Juli 09, 2004

no communicator no cry

sudah seminggu ini tak lagi terdengar dering itu.
hampir seminggu penuh aku merasa menjadi manusia paling bebas. melebihi tarzan. tak ada lagi yang tiba-tiba marah karena sebuah kesalahan tanpa disengaja, tak ada lagi ajakan nonton teater tiba-tiba, tak ada lagi teguran-teguran tiba-tiba. semuanya mengalir seperti sungai. ketiduran sampe pagi tak ada yang mengganggu, pulang sampe larut tak ada yang manggil nyuruh pulang. pokoknya bebas.

tapi tentu saja, bukan berarti dengan begitu tidak ada pertemuan yang tiba-tiba. sebab dalam pertemuan, ada tangan tuhan yang turut campur. seperti kemarin, dua hari yang lalu. tiba-tiba kami berjalan ke arah lembang. kaki-kaki ini melangkah seringan kapas. entah kenapa, tak ada keinginan untuk mencari arah yang lain. dan akhirnya, kami berjalan dari lembang sampai ciumbuleuit. lantas pulang dengan sedikit ucapan perpisahan.

kami memang adik-kakak yang terlahir dari ras, suku dan budaya yang berbeda. tapi bukankah alam mampu menyatukan setiap jiwa? maka menjelmalah perjalanan itu menjadi sebuah kontemplasi terhadap diri. memahami lebih banyak sifat dan karakter manusia.

dik, lain kali kita berjalan lebih jauh ya?
mau kan?