Natal di Ultimus
tak ada pohon cemara dengan lampu ruparupa warna
jalanan kosong seperti jiwaku yang melompong
sinterklas mungkin tak akan singgah di atap rumah
mungkin tak akan pernah ada kadokado dengan pita warna merah
di sini, malam natal hanya serupa tiupan, menyapa lembut
tapi toh lonceng gereja terdengar juga
seseorang, dalam bayangan itu, menyeretku memasuki misa
roh kudus, menapaklah di bumi!
agar kedamaian menjelma serupa hujan
biarkan aku basah di dalamnya.
lengkong besar, 25 desember 2007
Desember 25, 2007
Desember 13, 2007

lelaki,
aku mencarimu dengan mata nanar
sesekali, kalimatkalimatmu berloncatan
memenuhi ingatan: tempat segala luka bermuara
mungkin aku merindukan tempo dulu itu
saat ingatan berpusar di laut hatimu
gelombang pasang dalam dadaku
tak mampu menerjemahkan setiap getar
aku dermaga
menunggu kapalmu berlabuh lagi!
Desember 03, 2007
perempuan macam apakah saya?

pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan jaket hijau tahi kuda yang hanya saya lepas kalau jaket itu sedang dicuci saja. hampir dua tahun lebih saya memakai sandal jepit ke kampus. dan selama dua tahun itu tidak pernah terjadi hal-hal yang berat dan merepotkan mengenai sandal jepit saya itu.
tapi pagi ini menjadi lain. dosen psikologi saya yang sangat rapi dan mencoba menjadi elegan itu telah memperlihatkan ketidaksukaannya yang berlebihan terhadap saya yang memakai sandal jepit saat masuk ke ruang perkuliahan. padahal bukan hanya saya yang memakai sandal, ada beberapa kawan lain yang memakai sandal juga. hanya karena sandal saya hanyalah sandal jepit, maka sandal pun mempunyai kastanya sendiri. saya biarkan dosen itu mengomel terus tentang sandal jepit saya. saya mencoba tak peduli.
bahkan saya pura-pura tak mendengar saat dia mengatakan:
"kok perempuan macam begitu,"
memangnya saya perempuan macam apa, Bu Dosen?
tapi pagi ini menjadi lain. dosen psikologi saya yang sangat rapi dan mencoba menjadi elegan itu telah memperlihatkan ketidaksukaannya yang berlebihan terhadap saya yang memakai sandal jepit saat masuk ke ruang perkuliahan. padahal bukan hanya saya yang memakai sandal, ada beberapa kawan lain yang memakai sandal juga. hanya karena sandal saya hanyalah sandal jepit, maka sandal pun mempunyai kastanya sendiri. saya biarkan dosen itu mengomel terus tentang sandal jepit saya. saya mencoba tak peduli.
bahkan saya pura-pura tak mendengar saat dia mengatakan:
"kok perempuan macam begitu,"
memangnya saya perempuan macam apa, Bu Dosen?
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...

-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
jejak kita akan tercatat dalam sejarah perjalanan. pada setiap persimpangan jalan akan senantiasa ada yang tertinggal. walau hanya sekadar c...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...