Mei 27, 2006

antara duka dan bahagia

pagi ini, teman dekat saya sedang melangsungkan pernikahan. saya mengenal kedua pasangan itu sudah hampir lima tahun. sejak saya memilih puisi sebagai kekasih saya. yang berbahagia itu adalah, kawan saya Ujianto Sadewa dan Mena Dewi Lestari. kebahagiaan turut menghiasi hari saya, walau pada akhirnya saya tak bisa menghadirinya karena jarak yang tak bisa kompromi.

sore ini, saya tersentak untuk sebuah berita yang muncul tiba-tiba. sejak pagi saya memang mengunci diri di kamar. saya tidak menyalakan televisi atau radio. sedang surat kabar tak muncul di kamar saya hari ini. baru ketika sore, saat saya berniat sekadar berleha-leha sambil melihat beberapa berita. saya menemukan kenyataan bahwa Yogya terkena gempa dengan skala yang cukup besar. sungguh mengejutkan.

di antara kabar bahagia, masih saja harus ada kabar duka.

Mei 26, 2006

sebuah siang di persimpangan jalan

siang sekali kita berkemas. mengemas sisa pertempuran semalam
aku terburuburu memasukan luka ke dalam dada
kau tak sempat membuang benci yang berserak di atas meja
sprei yang kusut kita biarkan masai
tasku penuh berisi tangisan
ranselmu telah sarat kemarahan
kita memang sempat sarapan
aku memesan kenangan
dan kau lagilagi memesan tuduhan

kita berjalan cepat
seperti mengejar kereta yang sebentar lagi berangkat
kita memang akan berangkat. kau berjalan sedikit di depanku
ingin aku mengejarmu, namun langkah terasa berat

pada sebuah persimpangan kita saling menatap
kau menghentikan bis menuju keriuhan
aku menyetop taksi mencari alamat kesunyian

kita saling menatap untuk terakhir kali
dan tak pernah ada janji untuk bertemu kembali.

Dipati ukur, 25 Mei 2006

Mei 15, 2006

di dalam kamar
:Hafidhin Royan

kita berjabat dalam sunyi paling hening
kau bicara padaku tentang jalan panjang dan kesabaran
tentang airmata yang takkan selesai ditumpahkan
tentang darah yang tetap akan mengalir
menjadi sungai
menuju lautlaut harapan

kau bicara padaku lewat merapi
tentang dada yang siap meledak kapan saja
tentang murka yang disimpan rapi dalam hati
para penduka yang terluka

di sini kamarmu kini
kau bahkan tak berniat membuat pintu atau jendela
kau biarkan kami datang dengan memikul luka yang sama
duka tanpa akhir dari sejarah bangsa kita

di sini kamarmu kini
dan aku takkan membiarkanmu sendirian.

Padasuka, 15 Mei 2006.