Oktober 14, 2016

Kematian

Begitu hening kematian itu. Langkahnya seperti pencuri yang mahir, mengendap-endap, tak ada yang bisa mendengarnya. Di antara kita, siapa yang akan lebih dulu bertemu? Tak pernah ada yang tahu.

Kematian bersijingkat, pelan tapi pasti, merasuk ke dalam rasa sakit, kecelakaan, banjir bandang, longsor, puting beliung, kebakaran, kelaparan, peperangan, genosida. Namun seringkali, kematian benar-benar senyap. Dia datang begitu saja pada mereka yang tengah khusyuk beribadah, tertidur lelap, atau bahkan duduk-duduk minum kopi.

Dia, kematian itu, tak pernah memilih agama, warna kulit, usia, jenis kelamin, jabatan, keahlian, bahkan kepintaran. Dia datang pada siapa saja yang dikehendakinya. Anak-anak. Orang tua. Anak muda. Si Kaya. Si Miskin. Kita begitu awam di hadapan kematian.

Beberapa detik setelah kematian datang, kita yang hidup baru disadarkan. Bahwa seseorang di dekat kita sudah tak ada. Sekejap. Hanya sekejap. Begitu tak terduga.

Tangis kehilangan, tangis kesedihan, tangis perpisahan, tangis kengerian, tangis-tangis pecah begitu saja. Seringkali kita yang hidup berlarut-larut dengan rasa kehilangan dan ditinggalkan. Seringkali kita yang hidup terus-menerus memelihara ingatan pada mereka yang meninggalkan.

Kita yang hidup seolah merasa lebih beruntung karena masih bisa menjaga tubuh tetap bernafas. Masih bisa ngopi, masih bisa makan makanan favorit, masih bisa meraih cita-cita yang diimpikan, masih bisa, masih bisa, dan masih bisa lainnya.

Padahal dalam hati kecil kita yang hidup, diam-diam kita berucap lirih, sungguh beruntung si fulan karena dia sudah tak ada. Dia tak akan lagi dikejar hutang, tak akan lagi dikejar cicilan di bank, tak akan lagi berpikir mau makan apa besok pagi dengan uang yang tinggal goceng, tak akan lagi berpikir apakah Ahok akan menang Pilkada DKI.

Mereka yang telah berjumpa kematian adalah mereka yang telah merdeka dari hal-hal remeh-temeh dunia. Terlepas dari perdebatan tak usai-usai di media sosial. Terlepas dari beban bahwa bumi ini semakin hari semakin rusak, dan kelak dia tak layak dihuni manusia lagi.

Lalu kehidupan setelah kematian? Kita yang hidup hanya bisa menduga-duga. Apakah mereka benar-benar merdeka dan bahagia setelah berjumpa kematian, ataukah sebaliknya.


Kita hanya perlu menginsyafi diri, bahwa di hadapan kematian, segala kepintaran, kekayaan, dan kesombongan kita benar-benar tak ada artinya.