April 03, 2003

seperti biasa, aku menunggumu di kamar ini

entah berapa ribu langkah waktu telah berlari
namun tiktak itu tak pernah lelah. lantai beku
dan kalender membatu berhasil mengirim
kesepian yang purba untuk terus kurayakan
kehadirannya

sisa sepi dalam gelas serta piring kotor itu telah
mengatakannya, engkau pergi dan akan kembali
esok atau lusa

di sini, kaki rapuhku menjelma akar pohon
jutaan tahun. menancap dalam. sedang tanganku
menjelma rantingranting, menyentuh setiap inci
yang tertinggal

hanya sepi dan sekerat luka yang tertinggal di sini
namun seperti biasa, aku menunggumu di kamar ini.

BumiAllah, 19 maret 2003