Februari 26, 2004

tahun baru, luka baru

apa yang harus dikatakan? jika semuanya tak patut disesali, apalagi dianggap sebagai akhir dari segalanya. bukan, bukan itu yang patut direnungkan. masih ada banyak kata sekedar membuat kita tenang.

kejadian demi kejadian datang silih berganti. pertama-tama, makhluk satu ini hp-nya raib dalam sebuah rencana pertemuan, lantas dua sejoli ini pun mengalami cedera yang lumayan diakibatkan lubang jalanan di sekitar kampus itb. dan akhirnya, jatah itu datang juga kepada saya.

tepatnya selasa siang, sehabis membobol ludes tabungan saya yang tak seberapa di bank mandiri cabang setiabudhi, tepat beberapa menit setelah kaki saya melangkah keluar dari bank, sebuah motor dengan dua orang penumpangnya berhasil menjambret tas merah kesayangan saya hingga tak menyisakan apa pun, selain kegetiran dan rasa takut dalam diri. ini benar-benar pengalaman pertama dan semoga menjadi pengalaman terakhir hidup saya.

awal tahun yang banyak menyisakan kenangan, semoga membawa kebaikan sepanjang tahun ini. beberapa nyawa telah diambil dari tas saya. bukan hanya uang, bukan hanya handphone, bukan hanya ktp, atau atm, tapi beberapa disket berisi tulisan-tulisan, beberapa buku catatan berisi tulisan-tulisan juga, buku albert camus yang berjudul orang-orang terbungkam milik kakak saya, on/off edisi terbaru, dan beberapa alat untuk menulis.

kini yang tertinggal hanya sepenggal kenangan. hanya kenangan! tapi tak harus disesali bukan? sebab waktu tak mungkin kembali.

Februari 22, 2004

selamat tahun baru!

selamat tahun baru 1425 hijriah!
semoga tuhan senantiasa memberikan
hidayahnya kepada kita semua.
amin!

Februari 21, 2004

SELAMAT MEMASUKI GERBANG RUMAH TANGGA
: arwan & arie


semoga kebahagiaan menyelimuti rumah yang kalian bangun dengan rasa cinta dan saling percaya. maaf, aku tak bisa melihatmu melisankan syahadat untuk berjanji setia selalu bersama dalam duka dan bahagia. mencipta puisi berdua. hanya berdua.

selamat!

Februari 17, 2004

perempuan yg damai dlm doa,
ajarilah aku melafaskan namaNya,
bantu aku tuk memahami arti
kesetiaan tunggal hatimu.

sender: tantry
+628124647xxx
sent: 19 februari 2004
18:35:31

UP DATE

Barangkali akulah itu.
Kupu2 yg tersesat di kolong
waktu. Jiwaku mengulir.
Terpelintir tak sempat menuju.
Kemana? Kemana seharusnya
geletar sayap membawaku?
Aku kalut. Kalut dalam kabut
kerinduanku sendiri. Semusim
semuanya sungguh bersemi.
Seperti tunas pada batang2
cherry.

sender: bunga rumput liar
+628161365xxx
sent: 17 februari 2004
21:15:24

indah. puisi dari sahabat. akhirnya harus teronggok begitu saja. tanpa balasan. bukan karena tak punya kata-kata. tapi pulsa lebih berkuasa. bukankah puisi lebih indah untuk dinikmati? tak perlu menafsirnya. bacalah! dan biarkan kata-kata hanyut dalam darahmu. dalam nadimu. dan kita akan tenggelam dengan sendirinya.

Februari 14, 2004

hari yang melelahkan

ketika semua orang berburu warna-warna merah muda, dengan bangga kupakai pakaian dengan warna hitam. bukan berarti kelam. tapi sekedar melawan arus saja. sekedar meyakinkan diri, bahwa tanggal berapa pun kasih sayang akan senantiasa mengalir. dari jiwa. dari hati.

tak ada acara khusus sekedar memperingati tanggal ini, meski orang diluar sana semarak. mengalahkan semaraknya peringatan 17 agustusan. hanya beberapa acara komunitas digelar dalam jam yang sama. otomatis, tenaga agak sedikit terkuras. tapi tak apalah, tokh tidak setiap hari bukan?

ah begini saja dulu. badan saya remuk. sebentar lagi mungkin patah-patah!

Februari 13, 2004

suamiku seorang pelukis

dilukisnya cinta dalam kanvas batinku
ratusan warnanya diambil dari pelangi
dilukisnya laut dalam mataku
birunya pecah menjadi airmata
dilukisnya rumah di punggungku
sebagai tempat kembali
sebuah pengembaraan yang panjang
dan anakku adalah mahakarya terbesar
yang dilukisnya dalam rahimku.

BumiAllah, 13 februari 2004

Februari 09, 2004

kembali kususuri rumah kita. rumah yang kita bangun dengan cinta. rumah yang kita bangun dengan katakata. rumah, tempat kisah kita tersimpan rapat. aku rindu masa lalu, meski waktu tak mungkin kembali, bahkan hanya untuk sekedar berhenti.

kau dan aku telah sama-sama berjalan, menyusuri kelokan, mendaki tebing, berjalan di atas pasir, menendang kerikil-kerikil kecil, atau bahkan hanya diam untuk sekedar memandang jalan tempat kaki kita kelak akan berpijak. selalu, seperti masa lalu yang tenggelam dalam senja, dan malam yang memaksa kita memejamkan mata, kita pun seakan-akan tak pernah ingat, kapan terakhir kita bertatap.