November 28, 2002

Surat Balasan Untukmu

Dalam suratku kali ini, harus kukatakan kembali padamu, kekasihku. Agar engkau tahu, apa yang tengah terjadi di sini, dalam batinku, dalam jiwaku. Agar engkau memahami, aku adalah aku. Bukan dia atau siapapun.
Sayang, sudah sering kukatakan kepadamu, bahwa aku tak pernah menyimpan satu nama pun dalam diri, pun juga namamu. Ruang batinku telah menjelma persinggahan sementara bagi nama-nama yang menginginkan peristirahatan sejenak dalam perjalanannya bergulat dengan dunia yang melelahkan, dengan hiruk-pikuk kota yang membosankan. Pintu batinku akan selalu terbuka, bagi siapapun yang mengetuknya.

Kekasihku, dari ribuan nama yang telah dengan ikhlas singgah dalam ruang batinku, tak ada seorang pun yang benar-benar menginginkan akhir dari hidupnya habis dalam ruangan itu. Mereka satu demi satu pergi, meninggalkanku. Mungkin melanjutkan pengelanaannya, mungkin juga mencari persinggahan yang lebih damai. Sebab ruang batinku mulai gaduh semenjak burung-burung kecemasan itu sering mampir di jendela dan atap.
Sayang, aku telah menjelma dermaga. Orang-orang bisa dengan bebas menepi, lantas dengan sukacita berlalu, meneruskan kembali pelayarannya.

Kekasihku, aku tak pernah menjadikan engkau dadu. Aku bukan seorang pemain yang ulung. Yang bisa menang dalam pertaruhan 1:1000.
Engkau adalah pejalan diantara ribuan pejalan yang pernah singgah di sini, dalam ruang batinku. Dan aku, harus siap kapan saja melepas kepergianmu. Jika engkau sudah merasa bosan tinggal di sini.

Hatiku tidak sesuci perempuan-perempuan padang pasir yang berdiam di oasis-oasis. Aku sempat kagum pada mereka. Mereka yang hanya mengizinkan satu nama saja untuk singgah dalam jiwanya, lantas melepas kepergian satu nama itu, dan merindukannya sepanjang waktu. Meski pada akhirnya, satu nama itu tak jua kembali. Tapi mereka tetap setia menanti. Kesetiaan perempuan gurun.
Sayang, aku tak bisa seperti mereka. Aku berani mempersilakan seribu nama untuk singgah, lantas melepaskan kepergiannya, tapi aku tak berani merindukan seribu nama itu untuk kembali. Aku memang pengecut, kekasihku. Dan aku harus membayar mahal atas rasa kepengecutanku.

Jika engkau telah bosan berdiam di sini, aku tak bisa menahan kepergianmu itu. aku tak bisa melarangmu untuk meneruskan kembali perjalan, mencari makna dan arti lain tentang airmata, sepi dan kerinduan. Aku hanya bisa melepasmu dengan senyuman getir, dengan ribuan perasaan yang selalu menjelma, saat aku harus melepas nama-nama lain itu untuk pergi. Meninggalkanku kembali sendiri, hanya sendiri. Sebab tak ada satu nama pun yang mau menetap di sini, dalam ruang batinku. Aku akan melepasmu, seperti aku melepas seribu nama lain. Maka engkau, menjelma sebuah kisah yang akan kutempel di dinding kamar ini, menambah satu lagi hiasan di ruang ini.

Tapi aku pun takkan berani melarang engkau, jika engkau tak ingin pergi dari sini. Jika itu terjadi, maka akan kututup pintu untuk nama lain. Agar engkau yang selamanya kudekap. Ah, mungkin aku tengah bermimpi atau semacam halusinasi? Sebab tak pernah ada nama yang pernah dengan sungguh-sungguh menginginkan tinggal selamanya di ruang yang begini sempit. Hanya ruang batinku. Teramat sempit bagi pejalan yang terbiasa menikmati keluasan mayapada.

Sayang, aku takkan berani mengajukan dua pilihan padamu. Diam atau pergi. Tak mungkin bagiku untuk semua itu. Aku tetaplah persinggahan sementara atau semacam dermaga. Yang dengan sadar membiarkan orang menepi dan mempersilakannya untuk kembali meneruskan pelayaran. Ya, aku tak lebih dari itu.

Maka untukmu kekasihku, kuucapkan selamat jalan kepadamu! Sebab aku tak punya keberanian untuk mencegahmu pergi. Selamat meneruskan kembali perjalananmu. Semoga kau temukan rumah damai yang akan memelukmu selamanya. Aku tak bisa memberimu apa-apa, selain kenangan.

Sayang, suratku ini hanya untukmu.

BumiAllah, 28 Nov 2002