apa mungkin aku kurang mendalami? hingga semuanya terkesan buru-buru dan tanpa makna? ini adalah waktu yang tepat untuk mengemas seluruh duka, menghardiknya jauh, dan aku kembali tenggelam di antara lautan kata-kata.
April 11, 2005
Maret 26, 2005
masih kukembarakan sunyi
masih kukembarakan sunyi ini ke dalam cerukceruk batin
entah sampai kapan. mungkin sampai daundaun itu gugur sendirian
mungkin sampai entah yang paling berantah
sebab sunyi mencekam diri terlampau erat, terlampau kuat
kau memang tak lagi mengerti
tentang degup yang membuat gugup
tentang irama ritmis yang mistis
tentang sunyi yang meruang dalam dada
tak ada sesuatu pun tentangmu selain kesedihan yang berkelindan
membangun jejaring, menggenapkan kesunyian yang paling senyap
malam demi malam berlalu
musim demi musim berganti
tapi masih juga kukembarakan sunyi yang sama.
BumiAllah, 26 maret 2005
masih kukembarakan sunyi ini ke dalam cerukceruk batin
entah sampai kapan. mungkin sampai daundaun itu gugur sendirian
mungkin sampai entah yang paling berantah
sebab sunyi mencekam diri terlampau erat, terlampau kuat
kau memang tak lagi mengerti
tentang degup yang membuat gugup
tentang irama ritmis yang mistis
tentang sunyi yang meruang dalam dada
tak ada sesuatu pun tentangmu selain kesedihan yang berkelindan
membangun jejaring, menggenapkan kesunyian yang paling senyap
malam demi malam berlalu
musim demi musim berganti
tapi masih juga kukembarakan sunyi yang sama.
BumiAllah, 26 maret 2005
Maret 16, 2005
sebuah kado untukmu
:did
anggap saja ini sebuah hadiah
walau aku tahu, katakata kadang tak berguna
kelak,
jika kau temukan sebuah sungai
yang mampu membuat jiwamu tenang
menyelamlah di kedalamannya
kau tentu paham,
langkahku tak tertebak arah angin mana pun
sedang langkahmu adalah rute yang pasti
maka berjalanlah lebih dulu
berbahagialah lebih dulu
tersenyumlah lebih dulu
sebab, kau adalah kebahagiaan bagiku.
selamat ulang tahun!
rumah abadi kita adalah rahim ibu.
BumiAllah, 16 maret 2005.
:did
anggap saja ini sebuah hadiah
walau aku tahu, katakata kadang tak berguna
kelak,
jika kau temukan sebuah sungai
yang mampu membuat jiwamu tenang
menyelamlah di kedalamannya
kau tentu paham,
langkahku tak tertebak arah angin mana pun
sedang langkahmu adalah rute yang pasti
maka berjalanlah lebih dulu
berbahagialah lebih dulu
tersenyumlah lebih dulu
sebab, kau adalah kebahagiaan bagiku.
selamat ulang tahun!
rumah abadi kita adalah rahim ibu.
BumiAllah, 16 maret 2005.
Maret 12, 2005
Maret 01, 2005
mari kita bicara tentang sepi yang tertunda.
entah berapa lama kita lari dan sembunyi. menyangkal dengan keras, bahwa kau dan aku tak pernah merasa sepi. jujurlah pada hatimu, dan aku akan jujur pada hatiku. kita berjalan terlampau lama dengan matahari terik di atas ubun-ubun. kita terlalu lelah ternyata. sedang sungai itu tak juga kita temukan. perjalanan ini semua dilarung dalam sepi. mungkin itu yang membuat tenaga kita cepat terkuras, habis. tak lagi bersisa selain sepi.
berapa kilometer telah kau dan aku lewati? tak ada yang tahu. hanya sepi demi sepi yang terus berganti, terlewat dari satu sisi ke sisi yang lain. dari satu tikungan ke tikungan yang lain. masih juga sepi yang kau dan aku temui di setiap perempatan jalannya.
senja datang, sepi masih juga ada. menjadi dinding pemisah yang tebal dan tinggi antara kau dan aku. hingga akhirnya langit berganti gelap. malam mengelam. sedang bulan tak kunjung datang. bintang sesekali tersenyum, walau kecut.
sepi.
masih juga sepi yang membuatmu merasa, bahwa aku tak benar-benar ada. bahwa aku hanyalah sesuatu yang datang dari dunia yang tak patut disentuh. bahwa aku adalah wujud yang tak benar-benar mewujud. bahwa aku menjadi penghalang bagimu, tenggelam dalam sepi yang sebenar-benar sepi.
lantas sepi apa yang kau dan aku cari?
bukan. bukan sepi yang ini. ini sepi terlalu riuh. aku hanya ingin sepi yang paling sepi. yang mampu membuatku merasa, dunia telah usai. dan semua orang akan tersadar, seperti bangun dari mimpi buruk yang panjang.
AKU INGIN SEPI YANG ITU!
entah berapa lama kita lari dan sembunyi. menyangkal dengan keras, bahwa kau dan aku tak pernah merasa sepi. jujurlah pada hatimu, dan aku akan jujur pada hatiku. kita berjalan terlampau lama dengan matahari terik di atas ubun-ubun. kita terlalu lelah ternyata. sedang sungai itu tak juga kita temukan. perjalanan ini semua dilarung dalam sepi. mungkin itu yang membuat tenaga kita cepat terkuras, habis. tak lagi bersisa selain sepi.
berapa kilometer telah kau dan aku lewati? tak ada yang tahu. hanya sepi demi sepi yang terus berganti, terlewat dari satu sisi ke sisi yang lain. dari satu tikungan ke tikungan yang lain. masih juga sepi yang kau dan aku temui di setiap perempatan jalannya.
senja datang, sepi masih juga ada. menjadi dinding pemisah yang tebal dan tinggi antara kau dan aku. hingga akhirnya langit berganti gelap. malam mengelam. sedang bulan tak kunjung datang. bintang sesekali tersenyum, walau kecut.
sepi.
masih juga sepi yang membuatmu merasa, bahwa aku tak benar-benar ada. bahwa aku hanyalah sesuatu yang datang dari dunia yang tak patut disentuh. bahwa aku adalah wujud yang tak benar-benar mewujud. bahwa aku menjadi penghalang bagimu, tenggelam dalam sepi yang sebenar-benar sepi.
lantas sepi apa yang kau dan aku cari?
bukan. bukan sepi yang ini. ini sepi terlalu riuh. aku hanya ingin sepi yang paling sepi. yang mampu membuatku merasa, dunia telah usai. dan semua orang akan tersadar, seperti bangun dari mimpi buruk yang panjang.
AKU INGIN SEPI YANG ITU!
Februari 24, 2005
luka pertama
baiklah,
akan kuceritakan kepadamu tentang seorang perempuan.
perempuan dengan wajah penuh luka cabikan. tak ada yang tersisa satu inci pun dari wajahnya, semuanya penuh luka. cabikan itu ada yang lewat dari pipi kiri hingga dagu. ada yang menggores sebatas kening. ada yang melintas melewati hidung. ada yang hampir menggaris mata, namun tak jadi. ada yang memanjang dari pelipis kanan sampai pipi. wajah perempuan itu teramat berantakan. kadang-kadang, dari semua luka yang dimilikinya, ada yang masih mengeluarkan darah. pelan, namun pasti. mulanya hanya rembes, membuat luka itu seakan-akan bertambah besar. tapi lama-kelamaan darah menetes juga dari lukanya.
tak ada seorang pun yang tahu, kenapa wajah perempuan itu penuh luka. semua orang hanya mampu menebak-nebak cerita. ada yang mengira, dia terkena kutukan. ada yang menyangka juga kalau dia adalah korban perkosaan. ada juga yang menuduh dia mantan seorang preman. semuanya hanya menduga-duga tanpa pernah berhasil mengetahui apa penyebabnya.
hingga pada sebuah malam, aku baru menyadarinya.
perempuan dengan luka-luka di wajahnya itu bicara sendirian. dia bicara pada malam yang semakin kelam. dia bicara pada hawa dingin yang semakin menusuk. dia bicara pada seribu bintang di angkasa.
bagiku, luka ini tak seberapa. karena aku yakin. esok, kelak. akan ada obat bagi semua luka di wajahku. tapi luka di dada ini mungkin takkan pernah menemukan obatnya. meskipun kau datang untuk meminta maaf, dan kembali memujaku.
siapa kau yang dimaksudnya?
aku semakin menajamkan telinga.
namun tak lagi kudengar kata-kata keluar lagi dari bibirnya yang sebagian rusak karena luka cabikan.
sepuluh tahun setelah itu, aku bertemu lagi dengannya.
perempuan itu terlihat lebih cantik. tanpa luka. tanpa darah yang rembes dan menetes. luka itu kurasa sudah menghilang. aku sungguh penasaran. aku ingin bertanya, tapi ragu. sampai akhirnya kami bertemu pada sebuah persimpangan jalan.
"apa kabar? kau begitu cantik sekarang. lain dengan 10 tahun yang lalu." sapaku penuh rasa penasaran. aku berharap dia mau mengatakan, apa obat yang membuatnya berhasil menghilangkan semua luka di wajahnya. tapi aku benar-benar sangat kaget saat mendengar apa yang dikatakannya kemudian.
"aku memang berhasil menghilangkan semua luka. tapi coba kau lihat ini." dia memperlihatkan pipi kanannya yang selama ini tertutup rambut sebahunya.
aku melihat masih tersisa satu luka di wajahnya. luka yang memanjang dari pelipis kanan sampai ke pipi. lukanya malah terlihat mengeluarkan banyak darah.
"inilah luka dari cinta pertamaku. sampai sekarang, aku tak pernah bisa menyembuhkannya. setiap kali kulewati jalan-jalan tempat masa laluku pernah singgah, luka ini akan semakin bertambah parah. luka ini akan semakin berdarah. luka kedua, ketiga, keempat sampai ke seratus bisa aku sembuhkan. tapi tidak dengan luka pertamaku ini." jawabnya sambil berlalu.
aku hanya mampu tertegun.
baiklah,
akan kuceritakan kepadamu tentang seorang perempuan.
perempuan dengan wajah penuh luka cabikan. tak ada yang tersisa satu inci pun dari wajahnya, semuanya penuh luka. cabikan itu ada yang lewat dari pipi kiri hingga dagu. ada yang menggores sebatas kening. ada yang melintas melewati hidung. ada yang hampir menggaris mata, namun tak jadi. ada yang memanjang dari pelipis kanan sampai pipi. wajah perempuan itu teramat berantakan. kadang-kadang, dari semua luka yang dimilikinya, ada yang masih mengeluarkan darah. pelan, namun pasti. mulanya hanya rembes, membuat luka itu seakan-akan bertambah besar. tapi lama-kelamaan darah menetes juga dari lukanya.
tak ada seorang pun yang tahu, kenapa wajah perempuan itu penuh luka. semua orang hanya mampu menebak-nebak cerita. ada yang mengira, dia terkena kutukan. ada yang menyangka juga kalau dia adalah korban perkosaan. ada juga yang menuduh dia mantan seorang preman. semuanya hanya menduga-duga tanpa pernah berhasil mengetahui apa penyebabnya.
hingga pada sebuah malam, aku baru menyadarinya.
perempuan dengan luka-luka di wajahnya itu bicara sendirian. dia bicara pada malam yang semakin kelam. dia bicara pada hawa dingin yang semakin menusuk. dia bicara pada seribu bintang di angkasa.
bagiku, luka ini tak seberapa. karena aku yakin. esok, kelak. akan ada obat bagi semua luka di wajahku. tapi luka di dada ini mungkin takkan pernah menemukan obatnya. meskipun kau datang untuk meminta maaf, dan kembali memujaku.
siapa kau yang dimaksudnya?
aku semakin menajamkan telinga.
namun tak lagi kudengar kata-kata keluar lagi dari bibirnya yang sebagian rusak karena luka cabikan.
sepuluh tahun setelah itu, aku bertemu lagi dengannya.
perempuan itu terlihat lebih cantik. tanpa luka. tanpa darah yang rembes dan menetes. luka itu kurasa sudah menghilang. aku sungguh penasaran. aku ingin bertanya, tapi ragu. sampai akhirnya kami bertemu pada sebuah persimpangan jalan.
"apa kabar? kau begitu cantik sekarang. lain dengan 10 tahun yang lalu." sapaku penuh rasa penasaran. aku berharap dia mau mengatakan, apa obat yang membuatnya berhasil menghilangkan semua luka di wajahnya. tapi aku benar-benar sangat kaget saat mendengar apa yang dikatakannya kemudian.
"aku memang berhasil menghilangkan semua luka. tapi coba kau lihat ini." dia memperlihatkan pipi kanannya yang selama ini tertutup rambut sebahunya.
aku melihat masih tersisa satu luka di wajahnya. luka yang memanjang dari pelipis kanan sampai ke pipi. lukanya malah terlihat mengeluarkan banyak darah.
"inilah luka dari cinta pertamaku. sampai sekarang, aku tak pernah bisa menyembuhkannya. setiap kali kulewati jalan-jalan tempat masa laluku pernah singgah, luka ini akan semakin bertambah parah. luka ini akan semakin berdarah. luka kedua, ketiga, keempat sampai ke seratus bisa aku sembuhkan. tapi tidak dengan luka pertamaku ini." jawabnya sambil berlalu.
aku hanya mampu tertegun.
Februari 05, 2005
bagiku, cinta sudah mati hari ini.
bukan,
ini bukan sebuah upaya untuk menjadi antagonis dari mereka yang memuja dan mengelu-elukan cinta. bukan. sebab dua hari kemarin pun, saya masih memuja cinta. dengan sepenuh hati, dengan setulus jiwa. hanya saja, peristiwa yang lewat hanya sepersekian detik dalam rutinitas hidup kita ternyata mampu mengubah sebuah pemujaan menjadi sebuah ritual pemakaman.
hari ini, saya telah membunuh cinta dengan kedua tangan saya. tak ada air mata yang perlahan meleleh, melintasi pipi, jatuh ke atas pangkuan. tak ada jeritan mengerikan yang mengiringi kematiannya. semuanya berjalan tanpa ada suara. hanya waktu yang terus berjalan, karena tak ada yang mampu menghentikannya.
cinta?
makhluk semanis itu ternyata lebih manis lagi dalam bentuknya yang sekarang. berupa mayat dan sebentar lagi berubah menjadi artefak. kelak, jika ada yang mengucapkan cinta dengan sungguh-sungguh dan penuh penghayatan di hadapan saya, saya akan melihatnya sebagai artefak yang hidup kembali. zombie dari mummi yang telah lama dikremasi. ahhh...
bagiku, cinta sudah mati hari ini.
bukan,
ini bukan sebuah upaya untuk menjadi antagonis dari mereka yang memuja dan mengelu-elukan cinta. bukan. sebab dua hari kemarin pun, saya masih memuja cinta. dengan sepenuh hati, dengan setulus jiwa. hanya saja, peristiwa yang lewat hanya sepersekian detik dalam rutinitas hidup kita ternyata mampu mengubah sebuah pemujaan menjadi sebuah ritual pemakaman.
hari ini, saya telah membunuh cinta dengan kedua tangan saya. tak ada air mata yang perlahan meleleh, melintasi pipi, jatuh ke atas pangkuan. tak ada jeritan mengerikan yang mengiringi kematiannya. semuanya berjalan tanpa ada suara. hanya waktu yang terus berjalan, karena tak ada yang mampu menghentikannya.
cinta?
makhluk semanis itu ternyata lebih manis lagi dalam bentuknya yang sekarang. berupa mayat dan sebentar lagi berubah menjadi artefak. kelak, jika ada yang mengucapkan cinta dengan sungguh-sungguh dan penuh penghayatan di hadapan saya, saya akan melihatnya sebagai artefak yang hidup kembali. zombie dari mummi yang telah lama dikremasi. ahhh...
bagiku, cinta sudah mati hari ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
negeri di atas awan itu, katon! dulu, saya tak percaya ada negeri di atas awan, meski berulang kali saya mendengarkan lagu milik katon bagas...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...