Maret 31, 2004

kembali resah itu menggeliat. kau memang tidak datang malam ini dalam mimpiku, tapi tidakkah kau tahu? ada ritmis yang mistis yang menuntunku terus melukis sketsamu yang samar, meski hanya kabut yang menjadi pertanda kaburnya penglihatan. tapi di depanku kau tersenyum tanpa batas ruang, tanpa batas jarak. tersenyum...

Maret 27, 2004

bandung kembali basah. air tercurah dengan indah dari langitnya yang berwarna kelabu. udara sebelumnya memang membuat gerah, apalagi dengan baju favorit yang kupakai menjelajahi jalanan, apalagi kalo bukan hitam-hitam. warna yang punya banyak makna, sekaligus tak bermakna apapun.

seorang temanku pernah bilang, menulis adalah pilihan. temanku yang lain malah lebih ekstrim lagi, menulis adalah agama. ibadah ritual baginya adalah berjam-jam di depan monitor, dengan jari-jari menekan-nekan keyboard. menulis. hanya sekedar menulis. tak perlu tema untuk menulis bukan? jangan dulu bermimpi untuk bisa menulis banyak hal tentang banyak orang, menulislah sehari satu jam saja tentang apa pun, tentang siapa pun, sebab kelak kalau kau bersetia dengan agamamu itu, aku yakin kau akan mampu menulis seharian.

kini, aku menulis. meski menulis bukan pilihan sekaligus bukan agamaku. aku bukan juga orang yang merasa ada dengan menulis, sebab aku menulis karena aku ingin menulis. itu saja!

hujan di angkot itu ternyata indah sodara-sodara!

Maret 25, 2004

GILA!

Maret 18, 2004

lelah...
atau kah kalah?

Maret 05, 2004

kepada siapa beku ini kukirimkan?

siang yang garang, dalam geliat usang yang senantiasa terbaca arahnya kau dan aku masih juga berlari. mungkin mengejar senja yang sebentar lagi datang, atau mungkin mengejar matahari yang perlahan beranjak ke barat, atau bahkan tak mengejar apapun. kau dan aku masih terus berlari, keringat mengucur dari rambutku, dari dahimu, dari tubuhmu juga tubuhku. tapi kau dan aku tak juga berhenti, sedangkan jalan-jalan semakin sepi dan jantung kota telah jauh ditinggalkan.

matahari tak lagi tampak, senja pun sudah berangkat, dan kita masih juga berlari. menembus pekat yang kian likat. angin menderu, awan hitam, dan rembulan turun perlahan. kita, masih juga asin dan berkeringat. angin tak mampu menggugurkan tetesan itu dari tubuh kita. arah pun juga waktu tak lagi berkuasa, kaki kita lebih paham kemana langkah akan terkayuh. cuaca hanya musik sengau yang mengantarkan jenazah ke pemakaman.

maka ketika bulan pun raib, kita tak pernah tahu kemana kaki kita akan berlari mengirimkan beku yang kian menggumpal dan mengental dalam dada.

Maret 02, 2004

happy birthday mamatz!

mamatz yang baik, selamat ulang taun ya!
ulang tahun ke 17 ya? bungkuss dehh..
apa sih yang ngga buat kamu.
mau hadiah apa? aku gak punya apa-apa kok.
aku cuma punya ini saja, baca baik-baik ya:

mengalirlah senantiasa sungai kesabaran di hatimu
biarkan ia melintas menuju laut lepas
bersatu dalam pertemuan dua biru
biru laut, biru langit. birunya hasrat juga mimpi

menarilah dalam tarian rindu
sebab ia yang mengajarkan kau bermimpi
tentang cakrawala yang lapang
juga bintang yang terang

BumiAllah, 02 maret 2004