Januari 03, 2017

Gedung Baru Perpusipda Ciamis



Siang tadi, Iqbal dan Kania meminta berhenti di Perpusipda Ciamis yang sebetulnya masih belum selesai renovasi. Gerbangnya masih tertutup. Perpusipda Ciamis sementara dipindahkan ke Aula Pramuka. Sejak kepindahan sementaranya itu, beberapa kali mereka kami ajak ke sana. Tapi tetap saja, mereka merasa harus berhenti di depan gerbang perpustakaan yang sedang direnovasi jika kebetulan kami sedang lewat ke sana.

Bagi Kania dan Iqbal, perpustakaan adalah tempat bermain dan berpetualang yang lain selain pohon jambu di halaman. Mereka akan bertemu banyak buku-buku yang tak mungkin bisa kami beli. Iqbal menyukai buku-buku tebal tentang alam semesta dan berbagai jenis dinosaurus. Saya seringkali mesti membacakannya sampai letih jika kami tengah bermain ke sana. Itu karena dia belum bisa membaca.
Kania lain lagi. Dia lebih senang berpetualang ke dalam buku-buku dengan penuh gambar binatang. Dia akan menyebut nama-nama binatang yang ada dalam buku itu sambil menceritakan sendiri apa yang dilihatnya, seolah-olah dia bisa membaca.

Selain buku, Iqbal menyukai perpustakaan karena di sana dia bisa merangkai puzzle peta Indonesia, bermain balok-balok kayu, dan banyak permainan lain yang tidak dimilikinya di rumah.

Iqbal sempat kecewa dan enggan ke perpustakaan lagi setelah dia tak bisa meminjam buku-buku dinosaurus yang disukainya. Petugas di sana melarang meminjam buku itu. Dan sebaiknya hanya dibaca di tempat saja. Namun, kesenangannya saat berada di perpustakaan mengalahkan kekecewaannya. Tak lama, dia mengajak kami kembali ke sana.

Kami tentu berharap, Perpusipda Ciamis yang kini gedungnya semakin mentereng ini, semakin menarik juga buku-bukunya. Semakin banyak buku-buku terbitan terbaru dibanding buku-buku lawasnya. Bagi Iqbal, mungkin dia akan lebih senang jika di dalam gedung itu, ruang untuknya bermain dan bertualang ke dalam buku semakin menyenangkan.

Desember 28, 2016

Cerita Tiga Kota


Bagi mahasiswa iseng seperti saya, yang masuk kuliah hanya karena iseng-iseng. Iseng ikut UMPTN, iseng memilih jurusan Bahasa Indonesia, dan iseng-iseng diterima. Ternyata Pentagon lantai 3 menjadi tempat yang bukan sekadar tempat iseng-iseng.

Di lantai 3 gedung Pentagon, saya bertemu Eddi Koben, Anka Wijaya, dan banyak nama lainnya (nama-nama lain akan saya ceritakan di lain waktu). Koben dan Anka, dua tahun lebih tua dibanding saya. Merekalah yang mengospek saya saat saya masuk ke kampus UPI (dulunya IKIP). Koben menjadi ketua himpunan saat itu. Anka, saya ingat dia juga bagian dari senior yang aktif (tidur) di kampus.

Saat masih tingkat satu, iseng-iseng saya main ke Himpunan yang letaknya di lantai 3 itu. Keisengan saya berlanjut, sampai akhirnya, saya lebih senang kuliah di sebuah ruangan bekas toilet dibandingkan kuliah di kelas. Saya lebih senang mendengarkan pelajaran dari para senior ketimbang menyimak pelajaran dari para dosen.

Bersama Koben dan Anka, saya seringkali menghabiskan malam-malam di kampus. Mencari buah-buahan yang matang, mencuri singkong di kebun orang, sampai suatu kali kami pernah mendapati ikan lele menggelepar di sebuah gedung asrama putri.

Koben orangnya kalem, baik hati dan tidak sombong. Dia tipe pria idaman wanita. Sedangkan Anka, laki-laki satu ini, punya kemampuan yang unik. Sinyalnya 4G jika berhubungan dengan mahasiswi. Dia akan tahu jika beberapa menit lagi akan ada mahasiswi yang datang. Saya seringkali merasa menjadi laki-laki juga jika sedang bersama mereka berdua.

Lantai 3 gedung tua itu menjadi saksi bagaimana saya belajar mencatat segala peristiwa. Menyusun sunyi jadi puisi. Menangkap riuh dan gelegak jadi sajak. Saya belajar menangkap kata-kata yang berhamburan untuk dituliskan. Di sana juga, saya mengasah kata-kata menjadi senjata.

Waktu bergulir. Saya melepaskan diri dari kampus, menyusur jalan sendiri. Belasan tahun saya berpisah dengan seluruh penghuni lantai 3. Belasan tahun berpisah adalah belajar memendam rindu, menyimpan baik-baik seluruh kenangan agar bisa dikenang di saat yang tepat.

Koben yang pertama menikah di antara kami bertiga. Dia sempat merantau ke Serang lalu kembali ke Cimahi. Saya sendiri menikah tahun 2009. Selepas menikah, saya menetap di Ciamis. Sedangkan Anka, akhirnya menikah di tahun ini dengan gadis Sukabumi. Sukabumi kini menjadi rumahnya.

Tahun 2016 mempertemukan kami kembali. Lalu muncul keinginan untuk membuat buku bersama. Sebagai pengajar, Koben ingin bukunya menjadi bahan bacaan pelajar. Maka dia memberi gambaran, bahwa cerpen-cerpen yang kami kirimkan untuk buku haruslah layak dibaca oleh pelajar.

Maka buku kumpulan cerpen Cerita Tiga Kota ini adalah bentuk reuni sederhana kami.

Desember 22, 2016

Menjadi Perempuan


Saya atau pun juga Anda, tentu tidak pernah bisa menentukan ingin dilahirkan sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Saya hanya memahami bahwa menjadi perempuan adalah menampung seluruh perasaan yang ada di alam semesta.

Menjadi perempuan adalah memahami seluruh duka nestapa yang dikirim pada seluruh umat manusia. Menjadi perempuan adalah belajar sepanjang hayat untuk selalu ikhlas menerima kepergian, dan terbuka pada segala kedatangan. Anak-anak yang pergi, lalu kembali saat mereka ingin kembali.

Menjadi perempuan tidak selamanya menjadi ibu. Tapi tidak ada perempuan yang tidak lahir dari seorang ibu.

Selamat hari perempuan. Selamat hari Ibu. Selamat hari Ibu. Selamat hari Ibu, untukmu....

November 29, 2016

Buku dan Dapur


Saya rasa, tak banyak orang yang berpikiran bahwa buku itu identik dengan dapur. Buku mungkin lebih identik dengan perpustakaan, ruang keluarga, cafe, atau sejumlah tempat lain yang lebih prestisius dibandingkan sebuah dapur. Namun bagi kami, buku sangatlah erat dengan dapur.

Dapur kami ngebul karena ada penerbit yang mau menerbitkan karya kami menjadi sebuah buku. Saya seringkali terbantu dengan buku-buku yang telah diterbitkan itu. Apalagi jika kondisi sedang terdesak. Kami sudah tak punya uang sama sekali. Sedangkan dalam hati, kami berjanji, bahwa kami sebisa mungkin untuk tidak meminta atau meminjam dalam urusan dapur.

Lalu saya mulai menghubungi beberapa teman yang belum memiliki buku kami. Saya tawarkan buku-buku kami itu kepada beberapa kawan. Dan beruntung, kami punya kawan-kawan yang peduli. Yang mau membeli buku di saat kami sedang terdesak keuangan. Saat itulah, saya seringkali merasa bahwa buku menyelamatkan hidup kami. Dapur kami ngebul kembali.

Suatu hari, tulisan kami tak ada satu pun yang dimuat di media. Ada honor tulisan, tapi entah kapan tiba. Sedangkan hari itu, uang kami hanya tinggal dua ribu rupiah saja. Saya memutar otak, mencoba mengingat, siapa kawan yang belum memiliki buku kami. Tapi saya menyerah.

Entah kenapa, saat itu saya tiba-tiba teringat perpustakaan daerah. Saya pikir, menawarkan buku kami ke perpustakaan adalah ide yang bagus. Kami tinggal di sebuah daerah, dan perpustakaan daerah di kota ini belum memiliki buku kami, yang notabene penulis yang menetap di daerah ini.

Dengan keyakinan penuh, kami berangkat ke perpustakaan. Beberapa pejabat di sana, kami mengenalnya. Sebab ada yang selalu meminta kami menjadi juri lomba dongeng atau juri baca puisi jika perpustakaan sedang memiliki kegiatan.

Sesampainya di perpustakaan, anak-anak kami biarkan membaca di ruangan khusus anak. Kami akhirnya berbincang dengan salah seorang pejabat di sana. Kami mengutarakan maksud kami untuk menjual buku-buku kami ke perpustakaan, agar pembaca yang datang bisa membaca karya penulis dari daerahnya sendiri.

“Di sini, ada agenda rutin untuk membeli buku, ada jadwal khusus. Kami harus mengajukan dulu ajuan anggaran untuk bisa membeli buku baru. Dan biasanya, kami membeli tidak secara eceran.” Begitu jawaban diplomatis dari pejabat perpustakaan itu. “Tapi kami sangat menerima sekali, jika ada yang mau menyumbangkan buku-bukunya.” Lanjutnya lagi.

Sesaat badan saya lemas. Saya berkata, kami tidak butuh dibeli banyak-banyak. Cukup satu eksemplar untuk satu judul. Itu artinya, hanya 3 eksemplar saja. Tapi Ibu itu bergeming. Dia keukeuh, bahwa perpustakaan tidak membeli secara eceran. Kalau mau menyumbang, silakan saja.

Andai ibu pejabat itu mau, cukup dia membeli satu eksemplar buku saja, itu telah membuat dapur kami ngebul kembali. Tapi ibu itu mungkin kurang peka. Dikiranya, penulis macam kami ini mau minta proyek mungkin.

Hari itu, saya masih ingat, kami pulang ke rumah dengan tangan hampa. Dalam tas yang kami bawa, tiga buah buku saling berpelukan.

NB: Terima kasih tak terhingga, untuk kawan-kawan yang berkenan membeli buku kami di saat-saat sulit kami. Kalian adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kami.

November 23, 2016

Mahar dan Sajak

Awal tahun 2009 tak pernah tebersit dalam pikiran saya bahwa saya akan menjadi seorang istri, mengurus rumah tangga, mengasuh anak-anak. Saat itu saya tak pernah punya niat untuk menikah. Saya adalah perempuan yang paling tidak cocok untuk dijadikan seorang istri.

Begajulan, tak bisa memasak, hidup seenaknya saja. Paling tak suka dinasihati. Paling bandel dalam berbagai variasi. Itu juga mungkin yang menyebabkan orangtua menyerah untuk menasehati dan akhirnya membiarkan saya hidup seenaknya.

Lalu menjelang akhir tahun itu, seorang laki-laki yang baru saya kenal tiga bulan terakhir tiba-tiba mengajak saya menikah. Ajakan yang sungguh tak masuk akal. Manusia macam apa yang ingin menjadikan saya sebagai seorang istri?

Butuh waktu satu bulan lebih untuk meyakinkan diri dan menjawab iya. Dan tepat pada tanggal 23 November 2009, kami akhirnya menikah. Maharnya dibeli dengan sebuah sajak yang ditulis olehnya.

Tepat sebulan sebelum menikah, sajaknya mendapat hadiah dari Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS). Hadiahnya langsung dibelikan mahar. Sampai hari ini, saya masih mengingat sajak itu.


Nu Lumampah ti Peuting

Ngimpleng-ngimpleng pangreureuhan
Sabot damar sakarat. Boa lebah janari
dina dzikir reumis
lebah sora ajag nu pamungkas

Ngimpleng-ngimpleng pangreureuhan
Sabot damar sakarat. Boa lebah balébat
Dina salambar halimun
Lebah sora manuk munggaran

Ngimpleng-ngimpleng pangreureuhan
Damar saukur dadamaran
Da léngkah geuning tuluy lumampah
Boa moal kungsi reureuh: duh tatu geus ngakut lukut!

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira begini bunyi sajaknya:

Yang Berjalan Tengah Malam

Membayangkan tempat istirah
Sementara cahaya damar sekarat. Mungkin di dini hari
dalam dzikir embun
pada penghujung suara seekor srigala

Membayangkan tempat istirah
Sementara cahaya damar sekarat. Mungkin pada sebuah fajar
dalam selembar kabut
Pada suara pertama seekor burung

Membayangkan tempat istirah
Cahaya damar cuma bayang-bayang
Sebab langkah mewujud perjalanan
Mungkin tak akan pernah istirah: duh, luka sudah mengakut lumut

November 14, 2016

Bandung dan Banjir

Saya tinggal dan besar di Bandung. Tepatnya di Karang Tinggal Dalam, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi. Dulu, kalau ada yang nanya, saya bandungnya di mana, saya bilang di Sukajadi. Sekarang, kalau ada yang nanya dengan pertanyaan yang sama, jawabnya lebih mudah lagi. Rumah orangtua saya tepat di belakang Mall Paris Van Java atau PVJ.

Meski saya tidak lahir di Bandung, tapi Bandung bagi saya seperti kampung halaman. Saya merasakan bagaimana sejak kecil main hujan-hujanan. Saya masih ingat sampai sekarang, hari itu hari Senin. Saya ke sekolah memakai sepatu baru yang dibelikan ibu. Tepat saat pulang sekolah, hujan turun. Dan saya, saat hujan seperti itu, seringkali memilih pulang daripada menunggu hujan reda di sekolah.

Saat itu, saya buka sepatu baru saya karena takut basah. Saya masukan keresek, lalu kereseknya saya talikan di tas punggung saya. Lalu dengan bahagianya, saya pulang hujan-hujanan. Hujan yang besar membuat saya semakin bahagia. Beberapa teman melakukan hal yang sama. Kami pulang dan hujan-hujanan bersama.

Sampai rumah, saya dimarahi. Tapi ini bukan karena pulang hujan-hujanan. Ini lebih karena sepatu yang saya gantungkan di tas punggung saya raib. Hilang entah ke mana. Mungkin karena ikatannya tak kuat, jadi terlepas begitu saja saat saya terlalu bahagia main hujan-hujanan. Sore itu adalah sore yang paling menyedihkan. Saya kehilangan sepatu baru.

Hari ini, saya mendengar Bandung dilanda hujan besar. Dan jalan-jalan menjelma sungai. Sungai dengan arus yang deras. Anak-anak di Bandung hari ini saya yakin, tak akan lagi merasakan bagaimana indah dan nikmatnya hujan-hujanan.

Hujan di Bandung kini hanya terlihat sebagai ancaman. Sesuatu yang bisa saja menghancurkan rumah, pertokoan, atau menghanyutkan kendaraan dan bahkan membunuh diri kita sendiri.

Lalu saya mengingat, sejak kapan Bandung menjadi mimpi buruk bagi warganya? Saya benar-benar tak ingat. Mungkin sejak Bandung dipenuhi Mall, dipenuhi hotel-hotel, dipenuhi orang-orang rakus. Mungkin.

Saya teringat sumur di belakang rumah yang tak pernah kering meski musim kemarau. Sumur itu, kini selalu kekeringan saat tiba musim kemarau. Adik saya bilang, airnya dilarikan ke Mall semua. Hehehe....

Bandung, oh Bandung!

November 12, 2016

Toni Lesmana dan Tamasya Cikaracak


Toni Lesmana, begitu orang mengenalnya. Beberapa tahun yang lalu, pernah saya merasa sangat bersalah kepadanya. Saya merasa telah membunuh sesuatu dalam dirinya.

Perasaan bersalah itu muncul karena saya memaksanya menulis dalam bahasa Indonesia. Memaksanya menulis dengan bahasa Indonesia berarti membunuh hasratnya untuk menulis dalam bahasa Sunda.

Ya, saya memang memaksanya. Ini bukan semata-mata karena saya tak menyukai dia menulis dalam bahasa Sunda. Bukan. Ini semata-mata karena tuntutan kebutuhan. Menulis dalam bahasa Sunda tak akan bisa menghidupi keluarga.

Satu carpon di Majalah Mangle honornya hanya Rp. 50.000,- saja saat itu. Kalau puisi, lebih murah lagi. Sekarang ada Tribun Jabar yang memuat carpon seminggu sekali, honornya lumayan besar, sama dengan honor cerpen dalam bahasa Indonesia. Tapi masa iya, dia mesti mengirim ke koran yang itu-itu juga?

Hari-hari berikutnya, selepas kami bersama-sama. Dia lebih memilih menulis dalam bahasa Indonesia. Cerpen-cerpen terlahir lebih banyak karena tuntunan biar dapur bisa tetap ngebul. Biar anak-anak bisa tetap jajan seperti teman-temannya yang lain.

Sepanjang tujuh tahun, banyak cerpen terlahir. Seorang teman sempat menawari menerbitkannya menjadi sebuah buku. Saya menangkap kebahagiaan di wajahnya. Penawaran dari seorang teman itu, baginya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa tulisannya dalam bahasa Indonesia mempunyai nilai lebih. Bukan semata-mata nilai materiil yang selama ini didapatnya dari media-media yang memuat cerpen-cerpennya itu.

Dan sepanjang tujuh tahun itu, dalam jedanya menulis cerpen, sesekali dia masih menulis puisi. Baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Sunda. Itu sesekali saja. Saat cerpen-cerpen yang ditulisnya mulai terasa kering, mulai terasa biasa-biasa saja. Mungkin.

Puisi baginya adalah jalan untuk berbicara dengan semesta, dengan Tuhan. Momen yang lahir tidak dipaksakan. Pernah sekali, saat dia tak bisa menulis cerpen, entah karena apa, saya memintanya menulis puisi, biar dikirim ke media. Toh, sudah lama juga dia tak pernah mengirim lagi puisi. Dia hanya menjawab, puisi sedang tidak bersamanya. Puisi sedang ada di tempat yang jauh. Tak bisa dijangkaunya.

Malam kemarin, tiba-tiba dia mendekati saya, dia katakan, bahwa royaltinya dari sebuah penerbit sudah ditransfer padahal buku puisinya belum juga terbit. Saat itu, ada yang diam-diam ingin keluar dari dua kelopak mata saya. Tapi saya tahan semampunya.

Saya tahu, ini bukan soal royalti. Ini tentang bagaimana seseorang menghargai puisi-puisinya. Puisi yang baginya adalah jalan spiritual. Jalan untuk mendekatkan dia pada yang maha memiliki. Puisi yang selama ini dia jauhkan dari keinginan untuk dia jadikan sebagai jalan penghidupan.

Jika tak ada aral, bulan depan buku puisinya akan terbit. Judulnya Tamasya Cikaracak. Buku ini yang kelak mungkin akan mengingatkan saya bahwa puisi-puisi di dalamnya adalah bentuk usaha dia untuk tetap menyatakan cinta kepada tanah Sunda, meski ditulis dengan bahasa Indonesia.

Oktober 17, 2016

Masuk Perangkap

Perangkap sedang dipasang. Gas 3 Kg sedikit demi sedikit dihilangkan. Sudah hampir dua bulan gas 3 kg susah dicari. Beberapa pombensin yang biasanya menyediakan gas tersebut, kini selalu bilang tak ada.

Beberapa pombensin dan agen penjual gas sudah mengganti beberapa tabung gas berwarna hijau muda itu dengan tabung gas berwarna merah muda. Tabung gas dengan kapasitas yang lebih besar dari tabung gas hijau muda.

Konon, satu tabung gas berwarna merah muda itu harganya 350.000,-  Itu baru tabungnya. Konon lagi, isinya akan dijual 65.000,-/tabung. Dan gas merah muda ini katanya tidak akan disubsidi oleh pemerintah.

Peralihan ini nyaris tak disadari, sebab tentu saja, banyak di antara kita, lebih asyik mengamati Pilkada DKI, Persidangan Jesica, penggandaan uangnya Kanjeng Dimas, dan hal-hal yang lebih menarik lainnya, daripada harus memikirkan sebuah tabung gas 3 kg.

Kelak, saat tabung gas 3 kg sudah sedikit demi sedikit tergantikan oleh tabung gas merah muda, pemerintah akan mengumumkan bahwa gas 3 kg akan ditarik. Dan masyarakat dipaksa untuk hanya memakai gas dengan tabung merah muda saja. Subsidi rakyat miskin dihapuskan.

Saat itu tiba, semua sudah terlambat. Demonstrasi mahasiswa hanya akan jadi buah cibiran saja. Protes-protes hanya jadi angin lalu. Kita sudah terjebak. Sudah terlanjur masuk perangkap.

Saat itu tiba, saya membayangkan, bagaimana pedagang-pedagang keliling itu terpaksa harus membuat gerobak dorong, sebab mereka tak mungkin memikul tabung gas dengan ukuran dan berat yang lebih besar.

Lalu saya membayangkan, saya harus kembali memakai kayu bakar agar dapur kami bisa ngebul. Sebab 65.000,-/tabung adalah harga yang terlalu tinggi untuk kami beli.

Tapi, semoga saja, ini hanya bayangan yang tak akan terjadi. Mimpi buruk dari seorang ibu rumah tangga yang ketakutan akan masa depan dapurnya. Akan masa depan negerinya.

Oktober 14, 2016

Kematian

Begitu hening kematian itu. Langkahnya seperti pencuri yang mahir, mengendap-endap, tak ada yang bisa mendengarnya. Di antara kita, siapa yang akan lebih dulu bertemu? Tak pernah ada yang tahu.

Kematian bersijingkat, pelan tapi pasti, merasuk ke dalam rasa sakit, kecelakaan, banjir bandang, longsor, puting beliung, kebakaran, kelaparan, peperangan, genosida. Namun seringkali, kematian benar-benar senyap. Dia datang begitu saja pada mereka yang tengah khusyuk beribadah, tertidur lelap, atau bahkan duduk-duduk minum kopi.

Dia, kematian itu, tak pernah memilih agama, warna kulit, usia, jenis kelamin, jabatan, keahlian, bahkan kepintaran. Dia datang pada siapa saja yang dikehendakinya. Anak-anak. Orang tua. Anak muda. Si Kaya. Si Miskin. Kita begitu awam di hadapan kematian.

Beberapa detik setelah kematian datang, kita yang hidup baru disadarkan. Bahwa seseorang di dekat kita sudah tak ada. Sekejap. Hanya sekejap. Begitu tak terduga.

Tangis kehilangan, tangis kesedihan, tangis perpisahan, tangis kengerian, tangis-tangis pecah begitu saja. Seringkali kita yang hidup berlarut-larut dengan rasa kehilangan dan ditinggalkan. Seringkali kita yang hidup terus-menerus memelihara ingatan pada mereka yang meninggalkan.

Kita yang hidup seolah merasa lebih beruntung karena masih bisa menjaga tubuh tetap bernafas. Masih bisa ngopi, masih bisa makan makanan favorit, masih bisa meraih cita-cita yang diimpikan, masih bisa, masih bisa, dan masih bisa lainnya.

Padahal dalam hati kecil kita yang hidup, diam-diam kita berucap lirih, sungguh beruntung si fulan karena dia sudah tak ada. Dia tak akan lagi dikejar hutang, tak akan lagi dikejar cicilan di bank, tak akan lagi berpikir mau makan apa besok pagi dengan uang yang tinggal goceng, tak akan lagi berpikir apakah Ahok akan menang Pilkada DKI.

Mereka yang telah berjumpa kematian adalah mereka yang telah merdeka dari hal-hal remeh-temeh dunia. Terlepas dari perdebatan tak usai-usai di media sosial. Terlepas dari beban bahwa bumi ini semakin hari semakin rusak, dan kelak dia tak layak dihuni manusia lagi.

Lalu kehidupan setelah kematian? Kita yang hidup hanya bisa menduga-duga. Apakah mereka benar-benar merdeka dan bahagia setelah berjumpa kematian, ataukah sebaliknya.


Kita hanya perlu menginsyafi diri, bahwa di hadapan kematian, segala kepintaran, kekayaan, dan kesombongan kita benar-benar tak ada artinya.  

Oktober 08, 2016

Menikah Itu ....

:untuk E Imam Rakhman dan Desi Rahmayanti

Menikah itu seperti mendaki gunung. Mendaki gunung berdua, meretas jalan baru yang tak pernah terinjak orang lain sebelumnya. Begitulah saya memberi perumpamaan. Kami berdua asing satu sama lain pada awalnya. Ada perasaan aneh dalam diri saya saat terbangun dan menyadari ada seseorang di tempat tidur. Rasa asing itu juga saya rasakan pada banyak hal.

Membuka jalan baru dengan ransel yang tidak bisa dibilang ringan, tentu bukan hal mudah. Dalam ransel saya ada tanggung jawab seorang istri. Di dalam ranselnya, ada tanggung jawab seorang suami. Beban dalam ransel itu benar-benar baru. Dan kami harus memikulnya sendiri-sendiri. Ransel yang saya pikul tak mungkin dia bawakan, begitu pun sebaliknya. Kami punya peran masing-masing dalam pendakian ini.

Seringkali kami merasa terlampau lelah untuk melanjutkan perjalanan. Lalu kami memutuskan istirahat sejenak. Pernah beberapa kali kami harus membuka tenda bukan pada tempatnya. Sebab cuaca dan terjal jalan membuat kami membangun tenda darurat.

Pengertian adalah peta yang akan menunjukkan sebuah titik yang ingin kami tuju. Kesabaran adalah senter yang akan menerangi kami dalam kondisi paling gelap sekali pun. Dan komunikasi adalah kompas yang akan memberi arah ke mana kami harus melangkah. Pendakian kami hanya sia-sia tanpa itu semua.

Sepanjang pendakian itulah, kami merasakan bagaimana rasanya kehabisan perbekalan. Bagaimana pada satu ketika kami bersitatap dengan hewan buas. Bagaimana rasanya cuaca yang tak bersahabat menghajar tubuh kami sampai babak belur.

Namun kelelahan itu, kesulitan itu, begitu mudah terlupakan saat kami sudah membuka tenda, membuat perapian, menyeduh kopi, menatap bintang-bintang di langit.

Jutaan bahkan ribuan bintang itu seolah berkata, bahwa kami adalah manusia paling beruntung. Karena kami dipertemukan dan diberi kesempatan untuk bisa berdua, menuju sebuah puncak yang sama.

Kini kami sudah berempat. Dua bocah mungil di samping kami masih menggendong ransel mungil. Isinya hanya air dan makanan. Jika mereka haus dan lapar, mereka tak lagi hanya bisa menangis.

Puncak yang kami tuju masihlah jauh. Masihlah tinggi. Tapi kami masih terus mencoba menapakinya. Dengan senter, peta, dan kompas yang sama sejak pendakian ini dimulai.

Dan besok, besok adalah hari istimewa untukmu, untuk kalian berdua. Kami tak bisa hadir di sana. Menyaksikan bagaimana kalian bersatu dalam satu ikatan. Namun percayalah, kebahagian kalian berdua adalah kebahagiaan kami juga. Doa kami tercurah untuk kalian, sepasang pengantin yang berbahagia.


Selamat mendaki kehidupan. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Catatan ini kami buat sebagai hadiah untuk kalian berdua.