September 30, 2004

kadang pagi tak selamanya indah
ada pagipagi yang penuh ketergesaan
dan rasa letih pada hidup, rutinitas
yang membosankan dan bising
yang memekakkan.

semoga pagimu tetap indah!

September 29, 2004

aku tak tahu berapa lama lagi masa ini akan terus kita lalui. mengeja namamu, seperti tahun-tahun lalu, ternyata tak mudah. ribuan peristiwa muncul, seakan-akan membuatku harus melupakanmu. tapi aku tak mungkin sanggup.

September 28, 2004

kepadamu,
tuan penghuni ruang kosong
bernama kesunyian


aku bertemu denganmu tepat ketika langit gelap
bulan mati suri dengan bebintang yang enggan pulang
sunyi menyergap. pengap menyerbu
dan aku jadi tahu, kelam tak selamanya menakutkan

berlarilah
dekap aku dalam malammu
biarkan jiwa kita mengembara
menembus mimpimimpi usang
membunuh ketakutan demi ketakutan
memeluk seribusatu harapan

kelak, kita akan bertemu
tepat saat purnama singgah diantara ranting
ranting pinus yang membiru.

September 27, 2004

hujan

indonesia beruntung hanya punya dua musim. musim penghujan dan musim kemarau. coba bayangkan jika indonesia punya empat musim. bagaimana nasib mereka, orang-orang yang hidup dan mencari makan di jalanan saat musim salju datang? mengerikan.

bahkan, saat hujan saja. bangsa ini seolah-olah merasa bahwa tuhan sangat kejam. mengirimkan terlalu banyak air hingga akhirnya banjir. padahal siapa yang salah? siapa yang telah seenaknya mengubah hutan menjadi gedung-gedung? siapa yang membuang sampah seenaknya ke selokan atau sungai? siapa? tidak mungkin tuhan.

saat kemarau panjang. bangsa ini kembali mengeluh.
ini terlalu panas, tuhan!
negeri kami terbakar!
air menjadi sesuatu yang mahal,
seharga intan dan berlian.
tuhan tidak adil!

kalau begini caranya, tuhan memang tak pernah benar-benar adil sampai kapan pun.

terima kasih, tuhan. akhirnya tanah-tanah di kotaku kembali basah oleh hujanmu.

September 26, 2004

aku bahagia mampu melihatmu tersenyum.
melihat gerai rambutmu yang tak sepanjang dulu. aku bahagia. aku memang tak pernah merasakan pergulatan batinmu, ketika deadline demi deadline harus selesai tepat waktu. saat kebosanan memburumu setiap saat. aku memang tak pernah tahu semua itu.

September 25, 2004

tentang sebuah keinginan

malam ini aku kembali bertemu denganmu di tempat yang sama saat aku melihatmu pertama kali. aku tak banyak bicara, meski kau teramat dekat. bukan apa-apa, hanya aku memang tak terbiasa berbasa-basi. dan seperti katamu, aku memang sangat menyebalkan. begitulah hidup, bukan? sangat menyebalkan!

aku tak berharap kita bertemu malam ini. sebab, ada kalanya seseorang berharap tidak dipertemukan dengan seorang manusia-pun. sama halnya sepertiku malam ini. aku berharap aku terasing dalam dunia yang tak asing. tapi benar-benar tak bisa. karena ternyata, ada teman lama yang muncul begitu saja di depanku. aku tak mengira itu dia. akhirnya, keterasingan ini menjadi kabur bersama senyumnya. perempuan dengan senyum seorang ibu.

kami bicara tentang masa lalu. tentang harapan-harapan yang terlalu besar bagi tubuh kami yang kerdil. tentang usia yang semakin lama semakin tua. tentang pernikahan dan seseorang yang dicintai. tentang sahabat-sahabat lama yang masih sering bertemu dengannya, dan tak pernah sekalipun bertemu denganku.

ini malam yang teramat biasa,
saat aku menemukanmu dengan wajah teramat datar
saat aku menginginkan kau tak ada.

September 23, 2004

aku jatuh cinta

cintaku jatuh!
jatuhku cinta!
cinta terjatuh!
jatuh tercinta!
cinta yang jatuh!
jatuh yang cinta!

aku jatuh cinta padamu.
entah untuk ke berapa ratus kalinya,
entah untuk ke berapa juta kalinya.
padamu. hanya padamu.

September 22, 2004

ingatkah engkau kekasih?

setahun yang lalu, arah hidupmu berbelok. ransel yang telah lama membeku di sudut kamarmu kembali mengisi setiap langkahmu. engkau kembali memulai perjalanan baru bagi hidupmu.
kita memang tak pernah tahu, kapan dan dimana langkah ini akan berhenti. atau dengan siapa akhirnya kita membangun kisah cinta. yang kita tahu adalah bahwa kita harus tetap melangkah, apa pun yang terjadi.
setahun yang lalu, engkau memulai hidup barumu. meretas masa depan dengan seribu harapan. dan aku, aku masih berdiri di sini, setia mengirim doadoa kecil untukmu. hanya doadoa kecil. tak lebih, tak kurang.

kini, setahun telah berlalu dalam peristiwa-peristiwa. dan aku tak tahu, perasaanmu yang sebenarnya tentang dunia barumu. aku buta akan itu semua. sebab engkau, sudah lama tak menyapaku.

September 21, 2004

menyerahlah kau, bajingan!

biarkan aku membunuhmu untuk kesekian kalinya.
karena kematian sebelumnya ternyata hanya menghilangkan sedikit saja kepicikan yang melekat di dadamu, sedang jiwamu masih pecundang.

biarkan aku membunuhmu sampai kau benar-benar mati.
agar tak ada lagi seseorang yang menangis karenamu!

September 20, 2004

hari ini tak ada yang istimewa.
tak pernah ada.

September 19, 2004

menjadi penyair

seseorang berkata padaku dalam sebuah malam,
"ajari aku menulis puisi!" katanya.
"untuk apa kau menulis puisi?"
"aku ingin menjadi penyair!"
"baiklah. aku akan mengajarkanmu menulis puisi. dengarkan olehmu baik-baik!"

tiga modal besar yang harus dipahami oleh seorang penyair adalah:
satu: kamu harus meyakini bahwa menulis puisi berbeda dengan menulis cerpen.
dua: menulis puisi adalah mengikat kata, memperluas makna.
tiga: kamu harus yakin, bahwa kamu takkan pernah menjadi kaya dengan menulis puisi.

dalam sejarah mana pun, tak ada seorang pun yang kaya hanya gara-gara menjadi seorang penyair. kalau pun tokh ada seorang penyair yang kaya, itu bukan dari kepenyairannya. kamu boleh buktikan kata-kataku.

September 17, 2004

malam ini, kita tak perlu berupaya untuk bisa berbicara seperti malam-malam lalu. bukankah sunyi atau apa pun namanya tak lagi berarti setelah semua yang ada dalam pikiran, dalam hati, dalam dada kita menjadi fatamorgana.

engkau dan aku berjalan dalam malam. melarutkan seluruh kenangan. menggenapkan seluruh kesadaran. lupakan tentang apapun, tokh ingatan-ingatan hanya akan membuat diri kita tersiksa dan terbelenggu.

pertengkaran hanya akan membuat kita terbakar dalam kemarahan. biarkan diri kita alir dalam waktu, melaju dalam kelam. sebab esok, mungkin kita tak pernah bisa bertemu lagi.

September 16, 2004

ini tentang butre

iya, ini tentang kamu, tre!
tentang pertemuan kita di satu malam. ketika harapan demi harapan tumbuh dalam hati para pemuja mimpi. ketika kau dan aku sudah benar-benar nyata dan bukan cuma berupa nama-nama.

ini tentangmu, tre.
akhirnya hidupku kembali pada malam.

September 15, 2004

malam ini, aku menemukan sebuah puisi yang kubuat setahun atau mungkin dua tahun ke belakang. aku tak sengaja menemukannya dari buku catatan lamaku. buku itu muncul tiba-tiba saat aku mencari alamat sebuah penerbit.

sebuah catatan tentangmu

senja ini, kubakar kerudung keikhlasanku
menjemputmu di gerbang duka, mendekapmu
dalam lanskap airmata, menciummu dengan geletar luka
mengajakmu memasuki neraka

senja ini, tak ada lagi catatan bahagia
selain keterpesonaanku padamu
;pada kepahitan yang abadi

mari, masuki rumah sepi bersama hantuhantu
yang tak lagi mencintai dunia

bunuh segala ingatan!

bandung, 05 november 2002.

aku tak ingat lagi, apa yang terjadi pada tanggal itu. yang jelas, diksi dalam puisi itu membuatku mengeryitkan alis. mengerikan! apa yang aku tahu tentang neraka? hantu? luka? sepi?

September 13, 2004

antara ciwalk, putus asa dan oleh-oleh banyuwangi

judul postingan kali ini agak panjang. ya, skripsi aja bisa panjang judulnya. kenapa postingan nggak? hari ini anak-anak BBV pada ngumpul di ciwalk. selain karena ada teteh satu ini yang jauh-jauh dateng dari banyuwangi, acara hari ini juga sekalian selametannya bapak ini dan bapak ini yang baru saja menyelesaikan sekolahnya. selamat datang di universitas kehidupan. belom lagi selamatan manusia satu ini yang katanya tengah menempuh hidup baru. ini selametan pindah url atau selametan ganti nama nggak ngerti juga. hehhe.. intinya, hari ini BBV lagi syukuran.

tapi bentar, siapa yang putus asa?
ohh.. soal yang putus asa. itu sih saya. iya, saya lagi putus asa. masalahnya sepele sebenernya, nih novel kapan selesainya? coba ya, itu tokoh-tokoh dalam novel saya, bisa nggak ya kalian berhenti dalam satu bulan saja. tanpa melakukan perubahan-perubahan besar dalam hidup kalian, biar saya nggak merasa jadi basi lagi??

September 12, 2004

Lelaki Senja

ada yang setia menanti senja
di bawah guguran detikdetik.
mungkin esok, senja kembali berkabut
tapi cakrawala tak pernah dusta
kelak, akan ada jingga
yang kembali mewarnai senja.

bandung, 12 september 2004

September 11, 2004

sukajadi ==> leuwi panjang ==> bekasi ==> mampang ==> SANTA ==> bekasi ==> leuwi panjang ==> sukajadi lagi!

rute itu hari ini ditempuh lagi dalam jangka waktu 15 jam. ini benar-benar melelahkan. perjalanan yang menuntut kesabaran. tujuan utama adalah pasar santa, andai ada pintu kemana aja-nya doraemon, mungkin perjalanan yang melelahkan itu tak perlu ada. sebab sesampainya di pasar santa, hanya ada waktu satu jam untuk membereskan pekerjaan, setelah itu buru-buru pulang agar tak kemalaman di jalan.

setan!
kalau harus begini terus tiap minggu, bisa-bisa aku tua di jalan. HELP ME! adakah yang mau menyewakan helikopter? atau gantole mungkin? kalo pake gantole nanti startnya di gunung tangkuban perahu kali ya? hehehe..

LELAH! PAYAH! BEGINILAH ORANG SUSAH! SELALU SALAH! APAH? :D

September 09, 2004

sebuah bom meledak di jantungku
ada yang pecah berkepingkeping
mengalirkan darah dan airmata
ketakutan dan kecemasan menjadi hantu

ini dengki milik siapa?
baunya membusuk diruang tanpa cahaya.

September 08, 2004

Pentagon Lantai 3

sore tadi, kembali aku menyusuri jalan-jalan masa lalu. ini benar-benar seperti dejavoe. seorang sahabat, memaksaku datang ke kampus untuk menghadiri diskusi rutin UKM sastra. aku memang bukan lagi bagian dari mereka. tapi diskusi kali ini memang sangat istimewa.

Pram, seorang laki-laki yang nama sebenarnya adalah Asep, telah berhasil menulis sebuah novel bertema Revolusi. tema yang sangat jarang diusung oleh seorang penulis muda. sebutan Pram sendiri lahir karena kegilaannya pada buku-buku Pramoedya Ananta Toer. aku datang untuk kebahagiaannya.

judul novelnya adalah "Yang Melawan"
benar-benar sangat provokatif. dan tebalnya sungguh sangat menakjubkan, mengingat dia adalah penulis muda. kini, novelnya memang belum jelas siapa yang menerbitkan, karena memang dia tengah mengirimkannya ke beberapa penerbit. siapa yang sanggup menerbitkannya belum jelas.

ada yang berminat?

September 07, 2004

ini tentang kau
:kekasihku


lelahmu takkan pernah usai
setelah sekian lama, detik tak pernah
benarbenar menyempurnakan menit
dan menit tak pernah menggenapkan diri
dalam hitungan jam. seluruhnya bergerak
tanpa henti.

ini tentangmu, kekasih
saat rindu menjelma hantu,
keraguan adalah iblis yang menyesatkan
berjalanlah dalam sunyi
jangan ucapkan apa pun
sebelum matahari terbit
dari timur batinmu.

ini tentangmu, kekasih
laki-laki yang tak pernah berhenti
kucintai.

Bandung, 06 september 2004

September 05, 2004

ini tentang kawan lama

malam kemarin sengaja menghadiri launching sebuah novel, judulnya: Wajah Sebuah Vagina karya Naning Prananto. datang ke sana tak berharap apa pun, selain hanya melihat orang-orang yang menyimpan mimpi tentang sastra. meski sudah sejak lama, saya telah menghapus mimpi itu.

di sanalah saya kembali bertemu kawan-kawan yang hampir dua tahun lebih tidak pernah bertatap muka. saya bukan lupa terhadap mereka, tapi dunia kami memang sudah berbeda. kampus bukan lagi tempat bagi saya, sedang mereka adalah manusia-manusia yang hidup dan belajar tentang hidup di sana. dunia kampus sudah saya buang sejak lama. sejak saya memutuskan untuk menjadi seorang penulis.

kini, setelah saya bertemu mereka. ingatan itu kembali muncul. bagaimana mimpi yang saya bangun telah menghancurkan mimpi lain, yang banyak orang menganggapnya teramat sangat berharga. mungkin mereka yang tahu bagaimana saya membuang masa depan saya akan tertawa, terbahak-bahak menertawakan kegagalan saya. tapi tentu saja, hidup belum selesai sampai di sini kawan.

tunggu satu atau dua tahun lagi, kita akan lihat, siapa yang sebenarnya telah benar-benar hidup untuk kehidupan.

September 03, 2004

ini tentang alfianus rinting

iya, ini tentang kamu, ting!
tentang pertemuan kita yang layaknya skenario sinetron. tentang aku yang ngebut dengan ojeg supaya nggak telat mengantar kepergianmu. tentang pertemuan kita yang teramat sangat singkat.

akhirnya tuhan mempertemukan kita juga, setelah sekian lama namamu hanya mengisi memori kepalaku, kini raut wajahmu telah kusimpan rapi juga bersama dengan namamu. aku tak sempat bertanya, sudah berapa lama kau di kotaku. sebab mengetahui keberadaanmu yang begitu dekat, aku tak punya banyak waktu untuk berpikir, karena sebuah ojeg lebih penting dari segalanya.

ting, akhirnya aku bisa mengantarmu untuk menempuh kembali perjalananmu menuju timur. kota, tempat aku menyimpan impian.

selamat jalan, kawan!

September 02, 2004

sunyi malam,
sunyinya perempuan!

September 01, 2004

anjing!

makian yang teramat biasa itu sering keluar dari mulut-mulut kami, manusia penjelmaan binatang. tak pernah ada yang sanggup melebihi kekuatan makian itu, sekalipun sama-sama menyebutkan binatang, misalnya: babi! kecoak! cicak! bagong! monyet! dst..

anjing!
sangat nikmat di lidah-lidah kami yang terbiasa memandang hidup dari sudut yang berbeda dengan anda, mungkin. sesuatu, seperti kehilangan maknanya ketika kata makian itu tidak diikutsertakan. kenikmatan yang melebihi kenikmatan orgasme.

maka anjinglah kau, laki-laki!
tentu saja, ini bukan untukmu.
bukan.