tentang pernikahan dan tahun ketiga
hari ini, genap tiga tahun aku menulis di sini. sebuah rumah sederhana yang terkadang bocor atapnya. tapi aku sungguh merasa rumah ini adalah rumah ternyaman yang aku punya. meski hanya sunyi yang kudapati setiap kali aku membuka pintunya sepulang dari menengok hidup yang terlampau riuh.
di tahun ketiga ini, tiba-tiba aku dihadapkan pada sebuah peristiwa yang menurutku teramat sangat sayang untuk dilewatkan. apalagi kalau bukan sebuah pernikahan. walau menurutku, pernikahan dan kematian berbeda tipis, aku sendiri sampai sekarang masih sulit membedakan di mana letak perbedaannya. kematian, senantiasa diselubungi warna kafan, begitu pun dengan pernikahan. tapi ini bukanlah satu bentuk protes terhadap seorang sahabat yang kemarin melangsungkan pernikahan. bukan sama sekali. ini hanya bentuk perasaan yang mungkin terharu orang bilang, ketika melihat betapa mereka berdua akhirnya duduk juga di kursi pelaminan.
selamat untuk Pramita Gayatri dan Firman Venayaksa,
kata-kata tak akan bisa mewakili kebahagiaanku atas pernikahan kalian berdua.
November 28, 2005
November 10, 2005
aku lagi di ultimus
kulihat hakim, fajar, niki sama seseorang yang baru aku lihat sekarang tengah sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke bromo. aku ingin ikut. tapi sayang, mendadak sekali. huh! coba kalo tahu sebelumnya, kan bisa merampok bank dulu waktu libur lebaran kemarin.
kini, aku cuma bisa melihat mereka dengan rasa iri.
aku pengennn ikuttttttttttttt!
kulihat hakim, fajar, niki sama seseorang yang baru aku lihat sekarang tengah sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke bromo. aku ingin ikut. tapi sayang, mendadak sekali. huh! coba kalo tahu sebelumnya, kan bisa merampok bank dulu waktu libur lebaran kemarin.
kini, aku cuma bisa melihat mereka dengan rasa iri.
aku pengennn ikuttttttttttttt!
November 03, 2005
Oktober 04, 2005
ini ramadhan ketiga
ramadhan ketiga di rumah ini
setiap ramadhan senantiasa memberi nuansa yang berbeda
dua tahun lalu, ramadhanku masih berbau kampus dan bau kota tua
ramadhan kemarin, aku hinggap pada sesuatu bernama toko buku
ramadhan sekarang? adakah nuansa baru akan datang?
ya, akhirnya...
kunikmati juga kesyahduannya.
selamat datang, ramadhan...
aku rindu menyetubuhimu...
BumiAllah, 04 Oktober 2005
seperti biasa, selama satu bulan ke depan, halaman ini akan berpindah ke: Ruang Rindu
ramadhan ketiga di rumah ini
setiap ramadhan senantiasa memberi nuansa yang berbeda
dua tahun lalu, ramadhanku masih berbau kampus dan bau kota tua
ramadhan kemarin, aku hinggap pada sesuatu bernama toko buku
ramadhan sekarang? adakah nuansa baru akan datang?
ya, akhirnya...
kunikmati juga kesyahduannya.
selamat datang, ramadhan...
aku rindu menyetubuhimu...
BumiAllah, 04 Oktober 2005
seperti biasa, selama satu bulan ke depan, halaman ini akan berpindah ke: Ruang Rindu
September 26, 2005
September 03, 2005
Surat Terbuka untuk Kekasih
Kekasihku...
Duka dan kebahagiaan berkabar layaknya dua sisi mata uang. Begitu cepat berbalik, begitu cepat berubah. Dan aku, berada di antara keduanya. Nasib juga hidup menyeretku pada peristiwa demi peristiwa. Sesuatu yang kelak dinamakan sejarah. Tapi layakkah manusia macam aku menulis sejarahnya sendiri? Saat dunia hanya bisa tertawa atas apa yang aku lakukan? Aku ditertawakan. Dihina dan disingkirkan. Terasing dan Sepi.
Maaf, jika kalimatku ini terlalu emosional untuk dibaca sebagai sebuah surat cinta. Tapi beginilah aku sekarang. Layaknya seekor rusa yang tertembak pemburu, aku terkapar tak berdaya. Hanya bisa meracau dan berteriak-teriak marah, tanpa bisa melawan apa-apa.
Kekasihku,
Aku letih untuk sesuatu bernama perjalanan.
Salam,
Kekasihmu.
Kekasihku...
Duka dan kebahagiaan berkabar layaknya dua sisi mata uang. Begitu cepat berbalik, begitu cepat berubah. Dan aku, berada di antara keduanya. Nasib juga hidup menyeretku pada peristiwa demi peristiwa. Sesuatu yang kelak dinamakan sejarah. Tapi layakkah manusia macam aku menulis sejarahnya sendiri? Saat dunia hanya bisa tertawa atas apa yang aku lakukan? Aku ditertawakan. Dihina dan disingkirkan. Terasing dan Sepi.
Maaf, jika kalimatku ini terlalu emosional untuk dibaca sebagai sebuah surat cinta. Tapi beginilah aku sekarang. Layaknya seekor rusa yang tertembak pemburu, aku terkapar tak berdaya. Hanya bisa meracau dan berteriak-teriak marah, tanpa bisa melawan apa-apa.
Kekasihku,
Aku letih untuk sesuatu bernama perjalanan.
Salam,
Kekasihmu.
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...
-
negeri di atas awan itu, katon! dulu, saya tak percaya ada negeri di atas awan, meski berulang kali saya mendengarkan lagu milik katon bagas...