November 23, 2016

Mahar dan Sajak

Awal tahun 2009 tak pernah tebersit dalam pikiran saya bahwa saya akan menjadi seorang istri, mengurus rumah tangga, mengasuh anak-anak. Saat itu saya tak pernah punya niat untuk menikah. Saya adalah perempuan yang paling tidak cocok untuk dijadikan seorang istri.

Begajulan, tak bisa memasak, hidup seenaknya saja. Paling tak suka dinasihati. Paling bandel dalam berbagai variasi. Itu juga mungkin yang menyebabkan orangtua menyerah untuk menasehati dan akhirnya membiarkan saya hidup seenaknya.

Lalu menjelang akhir tahun itu, seorang laki-laki yang baru saya kenal tiga bulan terakhir tiba-tiba mengajak saya menikah. Ajakan yang sungguh tak masuk akal. Manusia macam apa yang ingin menjadikan saya sebagai seorang istri?

Butuh waktu satu bulan lebih untuk meyakinkan diri dan menjawab iya. Dan tepat pada tanggal 23 November 2009, kami akhirnya menikah. Maharnya dibeli dengan sebuah sajak yang ditulis olehnya.

Tepat sebulan sebelum menikah, sajaknya mendapat hadiah dari Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS). Hadiahnya langsung dibelikan mahar. Sampai hari ini, saya masih mengingat sajak itu.


Nu Lumampah ti Peuting

Ngimpleng-ngimpleng pangreureuhan
Sabot damar sakarat. Boa lebah janari
dina dzikir reumis
lebah sora ajag nu pamungkas

Ngimpleng-ngimpleng pangreureuhan
Sabot damar sakarat. Boa lebah balébat
Dina salambar halimun
Lebah sora manuk munggaran

Ngimpleng-ngimpleng pangreureuhan
Damar saukur dadamaran
Da léngkah geuning tuluy lumampah
Boa moal kungsi reureuh: duh tatu geus ngakut lukut!

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira begini bunyi sajaknya:

Yang Berjalan Tengah Malam

Membayangkan tempat istirah
Sementara cahaya damar sekarat. Mungkin di dini hari
dalam dzikir embun
pada penghujung suara seekor srigala

Membayangkan tempat istirah
Sementara cahaya damar sekarat. Mungkin pada sebuah fajar
dalam selembar kabut
Pada suara pertama seekor burung

Membayangkan tempat istirah
Cahaya damar cuma bayang-bayang
Sebab langkah mewujud perjalanan
Mungkin tak akan pernah istirah: duh, luka sudah mengakut lumut