Maret 26, 2005

masih kukembarakan sunyi

masih kukembarakan sunyi ini ke dalam cerukceruk batin
entah sampai kapan. mungkin sampai daundaun itu gugur sendirian
mungkin sampai entah yang paling berantah
sebab sunyi mencekam diri terlampau erat, terlampau kuat

kau memang tak lagi mengerti
tentang degup yang membuat gugup
tentang irama ritmis yang mistis
tentang sunyi yang meruang dalam dada

tak ada sesuatu pun tentangmu selain kesedihan yang berkelindan
membangun jejaring, menggenapkan kesunyian yang paling senyap

malam demi malam berlalu
musim demi musim berganti
tapi masih juga kukembarakan sunyi yang sama.

BumiAllah, 26 maret 2005

Maret 16, 2005

sebuah kado untukmu
:did


anggap saja ini sebuah hadiah
walau aku tahu, katakata kadang tak berguna

kelak,
jika kau temukan sebuah sungai
yang mampu membuat jiwamu tenang
menyelamlah di kedalamannya

kau tentu paham,
langkahku tak tertebak arah angin mana pun
sedang langkahmu adalah rute yang pasti
maka berjalanlah lebih dulu
berbahagialah lebih dulu
tersenyumlah lebih dulu
sebab, kau adalah kebahagiaan bagiku.

selamat ulang tahun!
rumah abadi kita adalah rahim ibu.

BumiAllah, 16 maret 2005.

Maret 12, 2005

akhirnya aku menemukan udara baru
aku kembali bernafas
tanpa sesak, tanpa lesak
aku sudah bisa berteriak nyaring lagi
memaki dunia
memaki kau, lelaki!

Maret 01, 2005

mari kita bicara tentang sepi yang tertunda.
entah berapa lama kita lari dan sembunyi. menyangkal dengan keras, bahwa kau dan aku tak pernah merasa sepi. jujurlah pada hatimu, dan aku akan jujur pada hatiku. kita berjalan terlampau lama dengan matahari terik di atas ubun-ubun. kita terlalu lelah ternyata. sedang sungai itu tak juga kita temukan. perjalanan ini semua dilarung dalam sepi. mungkin itu yang membuat tenaga kita cepat terkuras, habis. tak lagi bersisa selain sepi.

berapa kilometer telah kau dan aku lewati? tak ada yang tahu. hanya sepi demi sepi yang terus berganti, terlewat dari satu sisi ke sisi yang lain. dari satu tikungan ke tikungan yang lain. masih juga sepi yang kau dan aku temui di setiap perempatan jalannya.

senja datang, sepi masih juga ada. menjadi dinding pemisah yang tebal dan tinggi antara kau dan aku. hingga akhirnya langit berganti gelap. malam mengelam. sedang bulan tak kunjung datang. bintang sesekali tersenyum, walau kecut.
sepi.

masih juga sepi yang membuatmu merasa, bahwa aku tak benar-benar ada. bahwa aku hanyalah sesuatu yang datang dari dunia yang tak patut disentuh. bahwa aku adalah wujud yang tak benar-benar mewujud. bahwa aku menjadi penghalang bagimu, tenggelam dalam sepi yang sebenar-benar sepi.

lantas sepi apa yang kau dan aku cari?
bukan. bukan sepi yang ini. ini sepi terlalu riuh. aku hanya ingin sepi yang paling sepi. yang mampu membuatku merasa, dunia telah usai. dan semua orang akan tersadar, seperti bangun dari mimpi buruk yang panjang.

AKU INGIN SEPI YANG ITU!