September 20, 2016

Teater dan Kebahagiaan


Nanti sore adalah pentas kami terakhir di Ciamis. Tak terasa, sudah tujuh hari kami mementaskan Kalangkang. Naskah yang berbulan-bulan kami masuki, berusaha mencari inti rasa sakit, kecewa, penyesalan, juga kesunyian dari tokoh-tokoh yang kami perankan. Seringkali kami merasa gagal, dan hanya beberapa saja kami merasa berhasil.

Jadwal pementasan yang panjang, membuat kami menyadari, energi kami haruslah besar. Perlu lebih banyak kesabaran, perlu lebih luas lagi pemafhuman, perlu lebih dalam lagi saling memahami antar pemain. Tidak jarang kami saling mengutuk. Memaki karena si A begitu keras kepala, dan si B begitu sering memendam kecewa. Betapa si Z lebih sering melucu, dan si Y lebih sering menangis. Semuanya berkelindan. Membangun hari-hari yang ajaib.

Namun selebihnya, adalah kebahagiaan tak terkira. Bukan, bukan karena tiket kami banyak yang terjual. Bukan itu. Sebab sebanyak apa pun tiket terjual, nyatanya, kami hanya cukup dihonori selembar kaos. Selain karena sisa uang yang hanya cukup untuk kaos, kami juga seringkali merasa mesti menyisipkan sedikit sisa uang untuk pementasan selanjutnya, setelah uang tiket itu dipakai membayar sewa lampu, konsumsi, membeli tata rias, dan tetek-bengek lainnya.

Kebahagiaan kami begitu sederhana, kami merasa bahwa bermain teater nyatanya lebih mudah dibandingkan menjalani kehidupan kami yang sebenarnya. Kami hanya perlu memainkan apa yang dituliskan dalam naskah. Sedang kehidupan?

Kesadaran itu pula, mungkin, yang membuat penata musik garapan ini melakukan apa yang tidak bisa saya lakukan jika saya berada dalam posisinya kemarin. Neneknya meninggal, dia harus berada di lokasi pemakaman tepat saat pementasan.

Tanpa sepengetahuan kami, dia merekam apa yang mestinya dia lakukan di atas panggung. Dia cukup memberikan beberapa panduan jarak jauh sebelum pementasan. Dan kami berhasil melakukannya. Pementasan tetap berjalan tanpa kehadiran tubuh penata musiknya. Namun suaranya, energinya, tetap hadir di antara kami.

Kebahagiaan lainnya adalah, bahwa penonton yang kebanyakan pelajar itu, begitu apresiatif. Mereka mengikuti pementasan dengan khidmat. Selepas pertunjukan, banyak yang mengajukan pertanyaan dengan penuh antusias. Diam-diam kami berdoa, semoga di antara mereka ada yang jatuh cinta pada seni peran, lalu tertarik untuk terlibat dalam garapan berikutnya.

Pada akhirnya, dari garapan Kalangkang ini, kami belajar untuk mengatakan pada diri kami sendiri, bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diciptakan bukan dicari-cari. Seperti apa yang dikatakan Bi Isah, salah satu tokohnya, bahwa, “Kabagjaan horeng aya ku diciptakeun, lain diteangan.”