Desember 29, 2005

aku harus pergi sebelum senja menjadi gelap dan malam menikam matahari. ya, aku harus pergi. esok akan kukecup kembali rekah bibirmu. akan kupeluk kembali tubuhmu yang bearoma kenanga. tapi detik ini, aku harus pergi.

"kau tak lagi mencintaiku?" rengekmu.
"tak seorang pun yang kucintai selain engkau!"
"gombal!"

aku mencintaimu, maka aku pergi. inilah cinta yang sesungguhnya. cinta sebenarbenar cinta. harum tubuhmu akan kubawa terus kemana pun aku pergi. hingga esok, akan kudekap kembali jasadmu yang nyata. tapi sekarang, aku harus pergi.

"kau akan kembali?" ucapmu lirih, jemarimu masih erat menggenggam tanganku.
"aku akan kembali untukmu." kukecup keningmu.
"kapan?"
"esok!"
"selalu kau katakan esok. sedang kau tak punya ukuran untuk esokmu. esokmu bisa seminggu, sebulan, setahun. aku tak tahu, juga engkau. untuk itu, kularang engkau pergi lagi. tinggallah disini. di dekatku... selamanya....!"

lelaki harus pergi* tapi ia akan kembali. suatu hari nanti. esok!
kulepaskan seluruh genggaman jemarimu. kuhapus bening airmata di pipimu. kulangkahkan kakiku tanpa menoleh kembali.


"esok, aku akan pulang!"

*) Diambil dari Catatan Perjalanan Asia Gola Gong

Desember 20, 2005

putih bolong

beginilah ketika alam mencoba berteriak dan melawan. sesuatu tiba-tiba menjelma batu. air, pepohonan, tanah dan dedaunan tak lagi ada. semua menjelma batu. hujan batu. lantas adakah yang bisa mengembalikan semuanya? selain kita? pelaku-pelaku kejahatan yang diam-diam telah membunuh seluruh kehidupan. merubahnya menjadi batu.

kitalah pembunuh itu, tuan!

Desember 15, 2005

surat untuk seorang kawan seperjalanan

jika memaafkan terlalu berat bagimu, maka lupakan perjalanan kita satu tahun ke belakang. lupakan semua tentang aku. anggap saja kita tak pernah saling mengenal sebelumnya. dan aku akan berusaha memulai hidup baru, tanpa harus merasa takut tersakiti atau menyakiti.

jika rasa sakit yang kurasakan tak cukup menjadi alasan bagimu untuk memaafkanku yang lancang berbuat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan, maka sudahi saja kisah (yang entah kita beri nama apa) ini. sudah terlalu banyak kesalahanku di hadapanmu sejak kita saling mengenal. sedangkan kamu, tak pernah sedikit pun membuat kesalahan.

untuk yang terakhir kalinya, maafkan aku!
walau kau mungkin akan tetap membiarkan aku menjadi pesakitan dan pecundang yang picik di hadapanmu.

salam.

Desember 10, 2005

Mungkinkah binatang lebih berkebudayaan?

Wajar kalau pertanyaan di atas muncul begitu saja. Seakan-akan manusia tidak lebih berharga dari binatang. Ya, bukankah sudah banyak terjadi bahwa anak membunuh ayahnya dan ayah memperkosa anaknya? Perbuatan macam itu lebih hina daripada binatang bukan? Itu baru satu sisi saja. Mari kita tinjau sisi yang lainnya.

Tiba-tiba saya harus dihadapkan pada satu kejadian yang sangat dilematis. Di satu sisi, saya tahu bahwa saya sedang melakukan banyak kesalahan. Saya membiarkan diri saya dizalimi secara terang-terangan. Tapi saya tidak bisa melawan. Kalau pun saya memaksakan melawan, maka satu kompi bahkan satu batalyon di belakang saya akan hancur tanpa pernah bisa merasakan hasil dari jerih payah yang selama ini kami lakukan dengan harapan kelak punya kekuatan untuk bisa melawan dengan sepenuh taktik, sepenuh strategi.

Mereka mengatasnamakan kebudayaan dengan cara menzalimi kami yang berada pada kasta paling rendah dalam urutan birokrasi. Saya hanya ingin berkegiatan dengan hati riang gembira, dan kawan-kawan saya pun akan menyepakatinya. Kami cukup bahagia dengan sedikit cemilan dan segelas air mineral. Tidak lebih. Tapi kami cukup bahagia.

Lantas kenapa mereka masih saja mengambil sedikit cemilan itu dengan paksa dari lidah kami? Kami dijambaknya dan apa yang baru akan dikunyah itu lepas dari mulut kami. Kami hanya menemukan remah dari sisa-sisa mereka yang mengatasnamakan kebudayaan.

Anjing!
Terkutuklah mereka yang berada di balik kursi-kursi birokrasi, yang ongkang-ongkang kaki dengan memakan uang korupsi. Anjing! Terkutuklah kalian binatang!


Amin.
Semoga doa orang-orang yang dizalimi ini terkabul, Tuhan!

Desember 04, 2005

Macbeth,
Tragedi Berdarah dan Kerakusan Manusia


Kekuasaan, Harta, dan Perempuan selalu saja berkaitan erat dengan satu bentuk tragedi. Seperti dalam drama yang sengaja saya tonton di Rumentang Siang malam tadi dengan judul Macbeth, begitu jelas, perempuan menjadi otak dibalik kejahatan laki-laki. Saya tidak sedang membela laki-laki, tapi begitulah gambaran drama yang saya tonton dengan sedikit tidak nyaman, karena badan yang remuk-redam sehabis terjatuh.

Yang menarik adalah artistik panggungnya saya pikir. Bagaimana sebuah awalan dari pertunjukan, kita telah diperlihatkan sebuah ilustrasi di balik selembar kain warna putih dengan gambaran dua bayangan yang satu sama lain saling menghunus pedang dan berduel. Gambaran yang memberi semangat saya, bahwa saya takkan menyesal menonton drama ini, yang mungkin akan berlangsung 2-3 jam. Tapi kenyataan terkadang jauh dari harapan. Tragedi yang seakan-akan mencekam tiba-tiba harus terlihat seperti dagelan. Ahhh.. sungguh, aku kecewa dengan permainan Yosef Muldiyana.

Kekuasan itu berdarah. Begitu banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk bisa menikmati satu bentuk yang bernama kekuasaan. Dan itu, tidak terlepas dari kondisi bangsa kita saat ini. Begitulah kisah yang dibangun dalam Macbeth. Karya dari Shakespeare yang juga penulis Hamlet dan Romeo and Juliet.

Macbeth, takkan pernah terkalahkan oleh lelaki yang terlahir dari kelamin perempuan! Begitulah Macbeth mencoba mempertahankan kekuasaan sampai titik darah penghabisannya di bawah pedang Macduff.

Selain STB, denger-denger Cassanova juga mau membawakan naskah yang sama pada pementasan yang akan datang. Sungguh, saya tak sabar melihatnya. Bukankah hasil kerja anak muda biasanya lebih menyenangkan? Hahaha.. :D Ayoo, buktikan pada dunia, anak muda lebih cerdas meski nakal!