04-06 Juli 2008
Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyatanya mempunyai magnet tersendiri, tiba-tiba saja kami berdelapan sudah berada di terminal Guntur ketika jam menunjukan pukul 02.00 wib. Kami sampai di terminal dan memutuskan untuk mencari tanah yang agak lapang untuk sekadar istirahat. Tanya sana-sini, kami memutuskan untuk mendatangi mesjid terdekat dengan terminal.
Dingin lantai mesjid, angin subuh yang menusuk, membuat saya sedikit menggigil. Saya memutuskan untuk membuka matras, memasuki sleepingbag dan tidur dengan nyenyak. Saya tak tahu teman-teman yang lain melakukan apa setelah saya lelap. Saya hanya merasa butuh memejamkan mata agar besok bisa punya energi untuk naik. Saya terbangun ketika yang lain sudah packing dengan rapi. Ya, saya telat bangun, kalau tidak dibangunkan, mungkin tak akan bangun.
Pagi-pagi kami sarapan. Saat kami tengah sarapan itulah, seseorang menawari kami angkutan umum untuk sampai di pos pemancar. Mereka berjanji akan mengantar kami sampai pos tersebut dengan biaya 10.000 rupiah per-orang. Karena di antara kami belum pernah ada yang ke sana, kami menyepakati saja dengan cepat. Di akhir perjalanan, kami tahu, pilihan kami itu salah besar.
Angkot mulai berjalan membawa tubuh kami menjauh dari terminal. Kami tak berpikir apapun sampai akhirnya saat angkot yang kami tumpangi mau berbelok menuju pemancar, angkot kami dihentikan oleh tukang ojeg. Mereka bilang, tidak boleh ada yang lewat angkutan umum ke sana, jalur itu adalah trayek mereka. Saya dan dua orang teman yang lain turun, kami bicara untuk bisa kompromi. Hasilnya tentu saja nihil, kami tetap harus turun dari angkot, dan naik ojeg mereka. Kami boleh lewat, asal kami memberikan 20.000 rupiah kepada tiap tukang ojeg. Tentu saja itu konyol. Kami akhirnya turun, membayar 10.000 rupiah per-orang kepada supir angkot, dan 20.000 rupiah untuk ojeg. Kami merasa itu jalan terbaik.
Kami naik ojeg berdelapan, melewati rumah penduduk dan perkebunan teh. Ojeg berhenti di pos pemancar. Kami tidak datang berbarengan, jadi untuk yang datang duluan, ada kesempatan untuk melihat-lihat pemancar, numpang pipis, atau hanya sekadar foto-foto. Setelah personil datang semua, kami bersiap, berkeliling untuk berdoa, dan mulai meretas jalan di tengah-tengah perkebunan penduduk.
Kami berjalan sementara debu-debu beterbangan karena angin kencang. Kami memang belum melewati batas hutan. Tanah gembur yang kami injak dengan angin yang kencang membuat perjalanan kami sedikit agak terhambat. Tapi setelah batas hutan dilewati, perjalanan mulai lancar. Sesekali saja kami istirahat untuk makan siang atau sekadar minum dan memakan cemilan. Pos demi pos kami lewati dengan pasti. Sampai akhirnya, tepat pukul 17.00 wib kaki saya menginjak puncak Cikurai dengan ketinggian 2813 mdpl.
Puncak Cikurai begitu indah. Di kaki gunung, desa-desa menghampar, nampak juga Gunung Papandayan dan pegunungan lainnya. Awan-awan itu menjelma menjadi sebuah negeri. Satu persatu dari kami mulai mendirikan tenda. Kami mendirikan tenda di puncak.
Inilah beberapa hasil jepretan dari kawan saya, Idos.

Pos Pemancar dilihat dari batas hutan

Perkebunan teh dilihat dari jalur pendakian

Setelah melewati jalan berdebu dengan angin kencang

Matahari tenggelam dilihat dari puncak Cikurai

Matahari terbit dilihat dari puncak Cikurai

Sendiri

Lautan Awan

Menjejak di Awan

Seluruh Tim (ki-ka) : Andreex, Idos, Ella, Lilis, Pritha, Saya, Anggo, Irfan
Dingin lantai mesjid, angin subuh yang menusuk, membuat saya sedikit menggigil. Saya memutuskan untuk membuka matras, memasuki sleepingbag dan tidur dengan nyenyak. Saya tak tahu teman-teman yang lain melakukan apa setelah saya lelap. Saya hanya merasa butuh memejamkan mata agar besok bisa punya energi untuk naik. Saya terbangun ketika yang lain sudah packing dengan rapi. Ya, saya telat bangun, kalau tidak dibangunkan, mungkin tak akan bangun.
Pagi-pagi kami sarapan. Saat kami tengah sarapan itulah, seseorang menawari kami angkutan umum untuk sampai di pos pemancar. Mereka berjanji akan mengantar kami sampai pos tersebut dengan biaya 10.000 rupiah per-orang. Karena di antara kami belum pernah ada yang ke sana, kami menyepakati saja dengan cepat. Di akhir perjalanan, kami tahu, pilihan kami itu salah besar.
Angkot mulai berjalan membawa tubuh kami menjauh dari terminal. Kami tak berpikir apapun sampai akhirnya saat angkot yang kami tumpangi mau berbelok menuju pemancar, angkot kami dihentikan oleh tukang ojeg. Mereka bilang, tidak boleh ada yang lewat angkutan umum ke sana, jalur itu adalah trayek mereka. Saya dan dua orang teman yang lain turun, kami bicara untuk bisa kompromi. Hasilnya tentu saja nihil, kami tetap harus turun dari angkot, dan naik ojeg mereka. Kami boleh lewat, asal kami memberikan 20.000 rupiah kepada tiap tukang ojeg. Tentu saja itu konyol. Kami akhirnya turun, membayar 10.000 rupiah per-orang kepada supir angkot, dan 20.000 rupiah untuk ojeg. Kami merasa itu jalan terbaik.
Kami naik ojeg berdelapan, melewati rumah penduduk dan perkebunan teh. Ojeg berhenti di pos pemancar. Kami tidak datang berbarengan, jadi untuk yang datang duluan, ada kesempatan untuk melihat-lihat pemancar, numpang pipis, atau hanya sekadar foto-foto. Setelah personil datang semua, kami bersiap, berkeliling untuk berdoa, dan mulai meretas jalan di tengah-tengah perkebunan penduduk.
Kami berjalan sementara debu-debu beterbangan karena angin kencang. Kami memang belum melewati batas hutan. Tanah gembur yang kami injak dengan angin yang kencang membuat perjalanan kami sedikit agak terhambat. Tapi setelah batas hutan dilewati, perjalanan mulai lancar. Sesekali saja kami istirahat untuk makan siang atau sekadar minum dan memakan cemilan. Pos demi pos kami lewati dengan pasti. Sampai akhirnya, tepat pukul 17.00 wib kaki saya menginjak puncak Cikurai dengan ketinggian 2813 mdpl.
Puncak Cikurai begitu indah. Di kaki gunung, desa-desa menghampar, nampak juga Gunung Papandayan dan pegunungan lainnya. Awan-awan itu menjelma menjadi sebuah negeri. Satu persatu dari kami mulai mendirikan tenda. Kami mendirikan tenda di puncak.
Inilah beberapa hasil jepretan dari kawan saya, Idos.
Pos Pemancar dilihat dari batas hutan
Perkebunan teh dilihat dari jalur pendakian
Setelah melewati jalan berdebu dengan angin kencang
Matahari tenggelam dilihat dari puncak Cikurai
Matahari terbit dilihat dari puncak Cikurai
Sendiri
Lautan Awan

Menjejak di Awan

Seluruh Tim (ki-ka) : Andreex, Idos, Ella, Lilis, Pritha, Saya, Anggo, Irfan
Saya tak tahu kapan saya akan menjejak lagi di puncak Cikurai. Melihat matahari terbenam dan terbit di atas sana, merasakan dingin udara. Saya hanya percaya, betapa keindahan alam Indonesia tak kalah dibandingkan negara-negara lain. Saya merasa saya belum benar-benar mengenal Indonesia, negeri saya sendiri.
Catatan ini dibuat atas kerinduan saya pada Cikurai.
Data koordinat :
Stasiun Pemancar : 07º 18′ 27″ - 107º 52′ 92″ - 1460mdpl
Pos 1 : 07º 19′ 01″ - 107º 52′ 37″ - 2066mdpl
Pos 2 : 07º 19′ 17″ - 107º 52′ 26″ - 2244mdpl
Pos 3 : 07º 19′ 32″ - 107º 51′ 98″ - 2539mdpl
Puncak Cikurai : 07º 19′ 25″ - 107º 51′ 40″ - 2813mdpl
gambaran secara singkat:
* berangkat bisa naik bis ke stasiun guntur - garut
* nyampe terminal guntur - garut, kalo ditawarin carter mobil jangan mau
* kalo dirasa perlu, disarankan beli logistik diterminal
* lanjut pake angkot jurusan patrol
* turun di pertigaan arah perkebunan dayeuh manggung
* dari situ pake ojek sampe stasiun pemancar
* gak ada perijinan khusus, kita cuman lapor ke pos petugas security perkebunan teh, lokasinya kelewatan sebelum nyampe pemancar (gratis)
* nyampe pemancar, kebutuhan air dipenuhi disini, bisa minta ke petugas stasiun pemancar
* lama perjalanan sampe puncak sekitar 7-8 jam
* kondisi trek terjal berdebu
* hati2 banyak percabangan
* kondisi di puncak, angin cukup besar jadi siapin tenda sebaik mungkin, lengkapi pasak tambahan bila perlu
kenali negerimu, cintai negerimu
31 komentar:
wow
indah banget
subhanalloh
jadi pengen kesana
kapan bisa ikutan kaya gitu :">
foto diatas awannya bagus banget...
jalurnya keq apa sih? berat ga?
keq-nya boleh juga jalan kesana...
Iya setuju... jadi pengen tiduran tuh d atas awan... (mudah2an we teu murag heuheu)
wuihh ,
foto"nya keren pisan!
hebat" ..
gunung sempat menjauhkan aku dengan perempuan. hehe. melihat ini, aku jadi pengin menjauhkan kamu, perempuanku. huehue.
2,5 tahun gw gak naik gunung...
liat ini jadi pengen lagi..huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa................
tapi masih kuat gak yach.....
hikz...
hikz....
subhanallah!!! jadi kangen trekking :(
aku mau ke sanaa.a.a.a.a.... tapi ga mau ngedaki... :P
keren tuh... kapan2 BBV ke sana yuk!
bagus ...
hmmm 100-0581 dan 100-0561asli, perlu di crop kali di bagian atasnya wid, but overall nice tone..
menikmati langit sendiri
tempat mencari sunyi
sambil tapa semedi
lantas bunuh diri
hehe...aya nu kangen nanjak deui ka cikurai euy :p
engke lamun kaditu deui kudu mawa land rover sorangan ameh teu pegel bujur gara2 kalilaan numpak ojeg euy...wakaka
Bawa Bir ndak waktu ndaki?
DM
*masa harus 2 kali seeehh??
jadi inget pengalaman ndiri neh ...seumur-umur baru 2 kali naek gunung beneran (ga keitung kalo mendaki gunung yang "itu"). pertama kali gunung beneran yang saya daki adalah gunung Singgalang ... huh cape bo!! knp sih mendaki itu jalannya harus naik? jalan datar aja bisa cape...apalagi mendaki...ya kan? anyway ... mendaki Singgalang, jalur normal pendakiannya mengikuti jalur air. melewati hutan paku (jalurnya melewati lorong yg terbentuk oleh tumbuhan paku),trus ada 3 titik pemberhentian utama. 2 titik pertama adalah titik mata air dan yang ke 3 adalah lereng terakhir sebelum hutan lumut dan telaga. btw di jalur utama pendakian kita saat mendekati puncak akan bertemu pertigaan, jangan ambil yang belok kiri, ambil yang kanan aja. kalo belok kiri maka 99% kamu ga akan balik lagi....
segini aja ah ttg Singgalang.
nah pendakian ke 2 adalah ke gunung Marapi. gunung ini tetanggaan ama Singgalang, depan-depanan, sodaraan, Marapi si sulung ddan Singgalang si bungsu. sama aja ama Singgalang...mendakinya harus naik...jadi tetep aja capeeeeeeeeeeee!!! nah...ada cerita neh...pas udah di puncak Marapi...kita pada mau foto-foto dengan latar kawah, udah pada gaya neh...eh baru juga mau di jepret..tiba-tiba kawahnya batuk nyemburin material setinggi-tingginya....huaaaaaaaahhhh...udah deh...sekitar 100-an pendaki pada bertaburan turun tunggang-langgang ke bawah (ya iyalah...namanya juga turun). panik tapi sambil ketawa-tawa juga karena kaget :D.
komen saya panjang ya? hehehe biarin aja...sapa suruh artikel Cikurai bikin saya teringat dengan pengalaman naik gunung saya. :P
wow...capek gk ya? soalnya seumur-umur gak pernah naik gunung..hehehe
wuih.. mantaps nih Catper, tapi kok ndak ada nama2 personilnya ya kl ga salah.. pokoke okeh :)
bagus banget tempatnya.. dan aku jadi rindu naik gunung lagi :(
Tapi aku setuju, sekian banyak tempat yang aku jalani, rasanya belum ada apa-apa dan belum mengenal Indonesia secara benar.
Sehingga aku rasa konyol kalau harus wisata (alam) ke luar negeri kalau belum mencicipi indahnya alam negara sendiri. Dan aku juga yakin masih banyak tempat-tempat yang belum kita sadari potensinya..
Hanya saja kadang aku sedih, kita tidak pernah bisa menjaga kebersihan dan kelestarian suatu tempat. Ketika tempat itu jadi objek wisata umum yang ramai dikunjungi, pada umumnya akan terjadi kerusakan-kerusakan dan jadi kurang bersih. Semoga hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi.
Hidup Indonesia!! *bangga jadi anak Indonesia*
:)
ikut :(
bagus ...
Sae eu Gambarna ....
Bisaan Moto na ...
Punten pang ngajarkeun moto atuh lah ...
hueheuheueheuhue
Kapan yah bisa ke Cikuray lagi..? perjalanan dulu gagal karna ngga dapet air, kemarau kering kerontang. akhirnya pendakian di batalkan dan lanjut ke galunggung.
next trip pasti kepengen ke cikuray lagi.
kebun tehnya hijau dan indah bngt, foto awan nya keren...!!!
subhanallah indah pisan ceu..
ieu teh di Garut? *terkonclang*
tulisan muh yang "Saya hanya percaya, betapa keindahan alam Indonesia tak kalah dibandingkan negara-negara lain. Saya merasa saya belum benar-benar mengenal Indonesia, negeri saya sendiri" sudah membuatku merasa tertampar.. betapa tidak, beberapa waktu yg lalu saya dan teman2 kosan ada niatan berwisata ke singapore.. pdhal jawa barat aja belum diubek..
btw, pengen dong trekkking2.. kapan2 ajak2 atuhh..
Di plurk ceu Sireum bilang
"beugghhh.. komentarna ulah didieu. tapi langsung diditu. nu komentar didieu mah moal diperhitungkan. hehehehe.."
Maka komen sayah di plurk sayah gusur ke sinih.
Sayah: wow, Cikurai! Eh, kamu teh geuning kalo lagi ngga error mah bagus2 kata2nya teh. Cikurai jadi makin memikat, apalagi ada poto2nyah. Sip :-)
Sayah lagi: "Awan-awan itu menjelma menjadi sebuah negeri"... wuih syahdunya, sangat pajauh huma kalo kamu lagi ngaler-ngidul sama sohib plurker (LOL)
Tentunya pengalaman ceu Sireum menjejak puncak Cikurai akan membekas lama dalam ingatan. Kesempatan sebaik itu, tak setiap hari terjadi bukan?
*ikon tabek 3 kali, dari hati*
wow....detail banget informasinya....
cuman ada nyang kurang tuh teh...
knapa klo mo pergi2 ga pernah mo ngasih kabar sech:nohope:
MAKKKKKKKKKK,.. AJAK GUE MAKKKK,..
pokoknya kalo ntar naik lagi gue mau diajak, kangennnn gunung
indah
seandainya saya bisa menjejakan kaki disana
oleh-oleh ?
wow cikurai...
mendingan tuh ongkos ojek 20rb, dulu saya waktu agustus 08 tukang ojek minta 40rb per orang.
kalo temn2 MAU KE CIKURAI LAGI biar kagak kecolongan mampir dulu ke balai desa Dayeuhmanggung demi keamanan dan tertib tentunya atau rumah pak kuwu ........sekarang depan bale desa ada pos lapor tidak bayar ko.........
mampir nich...
menarik sekali blog anda dan saya menyukainya..
salam....
mampir nich...
menarik sekali blog anda dan saya menyukainya..
salam....
Hayu kapan kita kemon.😍
Posting Komentar