November 12, 2016

Toni Lesmana dan Tamasya Cikaracak


Toni Lesmana, begitu orang mengenalnya. Beberapa tahun yang lalu, pernah saya merasa sangat bersalah kepadanya. Saya merasa telah membunuh sesuatu dalam dirinya.

Perasaan bersalah itu muncul karena saya memaksanya menulis dalam bahasa Indonesia. Memaksanya menulis dengan bahasa Indonesia berarti membunuh hasratnya untuk menulis dalam bahasa Sunda.

Ya, saya memang memaksanya. Ini bukan semata-mata karena saya tak menyukai dia menulis dalam bahasa Sunda. Bukan. Ini semata-mata karena tuntutan kebutuhan. Menulis dalam bahasa Sunda tak akan bisa menghidupi keluarga.

Satu carpon di Majalah Mangle honornya hanya Rp. 50.000,- saja saat itu. Kalau puisi, lebih murah lagi. Sekarang ada Tribun Jabar yang memuat carpon seminggu sekali, honornya lumayan besar, sama dengan honor cerpen dalam bahasa Indonesia. Tapi masa iya, dia mesti mengirim ke koran yang itu-itu juga?

Hari-hari berikutnya, selepas kami bersama-sama. Dia lebih memilih menulis dalam bahasa Indonesia. Cerpen-cerpen terlahir lebih banyak karena tuntunan biar dapur bisa tetap ngebul. Biar anak-anak bisa tetap jajan seperti teman-temannya yang lain.

Sepanjang tujuh tahun, banyak cerpen terlahir. Seorang teman sempat menawari menerbitkannya menjadi sebuah buku. Saya menangkap kebahagiaan di wajahnya. Penawaran dari seorang teman itu, baginya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa tulisannya dalam bahasa Indonesia mempunyai nilai lebih. Bukan semata-mata nilai materiil yang selama ini didapatnya dari media-media yang memuat cerpen-cerpennya itu.

Dan sepanjang tujuh tahun itu, dalam jedanya menulis cerpen, sesekali dia masih menulis puisi. Baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Sunda. Itu sesekali saja. Saat cerpen-cerpen yang ditulisnya mulai terasa kering, mulai terasa biasa-biasa saja. Mungkin.

Puisi baginya adalah jalan untuk berbicara dengan semesta, dengan Tuhan. Momen yang lahir tidak dipaksakan. Pernah sekali, saat dia tak bisa menulis cerpen, entah karena apa, saya memintanya menulis puisi, biar dikirim ke media. Toh, sudah lama juga dia tak pernah mengirim lagi puisi. Dia hanya menjawab, puisi sedang tidak bersamanya. Puisi sedang ada di tempat yang jauh. Tak bisa dijangkaunya.

Malam kemarin, tiba-tiba dia mendekati saya, dia katakan, bahwa royaltinya dari sebuah penerbit sudah ditransfer padahal buku puisinya belum juga terbit. Saat itu, ada yang diam-diam ingin keluar dari dua kelopak mata saya. Tapi saya tahan semampunya.

Saya tahu, ini bukan soal royalti. Ini tentang bagaimana seseorang menghargai puisi-puisinya. Puisi yang baginya adalah jalan spiritual. Jalan untuk mendekatkan dia pada yang maha memiliki. Puisi yang selama ini dia jauhkan dari keinginan untuk dia jadikan sebagai jalan penghidupan.

Jika tak ada aral, bulan depan buku puisinya akan terbit. Judulnya Tamasya Cikaracak. Buku ini yang kelak mungkin akan mengingatkan saya bahwa puisi-puisi di dalamnya adalah bentuk usaha dia untuk tetap menyatakan cinta kepada tanah Sunda, meski ditulis dengan bahasa Indonesia.