Juli 11, 2004

duniaku gelap, tuhan!

aku tahu, ada banyak alasan seseorang untuk terluka. begitu pun bahagia. tapi malam ini, bertemu denganmu rasanya tidak menjadi alasan untuk aku merasa bahagia. meski rindu itu telah membuat sesak ruang-ruang sempit dalam dada, tapi kehadiranmu belum cukup mencairkan rindu itu hingga menguap menjadi tawa.

duniaku mungkin terlalu gelap, hingga aku ingkar atas nikmat tuhan malam ini. sampai membuat engkau pulang, -mungkin- dengan seribu tanda tanya. jujur saja, kadang aku ingin merasakan merengek (atau bahkan menangis?) di dadamu, menumpahkan seluruh bencana ini dalam hangat pelukmu. tapi aku bisa apa? mungkin meluangkan empat jam saja untukku terlalu berlebihan bagimu.

aku menyadari sesadar-sadarnya, bahwa aku bukan hal terpenting dalam hidupmu. bahkan aku juga bukan hal paling sepele dalam hidupmu. aku hanya bagian terkecil dari hidupmu yang bisa kau usik kapan saja kau mau. sebab aku hanya berupa borok. dan jika kau mau, kau bisa membiarkan aku selama yang kau mau, jika tidak, kau cukup memberi sedikit obat di kulitmu yang infeksi. kau tahu apa artinya itu? kau pun mampu melenyapkan aku dalam hitungan detik tanpa rasa sakit.

aku memahami jika langkahmu sekarang masih teramat panjang. sedang aku adalah mimpimu di jalan paling ujung itu. dan aku, hanya layak untuk menunggu. menunggu kau datang padaku di ujung jalan nanti, pada akhir perjalananmu. jika kau memutuskan berbelok ke kiri, sehingga kita pada akhirnya benar-benar tidak akan bertemu. maka aku hanya akan menjadi perempuan dungu dengan seluruh romantismenya yang paling absurd. dan semua orang berhak mencemooh aku atas kebodohan ini.

aku tahu, menyadari dan memahami bahwa kau adalah pengecut. tapi aku lebih tahu, lebih menyadari, dan lebih memahami bahwa aku telah benar-benar jatuh cinta pada kepengecutanmu, lelakiku!