Februari 23, 2009

Subuh, Langit, dan Kekasih

Suatu malam, seperti hari-hari sebelumnya juga, saya pulang tengah malam sendirian. Rasa-rasanya itu bukan tengah malam, ya dini hari, menjelang pukul dua pagi. Karena tak ada angkutan kota yang bisa langsung membawa saya ke jalan dekat rumah, maka saya harus naik angkutan kota beberapa kali. Saya naik angkot yang melewati gasibu, lalu berhenti di gasibu, setelah itu naik yang ke arah cihampelas. Di jalan cihampelas saya berhenti, setelah itu saya berjalan naik ke arah cipaganti, lalu ke arah cemara. Di jam seperti itu angkot hanya lewat satu jam sekali. Maka saya memutuskan untuk berjalan saja. Menyusuri jalan cemara. Sampai akhirnya menyeberang jalan, masuk ke jalan karang tinggal, tempat rumah saya berada.

Saat menyusuri jalan karang tinggal itulah, saya mendadak ingin melihat langit, karena biasanya, ketika berjalan saya tak pernah melihat kanan-kiri, saya melulu menunduk, melihat jalan yang akan saya jejak. Tapi pada malam itu, saat tiba-tiba saya memutuskan untuk melihat langit, saya melongo. Langit dini hari itu begitu indah, bahkan saya tak mungkin bisa menuliskannya lewat kata-kata. Sungguh, bebintang itu seolah-olah muncul semua, dan bulan, bulan sabit itu bercahaya terang di antara awan putih yang mengambang. Saya takjub. Sungguh, seumur-umur saya melihat langit di tempat saya tinggal, saya tak pernah melihat langit seindah itu.

Mungkin jika saya berada di ketinggian, langit seperti itu biasa-biasa saja rasanya, karena saya pernah menemukan bebintang yang lebih banyak dari itu di sebuah gunung. Saya menjadi merasa begitu melankolis malam itu. Dan tanpa disadari, saya menangis. Hahaha... tentu saja ini lucu, saya menangis disaat langit menampakan keindahannya.

Entah kenapa, tiba-tiba saya teringat mantan kekasih saya, yang kemungkinan besar dia sudah melupakan saya. Hahaha... lucu sekali. Saya lalu menertawai kekonyolan diri sendiri. Lalu bergegas melangkah pergi, menuju rumah, dan mencoba melupakan semua yang telah saya lihat dan ingat.

Februari 14, 2009

melankoli sebuah karang

angin menjelma badai ketika kau datang
serupa petualang yang tak ingat lagi jalan pulang
hempaskan lagi deras udaramu ke jantungku
biar malam sempurna membiru

2009