Oktober 08, 2016

Menikah Itu ....

:untuk E Imam Rakhman dan Desi Rahmayanti

Menikah itu seperti mendaki gunung. Mendaki gunung berdua, meretas jalan baru yang tak pernah terinjak orang lain sebelumnya. Begitulah saya memberi perumpamaan. Kami berdua asing satu sama lain pada awalnya. Ada perasaan aneh dalam diri saya saat terbangun dan menyadari ada seseorang di tempat tidur. Rasa asing itu juga saya rasakan pada banyak hal.

Membuka jalan baru dengan ransel yang tidak bisa dibilang ringan, tentu bukan hal mudah. Dalam ransel saya ada tanggung jawab seorang istri. Di dalam ranselnya, ada tanggung jawab seorang suami. Beban dalam ransel itu benar-benar baru. Dan kami harus memikulnya sendiri-sendiri. Ransel yang saya pikul tak mungkin dia bawakan, begitu pun sebaliknya. Kami punya peran masing-masing dalam pendakian ini.

Seringkali kami merasa terlampau lelah untuk melanjutkan perjalanan. Lalu kami memutuskan istirahat sejenak. Pernah beberapa kali kami harus membuka tenda bukan pada tempatnya. Sebab cuaca dan terjal jalan membuat kami membangun tenda darurat.

Pengertian adalah peta yang akan menunjukkan sebuah titik yang ingin kami tuju. Kesabaran adalah senter yang akan menerangi kami dalam kondisi paling gelap sekali pun. Dan komunikasi adalah kompas yang akan memberi arah ke mana kami harus melangkah. Pendakian kami hanya sia-sia tanpa itu semua.

Sepanjang pendakian itulah, kami merasakan bagaimana rasanya kehabisan perbekalan. Bagaimana pada satu ketika kami bersitatap dengan hewan buas. Bagaimana rasanya cuaca yang tak bersahabat menghajar tubuh kami sampai babak belur.

Namun kelelahan itu, kesulitan itu, begitu mudah terlupakan saat kami sudah membuka tenda, membuat perapian, menyeduh kopi, menatap bintang-bintang di langit.

Jutaan bahkan ribuan bintang itu seolah berkata, bahwa kami adalah manusia paling beruntung. Karena kami dipertemukan dan diberi kesempatan untuk bisa berdua, menuju sebuah puncak yang sama.

Kini kami sudah berempat. Dua bocah mungil di samping kami masih menggendong ransel mungil. Isinya hanya air dan makanan. Jika mereka haus dan lapar, mereka tak lagi hanya bisa menangis.

Puncak yang kami tuju masihlah jauh. Masihlah tinggi. Tapi kami masih terus mencoba menapakinya. Dengan senter, peta, dan kompas yang sama sejak pendakian ini dimulai.

Dan besok, besok adalah hari istimewa untukmu, untuk kalian berdua. Kami tak bisa hadir di sana. Menyaksikan bagaimana kalian bersatu dalam satu ikatan. Namun percayalah, kebahagian kalian berdua adalah kebahagiaan kami juga. Doa kami tercurah untuk kalian, sepasang pengantin yang berbahagia.


Selamat mendaki kehidupan. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Catatan ini kami buat sebagai hadiah untuk kalian berdua.