Desember 27, 2002

untuk kekasihku, malam

surat ini kutulis pada senja yang remang, pada mendung yang tak kunjung hujan, pada saat angin berhembus sepoi. hari-hari yang lalu, saat seperti ini adalah saat yang mendebarkan, sayang. saat dimana rinduku begitu memburu, dan pertemuan denganmu adalah detikdetik yang kunanti. senja ini, terpaksa harus kutulis surat untukmu. padahal, aku ingin mencumbumu, mendekapmu dengan erat, memelukmu selamanya. kau harus tahu sayang, aku tak mungkin lagi menemuimu. bukan, bukan aku menemukan lagi kekasih lain. tidak. hanya kau yang kucintai kekasihku. hanya engkau yang berhak atas jiwaku, atas cintaku.

sayang, arus nasib membawaku jauh darimu. aku telah diseret oleh makhluk yang bernama takdir, dijebloskan dalam penjara kodrat, dibelenggu dengan rantai adat. aku kini menjadi residipis dari sebuah budaya. kini aku hanya sosok manusia tanpa keinginan, sebab inginku ada dalam pelukmu.

kau masih ingat sayang? bagaimana waktu, kita habiskan bersama. saat itu, pertama kali aku mengenalmu. pada sebuah pesta ulang tahun seorang teman, dimana kularikan tubuh ringkihku dari hingar bingar musik disko di sebuah pub tempatnya merayakan ulang tahun ke-19 itu. maka kutemukan engkau sendirian. tak ada yang menaruh perhatian padamu, sebab orangorang sudah jauh terlelap sejak beberapa jam yang telah lewat. kau kaget saat kusapa engkau dalam diammu.

“kenapa kau sendirian saja?” itu kata yang kau ucapkan pertama kali untukku.
“kau pun sendirian,” ucapku meledek.
“aku ditemani rembulan dan bebintang!” elakmu.
“kalau gitu, aku juga ditemani seseorang.” kataku tak mau kalah.
“siapa?” tanyamu penasaran.
“kamu!” jawabku sambil menunjukmu. lantas kita tertawa. tawa bahagia.

masihkah kau ingat dialog itu, sayang? aku tak pernah melupakannya sampai sekarang. dari sanalah aku menemukan keindahanmu. meski tak seorang pun menyadarinya. sejak itu pula senja selalu mengirimkan debar lain dalam dadaku. sebab senja berarti pertemuan denganmu. tapi senja kali ini mengirimkan debar yang lain. debar perpisahan.

aku terpenjara. tak lagi bisa menemuimu. tak lagi bisa mendengar ceritamu. cerita tentang orangorang yang menjadi temanmu. pernah suatu saat kau berbicara tentang seorang gadis belia yang datang padamu bercerita tentang cintanya yang terluka. tentang lakilaki yang meninggalkannya setelah tahu di rahimnya berisi benih cinta mereka. tapi kau lantas terdiam lama, tak mau meneruskan katakata. kudesak engkau, kau teruskan juga kisahmu, kau katakan gadis itu akhirnya menyerahkan jasadnya pada sungai. aku menangis dalam pelukanmu. tangis pertama setelah harihari sebelumnya selalu saja ada tawa bersamamu. kini aku pun menangis. tak ada engkau di sini. aku tak mau seperti gadis itu. mati konyol, tak bisa mengejar impiannya. aku memimpikan bisa memelukmu kembali.

sayang, harihariku menjadi asing sekarang. tak ada lagi cerita tentang cinta, airmata, rindu dan kehidupan. yang terjadi adalah istirahat yang dipaksakan. kenapa orang tua harus melarang anaknya? kenapa anak haru mengikuti keinginan orang tuanya? kenapa orang tua tak mau tahu keinginan anaknya? kenapa perempuan tak boleh keluar malam? kenapa? kenapa? kenapa?

sayang, ada banyak rindu untuk kuserahkan padamu. tapi belenggu ini susah untuk kulepas. harihariku tanpamu adalah kesunyian yang abadi. sunyi yang purba. sunyi yang membuatku terluka. luka yang dalam.

kekasihku, kutitipkan surat ini pada senja dan angin yang sepoi. aku tahu, senja akan memberikannya padamu. bukankah setiap hari dia berpapasan denganmu? aku tahu, kau takkan pernah membalas suratku. tapi itu tak penting. asal engkau tahu, kenapa aku tak lagi menemuimu, aku sudah bahagia. salamku untuk rembulan dan bebintang sahabat setiamu.

BumiAllah, 24 Desember 2002

*) ditulis oleh seseorang yang tak bisa lagi menikmati angin malam, suasana malam, dan halhal yang berbau malam.