November 14, 2016

Bandung dan Banjir

Saya tinggal dan besar di Bandung. Tepatnya di Karang Tinggal Dalam, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi. Dulu, kalau ada yang nanya, saya bandungnya di mana, saya bilang di Sukajadi. Sekarang, kalau ada yang nanya dengan pertanyaan yang sama, jawabnya lebih mudah lagi. Rumah orangtua saya tepat di belakang Mall Paris Van Java atau PVJ.

Meski saya tidak lahir di Bandung, tapi Bandung bagi saya seperti kampung halaman. Saya merasakan bagaimana sejak kecil main hujan-hujanan. Saya masih ingat sampai sekarang, hari itu hari Senin. Saya ke sekolah memakai sepatu baru yang dibelikan ibu. Tepat saat pulang sekolah, hujan turun. Dan saya, saat hujan seperti itu, seringkali memilih pulang daripada menunggu hujan reda di sekolah.

Saat itu, saya buka sepatu baru saya karena takut basah. Saya masukan keresek, lalu kereseknya saya talikan di tas punggung saya. Lalu dengan bahagianya, saya pulang hujan-hujanan. Hujan yang besar membuat saya semakin bahagia. Beberapa teman melakukan hal yang sama. Kami pulang dan hujan-hujanan bersama.

Sampai rumah, saya dimarahi. Tapi ini bukan karena pulang hujan-hujanan. Ini lebih karena sepatu yang saya gantungkan di tas punggung saya raib. Hilang entah ke mana. Mungkin karena ikatannya tak kuat, jadi terlepas begitu saja saat saya terlalu bahagia main hujan-hujanan. Sore itu adalah sore yang paling menyedihkan. Saya kehilangan sepatu baru.

Hari ini, saya mendengar Bandung dilanda hujan besar. Dan jalan-jalan menjelma sungai. Sungai dengan arus yang deras. Anak-anak di Bandung hari ini saya yakin, tak akan lagi merasakan bagaimana indah dan nikmatnya hujan-hujanan.

Hujan di Bandung kini hanya terlihat sebagai ancaman. Sesuatu yang bisa saja menghancurkan rumah, pertokoan, atau menghanyutkan kendaraan dan bahkan membunuh diri kita sendiri.

Lalu saya mengingat, sejak kapan Bandung menjadi mimpi buruk bagi warganya? Saya benar-benar tak ingat. Mungkin sejak Bandung dipenuhi Mall, dipenuhi hotel-hotel, dipenuhi orang-orang rakus. Mungkin.

Saya teringat sumur di belakang rumah yang tak pernah kering meski musim kemarau. Sumur itu, kini selalu kekeringan saat tiba musim kemarau. Adik saya bilang, airnya dilarikan ke Mall semua. Hehehe....

Bandung, oh Bandung!