April 05, 2008



hidup seperti mendaki gunung, katamu. aku mempercayainya. kita bertemu pada sebuah persimpangan, lantas tiba-tiba sebuah keadaan memaksa kita untuk terus berjalan bersama. melewati terjal bebatuan, melewati turunan yang curam, melewati deras arus sungai, melewati semuanya, hingga kelak, sebuah puncak kita gapai.

puncak itu memang sudah nampak, tapi sesuatu seperti memaksaku berpikir ulang, berjalan di jalan yang ini, atau berubah haluan? aku tak tahu bagaimana aku tanpamu. tapi sungguh, jika pun berjalan bersamamu seperti sekarang ini, aku tak yakin, puncak yang kita tuju itu sama.

saat inilah baru kusadari, aku tak pernah punya tujuan. puncak yang kulihat selama ini seperti mengabur, dan aku kehilangan koordinat. ada kamu di sampingku, tapi aku tak tahu tujuanmu kemana. aku hanya takut tak pernah bisa benar-benar menemukan tujuanku sendiri.

maka ijinkan aku untuk berjalan sendiri. menyusun peta sendiri.

April 01, 2008

Suatu Hari, Ketika Aan Pindah Rumah



Saya lupa, sejak kapan saya mengenal Aan. Tapi saya tahu pasti, pertemuan saya dengannya bukanlah pertemuan yang disengaja. Saat itu saya ke Solo untuk sebuah acara workshop kepenulisan. Saya jadi peserta waktu itu, dan bertemulah saya dengan Aan di sana. Dia datang dari Makassar bersama Rahmat Hidayat, seseorang yang selalu mengingatkan saya pada karcis Prameks. Pertemuan saya dengan Aan betul-betul pertemuan yang sangat biasa. Hanya tiba-tiba, pada satu percakapan kami, jejalin itu mulai terlihat. Aan, ternyata kawannya Ochan, sahabat saya yang saya temukan secara ajaib. Saat itu Akademi Kebudayaan Yogya (AKY) masih ada, meski lokasinya sudah pindah. Kami menginap di AKY, sebelum besoknya saya kembali ke Bandung.

Beberapa hari ini, saya bertemu hampir tiap hari dengan Aan. Tidak di Solo, tidak juga di Makassar, tapi di Bandung. Di kota saya sendiri. Ransel di punggungnya begitu sarat. Dia masih seperti Aan yang dulu, Aan yang saya kenal di Solo. Dari ransel di punggungnya itulah saya mengerti bahwa dia Hendak Pindah Rumah. Saya tak bertanya, ke mana dia pindah rumah. Saya toh pada akhirnya akan tahu sendiri, begitu pikir saya.

Tadi malam, tanpa saya bertanya, dia begitu banyak bicara. Dan akhirnya saya mengerti, ke mana dia pindah rumah. Saya mengenal Aan berumah di sini sejak lama. Lantas sekarang, saya melihatnya di banyak tempat. Di tempat-tempat yang bahkan tak pernah terpikirkan. Mungkin kamu juga akan kaget, ketika tiba-tiba kamu tersadar, Aan sudah berumah di hatimu, di jiwamu.

Bagaimana bisa? Mungkin kamu akan berteriak sekencang-kencang yang kamu bisa, untuk bertanya tentang itu. Lantas Aan dengan santainya akan menjawab, "bukan aku yang pindah rumah, tapi puisi-puisiku, dia akan membuat ruangnya sendiri, di hatimu." Dan saat kamu menemukan jawaban itu, kamu tak akan pernah bisa menyangkalnya. Begitu pun saya. Saya tiba-tiba merasa, telah membangun sebuah ruang, entah di sudut yang mana dalam diri saya, untuk puisi-puisi Aan.

Subuh ini, Aan berkemas. Dia menyiapkan semuanya, sendiri. Ranselnya masih sarat. Kini dia ingin ke timur, membawa semuanya, untuk dia pindahkan ke rumah barunya. Kelak, saat saya berjalan ke timur, mungkin akan saya temukan jejaknya di sana.

Selamat jalan, An!
Kembalilah jika suatu saat kau merindukannya.