Januari 26, 2003

aku memimpikan pertemuan

aku bermimpi kita bertemu dalam teduh matahari, meski tak lagi saling berkata sayang. semua telah menjadi masa lalu, kini tinggal abu. katamu dalam gemerincing senja.

aku tahu. dulu, kita telah salah menapak jalan. kau pilih jalur kanan, dan aku memilih lajur kiri. kita telah menjadi anakanak logika yang menuhankan kegilaan sendiri. padahal kita telah mengikat kata, mengukir puisi.

sudahlah...
kini aku memimpikan pertemuan yang kedua kali, dengan sebuah perasaan yang hangat, dan melupakan masa lalu. sambut jabat persahabatan ini, kawan!

Januari 20, 2003

bulan sempurna, sesempurna rasa rinduku padamu. rasa rindu yang terus merangsek dalam batin. menggelorakan namamu ribuan kali.

aku memang terpenjara. terkurung dalam rasa takut yang sangat. dindingdinding yang tak pernah tidur mengurung jasadku, sedang pikiranku tetap bersamamu.

ribuan kali mereka membunuh namamu, jutaan kali itu juga kutumbuhkan kembali namamu.

dibawah purnama, kuseret kaki dengan rantairantai yang dikirim mereka atas pengkhianatan. sedang dalam kepalaku tersimpan senyummu yang paling cemerlang.

kirimkan padaku potongan besi dari tubuhnya, maka akan kubebaskan jasadku dari kerangkeng ini.
kirimkan padaku senyuman dari bibirnya, biar hilang seluruh nyeri dalam dada.

kirimkan padaku cinta!!!

dibawah purnama, 19 januari 2003

Januari 16, 2003

selamat datang di negeri pecinta

sebab mencintai lebih bermakna,
sebab dicintai adalah kebahagiaan

Januari 12, 2003

surat untuk seorang sahabat
: selamat menempuh hidup baru dalam penjara rumah tangga


aku tak mengira, dunia berputar begitu cepat. sangat cepat. tak terasa kita telah samasama menjadi dewasa, padahal baru kemarin kita saling lempar bola, main petak umpet, monopoli, remi. sebab dulu tak ada playstasion, sedang televisi masih TVRI yang setiap minggunya kita hanya menonton si unyil. kita asyik bermain dengan permainan yang kita buat sendiri. sampai kita lupa makan. dan ibu kita akan berteriak keras saat senja ketika kita masih juga belum pulang.

ya, masamasa seperti itu begitu menakjubkan. terkadang aku ingin kembali ke masa itu, konyol memang. tapi aku selalu rindu masamasa demikian. hidup bebas, tanpa beban.

sebentar lagi kau harus pergi dari dunia anakanakmu. kau akan menjadi perempuan dewasa sepenuhnya. menjadi seorang istri dari lakilaki yang kau cintai. dan menjadi seorang ibu pada akhirnya, kelak akan menjadi nenek bagi anakanakmu. dunia yang akan kau masuki adalah dunia orangorang dewasa. dunia yang teramat keras, tapi disanalah kau mungkin akan menemukan kebahagiaan yang seutuhnya.

sebentar lagi, satu kebebasanmu akan hilang. dulu kita sering pulang malam, pergi nonton ke bioskop sampai layar tancap, atau sekedar makan bakso di pinggir jalan. ya, kau mungkin tak lagi bisa seperti dulu. pergi kemanapun ditemani oleh suamimu. sungguh, sebuah dunia yang menyebalkan kalau kupikir. tapi kau sudah memilih jalanmu sendiri. aku bahagia atas pilihanmu, sebahagia dirimu dan keluargamu.

kau tahu? seorang ibu bertanya padaku kemarin, "kapan kau akan menyusul, Nak?" dan aku hanya tersenyum sambil kujawab "kapankapan." geli rasanya ditanya seperti itu.

kuucapkan selamat untukmu, sayang!
semoga ini adalah benarbenar keputusanmu atas jalan hidup yang akan kau tempuh. aku tahu, dibalik kebahagiaanmu ini, ada setitik kesedihan menempel. kulihat matamu berkata jujur. jangan sedih, sayang! penjara yang akan kau masuki tak seburuk penjara untuk para penjahat itu.

peluk cium dari sahabat kecilmu

Januari 07, 2003

hakikat

ketika senja turun membawa tirai kegelapan, sayapnya menutupi matahari, kakikakinya kokoh menancap di kegelapan malam. burung pun sudah enggan melantunkan elegi pagi. saat ini, kutulis sebuah coretan untukmu seorang.

ketika pertemuan tak membawa harapan, hanya menyisakan segumpal kepenasaran dan kekecewaan, semua tak diharap. karena bila hati telah bertaut tak ada lipatanlipatan kegundahan dan keraguan. tak akan terjadi hembusan angin kesedihan menumbangkan akar kepercayaan.

tak ada emas yang bergemerlap bila tidak menggali tanah. tak ada berlian yang berkilauan bila tidak menyelam di dasar samudera. tak hanya asa yang bermain atau impian yang hanya tumpukan kenangan jadi pegangan. semua harus berproses dengan segala harapan dan rintangan, dengan segala usaha dan pengertian, agar segalanya didapat.

semoga engkau mengerti, bahwasannya bila telah dilihat putihnya kapas, hitamnya jelaga, pasti akan mengatakan itulah hal yang sebenarnya. bila engkau telah merasakan panasnya api, dinginnya salju, bisa mengatakan itulah hakikatnya. tak bisa diharap bila hanya pandangan mata sekejap, lintasan pikiran yang berlari akan mengungkap kebesaran, ketelitian dan kesabaran. ketenangan dan harapan akan membuka tabir kegelapan. diharap hantu penyesalan tak menghinggapi. tak ada tetesan airmata yang mengalir mengiringi kegalauan hati, bila semuanya telah terjadi.

aku harap kita bisa memahami tentang kita. bila lidah masih mendendangkan aku adalah aku, hanya kepalsuan yang ada. bila lisan telah berkata aku adalah kamu, maka gerbang penantian telah dilewati, istana bahagia dapat dimasuki.

08 Jan 2003

Januari 06, 2003

masih saja terus rasa itu mengalir dalam setiap sendi
memecahkan kaca bening mata, terbatabata kueja nama
binatang yang melintas diantara suara paraumu yang
menyuruhku berhatihati akan bahaya radiasi layar dan
harga kenaikan bbm, listrik sampe dengan ikan asin dan
sayur asam.

lebih baik kupalingkan mata ini
ke arahmu, biar hilang seluruh rasa
duka, dan tak ada lagi aliran bening
yang hangat pada pematang pipi.

ya, hanya padamu kupalingkan seluruh
tatap. hanya padamu.

Januari 01, 2003

tak ada, selain sunyi

sms beterbangan di udara, di hari pertama tahun 2003. ucapanucapan selamat membahana. dan terompetterompet memekakan telinga. semua karena hanya pergantian angka di belakang 200, hanya satu angka. tak lebih!

dan disini, seluruh kenangan berhamburan. memaksa keluar dari kepalaku. membuncah kembali. aku banjir kisah masalalu. ada lukisan sepeda gunungmu di dinding kamarku. ada gerai rambut panjangmu di tempat tidurku. ada seulas senyum beku di lemari kacaku. ada engkau, ada dia, ada mereka.

tak ada makna apapun malam ini, selain sunyi!