Mei 30, 2008

negeri di atas awan itu, katon!



dulu, saya tak percaya ada negeri di atas awan, meski berulang kali saya mendengarkan lagu milik katon bagaskara. tapi sejak saya menginjakkan kaki di puncak merbabu, dan berkali-kali setelah itu berjalan memasuki lebat pepohonan dan mencoba menikmati alam dengan berbagai rintangan yang mau tidak mau membuat saya perlahan-lahan memahami, bahwa negeri di atas awan itu nyata adanya.

ketika bumi lebih tinggi dari awan dan langit terasa lebih dekat dari jangkauan, saat itulah saya seringkali merasa bahwa saya begitu kerdil. kerlip cahaya dari perkampungan di kaki gunung lebih nampak serupa kunang-kunang. saya tidak sedang di manhattan, tapi lampu-lampu itu pun, menjelma seribu kunang-kunang di dasar lembah. jauh, sangat jauh dari jangkauan.

malam semakin larut, udara semakin menekan, saya menggigil, dan saat itulah saya semakin menyadari, betapa saya tak berarti sama sekali. saya hanyalah pemilik tubuh yang rapuh, tak berdaya apa-apa. sepersekian derajat lagi dingin itu memburu tubuh saya, maka mampuslah saya. tapi malam itu, alam masih berbaik hati, suhu dingin itu, tidak sampai membunuh saya. seorang kawan berteriak di luar tenda, "sudah pukul empat, bangunlah, kita sambut matahari pagi!"

saya pun menggeliat dari dalam tenda, lantas bersiap menyambut matahari pagi. merasakan nikmatnya hidup di dalam negeri atas awan.

catatan dari trip slamet, 16-18 mei 2008

Mei 15, 2008

berjalan (lagi) menuju matahari terbit



mungkin malam ini adalah semacam malam perpisahan. besok saya akan berangkat (lagi). perjalanan kali ini, masih seperti perjalanan lainnya juga. menuju timur matahari. menuju sesuatu yang pada akhirnya akan kembali membuat saya pulang. pulang dengan letih yang sangat. pulang dengan sunyi yang mungkin makin akut. atau malah sebaliknya, pulang dengan membawa sesuatu yang selalu membuat saya ingin pergi lagi.

perjalanan kali ini ke Purwokerto. seseorang tiba-tiba mampu mengembalikan gairah saya untuk mendaki gunung. dia, tiba-tiba membuat saya berniat lagi mengumpulkan barang-barang yang sudah lama saya lupakan; ransel, matras, sleepingbag, senter, raincoat, sarungtangan, jaket tebal, nesting, dan semua hal yang semestinya saya bawa untuk mendaki.

saya tak tahu, apakah perjalanan ini akan membawa saya kembali ke sini atau malah sebaliknya. tapi bagi saya, perjalanan ini adalah perjalanan menemukan kembali sesuatu yang dulu mungkin sempat hilang atau saya abaikan. besok, sebelum matahari tenggelam saya akan berangkat.

semoga saya bisa mencatat semuanya di sini, kelak, setelah saya kembali.

Mei 03, 2008

Saat Sigit Menyusuri Lorong-lorong Dunia



Anda pernah jalan-jalan? Tak perlu jauh, mungkin jalan-jalan di kompleks rumah, atau keluar sedikit, memasuki gang-gang sempit, melewati rumah-rumah kumuh, atau malah jalan-jalan di mall?

Ya, tentu saja, semua orang pernah jalan-jalan. Tapi jalan-jalan saya dan anda tentu saja akan sangat berbeda. Mungkin bagi anda, jalan-jalan yang menyenangkan itu adalah jalan-jalan ke mall, melihat-lihat barang-barang dibalik etalase, meski tak membeli, tapi dengan melihat-lihat dan menikmati suasananya, anda merasa sangat terhibur. Atau seperti kawan saya Sigit, dia selalu punya waktu setiap tahunnya untuk jalan-jalan ke negara-negara yang belum pernah dikunjunginya. Meski dengan begitu, kawan saya itu, harus mencari pekerjaan yang cukup longgar, yang bisa memberi waktu luang untuknya berjalan-jalan.

Saat ini, sudah hampir 26 negara yang telah dikunjunginya. Mulai dari Spanyol, Italia, Austria, Jerman, Perancis, Belanda, Inggris, Ceko, Belgia, Turki, Yunani, Bulgaria, Rusia, Thailand, Kuba, Meksiko, Mesir, Tunisia, Kenya, India, sampai dengan Vietnam, China, Maroko, Portugal, Irlandia, dan Hongaria. Ke-26 negara tersebut dijelajahinya bersama istri yang dicintainya. Kawan saya itu, tak pernah melewatkan moment-moment dalam perjalanannya. Dia selalu mencatat dengan detail semua yang dialaminya. Bagaimana dia mengunjungi gedung-gedung bersejarah dalam sebuah kota, menangkap suasana kota di malam hari, atau memasuki sebuah perpustakaan dan museum, bahkan sampai rasa dan bentuk makanan yang menarik baginya, dia catat.

Semua hal yang telah dicatatnya itu dia bagikan kepada anda dalam sebuah buku yang berjudul Menyusuri Lorong-lorong Dunia. Dalam buku ini, anda bisa membaca banyak hal yang dialami kawan saya tersebut saat jalan-jalan ke berbagai negara.

Dengan membaca bukunya, saya seolah-olah diajak masuk ke berbagai negara yang dikunjunginya. Bukan hanya memasuki sebuah negara dari sesuatu yang kasat mata. Tetapi ruh dibalik sesuatu yang kasat mata itu. Saya sulit menceritakannya kepada anda. Jika anda juga tertarik memasuki lorong-lorong dunia, Sigit akan mengajak anda dengan bukunya.

Saran saya, bacalah buku ini di saat anda sedang santai, dengan secangkir teh atau kopi. Sebab anda akan diajak untuk merambahi sebuah kota dari berbagai negara ala Sigit.