Mei 15, 2008

berjalan (lagi) menuju matahari terbit



mungkin malam ini adalah semacam malam perpisahan. besok saya akan berangkat (lagi). perjalanan kali ini, masih seperti perjalanan lainnya juga. menuju timur matahari. menuju sesuatu yang pada akhirnya akan kembali membuat saya pulang. pulang dengan letih yang sangat. pulang dengan sunyi yang mungkin makin akut. atau malah sebaliknya, pulang dengan membawa sesuatu yang selalu membuat saya ingin pergi lagi.

perjalanan kali ini ke Purwokerto. seseorang tiba-tiba mampu mengembalikan gairah saya untuk mendaki gunung. dia, tiba-tiba membuat saya berniat lagi mengumpulkan barang-barang yang sudah lama saya lupakan; ransel, matras, sleepingbag, senter, raincoat, sarungtangan, jaket tebal, nesting, dan semua hal yang semestinya saya bawa untuk mendaki.

saya tak tahu, apakah perjalanan ini akan membawa saya kembali ke sini atau malah sebaliknya. tapi bagi saya, perjalanan ini adalah perjalanan menemukan kembali sesuatu yang dulu mungkin sempat hilang atau saya abaikan. besok, sebelum matahari tenggelam saya akan berangkat.

semoga saya bisa mencatat semuanya di sini, kelak, setelah saya kembali.

Mei 03, 2008

Saat Sigit Menyusuri Lorong-lorong Dunia



Anda pernah jalan-jalan? Tak perlu jauh, mungkin jalan-jalan di kompleks rumah, atau keluar sedikit, memasuki gang-gang sempit, melewati rumah-rumah kumuh, atau malah jalan-jalan di mall?

Ya, tentu saja, semua orang pernah jalan-jalan. Tapi jalan-jalan saya dan anda tentu saja akan sangat berbeda. Mungkin bagi anda, jalan-jalan yang menyenangkan itu adalah jalan-jalan ke mall, melihat-lihat barang-barang dibalik etalase, meski tak membeli, tapi dengan melihat-lihat dan menikmati suasananya, anda merasa sangat terhibur. Atau seperti kawan saya Sigit, dia selalu punya waktu setiap tahunnya untuk jalan-jalan ke negara-negara yang belum pernah dikunjunginya. Meski dengan begitu, kawan saya itu, harus mencari pekerjaan yang cukup longgar, yang bisa memberi waktu luang untuknya berjalan-jalan.

Saat ini, sudah hampir 26 negara yang telah dikunjunginya. Mulai dari Spanyol, Italia, Austria, Jerman, Perancis, Belanda, Inggris, Ceko, Belgia, Turki, Yunani, Bulgaria, Rusia, Thailand, Kuba, Meksiko, Mesir, Tunisia, Kenya, India, sampai dengan Vietnam, China, Maroko, Portugal, Irlandia, dan Hongaria. Ke-26 negara tersebut dijelajahinya bersama istri yang dicintainya. Kawan saya itu, tak pernah melewatkan moment-moment dalam perjalanannya. Dia selalu mencatat dengan detail semua yang dialaminya. Bagaimana dia mengunjungi gedung-gedung bersejarah dalam sebuah kota, menangkap suasana kota di malam hari, atau memasuki sebuah perpustakaan dan museum, bahkan sampai rasa dan bentuk makanan yang menarik baginya, dia catat.

Semua hal yang telah dicatatnya itu dia bagikan kepada anda dalam sebuah buku yang berjudul Menyusuri Lorong-lorong Dunia. Dalam buku ini, anda bisa membaca banyak hal yang dialami kawan saya tersebut saat jalan-jalan ke berbagai negara.

Dengan membaca bukunya, saya seolah-olah diajak masuk ke berbagai negara yang dikunjunginya. Bukan hanya memasuki sebuah negara dari sesuatu yang kasat mata. Tetapi ruh dibalik sesuatu yang kasat mata itu. Saya sulit menceritakannya kepada anda. Jika anda juga tertarik memasuki lorong-lorong dunia, Sigit akan mengajak anda dengan bukunya.

Saran saya, bacalah buku ini di saat anda sedang santai, dengan secangkir teh atau kopi. Sebab anda akan diajak untuk merambahi sebuah kota dari berbagai negara ala Sigit.

April 05, 2008



hidup seperti mendaki gunung, katamu. aku mempercayainya. kita bertemu pada sebuah persimpangan, lantas tiba-tiba sebuah keadaan memaksa kita untuk terus berjalan bersama. melewati terjal bebatuan, melewati turunan yang curam, melewati deras arus sungai, melewati semuanya, hingga kelak, sebuah puncak kita gapai.

puncak itu memang sudah nampak, tapi sesuatu seperti memaksaku berpikir ulang, berjalan di jalan yang ini, atau berubah haluan? aku tak tahu bagaimana aku tanpamu. tapi sungguh, jika pun berjalan bersamamu seperti sekarang ini, aku tak yakin, puncak yang kita tuju itu sama.

saat inilah baru kusadari, aku tak pernah punya tujuan. puncak yang kulihat selama ini seperti mengabur, dan aku kehilangan koordinat. ada kamu di sampingku, tapi aku tak tahu tujuanmu kemana. aku hanya takut tak pernah bisa benar-benar menemukan tujuanku sendiri.

maka ijinkan aku untuk berjalan sendiri. menyusun peta sendiri.

April 01, 2008

Suatu Hari, Ketika Aan Pindah Rumah



Saya lupa, sejak kapan saya mengenal Aan. Tapi saya tahu pasti, pertemuan saya dengannya bukanlah pertemuan yang disengaja. Saat itu saya ke Solo untuk sebuah acara workshop kepenulisan. Saya jadi peserta waktu itu, dan bertemulah saya dengan Aan di sana. Dia datang dari Makassar bersama Rahmat Hidayat, seseorang yang selalu mengingatkan saya pada karcis Prameks. Pertemuan saya dengan Aan betul-betul pertemuan yang sangat biasa. Hanya tiba-tiba, pada satu percakapan kami, jejalin itu mulai terlihat. Aan, ternyata kawannya Ochan, sahabat saya yang saya temukan secara ajaib. Saat itu Akademi Kebudayaan Yogya (AKY) masih ada, meski lokasinya sudah pindah. Kami menginap di AKY, sebelum besoknya saya kembali ke Bandung.

Beberapa hari ini, saya bertemu hampir tiap hari dengan Aan. Tidak di Solo, tidak juga di Makassar, tapi di Bandung. Di kota saya sendiri. Ransel di punggungnya begitu sarat. Dia masih seperti Aan yang dulu, Aan yang saya kenal di Solo. Dari ransel di punggungnya itulah saya mengerti bahwa dia Hendak Pindah Rumah. Saya tak bertanya, ke mana dia pindah rumah. Saya toh pada akhirnya akan tahu sendiri, begitu pikir saya.

Tadi malam, tanpa saya bertanya, dia begitu banyak bicara. Dan akhirnya saya mengerti, ke mana dia pindah rumah. Saya mengenal Aan berumah di sini sejak lama. Lantas sekarang, saya melihatnya di banyak tempat. Di tempat-tempat yang bahkan tak pernah terpikirkan. Mungkin kamu juga akan kaget, ketika tiba-tiba kamu tersadar, Aan sudah berumah di hatimu, di jiwamu.

Bagaimana bisa? Mungkin kamu akan berteriak sekencang-kencang yang kamu bisa, untuk bertanya tentang itu. Lantas Aan dengan santainya akan menjawab, "bukan aku yang pindah rumah, tapi puisi-puisiku, dia akan membuat ruangnya sendiri, di hatimu." Dan saat kamu menemukan jawaban itu, kamu tak akan pernah bisa menyangkalnya. Begitu pun saya. Saya tiba-tiba merasa, telah membangun sebuah ruang, entah di sudut yang mana dalam diri saya, untuk puisi-puisi Aan.

Subuh ini, Aan berkemas. Dia menyiapkan semuanya, sendiri. Ranselnya masih sarat. Kini dia ingin ke timur, membawa semuanya, untuk dia pindahkan ke rumah barunya. Kelak, saat saya berjalan ke timur, mungkin akan saya temukan jejaknya di sana.

Selamat jalan, An!
Kembalilah jika suatu saat kau merindukannya.

Maret 26, 2008

Angkot Mogok, Jalan Tetap Macet



Jika kamu kebetulan berada di Bandung pada hari ini dan kamu tak punya kendaraan, sebaiknya siapkan uang lebih. Hari ini angkot mogok. Pilihan kendaraan umum mungkin hanya ojeg dan taksi yang ada. Hampir sebagian besar angkot tak beroperasi.

Saya sendiri pada akhirnya berjalan kaki dari Dipati Ukur menuju Ultimus. Sampai di Jalan Merdeka saya sempat kaget, melihat antrian mobil dan kepadatan jalan. Di depan BIP (Bandung Indah Plaza) ternyata kemacetan masih terjadi. Padahal logikanya, semua angkot yang lewat BIP tak beroperasi. Untung kawan baik saya membawa kamera, sampai akhirnya saya sempat mengabadikan moment tersebut.

Satu hal yang dapat saya simpulkan pada akhirnya, "Kemacetan dan kesemrawutan jalan di kota Bandung bukan hanya karena angkot. Tapi karena kendaraan pribadi sudah melebihi batas untuk sebuah kota kecil bernama Bandung.

Saya masih terus berjalan, sambil memaki beberapa kendaraan yang seenak udelnya parkir di trotoar jalan. Hak pejalan kaki seringkali diabaikan. Lupakan soal trotoar yang dipakai pedagang kaki lima untuk jualan, lupakan. Karena ternyata pemakan hak pejalan kaki terbesar adalah pemilik kendaraan roda empat. Sesekali kendaraan roda dua menerobos trotoar di kala kemacetan terjadi.

Cuih!
Saya muak atas banyak hal. Dan PILKADA? Cuih... politik tai anjing!

Maret 20, 2008

ke arah timur aku pergi

setelah pertarungan kita yang sengit itu, aku harus pergi, sebentar saja. mungkin perjalanan mampu mengembalikan segala keruwetan ini pada muasalnya. agar di antara kita tak akan ada yang saling menyakiti satu dengan yang lain. tapi kalau pun ada, mungkin semesta mempunyai cara menunjukan wajahnya yang lain.

mungkin di sepanjang perjalanan itu, aku akan mengingatmu. mengingat setiap detail pertarungan di malam-malam milik kita. mungkin akan kuingat juga bagaimana tawa sinismu seolah mengejek dan menertawakan aku. mungkin akan kuingat juga lelapmu, sesuatu yang tak pernah bisa kumiliki.

tetapi yang pasti, bau tubuhmu menguntitku. membiarkan dirimu terus hadir di setiap jalan yang kulewati, hingga tak ada cara lain, selain membiarkanmu tetap hadir di sini, dalam jiwaku.

Maret 06, 2008

cukup kutulis begini,
pelukanmu itulah yang senantiasa kurindukan.

haha...
tidak, ini serius.
aku tidak butuh apapun saat ini.
kecuali pelukanmu!

anggap saja aku konyol
tapi sudah cukup membohongi diri sendiri
aku hanya ingin kau!

KAU!

Februari 24, 2008

sebuah jam di satu pagi

aku menghirup wangi hutan di tubuhmu
deras air sungai dan hembusan pohon pinus
segala yang telah lama hilang dalam ingatan

televisi itu sudah lama tak bersuara
ada boomerang di dinding kamar
cermin tua dan selimut tebal
kau sembunyi dibaliknya seperti menyembunyikan
kesedihan yang memberat

"datanglah, aku takkan mengunci pintu
agar kamu bisa masuk kapan saja"
kalimatmu beruntun di ujung telepon
menyesatkan pikiranku yang kalut.

Februari 13, 2008

Catatan Pagi di Hari Hujan



seringkali aku memercayakan hidup hanya pada langkah kaki. berjalan sendirian atau banyak orang bukan masalah. tapi kesendirian seringkali menyeretku pada nostalgia masa lalu. kepahitan yang bisa tiba-tiba datang tanpa sempat kusiapkan sebuah upacara penyambutan. kakiku ternyata lebih mengerti ke mana harus berjalan. dia lebih mengenal kelokan gang demi gang, dia fasih terhadap jalanan terjal pegunungan, bahkan dia hatam jalan setapak tanpa akhiran. maka berjalanlah aku di sini...



siapa yang mengira, sesuatu akan membawaku kembali ke sini. hutan lindung, air terjun, cericit burung, semuanya terhampar begitu saja di depan mata. seketika sunyi kembali menyergapku. mengirimkan aromanya yang khas dan kental. aku duduk, menikmati semuanya, dalam mendung, dalam gerimis yang tiba-tiba mengguyur, yang seketika berubah menjadi hujan lebat. aku diam. alam memberikan pesonanya. nyatanya, bukan hanya senja yang indah, bukan juga matahari terbit yang seringkali membuat terkesan jutaan orang. pagi hari dengan hujan lebat di tengah hutan lindung adalah pesona alam yang tak bisa juga kuabaikan.




mungkin seperti lelaki ini, kesendirian membuatnya seolah-olah kesepian. ya, kesendirian terkadang membuat seseorang bahagia atau sebaliknya. dan aku, tak ingin sendirian malam ini.

Februari 07, 2008

Februari, Aku Terkapar di Cerukmu

sesuatu menyeretku padamu, pada februari yang asing
sesuatu menyesatkan aku lagi, di labirinmu
sesak nafas ini mungkin masih akan terdengar
di subuh gigil, di pagi kuning, di pintu garang siang
juga di senja dan malam kesumat

aku terkapar di ceruk paling februari
mencari jawaban sekian pertanyaan
yang tiba-tiba saja muncul dari balik jendela

aku di sini, memahami lekuk februari
yang masih juga menolak cinta bersemayam.