujan-hujanan. Sore itu adalah sore yang paling
menyedihkan. Saya kehilangan sepatu baru.
Hari
ini, saya mendengar Bandung dilanda hujan besar. Dan jalan-jalan menjelma
sungai. Sungai dengan arus yang deras. Anak-anak di Bandung hari ini saya
yakin, tak akan lagi merasakan bagaimana indah dan nikmatnya hujan-hujanan.
Hujan
di Bandung kini hanya terlihat sebagai ancaman. Sesuatu yang bisa saja
menghancurkan rumah, pertokoan, atau menghanyutkan kendaraan dan bahkan
membunuh diri kita sendiri.
Lalu
saya mengingat, sejak kapan Bandung menjadi mimpi buruk bagi warganya? Saya
benar-benar tak ingat. Mungkin sejak Bandung dipenuhi Mall, dipenuhi
hotel-hotel, dipenuhi orang-orang rakus. Mungkin.
Saya
teringat sumur di belakang rumah yang tak pernah kering meski musim kemarau.
Sumur itu, kini selalu kekeringan saat tiba musim kemarau. Adik saya bilang,
airnya dilarikan ke Mall semua. Hehehe....
Bandung,
oh Bandung!
November 12, 2016
Toni Lesmana dan Tamasya Cikaracak
Toni Lesmana, begitu orang mengenalnya. Beberapa tahun yang lalu, pernah saya merasa sangat bersalah kepadanya. Saya merasa telah membunuh sesuatu dalam dirinya.
Perasaan bersalah itu muncul karena saya memaksanya menulis dalam bahasa Indonesia. Memaksanya menulis dengan bahasa Indonesia berarti membunuh hasratnya untuk menulis dalam bahasa Sunda.
Ya, saya memang memaksanya. Ini bukan semata-mata karena saya tak menyukai dia menulis dalam bahasa Sunda. Bukan. Ini semata-mata karena tuntutan kebutuhan. Menulis dalam bahasa Sunda tak akan bisa menghidupi keluarga.
Satu carpon di Majalah Mangle honornya hanya Rp. 50.000,- saja saat itu. Kalau puisi, lebih murah lagi. Sekarang ada Tribun Jabar yang memuat carpon seminggu sekali, honornya lumayan besar, sama dengan honor cerpen dalam bahasa Indonesia. Tapi masa iya, dia mesti mengirim ke koran yang itu-itu juga?
Hari-hari berikutnya, selepas kami bersama-sama. Dia lebih memilih menulis dalam bahasa Indonesia. Cerpen-cerpen terlahir lebih banyak karena tuntunan biar dapur bisa tetap ngebul. Biar anak-anak bisa tetap jajan seperti teman-temannya yang lain.
Sepanjang tujuh tahun, banyak cerpen terlahir. Seorang teman sempat menawari menerbitkannya menjadi sebuah buku. Saya menangkap kebahagiaan di wajahnya. Penawaran dari seorang teman itu, baginya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa tulisannya dalam bahasa Indonesia mempunyai nilai lebih. Bukan semata-mata nilai materiil yang selama ini didapatnya dari media-media yang memuat cerpen-cerpennya itu.
Dan sepanjang tujuh tahun itu, dalam jedanya menulis cerpen, sesekali dia masih menulis puisi. Baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Sunda. Itu sesekali saja. Saat cerpen-cerpen yang ditulisnya mulai terasa kering, mulai terasa biasa-biasa saja. Mungkin.
Puisi baginya adalah jalan untuk berbicara dengan semesta, dengan Tuhan. Momen yang lahir tidak dipaksakan. Pernah sekali, saat dia tak bisa menulis cerpen, entah karena apa, saya memintanya menulis puisi, biar dikirim ke media. Toh, sudah lama juga dia tak pernah mengirim lagi puisi. Dia hanya menjawab, puisi sedang tidak bersamanya. Puisi sedang ada di tempat yang jauh. Tak bisa dijangkaunya.
Malam kemarin, tiba-tiba dia mendekati saya, dia katakan, bahwa royaltinya dari sebuah penerbit sudah ditransfer padahal buku puisinya belum juga terbit. Saat itu, ada yang diam-diam ingin keluar dari dua kelopak mata saya. Tapi saya tahan semampunya.
Saya tahu, ini bukan soal royalti. Ini tentang bagaimana seseorang menghargai puisi-puisinya. Puisi yang baginya adalah jalan spiritual. Jalan untuk mendekatkan dia pada yang maha memiliki. Puisi yang selama ini dia jauhkan dari keinginan untuk dia jadikan sebagai jalan penghidupan.
Jika tak ada aral, bulan depan buku puisinya akan terbit. Judulnya Tamasya Cikaracak. Buku ini yang kelak mungkin akan mengingatkan saya bahwa puisi-puisi di dalamnya adalah bentuk usaha dia untuk tetap menyatakan cinta kepada tanah Sunda, meski ditulis dengan bahasa Indonesia.
Oktober 17, 2016
Masuk Perangkap
Perangkap
sedang dipasang. Gas 3 Kg sedikit demi sedikit dihilangkan. Sudah hampir dua
bulan gas 3 kg susah dicari. Beberapa pombensin yang biasanya menyediakan gas
tersebut, kini selalu bilang tak ada.
Beberapa
pombensin dan agen penjual gas sudah mengganti beberapa tabung gas berwarna
hijau muda itu dengan tabung gas berwarna merah muda. Tabung gas dengan kapasitas
yang lebih besar dari tabung gas hijau muda.
Konon,
satu tabung gas berwarna merah muda itu harganya 350.000,- Itu baru tabungnya. Konon lagi, isinya akan
dijual 65.000,-/tabung. Dan gas merah muda ini katanya tidak akan disubsidi
oleh pemerintah.
Peralihan
ini nyaris tak disadari, sebab tentu saja, banyak di antara kita, lebih asyik
mengamati Pilkada DKI, Persidangan Jesica, penggandaan uangnya Kanjeng Dimas,
dan hal-hal yang lebih menarik lainnya, daripada harus memikirkan sebuah tabung
gas 3 kg.
Kelak,
saat tabung gas 3 kg sudah sedikit demi sedikit tergantikan oleh tabung gas
merah muda, pemerintah akan mengumumkan bahwa gas 3 kg akan ditarik. Dan
masyarakat dipaksa untuk hanya memakai gas dengan tabung merah muda saja.
Subsidi rakyat miskin dihapuskan.
Saat
itu tiba, semua sudah terlambat. Demonstrasi mahasiswa hanya akan jadi buah
cibiran saja. Protes-protes hanya jadi angin lalu. Kita sudah terjebak. Sudah
terlanjur masuk perangkap.
Saat
itu tiba, saya membayangkan, bagaimana pedagang-pedagang keliling itu terpaksa
harus membuat gerobak dorong, sebab mereka tak mungkin memikul tabung gas
dengan ukuran dan berat yang lebih besar.
Lalu
saya membayangkan, saya harus kembali memakai kayu bakar agar dapur kami bisa
ngebul. Sebab 65.000,-/tabung adalah harga yang terlalu tinggi untuk kami beli.
Tapi,
semoga saja, ini hanya bayangan yang tak akan terjadi. Mimpi buruk dari seorang
ibu rumah tangga yang ketakutan akan masa depan dapurnya. Akan masa depan
negerinya.
Oktober 14, 2016
Kematian
Begitu hening kematian itu. Langkahnya
seperti pencuri yang mahir, mengendap-endap, tak ada yang bisa mendengarnya. Di
antara kita, siapa yang akan lebih dulu bertemu? Tak pernah ada yang tahu.
Kematian bersijingkat, pelan tapi pasti,
merasuk ke dalam rasa sakit, kecelakaan, banjir bandang, longsor, puting
beliung, kebakaran, kelaparan, peperangan, genosida. Namun seringkali, kematian
benar-benar senyap. Dia datang begitu saja pada mereka yang tengah khusyuk
beribadah, tertidur lelap, atau bahkan duduk-duduk minum kopi.
Dia, kematian itu, tak pernah memilih
agama, warna kulit, usia, jenis kelamin, jabatan, keahlian, bahkan kepintaran.
Dia datang pada siapa saja yang dikehendakinya. Anak-anak. Orang tua. Anak
muda. Si Kaya. Si Miskin. Kita begitu awam di hadapan kematian.
Beberapa detik setelah kematian datang,
kita yang hidup baru disadarkan. Bahwa seseorang di dekat kita sudah tak ada.
Sekejap. Hanya sekejap. Begitu tak terduga.
Tangis kehilangan, tangis kesedihan, tangis
perpisahan, tangis kengerian, tangis-tangis pecah begitu saja. Seringkali kita
yang hidup berlarut-larut dengan rasa kehilangan dan ditinggalkan. Seringkali kita
yang hidup terus-menerus memelihara ingatan pada mereka yang meninggalkan.
Kita yang hidup seolah merasa lebih beruntung
karena masih bisa menjaga tubuh tetap bernafas. Masih bisa ngopi, masih bisa makan
makanan favorit, masih bisa meraih cita-cita yang diimpikan, masih bisa, masih
bisa, dan masih bisa lainnya.
Padahal dalam hati kecil kita yang hidup,
diam-diam kita berucap lirih, sungguh beruntung si fulan karena dia sudah tak
ada. Dia tak akan lagi dikejar hutang, tak akan lagi dikejar cicilan di bank,
tak akan lagi berpikir mau makan apa besok pagi dengan uang yang tinggal goceng,
tak akan lagi berpikir apakah Ahok akan menang Pilkada DKI.
Mereka yang telah berjumpa kematian adalah
mereka yang telah merdeka dari hal-hal remeh-temeh dunia. Terlepas dari
perdebatan tak usai-usai di media sosial. Terlepas dari beban bahwa bumi ini
semakin hari semakin rusak, dan kelak dia tak layak dihuni manusia lagi.
Lalu kehidupan setelah kematian? Kita yang
hidup hanya bisa menduga-duga. Apakah mereka benar-benar merdeka dan bahagia
setelah berjumpa kematian, ataukah sebaliknya.
Kita hanya perlu menginsyafi diri, bahwa
di hadapan kematian, segala kepintaran, kekayaan, dan kesombongan kita
benar-benar tak ada artinya.
Oktober 08, 2016
Menikah Itu ....
:untuk E Imam Rakhman dan Desi Rahmayanti
Menikah
itu seperti mendaki gunung. Mendaki gunung berdua, meretas jalan baru yang tak
pernah terinjak orang lain sebelumnya. Begitulah saya memberi perumpamaan. Kami
berdua asing satu sama lain pada awalnya. Ada perasaan aneh dalam diri saya
saat terbangun dan menyadari ada seseorang di tempat tidur. Rasa asing itu juga
saya rasakan pada banyak hal.
Membuka
jalan baru dengan ransel yang tidak bisa dibilang ringan, tentu bukan hal
mudah. Dalam ransel saya ada tanggung jawab seorang istri. Di dalam ranselnya,
ada tanggung jawab seorang suami. Beban dalam ransel itu benar-benar baru. Dan
kami harus memikulnya sendiri-sendiri. Ransel yang saya pikul tak mungkin dia
bawakan, begitu pun sebaliknya. Kami punya peran masing-masing dalam pendakian
ini.
Seringkali
kami merasa terlampau lelah untuk melanjutkan perjalanan. Lalu kami memutuskan
istirahat sejenak. Pernah beberapa kali kami harus membuka tenda bukan pada
tempatnya. Sebab cuaca dan terjal jalan membuat kami membangun tenda darurat.
Pengertian
adalah peta yang akan menunjukkan sebuah titik yang ingin kami tuju. Kesabaran
adalah senter yang akan menerangi kami dalam kondisi paling gelap sekali pun.
Dan komunikasi adalah kompas yang akan memberi arah ke mana kami harus
melangkah. Pendakian kami hanya sia-sia tanpa itu semua.
Sepanjang
pendakian itulah, kami merasakan bagaimana rasanya kehabisan perbekalan.
Bagaimana pada satu ketika kami bersitatap dengan hewan buas. Bagaimana rasanya
cuaca yang tak bersahabat menghajar tubuh kami sampai babak belur.
Namun
kelelahan itu, kesulitan itu, begitu mudah terlupakan saat kami sudah membuka
tenda, membuat perapian, menyeduh kopi, menatap bintang-bintang di langit.
Jutaan
bahkan ribuan bintang itu seolah berkata, bahwa kami adalah manusia paling beruntung.
Karena kami dipertemukan dan diberi kesempatan untuk bisa berdua, menuju sebuah
puncak yang sama.
Kini
kami sudah berempat. Dua bocah mungil di samping kami masih menggendong ransel
mungil. Isinya hanya air dan makanan. Jika mereka haus dan lapar, mereka tak
lagi hanya bisa menangis.
Puncak
yang kami tuju masihlah jauh. Masihlah tinggi. Tapi kami masih terus mencoba
menapakinya. Dengan senter, peta, dan kompas yang sama sejak pendakian ini
dimulai.
Dan
besok, besok adalah hari istimewa untukmu, untuk kalian berdua. Kami tak bisa
hadir di sana. Menyaksikan bagaimana kalian bersatu dalam satu ikatan. Namun
percayalah, kebahagian kalian berdua adalah kebahagiaan kami juga. Doa kami
tercurah untuk kalian, sepasang pengantin yang berbahagia.
Selamat
mendaki kehidupan. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah,
warahmah. Catatan ini kami buat sebagai hadiah untuk kalian berdua.
September 23, 2016
Kota Ini Asing Tanpamu
:Ridwan Hasyimi
Malam ini aku terjaga. Mengingat hari-hari yang panjang dan melelahkan, mengingat bencana yang datang tanpa terduga, dan tiba-tiba aku mengingatmu. Entah kenapa, beberapa malam ini, aku selalu mengingatmu. Seringkali aku terbangun, dan dalam mimpiku kau berpaling. Saat itulah, aku tiba-tiba merasa kehilangan.
Malam
ini, aku ingin membuka sebuah rahasia. Rahasia yang kusimpan bertahun-tahun dan
tak seorang pun mengetahuinya. Aku telah lama menyayangimu, mungkin jauh sebelum
kau menyadari bahwa aku ada. Dalam kelebihan, aku selalu memanggilmu, berharap
kau datang, membuka pintu, lalu kita bercerita tentang apa saja.
Aku
bahagia saat diam-diam kau lahap memakan apa yang kumasak. Aku tenggelam saat kau bercerita tentang
hari-hari yang seringkali pelik di tanganmu. Entahlah, sejak dulu, aku selalu
berharap bisa menjadi ibu bagi rasa cemasmu. Dalam kesempitanku, seringkali aku
memintamu datang, meminta bantuanmu, meminta hal-hal yang sesungguhnya tak
layak kuminta darimu.
Aku
seringkali merasa, bahwa tanpamu, aku tidaklah menjadi apa-apa di kota asing
ini. Tanpamu, aku selalu merasa betapa kesunyian ini tak punya alamat lagi.
Seringkali, saat aku mendengar kisahmu, aku merasa bahwa kesunyianmu adalah
kesunyianku juga. Aku merasa bahwa kita datang ke kota yang salah. Kota yang
selalu menolak siapa saja yang mencoba untuk mencintainya seperti cinta seorang
kekasih kepada kekasihnya.
Padamulah
aku menyimpan banyak harapan. Kepadamu aku berharap kota ini kelak menjadi kota
yang tak lagi asing. Aku seringkali memintamu untuk pergi, menjelajahi
kota-kota lain, agar kau bisa memberi kado istimewa untuk kota ini. Namun kau
adalah orang yang teguh pendirian. Kau ingin mencintai kota ini dengan caramu
sendiri. Tanpa tendensi. Tanpa pretensi.
Kini,
aku melihat semua usahamu mulai bertunas. Cintamu kepada kota ini tumbuh
semakin tinggi. Saat itulah, aku merasa, bahwa cintaku kepadamu semakin besar.
Cinta ini akan senantiasa ada. Untukmu. Meski kelak kau merasa tak lagi
membutuhkannya.
September 20, 2016
Teater dan Kebahagiaan
Jadwal pementasan yang panjang, membuat kami menyadari, energi kami haruslah besar. Perlu lebih banyak kesabaran, perlu lebih luas lagi pemafhuman, perlu lebih dalam lagi saling memahami antar pemain. Tidak jarang kami saling mengutuk. Memaki karena si A begitu keras kepala, dan si B begitu sering memendam kecewa. Betapa si Z lebih sering melucu, dan si Y lebih sering menangis. Semuanya berkelindan. Membangun hari-hari yang ajaib.
Namun selebihnya, adalah kebahagiaan tak terkira. Bukan, bukan karena tiket kami banyak yang terjual. Bukan itu. Sebab sebanyak apa pun tiket terjual, nyatanya, kami hanya cukup dihonori selembar kaos. Selain karena sisa uang yang hanya cukup untuk kaos, kami juga seringkali merasa mesti menyisipkan sedikit sisa uang untuk pementasan selanjutnya, setelah uang tiket itu dipakai membayar sewa lampu, konsumsi, membeli tata rias, dan tetek-bengek lainnya.
Kebahagiaan kami begitu sederhana, kami merasa bahwa bermain teater nyatanya lebih mudah dibandingkan menjalani kehidupan kami yang sebenarnya. Kami hanya perlu memainkan apa yang dituliskan dalam naskah. Sedang kehidupan?
Kesadaran itu pula, mungkin, yang membuat penata musik garapan ini melakukan apa yang tidak bisa saya lakukan jika saya berada dalam posisinya kemarin. Neneknya meninggal, dia harus berada di lokasi pemakaman tepat saat pementasan.
Tanpa sepengetahuan kami, dia merekam apa yang mestinya dia lakukan di atas panggung. Dia cukup memberikan beberapa panduan jarak jauh sebelum pementasan. Dan kami berhasil melakukannya. Pementasan tetap berjalan tanpa kehadiran tubuh penata musiknya. Namun suaranya, energinya, tetap hadir di antara kami.
Kebahagiaan lainnya adalah, bahwa penonton yang kebanyakan pelajar itu, begitu apresiatif. Mereka mengikuti pementasan dengan khidmat. Selepas pertunjukan, banyak yang mengajukan pertanyaan dengan penuh antusias. Diam-diam kami berdoa, semoga di antara mereka ada yang jatuh cinta pada seni peran, lalu tertarik untuk terlibat dalam garapan berikutnya.
Pada akhirnya, dari garapan Kalangkang ini, kami belajar untuk mengatakan pada diri kami sendiri, bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diciptakan bukan dicari-cari. Seperti apa yang dikatakan Bi Isah, salah satu tokohnya, bahwa, “Kabagjaan horeng aya ku diciptakeun, lain diteangan.”
September 09, 2016
Ulang Tahun Iqbal
Hari ini Iqbal
ulang tahun. Awalnya, kami ingin berpura-pura lupa bahwa ini adalah hari ulang
tahunnya. Kami akan menjalani hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi niat
itu cukuplah jadi niat. Sebab sehari sebelum hari ini, Iqbal bertanya, apakah
benar besok adalah hari ulangtahunnya? Kami tak mungkin bisa berbohong. Dan tak
ingin membohonginya. Berbohong dan pura-pura tak mengingat itu jelas dua hal
yang berbeda. Hehehe....
Sejak bulan Juli,
Iqbal selalu bertanya, kapan dia berulang tahun? Kami selalu menjawab, masih
lama. Bulan Juli adalah bulan kelahiran sahabatnya, rumahnya berada tepat di depan
rumah kami. Kami penasaran dan bertanya, kenapa dia melulu bertanya kapan ulang
tahunnya. Iqbal menjawab, dia ingin meniup lilin seperti sahabatnya. Iqbal
ingin kue ulang tahun.
Pertanyaan Iqbal tak pernah berhenti. Sampai seminggu yang
lalu, dia masih bertanya dengan pertanyaan yang sama, kapan dia berulang tahun?
Kami menjawab, sekembalinya saya dari Bandung, ulang tahunnya
sudah dekat. Dan saat saya pulang ke Ciamis di hari Minggu pagi, Iqbal masih
juga melontarkan pertanyaan yang sama. Kapan dia akan ulang tahun?
Saat itu, tanpa berpikir banyak hal, saya menjawab, ulang tahunnya
lima hari lagi. Lalu dia bertanya lagi, apakah dia akan mendapatkan kue
ulangtahun seperti sahabatnya? Lalu apakah dia akan meniup lilin?
Saya sempat ragu menjawabnya. Saya ragu, kami sebagai
orangtuanya bisa memenuhi keinginannya atau tidak. Tapi saat itu, akhirnya saya
jawab juga, bahwa dia akan meniup lilin di atas kue ulang tahunnya.
Sejak hari itu Iqbal
tak pernah bertanya lagi, kapan dia akan berulang tahun. Dan tepat sehari
sebelum ulang tahunnya tiba, dia kembali bertanya, apakah besok benar adalah
ulang tahunnya? Apakah besok saya akan membelikan kue ulang tahun untuknya?
Saya yang pernah menjanjikan
untuknya sebuah kue ulang tahun, tentulah kelimpungan. Jangankan untuk kue
ulang tahun, tempat penyimpanan beras kami, sudah beberapa hari ini kosong.
Pada titik
inilah, saya merasa menjadi orangtua yang gagal. Orang tua yang tak bisa
memberikan kebahagiaan kecil kepada anaknya. Orang tua yang terlalu mudah
memberi janji, tapi lupa menepati.
Malam menjelang
ulang tahunnya, saya berlatih teater dengan ingatan yang kacau. Memikirkan
bagaimana menghadirkan sebuah kue ulang tahun untuk besok. Tentu, saya tak
ingin memberikan hadiah ingatan yang buruk untuk Iqbal di hari ulang tahunnya,
dengan tidak menepati janji saya.
Dan hari ini,
melalui tangan seorang kawan, akhirnya kami bisa menghadirkan sebuah kue ulang
tahun sederhana. Hari ini, di hari ulang tahunnya, Iqbal akhirnya bisa meniup
lilin. Sesuatu yang sejak lama dia nantikan.
Iqbal meniup
lilin disaksikan beberapa temannya. Tak ada kado. Hanya kue. Hanya melingkar.
Iqbal meniup lilin, lalu selepas itu, semua makan kuenya sampai habis.
Selamat enam
tahun, Nak!
Dunia seringkali
memberi kita kejutan.
Ada banyak kado
istimewa di balik setiap kejutannya.
Kelak, kau akan
mengerti, kado-kado itu adalah hadiah langsung dari Tuhan, untukmu. Hanya
untukmu.
Mei 22, 2016
Kepada Rahmi atawa Rukmini atawa Rini
Kita sama-sama perempuan. Aku mungkin tak tahu apa yang tengah bergejolak dalam dadamu. Tapi sebagai perempuan, seringkali aku merasa, bahwa apa yang tengah kau rasakan, pernah juga aku rasakan. Mungkin di sebuah masa, di masa lalu, ketika usiaku masih seusiamu. Ya, kita dipertemukan pada sebuah peristiwa. Dan aku percaya, tak ada yang kebetulan di alam semesta.
Aku merasa, bahwa pertemuan kita adalah kunci yang akan membuka pintu-pintu menuju tempat-tempat yang tak pernah kita duga sebelumnya. Aku bercermin kepadamu. Pada banyak hal dalam dirimu. Melihatmu, mengingatkanku pada tahun-tahun lampau, saat aku merasa bahwa hidup adalah melulu perjalanan. Dari stasiun satu menuju stasiun berikutnya, hingga kelak, kita bertemu sebuah stasiun yang mampu membuat kita jatuh cinta padanya, sehingga kita tak lagi ingin pergi.
Perempuan yang senantiasa gelisah, kita mungkin hanya setitik dari jutaan titik di dunia ini. Sebuah titik yang kelak akan membentuk sebuah garis. Jika kegelisahan menyelimuti dadamu, tak usah menghitung kecemasan demi kecemasan yang akan membunuhmu. Biarkan gelisah itu merasuk, jauhkan segala hal yang akan membuatmu merasa menjadi manusia tak berguna.
Perempuan, aku mencintaimu. Perjalananmu kini, adalah jalan hidup yang tengah kau pilih. Kelak, kita akan bertemu lagi di sebuah stasiun. Saat itu tiba, jangan ucapkan kalimat perpisahan apa pun. Sebab sejatinya perpisahan, adalah pintu menuju pertemuan berikutnya.
Aku merasa, bahwa pertemuan kita adalah kunci yang akan membuka pintu-pintu menuju tempat-tempat yang tak pernah kita duga sebelumnya. Aku bercermin kepadamu. Pada banyak hal dalam dirimu. Melihatmu, mengingatkanku pada tahun-tahun lampau, saat aku merasa bahwa hidup adalah melulu perjalanan. Dari stasiun satu menuju stasiun berikutnya, hingga kelak, kita bertemu sebuah stasiun yang mampu membuat kita jatuh cinta padanya, sehingga kita tak lagi ingin pergi.
Perempuan yang senantiasa gelisah, kita mungkin hanya setitik dari jutaan titik di dunia ini. Sebuah titik yang kelak akan membentuk sebuah garis. Jika kegelisahan menyelimuti dadamu, tak usah menghitung kecemasan demi kecemasan yang akan membunuhmu. Biarkan gelisah itu merasuk, jauhkan segala hal yang akan membuatmu merasa menjadi manusia tak berguna.
Perempuan, aku mencintaimu. Perjalananmu kini, adalah jalan hidup yang tengah kau pilih. Kelak, kita akan bertemu lagi di sebuah stasiun. Saat itu tiba, jangan ucapkan kalimat perpisahan apa pun. Sebab sejatinya perpisahan, adalah pintu menuju pertemuan berikutnya.
Maret 30, 2016
Sebentar Lagi April
ini penghujung maret yang basah. malam-malam yang basah. hujan selalu menyapa. kita tidak sedang di rumah. ada dingin yang diam-diam menyusup ke dalam tubuh. meminta tempat. menyisihkan segala bentuk perasaan yang ingin kubangun. aku tak ingin merasa, kita seperti dua manusia yang kesepian, mencoba mencari cara agar bisa lepas dari belenggu sunyi.
kau tak banyak berkata-kata. aku lebih suka memutar film dalam kepala.
kau tak banyak berkata-kata. aku lebih suka memutar film dalam kepala.
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...

-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
jejak kita akan tercatat dalam sejarah perjalanan. pada setiap persimpangan jalan akan senantiasa ada yang tertinggal. walau hanya sekadar c...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...