Oktober 17, 2016

Masuk Perangkap

Perangkap sedang dipasang. Gas 3 Kg sedikit demi sedikit dihilangkan. Sudah hampir dua bulan gas 3 kg susah dicari. Beberapa pombensin yang biasanya menyediakan gas tersebut, kini selalu bilang tak ada.

Beberapa pombensin dan agen penjual gas sudah mengganti beberapa tabung gas berwarna hijau muda itu dengan tabung gas berwarna merah muda. Tabung gas dengan kapasitas yang lebih besar dari tabung gas hijau muda.

Konon, satu tabung gas berwarna merah muda itu harganya 350.000,-  Itu baru tabungnya. Konon lagi, isinya akan dijual 65.000,-/tabung. Dan gas merah muda ini katanya tidak akan disubsidi oleh pemerintah.

Peralihan ini nyaris tak disadari, sebab tentu saja, banyak di antara kita, lebih asyik mengamati Pilkada DKI, Persidangan Jesica, penggandaan uangnya Kanjeng Dimas, dan hal-hal yang lebih menarik lainnya, daripada harus memikirkan sebuah tabung gas 3 kg.

Kelak, saat tabung gas 3 kg sudah sedikit demi sedikit tergantikan oleh tabung gas merah muda, pemerintah akan mengumumkan bahwa gas 3 kg akan ditarik. Dan masyarakat dipaksa untuk hanya memakai gas dengan tabung merah muda saja. Subsidi rakyat miskin dihapuskan.

Saat itu tiba, semua sudah terlambat. Demonstrasi mahasiswa hanya akan jadi buah cibiran saja. Protes-protes hanya jadi angin lalu. Kita sudah terjebak. Sudah terlanjur masuk perangkap.

Saat itu tiba, saya membayangkan, bagaimana pedagang-pedagang keliling itu terpaksa harus membuat gerobak dorong, sebab mereka tak mungkin memikul tabung gas dengan ukuran dan berat yang lebih besar.

Lalu saya membayangkan, saya harus kembali memakai kayu bakar agar dapur kami bisa ngebul. Sebab 65.000,-/tabung adalah harga yang terlalu tinggi untuk kami beli.

Tapi, semoga saja, ini hanya bayangan yang tak akan terjadi. Mimpi buruk dari seorang ibu rumah tangga yang ketakutan akan masa depan dapurnya. Akan masa depan negerinya.