Juni 04, 2003

rendezvous 4
: dheny jatmiko


aku datang sebagai layanglayang, berbekal hembus angin
tepat menuju kotamu. maka aku akan pergi
ketika hembus angin berbalik arah, mengembalikanku
ke asal bayangan, engkau pun bercerita tentang nama
nama yang telah lama kutahu
tapi aku tak pernah benarbenar mengenalnya

puisimu nyata, tak sekedar hurufhuruf
adalah laut dengan ombak meradang. aku yakin,
kau belumlah mampu memaknai
seutuh sunyi dalam labirin malam. kisah demi kisah
kita larung menjadi penggalanpenggalan sejarah dalam kepalaku

aku menjadi rabun tentang hutan cemara
yang menyimpan masa silamku. ada yang terhempas
saat kusadari aku sendirian di sini. menyusuri jalanjalan asing
dengan seribu mimpi tak usaiusai.

aku merasa asing di sini.

surabaya, 26 mei 2003


rendezvouz 3
: ribut wijoto


ini serupa mimpi, tapi kau telah benarbenar hadir dalam malam yang melelahkan. kotamu telah menjadi hilir yang menerima jasadku dari muara nun jauh di sana. muara tempatku mengalirkan letih tak lagi menerimaku sebagai seseorang yang sakit

ya, akulah si sakit yang membawa luka sepanjang hidup masih bergulir
engkau mungkin paham, sebagai pesakitan, aku tak mungkin membawa kabar gembira. seperti malammalam yang lalu, aku selalu menjadi stasiun yang sepi

di matamu, aku melukis danau. warna biru pada permukaannya kuambil dari laut yang gelombangnya menghempas jantung
di hatimu, kutemukan padang rerumputan yang lapang dan aku berteduh di bawah rindang pepohonan dalam jiwamu

setelah hari ini, aku masih akan merindu perbincangan tepat di jalanjalan kotamu. sebagai pejalan yang memikul luka sendiri, aku iri dengan hariharimu yang mencipta puisi dari langkah kaki sendiri

di kotamu, kutemukan makna puisi seutuhnya.

Surabaya, 26 mei 2003


rendezvous 2
: didik


kotamu adalah dunia baru tak tersentuh kakiku, seperti anak kecil yang hilang dalam keramaian pasar. aku linglung dalam ketidaktahuan
mataku nyalang, mencoba menemukan sosokmu yang entah

kau, dengan senyummu telah menjadi ibu bagi rasa cemasku
aku menghambur dalam peluk hangat sebuah jabat tangan
inilah kota impian, tempat masa lalu pernah singgah mengabarkan sebuah nama yang masih juga samar dalam pandangan

kau tuntun aku menuju tempatnya tetirah
sebagai seorang yang berjalan di kesunyian
yang mencair seperti cahaya, atau mungkin serupa bayangan
kau tuntun aku menuju kepastian. menemukan kembali mimpi yang telah lama terkubur dalam rutinitas hidup berkubang kebosanan

telah kau tuntun aku mencium harum kotamu
yang akan menyimpan jejak, menggoreskan kenangan
suatu saat, ketika yang kudengar hanya puisi.

Stasiun gubeng, 26 mei 2003