Februari 17, 2013

Kepada Ahmad Halwani, atau Mereka yang Mencari Cinta

Saat dirimu membaca suratku ini, jangan pernah berpikir bahwa ini sebuah nasehat. Sebab aku belum terlalu tua untuk bisa menulis sebuah nasehat yang bijak. Anggap saja aku tengah berbagi masa lalu padamu. Sesuatu yang tidak penting bagimu, namun dengan mengetahuinya, kau akan lebih matang memilih jalan.

Ketika kau mencintai jarak. Sesuatu yang sesungguhnya begitu asing. Sesuatu yang kau harap bisa membawamu pada arti bahagia, mungkin juga akan membawamu pada wilayah yang lain. Dengan mencintai jarak, maka kau harus bersiap kecewa, bersiap patah hati dan terluka. Aku tidak sedang menakut-nakuti. Namun selalu ada yang mengintai dari jarak yang tak mungkin bisa kita lipat. Aku tak tahu, sejauh mana kau mencintainya. Atau dia mencintaimu. Aku hanya mengenal jarak jauh sebelum kau mengenalnya.

Aku tahu bagaimana rasanya rindu dendam memahami waktu, mencoba bersiasat dengan tepat, menebak-nebak, sedang apa sesungguhnya dia. Aku tahu bagaimana rasanya berdamai dengan sebuah situasi, sebuah kondisi yang seringkali membuat kita ingin mati tapi tak ingin bunuh diri. Tidak ada yang salah dengan jarak, jika kamu mengenalnya lebih dari kamu mengenal saudara kandungmu. Namun jika kamu mengenalnya hanya sebagai bayang dari kisah remang-remang. Bersiaplah untuk angkat jangkar. Berlayarlah kembali. Hadapi lautmu sendiri.

Carilah pulau yang mampu kau rengkuh. Agar perahumu bisa benar-benar berlabuh. Utuh. Agar kelak, kau benar-benar bisa merasakan hangat airmatanya, indah senyumnya, dan dadamu bisa bergetar karenanya. Jangan bertahan pada wilayah yang kamu sendiri tak mengenalinya. Dalam gelap sekali pun, akan selalu ada cahaya yang menuntunmu.

Maka, tegaklah berdiri sebagai laki-laki. Tinggalkan dunia bayangmu itu. Lalu tatap harimu yang penuh matahari... Aku akan selalu ada, saat kau perlu tempat bercerita.