Oktober 22, 2007

Di Tubuhmu Aku Muarakan Segala Rindu

1
bertahuntahun aku mencari alamat bagi segenap luka dalam dada
hingga riuh musim mencampakkan aku pada sunyimu
kukenali kamar pengap itu sebagai hutan
tempat segala kisah mencari muasalnya
meski tak akan pernah ada mula
atau akhir yang genap

di kamar itu juga, lilin telah dinyalakan sejak senja datang
dan kita seperti bersiap memasuki hidup yang lebih asing
dari sekadar ziarah pada kubur leluhur

2
bukubuku berserakan seperti jiwa kita yang tercecer
dari peristiwa satu ke peristiwa lain pada banyak persimpangan
pada kurun waktu yang tak pernah terduga
saat itulah aku merasa menemukan pintu
tempat segala pulang diberangkatkan

tak ada peta, hanya lebar punggungmu yang setia
membawaku pada ruang kedap luka

3
di tubuhmu aku muarakan segala rindu
biar rasa tak sesat di sembarang tempat.

Bandung, 22 Oktober 2007

Oktober 20, 2007

jika dia benar kawan,
dia tidak akan meninggalkan saya begini rupa.

Oktober 16, 2007

aku harus pergi, katamu
dan aku hanya bisa melihatmu berlalu
hilang ditelan pekat malam

saat kamu kembali
mungkin aku sudah tak ada lagi

jangan tanya kemana aku pergi
karena kamu sudah tahu jawabannya.


penghujung senja yang gamang, 2007

Oktober 13, 2007

lebaran ini aku ingin pulang ke dalam diri sendiri

lebaran ini aku hanya ingin pulang ke dalam diri sendiri
menengok ruangruang gelap dalam dada yang telah lama suwung
merapikan semua yang berantakan dan pecah berkepingkeping
di dalamnya

lebaran ini aku hanya ingin berkumpul dengan segenap penghuni jiwa
sekadar saling memaafkan segala khilaf juga salah yang sengaja
ataupun tidak. agar kelak, tak ada lagi prasangka atau curiga
karena satu lebih paham dari yang lain

sungguh, lebaran ini aku hanya ingin pulang ke dalam diri sendiri
membuang seluruh luka yang bersarang hampir di semua sudut
sudut batin. agar tak membusuk dimakan usia

ijinkan aku tak pulang lebaran ini
sebab di jantungku, ada pintu yang menunggu lama untuk diketuk

2006

tulisan ini
dibuat setahun yang lalu, dan tahun ini, aku masih saja keras kepala; hanya ingin pulang ke dalam diri sendiri. maaf.