Desember 31, 2006

selamat hari raya idul adha...
dan selamat tahun baru...
semoga tahun esok penuh dengan kebaikan
amin!

Desember 22, 2006

aku masih akan tetap merasa bersalah jika kamu menulis puisi2 spt itu, aku tau perasaanmu tapi apakah harus larut seperti itu selamanya?

begitulah hidup. terkadang kejujuran yang dianggap bisa menjadi terapi untuk keluar dari sebuah pintu yang gelap menurut saya, tiba-tiba saja dikatakan orang sebagai sesuatu hal yang tidak baik. kenapa tidak baik? karena itu katanya akan membuat seseorang yang lain menjadi sakit. oh ya?

jadi kalau begitu saya harus berpura-pura bahagia? mengatakan kepada dunia bahwa saya baik-baik saja dan merasa sangat bahagia? sehingga seseorang itu tidak lagi akan merasa bersalah tetapi justru sebaliknya? begitu?

saya tak punya apa-apa selain kejujuran. lantas ketika sekarang kejujuran saya membuat seseorang terganggu, saya menjadi berpikir ulang tentang semuanya. atau memang jangan-jangan di dunia ini sudah tak ada lagi kejujuran? sebab kalau kejujuran masih ada? banyak orang yang akan merasa tersakiti?

di negara kita ini demokrasi ternyata hanya omong kosong belaka. bahkan hanya untuk sebuah rasa.
dan hari ini katanya adalah hari ibu. tapi sudah seminggu saya tak melihat wajah ibu. tiba-tiba saja jarak yang hanya beberapa menit membuat saya sesak. saya ingin bertemu ibu. tapi saya tak ingin dia melihat aliran bening menggenang di sudut mata anaknya.

Desember 13, 2006

kini aku tahu...

kini aku tahu, aku hanyalah seonggok dosa dari perjalanan hidupmu pada satu masa. tak ada yang layak dilakukan olehmu padaku selain melupakan. sebab dosa, dia tak harus diingat, apalagi dikenang. segala sesuatu tentangku menjadi begitu buruk. aku adalah segala penyimpangan dari seluruh hidupmu yang dulu baik-baik saja.

ya, kini aku tahu
bagimu aku hanyalah dosa
:sebuah kesalahan yang tak lagi harus dikenali.

Desember 06, 2006

sebagai pelabuhan...

seringkali aku menjadi sangat rapuh setelah melepas sebuah keberangkatan. bagi sebuah pelabuhan, tentu ini tak masuk akal. bukankah dia hanya tahu bahwa ada kapal yang bersiap-siap mengangkat jangkar, bersiap memulai kembali pelayaran?

dulu memang sempat ada kapal yang berjanji melebur jangkarnya di sini. tapi kapal tetaplah kapal, dia berlayar diam-diam setelah tak ditemukannya rasa bahagia dari warna-warni kehidupan yang dicarinya.

sesungguhnya ini bukan hanya persoalan dia kembali berlayar atau tidak. namun janjinya untuk melebur jangkar telah menumbuhkan benih-benih harapan yang lama tak kupedulikan.

begitulah, kapal-kapal terus berlayar, sedang pelabuhan menggigil kedinginan. sesekali ada kapal yang singgah memang. tapi tak begitu lama kapal itu akan kembali berangkat, menyisakan goresan tegas di bibir pantai.