semacam igauan
aku berharap, kelak, ketika masa itu tiba, mungkin. karena mungkin juga masa itu tak akan pernah datang. sebab tak ada yang pernah tahu, bagaimana hidup menjerumuskan seseorang dalam takdirnya sendiri. ya, kelak, datanglah kau padaku dalam kejernihan. bukan semata-mata jarak yang terlampau yang menggusurmu untuk singgah di kotaku, tapi pikiran yang sangat rasional, yang akan membawamu padaku.
kelak, saat masa itu datang. katakanlah keinginanmu, mimpimu, dan segala hal yang menurutmu tak pernah kau capai selama hidupmu, dan aku. tentu saja dengan segala kesadaran dan tentu saja harapan, akan berdoa untuk mimpimu itu.
ini untukmu!
iya, untukmu.
Agustus 29, 2004
Agustus 24, 2004
Agustus 18, 2004
"sejak kapan kau percaya pada mimpi?" tanyaku penuh minat.
"sejak mimpi mengatakan bahwa aku akan kehilangan ibuku! kuharap kau pun percaya pada mimpi-mimpimu!" ucapnya tegas.
"tapi mimpiku terlalu banyak. aku pun tak ingat semuanya!" jawabku semakin kebingungan.
"pasti ada yang kau ingat! pasti!" katanya kembali meyakinkan.
"entahlah, aku tak yakin mimpiku punya makna," aku menarik nafas. ada beban yang ingin aku hembuskan seiring udara yang keluar.
"percayalah!"
dia berlalu dari hadapanku. meninggalkanku kembali seorang diri. hanya sendiri.
"sejak mimpi mengatakan bahwa aku akan kehilangan ibuku! kuharap kau pun percaya pada mimpi-mimpimu!" ucapnya tegas.
"tapi mimpiku terlalu banyak. aku pun tak ingat semuanya!" jawabku semakin kebingungan.
"pasti ada yang kau ingat! pasti!" katanya kembali meyakinkan.
"entahlah, aku tak yakin mimpiku punya makna," aku menarik nafas. ada beban yang ingin aku hembuskan seiring udara yang keluar.
"percayalah!"
dia berlalu dari hadapanku. meninggalkanku kembali seorang diri. hanya sendiri.
Agustus 16, 2004
banyak PR yang harus segera kuselesaikan setelah sakit ini perlahan hilang,
- beberapa buku yang kupinjam harus segera dikembalikan karena terlalu lama di tanganku. bukan karena belum selesai, tapi karena aku keburu tumbang.
- sebuah cerpen harus selesai sebelum agustus ini berakhir. kalau tidak, jangan berharap bisa hidup lebih lama lagi.
- tiga buah novel ingin segera punya akhir cerita. mungkin ini yang membuatku sakit. tokoh-tokoh dalam novel itu menyerbuku, meminta diperjelas hidupnya.
- PR kita, La. ini hanya perlu sentuhan terakhir kan? sabar ya!
- utangku sama kamu juga, kez! kapan ya kumpul lagi? ketemu lunas deh ;)
- kurasa cukup ini saja dulu PRku, terlalu banyak sih.
- beberapa buku yang kupinjam harus segera dikembalikan karena terlalu lama di tanganku. bukan karena belum selesai, tapi karena aku keburu tumbang.
- sebuah cerpen harus selesai sebelum agustus ini berakhir. kalau tidak, jangan berharap bisa hidup lebih lama lagi.
- tiga buah novel ingin segera punya akhir cerita. mungkin ini yang membuatku sakit. tokoh-tokoh dalam novel itu menyerbuku, meminta diperjelas hidupnya.
- PR kita, La. ini hanya perlu sentuhan terakhir kan? sabar ya!
- utangku sama kamu juga, kez! kapan ya kumpul lagi? ketemu lunas deh ;)
- kurasa cukup ini saja dulu PRku, terlalu banyak sih.
Agustus 13, 2004
cukup satu puisi
untuk mewakili sakit ini
aku tahu, aku tak bisa menolak
ketika seribu mimpi menyerbu, mendobrak,
menyerang hingga aku menyerah dan kalah.
30 hari panji peperangan ini berkibar
30 hari aku kehilangan sebagian malam
30 hari lelap kuhindari
dan kini, setelah 30 hari perlawanan tanpa henti
aku pun terkapar menerima kekalahan
sudah 10 hari aku tak menatap matahari
sudah 10 hari aku hidup dalam mimpi
sudah 10 hari aku lupa akan diri
sudah 10 hari aku menjadi tokohtokoh yang tak aku kenali
aku tahu, aku tak akan pernah bisa
untuk tidak bermimpi lagi.
Bandung, 10 agustus 2004
cat: kurasa ini semua cukup mewakili kesakitanku selama seminggu ke belakang.
untuk mewakili sakit ini
aku tahu, aku tak bisa menolak
ketika seribu mimpi menyerbu, mendobrak,
menyerang hingga aku menyerah dan kalah.
30 hari panji peperangan ini berkibar
30 hari aku kehilangan sebagian malam
30 hari lelap kuhindari
dan kini, setelah 30 hari perlawanan tanpa henti
aku pun terkapar menerima kekalahan
sudah 10 hari aku tak menatap matahari
sudah 10 hari aku hidup dalam mimpi
sudah 10 hari aku lupa akan diri
sudah 10 hari aku menjadi tokohtokoh yang tak aku kenali
aku tahu, aku tak akan pernah bisa
untuk tidak bermimpi lagi.
Bandung, 10 agustus 2004
cat: kurasa ini semua cukup mewakili kesakitanku selama seminggu ke belakang.
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...

-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
jejak kita akan tercatat dalam sejarah perjalanan. pada setiap persimpangan jalan akan senantiasa ada yang tertinggal. walau hanya sekadar c...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...