Februari 24, 2005

luka pertama

baiklah,
akan kuceritakan kepadamu tentang seorang perempuan.
perempuan dengan wajah penuh luka cabikan. tak ada yang tersisa satu inci pun dari wajahnya, semuanya penuh luka. cabikan itu ada yang lewat dari pipi kiri hingga dagu. ada yang menggores sebatas kening. ada yang melintas melewati hidung. ada yang hampir menggaris mata, namun tak jadi. ada yang memanjang dari pelipis kanan sampai pipi. wajah perempuan itu teramat berantakan. kadang-kadang, dari semua luka yang dimilikinya, ada yang masih mengeluarkan darah. pelan, namun pasti. mulanya hanya rembes, membuat luka itu seakan-akan bertambah besar. tapi lama-kelamaan darah menetes juga dari lukanya.

tak ada seorang pun yang tahu, kenapa wajah perempuan itu penuh luka. semua orang hanya mampu menebak-nebak cerita. ada yang mengira, dia terkena kutukan. ada yang menyangka juga kalau dia adalah korban perkosaan. ada juga yang menuduh dia mantan seorang preman. semuanya hanya menduga-duga tanpa pernah berhasil mengetahui apa penyebabnya.

hingga pada sebuah malam, aku baru menyadarinya.
perempuan dengan luka-luka di wajahnya itu bicara sendirian. dia bicara pada malam yang semakin kelam. dia bicara pada hawa dingin yang semakin menusuk. dia bicara pada seribu bintang di angkasa.

bagiku, luka ini tak seberapa. karena aku yakin. esok, kelak. akan ada obat bagi semua luka di wajahku. tapi luka di dada ini mungkin takkan pernah menemukan obatnya. meskipun kau datang untuk meminta maaf, dan kembali memujaku.

siapa kau yang dimaksudnya?
aku semakin menajamkan telinga.
namun tak lagi kudengar kata-kata keluar lagi dari bibirnya yang sebagian rusak karena luka cabikan.

sepuluh tahun setelah itu, aku bertemu lagi dengannya.
perempuan itu terlihat lebih cantik. tanpa luka. tanpa darah yang rembes dan menetes. luka itu kurasa sudah menghilang. aku sungguh penasaran. aku ingin bertanya, tapi ragu. sampai akhirnya kami bertemu pada sebuah persimpangan jalan.

"apa kabar? kau begitu cantik sekarang. lain dengan 10 tahun yang lalu." sapaku penuh rasa penasaran. aku berharap dia mau mengatakan, apa obat yang membuatnya berhasil menghilangkan semua luka di wajahnya. tapi aku benar-benar sangat kaget saat mendengar apa yang dikatakannya kemudian.

"aku memang berhasil menghilangkan semua luka. tapi coba kau lihat ini." dia memperlihatkan pipi kanannya yang selama ini tertutup rambut sebahunya.

aku melihat masih tersisa satu luka di wajahnya. luka yang memanjang dari pelipis kanan sampai ke pipi. lukanya malah terlihat mengeluarkan banyak darah.

"inilah luka dari cinta pertamaku. sampai sekarang, aku tak pernah bisa menyembuhkannya. setiap kali kulewati jalan-jalan tempat masa laluku pernah singgah, luka ini akan semakin bertambah parah. luka ini akan semakin berdarah. luka kedua, ketiga, keempat sampai ke seratus bisa aku sembuhkan. tapi tidak dengan luka pertamaku ini." jawabnya sambil berlalu.

aku hanya mampu tertegun.