Bandung, 30 Juli 2004
Kepada Yth.
Kekasihku
Terima kasih, Engkau telah menyempatkan diri berkunjung ke ruang batinku. Sesaat sebelum berangkat.* Istirahatlah di dalam, di luar peradaban hanya akan merebut seluruh jiwa dan ragamu, membuatmu lelah menempuhnya. Di cakrawala seorang rembulan pun tampak sudah sangat tua, letih menampung malam seorang diri sudah sejak hari yang pertam. Apaapa yang tertera di langit dan apaapa yang terjadi di bumi akan kugubah menjadi sajak cinta, semoga berkenan membacanya.
Sebab engkau menjadi tamuku yang terakhir, siapa pun engkau. Izinkan aku mengajak dan memilihmu sebagai sahabat sejalan. Negeri impian dan citacitaku teramat jauh, kakiku tak akan sanggup merengkuhnya. Aku butuh teman yang sanggup membebaskan diriku dari rasa asing, sepi, letih dan seterusnya. Apakah engkau tidak pernah tahu, bahwa rasa sepi itu sangat jahat
Tapi sepi memang abadi, tamu manusia yang tak pernah diundang
Sekali lagi terima kasih, siapa pun engkau, aku cinta padamu.
Bandung, Juli 2004.
*) Dikutip dari sajak Sapardi Djoko Damono
Puisi ini ditulis oleh Doddi Achmad Fauzi. Mungkin untuk kekasihnya. Mungkin juga bukan. Saya mengutipnya, untuk sang kekasih.
Juli 30, 2004
Juli 29, 2004
Juli 23, 2004
mimpi
kalau aku tidak salah menghitung, hampir sekeluarnya aku dari smp, aku sudah tidak pernah lagi bermimpi. kalau pun bermimpi, itu mimpi yang kadang tidak jelas. sekilas, lantas keburu terbangun atau dibangunkan. dan itu sangat jarang sekali. tapi sekarang, dari semenjak awal bulan juli, tak ada sehari pun aku tidur dengan tidak bermimpi. setiap malam dengan mimpi yang berbeda, yang terkadang aku malah lupa detail mimpinya, saking seringnya mimpi itu meloncat-loncat dari satu kejadian ke kejadian yang lain. yang aku ingat potongan-potongannya, terutama yang aneh dan agak menyeramkan. pokoknya mimpinya membingungkan.
kejadian ini membuat aku sangat lelah. terbangun dari tidur bukannya malah segar, tapi membuat tubuh rasanya semakin lemah. kenapa ya???
kalau aku tidak salah menghitung, hampir sekeluarnya aku dari smp, aku sudah tidak pernah lagi bermimpi. kalau pun bermimpi, itu mimpi yang kadang tidak jelas. sekilas, lantas keburu terbangun atau dibangunkan. dan itu sangat jarang sekali. tapi sekarang, dari semenjak awal bulan juli, tak ada sehari pun aku tidur dengan tidak bermimpi. setiap malam dengan mimpi yang berbeda, yang terkadang aku malah lupa detail mimpinya, saking seringnya mimpi itu meloncat-loncat dari satu kejadian ke kejadian yang lain. yang aku ingat potongan-potongannya, terutama yang aneh dan agak menyeramkan. pokoknya mimpinya membingungkan.
kejadian ini membuat aku sangat lelah. terbangun dari tidur bukannya malah segar, tapi membuat tubuh rasanya semakin lemah. kenapa ya???
Juli 19, 2004
Juli 15, 2004
biarkan letih menari
biarkan letih ini menari
mengisi setiap ruang kosong dalam diri
meski sekadar menjejak selangkah lantas kembali berlari
terlalu hiruk jiwa kita memandang dunia
hingga malam menjadi terang
sedang siang semakin benderang
lantas kita lupa membaca peta pertama
hingga tersuruk dalam dunia purnama penuh fatamorgana
biarkan letih menari dalam diri
agar gelap bersedia singgah di dua bola mata kita.
kita akan kembali terjaga, saat fajar tiba
bukankah sudah lama tak kau lihat matahari terbit
dalam biru hatimu???
bandung, 11 juli 2004
biarkan letih ini menari
mengisi setiap ruang kosong dalam diri
meski sekadar menjejak selangkah lantas kembali berlari
terlalu hiruk jiwa kita memandang dunia
hingga malam menjadi terang
sedang siang semakin benderang
lantas kita lupa membaca peta pertama
hingga tersuruk dalam dunia purnama penuh fatamorgana
biarkan letih menari dalam diri
agar gelap bersedia singgah di dua bola mata kita.
kita akan kembali terjaga, saat fajar tiba
bukankah sudah lama tak kau lihat matahari terbit
dalam biru hatimu???
bandung, 11 juli 2004
Juli 11, 2004
duniaku gelap, tuhan!
aku tahu, ada banyak alasan seseorang untuk terluka. begitu pun bahagia. tapi malam ini, bertemu denganmu rasanya tidak menjadi alasan untuk aku merasa bahagia. meski rindu itu telah membuat sesak ruang-ruang sempit dalam dada, tapi kehadiranmu belum cukup mencairkan rindu itu hingga menguap menjadi tawa.
duniaku mungkin terlalu gelap, hingga aku ingkar atas nikmat tuhan malam ini. sampai membuat engkau pulang, -mungkin- dengan seribu tanda tanya. jujur saja, kadang aku ingin merasakan merengek (atau bahkan menangis?) di dadamu, menumpahkan seluruh bencana ini dalam hangat pelukmu. tapi aku bisa apa? mungkin meluangkan empat jam saja untukku terlalu berlebihan bagimu.
aku menyadari sesadar-sadarnya, bahwa aku bukan hal terpenting dalam hidupmu. bahkan aku juga bukan hal paling sepele dalam hidupmu. aku hanya bagian terkecil dari hidupmu yang bisa kau usik kapan saja kau mau. sebab aku hanya berupa borok. dan jika kau mau, kau bisa membiarkan aku selama yang kau mau, jika tidak, kau cukup memberi sedikit obat di kulitmu yang infeksi. kau tahu apa artinya itu? kau pun mampu melenyapkan aku dalam hitungan detik tanpa rasa sakit.
aku memahami jika langkahmu sekarang masih teramat panjang. sedang aku adalah mimpimu di jalan paling ujung itu. dan aku, hanya layak untuk menunggu. menunggu kau datang padaku di ujung jalan nanti, pada akhir perjalananmu. jika kau memutuskan berbelok ke kiri, sehingga kita pada akhirnya benar-benar tidak akan bertemu. maka aku hanya akan menjadi perempuan dungu dengan seluruh romantismenya yang paling absurd. dan semua orang berhak mencemooh aku atas kebodohan ini.
aku tahu, menyadari dan memahami bahwa kau adalah pengecut. tapi aku lebih tahu, lebih menyadari, dan lebih memahami bahwa aku telah benar-benar jatuh cinta pada kepengecutanmu, lelakiku!
aku tahu, ada banyak alasan seseorang untuk terluka. begitu pun bahagia. tapi malam ini, bertemu denganmu rasanya tidak menjadi alasan untuk aku merasa bahagia. meski rindu itu telah membuat sesak ruang-ruang sempit dalam dada, tapi kehadiranmu belum cukup mencairkan rindu itu hingga menguap menjadi tawa.
duniaku mungkin terlalu gelap, hingga aku ingkar atas nikmat tuhan malam ini. sampai membuat engkau pulang, -mungkin- dengan seribu tanda tanya. jujur saja, kadang aku ingin merasakan merengek (atau bahkan menangis?) di dadamu, menumpahkan seluruh bencana ini dalam hangat pelukmu. tapi aku bisa apa? mungkin meluangkan empat jam saja untukku terlalu berlebihan bagimu.
aku menyadari sesadar-sadarnya, bahwa aku bukan hal terpenting dalam hidupmu. bahkan aku juga bukan hal paling sepele dalam hidupmu. aku hanya bagian terkecil dari hidupmu yang bisa kau usik kapan saja kau mau. sebab aku hanya berupa borok. dan jika kau mau, kau bisa membiarkan aku selama yang kau mau, jika tidak, kau cukup memberi sedikit obat di kulitmu yang infeksi. kau tahu apa artinya itu? kau pun mampu melenyapkan aku dalam hitungan detik tanpa rasa sakit.
aku memahami jika langkahmu sekarang masih teramat panjang. sedang aku adalah mimpimu di jalan paling ujung itu. dan aku, hanya layak untuk menunggu. menunggu kau datang padaku di ujung jalan nanti, pada akhir perjalananmu. jika kau memutuskan berbelok ke kiri, sehingga kita pada akhirnya benar-benar tidak akan bertemu. maka aku hanya akan menjadi perempuan dungu dengan seluruh romantismenya yang paling absurd. dan semua orang berhak mencemooh aku atas kebodohan ini.
aku tahu, menyadari dan memahami bahwa kau adalah pengecut. tapi aku lebih tahu, lebih menyadari, dan lebih memahami bahwa aku telah benar-benar jatuh cinta pada kepengecutanmu, lelakiku!
Juli 09, 2004
no communicator no cry
sudah seminggu ini tak lagi terdengar dering itu.
hampir seminggu penuh aku merasa menjadi manusia paling bebas. melebihi tarzan. tak ada lagi yang tiba-tiba marah karena sebuah kesalahan tanpa disengaja, tak ada lagi ajakan nonton teater tiba-tiba, tak ada lagi teguran-teguran tiba-tiba. semuanya mengalir seperti sungai. ketiduran sampe pagi tak ada yang mengganggu, pulang sampe larut tak ada yang manggil nyuruh pulang. pokoknya bebas.
tapi tentu saja, bukan berarti dengan begitu tidak ada pertemuan yang tiba-tiba. sebab dalam pertemuan, ada tangan tuhan yang turut campur. seperti kemarin, dua hari yang lalu. tiba-tiba kami berjalan ke arah lembang. kaki-kaki ini melangkah seringan kapas. entah kenapa, tak ada keinginan untuk mencari arah yang lain. dan akhirnya, kami berjalan dari lembang sampai ciumbuleuit. lantas pulang dengan sedikit ucapan perpisahan.
kami memang adik-kakak yang terlahir dari ras, suku dan budaya yang berbeda. tapi bukankah alam mampu menyatukan setiap jiwa? maka menjelmalah perjalanan itu menjadi sebuah kontemplasi terhadap diri. memahami lebih banyak sifat dan karakter manusia.
dik, lain kali kita berjalan lebih jauh ya?
mau kan?
sudah seminggu ini tak lagi terdengar dering itu.
hampir seminggu penuh aku merasa menjadi manusia paling bebas. melebihi tarzan. tak ada lagi yang tiba-tiba marah karena sebuah kesalahan tanpa disengaja, tak ada lagi ajakan nonton teater tiba-tiba, tak ada lagi teguran-teguran tiba-tiba. semuanya mengalir seperti sungai. ketiduran sampe pagi tak ada yang mengganggu, pulang sampe larut tak ada yang manggil nyuruh pulang. pokoknya bebas.
tapi tentu saja, bukan berarti dengan begitu tidak ada pertemuan yang tiba-tiba. sebab dalam pertemuan, ada tangan tuhan yang turut campur. seperti kemarin, dua hari yang lalu. tiba-tiba kami berjalan ke arah lembang. kaki-kaki ini melangkah seringan kapas. entah kenapa, tak ada keinginan untuk mencari arah yang lain. dan akhirnya, kami berjalan dari lembang sampai ciumbuleuit. lantas pulang dengan sedikit ucapan perpisahan.
kami memang adik-kakak yang terlahir dari ras, suku dan budaya yang berbeda. tapi bukankah alam mampu menyatukan setiap jiwa? maka menjelmalah perjalanan itu menjadi sebuah kontemplasi terhadap diri. memahami lebih banyak sifat dan karakter manusia.
dik, lain kali kita berjalan lebih jauh ya?
mau kan?
Juli 04, 2004
hanya malam ini saja
izinkan saya menangis
atas apa yang terjadi hari ini
hanya kali ini saja
tidak besok
tidak juga lusa
meski luka yang terasa
akan semakin menyesak
bahkan membunuh saya.
hanya malam ini saja
izinkan air mata saya tumpah
dalam lembarlembar sejarah
sepimu yang basah.
bandung, 04 juli 2004.
ketika penantian teramat menyakitkan, 21:00
izinkan saya menangis
atas apa yang terjadi hari ini
hanya kali ini saja
tidak besok
tidak juga lusa
meski luka yang terasa
akan semakin menyesak
bahkan membunuh saya.
hanya malam ini saja
izinkan air mata saya tumpah
dalam lembarlembar sejarah
sepimu yang basah.
bandung, 04 juli 2004.
ketika penantian teramat menyakitkan, 21:00
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...

-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
jejak kita akan tercatat dalam sejarah perjalanan. pada setiap persimpangan jalan akan senantiasa ada yang tertinggal. walau hanya sekadar c...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...