November 24, 2007

I'M NOT THE ONLY ONE*

di pelataran depan tugu cipta, kita berdua saja, dua nasi dan pecel lele, segelas es teh, dan segelas teh hangat. kamu tak ingin teh yang dingin, sedang aku memilih es untuk sesuatu bernama jakarta. dua malam berturut-turut kamu menjumpaiku. sengaja meluangkan waktu sepulang kerja. kita melihat pertunjukan Dance theatre dari Constanza Macras | Dorky Park asal Berlin di graha bakti budaya. sengaja aku memisahkan diri dari rombongan, berdua denganmu di balkon. memilih duduk di kursi paling belakang. menikmati pertunjukan dengan sesekali tertawa. entah menertawakan apa.

"nasi dan pecel ini terasa lebih nikmat," katamu di sela-sela kita makan, "mungkin karena berdua jadi terasa lebih nikmat," ucapmu lagi.

dan sekarang, aku sudah kembali ke kotaku. mengingatmu sambil tersenyum sendiri. memaknai perjalanan yang serba tiba-tiba ini. dan aku baru teringat, aku harus cepat pulang saat kakiku berdenyut dan kembali terasa sakit akibat keseleo itu.

tca, suatu hari nanti, kita harus mendengarkan "hatiku selembar daun", di bawah pohon yang rindang.

*) Sebuah judul yang dimainkan oleh Constanza Macras | Dorkypark di Graha Bakti Budaya TIM, tanggal 22-23 November 2007.

November 15, 2007

pidato bunga-bunga

sudah dua malam berturut-turut saya menyaksikan pertunjukan tari di studio teater stsi bandung, meski sebetulnya belum layak dikatakan sebuah studio karena memang kondisinya yang masih setengah jadi. pertunjukan itu sebetulnya terdiri dari 3 reportoar antara lain, "pidato bunga-bunga", "flight no.12", dan "beras merah". koreografer dari ketiga reportoar ini adalah fitri setyaningsih. pada reportoar yang kedua fitri malah memainkannya sendiri. pertunjukan ini dilaksanakan di 3 kota. dan bandung adalah kota terakhir.

ada hal yang menarik dari 3 reportoar tersebut, yakni perjalanan menemukan tubuh tari, bukan tubuh penari. tubuh yang menurunkan tema-tema personalnya sendiri, begitu katanya. saya bisa menangkap dengan terang bagaimana tubuh-tubuh yang memang bukan penari itu mencoba mencari tubuh tarinya. tapi yang membuat imajinasi saya meloncat-loncat adalah ketika saya menemukan kalimat ini pada leaflet pertunjukan:

Anjing tetangga baru saja berkelahi. Salah satu di antaranya mati. Anjing yang mati lalu dikubur. 2 minggu kemudian, anjing yang membunuh anjing yang lain itu menggali kubur anjing yang sudah mati. Mayatnya sudah tinggal tulang dengan sisa-sisa sedikit daging. Lalu tulangnya dimakan oleh anjing itu. Tubuh anjing yang mati itu sekarang terkubur dalam perut anjing yang membunuhnya. Pagi itu gila sekali rasanya. Kami latihan bersama horor.***

teks tersebut katanya ditulis oleh Afrizal Malna. dan dia, telah berhasil membuat saya mencari-cari tentang apa yang dimaksud horor dalam tulisannya itu pada 3 reportoar yang mereka bawakan. pikiran-pikiran saya seakan-akan ditarik ulur oleh sebuah kekuatan yang saya sendiri tak mampu melihatnya.

di malam kedua, yaitu malam ini, saya akhirnya mengerti, kenapa teks itu dibuat.

(penari: yoyo jewe, yuni wahyuning, media anugrah ayu, ika dewi wulandari, fitri setyaningsih, mimi silmiati. koreografer: fitri setyaningsih. musik: leon delorenzo. kostum: fukamachi rei, caroline rika. lighting: aziz dying. artistik: afrizal malna, hanafi).

November 13, 2007

Kepada Abet Handoko

kini bersiaplah kita memulai hari
percayakan hidup pada tangan dan kaki sendiri
lupakan kemarin, sebab yang ada hanya hari ini
aku juga kamu akan selalu sendiri sendiri
di sini, pada putaran hidup yang ini

bet, siapkan ranselmu!
petualangan baru akan dimulai!

November 01, 2007

saya tahu dia telah pergi diam-diam

saya tahu dia telah pergi diam-diam, mungkin dengan mengendap-endap saat malam mulai menjelang, atau mungkin ketika subuh baru saja hinggap. dia meninggalkan saya, seperti juga mereka yang pergi begitu saja, tanpa pesan. kepergiannya yang mendadak seperti juga kedatangannya yang serba tiba-tiba.

dulu, saat saya dan dia berbicara banyak hal, saya tahu, saat seperti ini akan tiba juga. saat dimana satu harus meninggalkan yang lain. dan sekali lagi, saya merasa ditinggalkan. kami berjabat sebagai kawan. dia berada jauh di belahan dunia yang saya tak pernah mengenalnya, dan dia, tentu saja paham betul tempat di mana saya tinggal. sungguh sebuah hubungan yang timpang sesungguhnya, sebab dia bisa kapan saja datang ke kota saya, sedangkan saya, mustahil bisa datang ke kotanya. tapi itu tidak menjadi penting sekarang. karena kepergiannya telah berarti bahwa dia tidak ingin mengenal saya lagi.

saya kehilangan kabar tentangnya. email saya tak berbalas. dan saya mengerti bahwa dia sudah tidak mungkin lagi saya hubungi. dia sudah punya dunianya sendiri, dan saya tak bisa lagi menembusnya. saya hanya bisa berharap, suatu saat saya bisa kembali bertemu dengannya pada sebuah persimpangan yang lain, dan dia masih mengenali saya sebagai kawan. kalaupun tidak, saya cukup bahagia dengan menatapnya dari jauh. dari jarak yang tak tersentuh.

Kenaka, ini tulisan masih tentangmu.