November 29, 2016

Buku dan Dapur


Saya rasa, tak banyak orang yang berpikiran bahwa buku itu identik dengan dapur. Buku mungkin lebih identik dengan perpustakaan, ruang keluarga, cafe, atau sejumlah tempat lain yang lebih prestisius dibandingkan sebuah dapur. Namun bagi kami, buku sangatlah erat dengan dapur.

Dapur kami ngebul karena ada penerbit yang mau menerbitkan karya kami menjadi sebuah buku. Saya seringkali terbantu dengan buku-buku yang telah diterbitkan itu. Apalagi jika kondisi sedang terdesak. Kami sudah tak punya uang sama sekali. Sedangkan dalam hati, kami berjanji, bahwa kami sebisa mungkin untuk tidak meminta atau meminjam dalam urusan dapur.

Lalu saya mulai menghubungi beberapa teman yang belum memiliki buku kami. Saya tawarkan buku-buku kami itu kepada beberapa kawan. Dan beruntung, kami punya kawan-kawan yang peduli. Yang mau membeli buku di saat kami sedang terdesak keuangan. Saat itulah, saya seringkali merasa bahwa buku menyelamatkan hidup kami. Dapur kami ngebul kembali.

Suatu hari, tulisan kami tak ada satu pun yang dimuat di media. Ada honor tulisan, tapi entah kapan tiba. Sedangkan hari itu, uang kami hanya tinggal dua ribu rupiah saja. Saya memutar otak, mencoba mengingat, siapa kawan yang belum memiliki buku kami. Tapi saya menyerah.

Entah kenapa, saat itu saya tiba-tiba teringat perpustakaan daerah. Saya pikir, menawarkan buku kami ke perpustakaan adalah ide yang bagus. Kami tinggal di sebuah daerah, dan perpustakaan daerah di kota ini belum memiliki buku kami, yang notabene penulis yang menetap di daerah ini.

Dengan keyakinan penuh, kami berangkat ke perpustakaan. Beberapa pejabat di sana, kami mengenalnya. Sebab ada yang selalu meminta kami menjadi juri lomba dongeng atau juri baca puisi jika perpustakaan sedang memiliki kegiatan.

Sesampainya di perpustakaan, anak-anak kami biarkan membaca di ruangan khusus anak. Kami akhirnya berbincang dengan salah seorang pejabat di sana. Kami mengutarakan maksud kami untuk menjual buku-buku kami ke perpustakaan, agar pembaca yang datang bisa membaca karya penulis dari daerahnya sendiri.

“Di sini, ada agenda rutin untuk membeli buku, ada jadwal khusus. Kami harus mengajukan dulu ajuan anggaran untuk bisa membeli buku baru. Dan biasanya, kami membeli tidak secara eceran.” Begitu jawaban diplomatis dari pejabat perpustakaan itu. “Tapi kami sangat menerima sekali, jika ada yang mau menyumbangkan buku-bukunya.” Lanjutnya lagi.

Sesaat badan saya lemas. Saya berkata, kami tidak butuh dibeli banyak-banyak. Cukup satu eksemplar untuk satu judul. Itu artinya, hanya 3 eksemplar saja. Tapi Ibu itu bergeming. Dia keukeuh, bahwa perpustakaan tidak membeli secara eceran. Kalau mau menyumbang, silakan saja.

Andai ibu pejabat itu mau, cukup dia membeli satu eksemplar buku saja, itu telah membuat dapur kami ngebul kembali. Tapi ibu itu mungkin kurang peka. Dikiranya, penulis macam kami ini mau minta proyek mungkin.

Hari itu, saya masih ingat, kami pulang ke rumah dengan tangan hampa. Dalam tas yang kami bawa, tiga buah buku saling berpelukan.

NB: Terima kasih tak terhingga, untuk kawan-kawan yang berkenan membeli buku kami di saat-saat sulit kami. Kalian adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kami.