Desember 04, 2005

Macbeth,
Tragedi Berdarah dan Kerakusan Manusia


Kekuasaan, Harta, dan Perempuan selalu saja berkaitan erat dengan satu bentuk tragedi. Seperti dalam drama yang sengaja saya tonton di Rumentang Siang malam tadi dengan judul Macbeth, begitu jelas, perempuan menjadi otak dibalik kejahatan laki-laki. Saya tidak sedang membela laki-laki, tapi begitulah gambaran drama yang saya tonton dengan sedikit tidak nyaman, karena badan yang remuk-redam sehabis terjatuh.

Yang menarik adalah artistik panggungnya saya pikir. Bagaimana sebuah awalan dari pertunjukan, kita telah diperlihatkan sebuah ilustrasi di balik selembar kain warna putih dengan gambaran dua bayangan yang satu sama lain saling menghunus pedang dan berduel. Gambaran yang memberi semangat saya, bahwa saya takkan menyesal menonton drama ini, yang mungkin akan berlangsung 2-3 jam. Tapi kenyataan terkadang jauh dari harapan. Tragedi yang seakan-akan mencekam tiba-tiba harus terlihat seperti dagelan. Ahhh.. sungguh, aku kecewa dengan permainan Yosef Muldiyana.

Kekuasan itu berdarah. Begitu banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk bisa menikmati satu bentuk yang bernama kekuasaan. Dan itu, tidak terlepas dari kondisi bangsa kita saat ini. Begitulah kisah yang dibangun dalam Macbeth. Karya dari Shakespeare yang juga penulis Hamlet dan Romeo and Juliet.

Macbeth, takkan pernah terkalahkan oleh lelaki yang terlahir dari kelamin perempuan! Begitulah Macbeth mencoba mempertahankan kekuasaan sampai titik darah penghabisannya di bawah pedang Macduff.

Selain STB, denger-denger Cassanova juga mau membawakan naskah yang sama pada pementasan yang akan datang. Sungguh, saya tak sabar melihatnya. Bukankah hasil kerja anak muda biasanya lebih menyenangkan? Hahaha.. :D Ayoo, buktikan pada dunia, anak muda lebih cerdas meski nakal!

3 Comments:

Anonymous pejalan biasa said...

sejak jaman adam, kekuasaan memang berdarah adanya. dan kita seolah-olah terlahir menjadi vampire, haus dengan darah. huiks.

11:22 PM  
Anonymous Anonim said...

.

3:25 PM  
Blogger sangpemerkosa said...

Tapi Cassanova harus menggubah naskah drama aslinya, agar durasi dramanya tidak menghabiskan waktu selama STB mainkan. Agar tidak membuatku lagi tertidur, meninggalkan episode-episode gila di akhir-ahir pementasan. Uh...!

9:39 AM  

Posting Komentar

<< Home