April 29, 2003

setelah pertemuan denganmu, dan sebuah cerita panjang tentang masa silam. -masa lalu yang tak mungkin kembali-
aku seperti dihempaskan dari sebuah puncak yang teramat tinggi. sebuah dunia yang indah, namun baru kusadari sekarang keindahannya. kita mungkin menginginkan untuk kembali ke sana, sama seperti kita tidak menginginkannya luka itu tertoreh kembali. maka dengan kesadaran seorang pejalan, kita telah saling bergandengtangan, tapi tidak kembali ke masa lalu sebab sudah kukatakan, kita tak ingin merasakan lagi luka yang teramat dalam. meski luka, bukan lagi hal asing bagi seorang pejalan seperti kita.

kita telah bergandengtangan atas nama persaudaraan.
ini darahku! dan darahmu telah mengucur sejak malam ke dalam nadiku.

April 14, 2003

: abimanyu

awalnya aku mengira aku telah kehilanganmu. engkau begitu langka menyapaku.
tapi kini aku yakin, engkau hanya tengah mengembara, lalu pulang ke pelukan
malam. kepadaku. ya, sepertinya kita memang memiliki persamaan, meski kita
tak tahu itu apa.

beberapa saat aku meyakinkan diri, bahwa engkau masih engkau yang dulu.
yang bisa mengayuh perahu di lautlaut sepi dan malammalam sunyi. pertanyaan
muncul saat engkau hilang dalam jejak inbokku. lantas kusadari, mungkin
engkau telah berhasil menemukan rumah teduhmu.

mungkin kau pun akan berpikir hal yang sama, aku yang lari meninggalkanmu.
jika betul itu pikiranmu, maka kau salah besar. setiap kali kubuka email, aku
selalu menginginkan ada namamu dalam deretan email baruku.
namun harapanku siasia.

tapi kini engkau tengah kembali. memelukku sebagai saudaramu dalam
mengarungi lembah duka, tebing nestapa. kini, kurengkuh engkau kembali
di pelukanku. aku juga rindu kamu!

April 06, 2003

abimanyu,
rindu hanya akan menjadi debu dalam ruangruang
hampa milik kita. lupakan tentang rindu,
mari kita belajar mencintai suasana.

pada senja yang ceria

April 03, 2003

seperti biasa, aku menunggumu di kamar ini

entah berapa ribu langkah waktu telah berlari
namun tiktak itu tak pernah lelah. lantai beku
dan kalender membatu berhasil mengirim
kesepian yang purba untuk terus kurayakan
kehadirannya

sisa sepi dalam gelas serta piring kotor itu telah
mengatakannya, engkau pergi dan akan kembali
esok atau lusa

di sini, kaki rapuhku menjelma akar pohon
jutaan tahun. menancap dalam. sedang tanganku
menjelma rantingranting, menyentuh setiap inci
yang tertinggal

hanya sepi dan sekerat luka yang tertinggal di sini
namun seperti biasa, aku menunggumu di kamar ini.

BumiAllah, 19 maret 2003