aku benar2 shock. maafkan aku, Tuhan.
tapi kematian itu terjadi di depan mataku.
di atas tanganku...
sent: 13-May-2003
02:40:55
tak ada yang sanggup kulakukan. ada getaran hebat dalam dada.
ada jutaan tanya dalam kepala. ada ribuan srigala mencabikcabik
hati.
apa yang terjadi?
siapa yang telah mengirim airmata?
tak jua habis tanyaku hingga kau datang saat malam bertandang.
Mei 14, 2003
April 29, 2003
setelah pertemuan denganmu, dan sebuah cerita panjang tentang masa silam. -masa lalu yang tak mungkin kembali-
aku seperti dihempaskan dari sebuah puncak yang teramat tinggi. sebuah dunia yang indah, namun baru kusadari sekarang keindahannya. kita mungkin menginginkan untuk kembali ke sana, sama seperti kita tidak menginginkannya luka itu tertoreh kembali. maka dengan kesadaran seorang pejalan, kita telah saling bergandengtangan, tapi tidak kembali ke masa lalu sebab sudah kukatakan, kita tak ingin merasakan lagi luka yang teramat dalam. meski luka, bukan lagi hal asing bagi seorang pejalan seperti kita.
kita telah bergandengtangan atas nama persaudaraan.
ini darahku! dan darahmu telah mengucur sejak malam ke dalam nadiku.
aku seperti dihempaskan dari sebuah puncak yang teramat tinggi. sebuah dunia yang indah, namun baru kusadari sekarang keindahannya. kita mungkin menginginkan untuk kembali ke sana, sama seperti kita tidak menginginkannya luka itu tertoreh kembali. maka dengan kesadaran seorang pejalan, kita telah saling bergandengtangan, tapi tidak kembali ke masa lalu sebab sudah kukatakan, kita tak ingin merasakan lagi luka yang teramat dalam. meski luka, bukan lagi hal asing bagi seorang pejalan seperti kita.
kita telah bergandengtangan atas nama persaudaraan.
ini darahku! dan darahmu telah mengucur sejak malam ke dalam nadiku.
April 14, 2003
: abimanyu
awalnya aku mengira aku telah kehilanganmu. engkau begitu langka menyapaku.
tapi kini aku yakin, engkau hanya tengah mengembara, lalu pulang ke pelukan
malam. kepadaku. ya, sepertinya kita memang memiliki persamaan, meski kita
tak tahu itu apa.
beberapa saat aku meyakinkan diri, bahwa engkau masih engkau yang dulu.
yang bisa mengayuh perahu di lautlaut sepi dan malammalam sunyi. pertanyaan
muncul saat engkau hilang dalam jejak inbokku. lantas kusadari, mungkin
engkau telah berhasil menemukan rumah teduhmu.
mungkin kau pun akan berpikir hal yang sama, aku yang lari meninggalkanmu.
jika betul itu pikiranmu, maka kau salah besar. setiap kali kubuka email, aku
selalu menginginkan ada namamu dalam deretan email baruku.
namun harapanku siasia.
tapi kini engkau tengah kembali. memelukku sebagai saudaramu dalam
mengarungi lembah duka, tebing nestapa. kini, kurengkuh engkau kembali
di pelukanku. aku juga rindu kamu!
awalnya aku mengira aku telah kehilanganmu. engkau begitu langka menyapaku.
tapi kini aku yakin, engkau hanya tengah mengembara, lalu pulang ke pelukan
malam. kepadaku. ya, sepertinya kita memang memiliki persamaan, meski kita
tak tahu itu apa.
beberapa saat aku meyakinkan diri, bahwa engkau masih engkau yang dulu.
yang bisa mengayuh perahu di lautlaut sepi dan malammalam sunyi. pertanyaan
muncul saat engkau hilang dalam jejak inbokku. lantas kusadari, mungkin
engkau telah berhasil menemukan rumah teduhmu.
mungkin kau pun akan berpikir hal yang sama, aku yang lari meninggalkanmu.
jika betul itu pikiranmu, maka kau salah besar. setiap kali kubuka email, aku
selalu menginginkan ada namamu dalam deretan email baruku.
namun harapanku siasia.
tapi kini engkau tengah kembali. memelukku sebagai saudaramu dalam
mengarungi lembah duka, tebing nestapa. kini, kurengkuh engkau kembali
di pelukanku. aku juga rindu kamu!
April 06, 2003
April 03, 2003
seperti biasa, aku menunggumu di kamar ini
entah berapa ribu langkah waktu telah berlari
namun tiktak itu tak pernah lelah. lantai beku
dan kalender membatu berhasil mengirim
kesepian yang purba untuk terus kurayakan
kehadirannya
sisa sepi dalam gelas serta piring kotor itu telah
mengatakannya, engkau pergi dan akan kembali
esok atau lusa
di sini, kaki rapuhku menjelma akar pohon
jutaan tahun. menancap dalam. sedang tanganku
menjelma rantingranting, menyentuh setiap inci
yang tertinggal
hanya sepi dan sekerat luka yang tertinggal di sini
namun seperti biasa, aku menunggumu di kamar ini.
BumiAllah, 19 maret 2003
entah berapa ribu langkah waktu telah berlari
namun tiktak itu tak pernah lelah. lantai beku
dan kalender membatu berhasil mengirim
kesepian yang purba untuk terus kurayakan
kehadirannya
sisa sepi dalam gelas serta piring kotor itu telah
mengatakannya, engkau pergi dan akan kembali
esok atau lusa
di sini, kaki rapuhku menjelma akar pohon
jutaan tahun. menancap dalam. sedang tanganku
menjelma rantingranting, menyentuh setiap inci
yang tertinggal
hanya sepi dan sekerat luka yang tertinggal di sini
namun seperti biasa, aku menunggumu di kamar ini.
BumiAllah, 19 maret 2003
Februari 11, 2003
tatap hari esok dengan cinta, kekasih!
maka akan kau temukan milyaran bintang bercahaya pada langit hatimu yang biru, membentuk rasi rindu dalam aurora rembulan yang pucat pasi
ada seribu satu jalan bagi petualang menemukan persinggahan demi persinggahan yang tak pernah kekal. tapi baginya hanya ada satu cinta yang akan menuntun seluruh rindu untuk kembali pulang ke pangkuan bunda yang damai
esok atau pun lusa hanyalah hitungan dua puluh empat jam yang bergerak ke pedalaman sunyi. sedang langkah pertama akan menentukan arah hidup yang sebenarnya. maka peta adalah perbekalan utama bagi si pejalan. dan si perindu akan tetap ingat pulang
tatap hari esok dengan cinta kita, sayang! sebab langkah pertama adalah syahadat cinta yang diikrarkan jiwamu dan jiwaku pada altar suci para pecinta di dunia.
HAPPY VALENTINE!
......karena kasih sayang tak pernah punya hari
maka akan kau temukan milyaran bintang bercahaya pada langit hatimu yang biru, membentuk rasi rindu dalam aurora rembulan yang pucat pasi
ada seribu satu jalan bagi petualang menemukan persinggahan demi persinggahan yang tak pernah kekal. tapi baginya hanya ada satu cinta yang akan menuntun seluruh rindu untuk kembali pulang ke pangkuan bunda yang damai
esok atau pun lusa hanyalah hitungan dua puluh empat jam yang bergerak ke pedalaman sunyi. sedang langkah pertama akan menentukan arah hidup yang sebenarnya. maka peta adalah perbekalan utama bagi si pejalan. dan si perindu akan tetap ingat pulang
tatap hari esok dengan cinta kita, sayang! sebab langkah pertama adalah syahadat cinta yang diikrarkan jiwamu dan jiwaku pada altar suci para pecinta di dunia.
HAPPY VALENTINE!
......karena kasih sayang tak pernah punya hari
Februari 05, 2003
seperti kelambu, rindu adalah seluruh resah yang rapi menutupi rongga batin, menjelma tembaga bagi langit senja.
adalah matahari yang memancar di sudut pagi, setia mengirim sebait sajak untuk menemani sarapan
lalu sepi bobol pada sungai masalalumu, merendam sawah dan ladang pada tanah harapan
menghanyutkan rumahrumah rindu pada kampung halaman
sunyi membanjiri jiwamu pada tengah malam, dimana langit tak lagi menyimpan bintang dan sepotong rembulan
semua kembali kepada ketiadaan!
adalah matahari yang memancar di sudut pagi, setia mengirim sebait sajak untuk menemani sarapan
lalu sepi bobol pada sungai masalalumu, merendam sawah dan ladang pada tanah harapan
menghanyutkan rumahrumah rindu pada kampung halaman
sunyi membanjiri jiwamu pada tengah malam, dimana langit tak lagi menyimpan bintang dan sepotong rembulan
semua kembali kepada ketiadaan!
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...
-
Catatan Awal Tahun Segalanya berlalu begitu saja. Tak ada tiupan terompet. Tak ada teriakan kebahagiaan. Tak ada kembang api. Aku melewati p...