telah lahir ke dunia, anak kedua kami
seorang anak perempuan dengan berat 3,8 Kg
pada tanggal 03 Februari 2014 pukul 22.00 WIB
yang kami beri nama
Kania Athifa Syahadah
Februari 03, 2014
Oktober 06, 2013
Antara Kehamilan Kedua, Menulis, dan Mengedit
tidak terasa, kehamilan yang kedua ini sudah menginjak bulan kelima. ya, hampir lima bulan juga saya merasa benar-benar leha-leha. kehamilan kali ini bawaannya males. males mengerjakan banyak hal. kalau mual-mualnya sih, udah gak harus diceritain lagi. waktu kehamilan pertama pun, hampir sembilan bulan saya merasakan mual-mual.
kehamilan yang kedua ini, entah kenapa, di samping mual-mual seperti di kehamilan pertama, ada juga tambahannya, saya benar-benar malas. asli. malas. bahkan, untuk menyapu saja, saya malas. jadi, seringkali saya hanya mengerjakan pekerjaan yang benar-benar penting.
kemalasan itu pun berefek pada pekerjaan. saya benar-benar malas menulis. menulis apapun. malas membaca. membaca apapun. untungnya tidak terlalu malas jika mengedit. hanya, yang jadi persoalannya, saya seringkali merasa begitu lelah ketika berhadapan dengan layar monitor. saya hanya kuat duduk di depan komputer sekitar satu jam saja. selepas itu, saya leyeh-leyeh. tiduran sampe tidur beneran.
alhasil, editan saya beberapa terbengkalai. meski ada beberapa editan yang saya pastikan tepat dengan jadwal deadline. kalau nggak, saya yang kena akibatnya sendiri. kena pecat. hehehe...
lepas dari segala kemalasan yang menghantui selama kehamilan kedua ini, saya benar-benar merindukan untuk bisa menulis. maka, malam ini, dengan ditemani michael buble, saya menuliskan catatan ini.
beberapa hari ini, setelah Iqbal disunat, saya mencoba untuk melawan rasa malas itu. semoga saja, si malas itu tidak terus menghantui saya. semoga... Aamiin...
kehamilan yang kedua ini, entah kenapa, di samping mual-mual seperti di kehamilan pertama, ada juga tambahannya, saya benar-benar malas. asli. malas. bahkan, untuk menyapu saja, saya malas. jadi, seringkali saya hanya mengerjakan pekerjaan yang benar-benar penting.
kemalasan itu pun berefek pada pekerjaan. saya benar-benar malas menulis. menulis apapun. malas membaca. membaca apapun. untungnya tidak terlalu malas jika mengedit. hanya, yang jadi persoalannya, saya seringkali merasa begitu lelah ketika berhadapan dengan layar monitor. saya hanya kuat duduk di depan komputer sekitar satu jam saja. selepas itu, saya leyeh-leyeh. tiduran sampe tidur beneran.
alhasil, editan saya beberapa terbengkalai. meski ada beberapa editan yang saya pastikan tepat dengan jadwal deadline. kalau nggak, saya yang kena akibatnya sendiri. kena pecat. hehehe...
lepas dari segala kemalasan yang menghantui selama kehamilan kedua ini, saya benar-benar merindukan untuk bisa menulis. maka, malam ini, dengan ditemani michael buble, saya menuliskan catatan ini.
beberapa hari ini, setelah Iqbal disunat, saya mencoba untuk melawan rasa malas itu. semoga saja, si malas itu tidak terus menghantui saya. semoga... Aamiin...
September 13, 2013
Iqbal dan Sunatan
Hari ini, jumat, 13 September 2013, Iqbal sudah disunat. Subuh tadi,
saya, suami, ibu mertua, Iqbal dengan ditemani dua ponakan, datang ke
sebuah Klinik Khitan. Hanya setengah jam kami berada di Klinik. Mungkin
karena hari ini hanya Iqbal satu-satunya pasien yang disunat. Alhasil,
proses berjalan cepat dan lancar.
Saat masuk ke ruang praktek, Iqbal tidak mau lepas, dia terus memeluk saya. Tapi asisten klinik itu dengan cepat menggendong Iqbal dan meminta saya untuk menunggu di luar ruangan. Tidak tega sebetulnya. Tapi saya pasrah saja. Saya hanya bisa berdoa, semoga semuanya lancar.
Setelah selesai, asisten menggendong Iqbal keluar ruangan. Sungguh, saya tak bisa menjelaskan dengan kata-kata, bagaimana ekspresi Iqbal saat dia baru keluar ruangan. Mungkin dia tidak mengira, kalau disunat itu akan begitu. Hehehe...
Untungnya, Iqbal tidak rewel. Selama perjalanan pulang, kami bercerita. Ya, beruntung kedua ponakan itu mau ikut ke Klinik. Sehingga bisa menghibur yang sudah selesai dikhitan.
Hari ini, hari jumat. Bulan September. Bulan yang bertepatan dengan bulan lahir Iqbal. 9 September kemarin, usia Iqbal tepat tiga tahun. Saya bahagia. Tugas kami sebagai orangtua terhadap anak laki-laki baru selesai sebagian. Tentu. Masih banyak tugas lainnya menanti kami. Semoga kami bisa menjalaninya sebaik-baik orangtua. Aamiin....
Sore nanti, akan ada pengajian ibu-ibu di rumah kami. Syukuran sunatan Iqbal dan syukuran kehamilan kedua saya yang sudah menginjak empat bulan. Semoga semua agenda hari ini berjalan lancar. Aamiin...
Saat masuk ke ruang praktek, Iqbal tidak mau lepas, dia terus memeluk saya. Tapi asisten klinik itu dengan cepat menggendong Iqbal dan meminta saya untuk menunggu di luar ruangan. Tidak tega sebetulnya. Tapi saya pasrah saja. Saya hanya bisa berdoa, semoga semuanya lancar.
Setelah selesai, asisten menggendong Iqbal keluar ruangan. Sungguh, saya tak bisa menjelaskan dengan kata-kata, bagaimana ekspresi Iqbal saat dia baru keluar ruangan. Mungkin dia tidak mengira, kalau disunat itu akan begitu. Hehehe...
Untungnya, Iqbal tidak rewel. Selama perjalanan pulang, kami bercerita. Ya, beruntung kedua ponakan itu mau ikut ke Klinik. Sehingga bisa menghibur yang sudah selesai dikhitan.
Hari ini, hari jumat. Bulan September. Bulan yang bertepatan dengan bulan lahir Iqbal. 9 September kemarin, usia Iqbal tepat tiga tahun. Saya bahagia. Tugas kami sebagai orangtua terhadap anak laki-laki baru selesai sebagian. Tentu. Masih banyak tugas lainnya menanti kami. Semoga kami bisa menjalaninya sebaik-baik orangtua. Aamiin....
Sore nanti, akan ada pengajian ibu-ibu di rumah kami. Syukuran sunatan Iqbal dan syukuran kehamilan kedua saya yang sudah menginjak empat bulan. Semoga semua agenda hari ini berjalan lancar. Aamiin...
April 18, 2013
Iqbal dan Kolam Renang
Sabtu, tanggal 13 April 2013, saya mengajak Iqbal ke sebuah acara yang berlokasi di Pageur Ageung, Tasikmalaya. Acara ini berjudul Cuang Lawung 1 yang digagas oleh sebuah grup di FB. Grup Fiksimini Basa Sunda. Sebuah acara yang sebetulnya sangat tidak cocok untuk anak batita seperti Iqbal. Namun, sejak usia balita, saya sudah terbiasa mengajak Iqbal untuk turut ke acara-acara yang saya ikuti. Meskipun acara tersebut berlangsung di outdoor. Apalagi setelah saya tahu kalau di lokasi acara ada sebuah kolam renang. Ya, Iqbal paling suka dengan kolam renang. Sejak masih usia empat bulan, saya seringkali mengisi bak mandi dengan air hangat, lalu membiarkan Iqbal berenang dengan ban khususnya. Hingga saat ini, berenang menjadi kegiatan favoritnya.
Kami sampai di lokasi sekira jam 10 pagi. Benar saja, Iqbal langsung merengek minta turun ke kolam renang. Padahal rencananya, saya baru akan membiarkannya turun ke kolam renang, sore nanti. Mungkin memang karena usianya yang kini sudah 2.5 tahun, sehingga untuknya, ketika turun, ya harus turun. Konon menginjak pada usia inilah, seorang anak sedang belajar menegakkan ke-aku-annya. Saya pun menyerah, saya biarkan dia masuk ke kolam renang yang dangkal. Dia pun nampak gembira sekali.
Saya benar-benar tak mengira, kalau pada hari pertama saja, Iqbal meminta turun ke kolam renang sebanyak 3 kali. Pagi, Siang, Sore. Seperti minum obat saja. Dengan durasi hampir 30 menit lebih setiap kali dia turun ke kolam renang. Hari kedua pun demikian. Iqbal dua kali turun ke kolam renang. Saya sudah khawatir, takut-takut dia flu, atau bahkan sakit sepulangnya dari acara.
Benar saja, saat pulang ke Ciamis. Di perjalanan badan Iqbal demam. Perasaan saya berkecamuk. Antara khawatir dan merasa bersalah. Namun, sesampainya di Ciamis, saya langsung ke apotek, membeli obat penurun demam. Ke warung, membeli timun untuk mengompresnya.
Dan sekarang, empat hari selepas acara, Iqbal sudah sangat normal lagi. Demamnya hanya sebentar saja. Pelajaran berharga bagi saya adalah, saya harus lebih pandai lagi mengalihkan perhatian Iqbal.
Maret 27, 2013
Bapak, dan Perasaan Kehilangan
saya bukan anak yang berbakti. telah banyak luka yang dirasakan orangtua tersebab saya. namun sungguh, meski saya anak yang durhaka, namun perasaan kehilangan itu begitu terasa. bahkan, terasa sekali karena saya tahu, saya belum bisa membahagiakan bapak.
dari bapak, saya belajar untuk mengubah kesakitan menjadi kekuatan. dari bapak juga saya mengerti apa arti sumarah. pasrah. pasrah bukan berarti menanti nasib membawa diri kita ke mana dia mau. namun pasrah adalah bergerak senantiasa, lantas hasilnya, serahkan pada sang maha kuasa.
saya tahu, saya bukan anak yang berbakti. namun kehilangan bapak bagi saya seperti kehilangan matahari. kehilangan cahaya yang setiap saat akan menuntun saya melewati terowongan paling gelap dalam hidup.
selamat jalan, bapak...
semoga Allah Swt, memberikan tempat paling utama untukmu...
Amin.
Februari 24, 2013
Di Hari Pemilihan Itu
Nak, esok hari aku akan mengajakmu ke Tempat Pemilihan Suara. Tidak. Aku tidak akan memilih calon gubernur mana pun. Aku hanya ingin mengajakmu melihat bagaimana orang-orang diam-diam menyimpan harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Aku bukannya tidak punya harapan, sehingga tak ada keinginan untuk memilih. Bukan. Aku hanya merasa, bahwa saat ini, kehidupan yang lebih baik, tidak ditentukan oleh siapa yang memimpin.
Ibumu ini mungkin adalah manusia pesimis. Tidak percaya bahwa semuanya akan berubah. Akan ada pemimpin yang dengan kerendahan hatinya, memikirkan kepentingan masyarakat, bukan kepentingan serikat.
Aku ingin mengajakmu belajar di TPS. Sebab di TPS itulah, sebenar-benarnya sekolah politik. Di TPS, kita akan bertemu dengan tetangga-tetangga kita. Satu RT. Satu RW. Di sana, kita akan melihat wajah-wajah resah saat nama dan nomor antrian yang dipegang belum terpanggil. Namun kamu akan mendapati bahwa wajah itu akan sumringah seketika, saat dia baru keluar dari bilik suara. Raut wajah yang hampir tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.
Hampir sebagian dari pemilih itu, Nak. Tetangga kita. Mereka satu sama lain, telah saling memahami, bahwa Pak A, adalah pendukung nomor sekian. Ibu C adalah pendukung fanatik nomor lain. Dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan, sebagian dari mereka tahu, bahwa ibumu ini datang ke TPS hanya untuk mencoblos semua gambar calon.
Tapi pengetahuan yang mereka miliki itu, tidak menjadikan mereka enggan saling mengirim makanan. Ibu B, yang mendukung nomor sekian, nyatanya masih mengirim buah rambutan yang tumbuh di halaman rumahnya kepada Ibu D, meski Ibu B mengetahui bahwa Ibu D adalah pendukung nomor yang berbeda.
Perbedaan tidak melahirkan tawuran antar tetangga. Tidak menghentikan kebaikan demi kebaikan yang terus bergulir, seperti sebelum waktu pemilihan.
Saat hasil pemilihan diumumkan. Yang memilih pemenang, mungkin akan sedikit bahagia, karena harapannya mungkin akan menjadi kenyataan. Sedangkan pendukung yang kalah, tak sakit hati, tidak pula dendam, pada mereka yang menang. Selepas di TPS, semua kembali pada kehidupan semula. Saling berbagi. Saling mengunjungi. Menjenguk jika mendengar ada seorang tetangga yang sakit. Semua kembali seperti biasa.
Namun kehidupan politik tidak sesederhana yang aku gambarkan di atas, Nak.
Mereka, yang mengatasnamakan rakyat, seringkali malah melupakan rakyatnya, lantas baku hantam, saling berebut piring, untuk memasukan nasi sebanyak yang mereka bisa, untuk diri mereka sendiri, untuk golongan mereka sendiri. Mereka tak lagi ingat, bagaimana wajah-wajah penuh pengharapan yang keluar dari bilik suara. Bermimpi kehidupan akan lebih baik dari hari ini.
Nak, esok aku akan mengajakmu ke Tempat Pemilihan Suara. Agar kelak, jika kau sudah dewasa, dan bertekad menjadi pemimpin, akan selalu ingat bagaimana raut wajah mereka yang keluar dari bilik suara itu. Di sana, segala harapan tersimpan. Dan yang terpilih, berkewajiban mewujudkannya.
Ibumu ini mungkin adalah manusia pesimis. Tidak percaya bahwa semuanya akan berubah. Akan ada pemimpin yang dengan kerendahan hatinya, memikirkan kepentingan masyarakat, bukan kepentingan serikat.
Aku ingin mengajakmu belajar di TPS. Sebab di TPS itulah, sebenar-benarnya sekolah politik. Di TPS, kita akan bertemu dengan tetangga-tetangga kita. Satu RT. Satu RW. Di sana, kita akan melihat wajah-wajah resah saat nama dan nomor antrian yang dipegang belum terpanggil. Namun kamu akan mendapati bahwa wajah itu akan sumringah seketika, saat dia baru keluar dari bilik suara. Raut wajah yang hampir tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.
Hampir sebagian dari pemilih itu, Nak. Tetangga kita. Mereka satu sama lain, telah saling memahami, bahwa Pak A, adalah pendukung nomor sekian. Ibu C adalah pendukung fanatik nomor lain. Dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan, sebagian dari mereka tahu, bahwa ibumu ini datang ke TPS hanya untuk mencoblos semua gambar calon.
Tapi pengetahuan yang mereka miliki itu, tidak menjadikan mereka enggan saling mengirim makanan. Ibu B, yang mendukung nomor sekian, nyatanya masih mengirim buah rambutan yang tumbuh di halaman rumahnya kepada Ibu D, meski Ibu B mengetahui bahwa Ibu D adalah pendukung nomor yang berbeda.
Perbedaan tidak melahirkan tawuran antar tetangga. Tidak menghentikan kebaikan demi kebaikan yang terus bergulir, seperti sebelum waktu pemilihan.
Saat hasil pemilihan diumumkan. Yang memilih pemenang, mungkin akan sedikit bahagia, karena harapannya mungkin akan menjadi kenyataan. Sedangkan pendukung yang kalah, tak sakit hati, tidak pula dendam, pada mereka yang menang. Selepas di TPS, semua kembali pada kehidupan semula. Saling berbagi. Saling mengunjungi. Menjenguk jika mendengar ada seorang tetangga yang sakit. Semua kembali seperti biasa.
Namun kehidupan politik tidak sesederhana yang aku gambarkan di atas, Nak.
Mereka, yang mengatasnamakan rakyat, seringkali malah melupakan rakyatnya, lantas baku hantam, saling berebut piring, untuk memasukan nasi sebanyak yang mereka bisa, untuk diri mereka sendiri, untuk golongan mereka sendiri. Mereka tak lagi ingat, bagaimana wajah-wajah penuh pengharapan yang keluar dari bilik suara. Bermimpi kehidupan akan lebih baik dari hari ini.
Nak, esok aku akan mengajakmu ke Tempat Pemilihan Suara. Agar kelak, jika kau sudah dewasa, dan bertekad menjadi pemimpin, akan selalu ingat bagaimana raut wajah mereka yang keluar dari bilik suara itu. Di sana, segala harapan tersimpan. Dan yang terpilih, berkewajiban mewujudkannya.
Februari 17, 2013
Kepada Ahmad Halwani, atau Mereka yang Mencari Cinta
Saat dirimu membaca suratku ini, jangan pernah berpikir bahwa ini sebuah nasehat. Sebab aku belum terlalu tua
untuk bisa menulis sebuah nasehat yang bijak. Anggap saja aku tengah berbagi masa lalu padamu. Sesuatu yang tidak penting bagimu, namun dengan mengetahuinya, kau akan lebih matang memilih jalan.
Ketika kau mencintai jarak. Sesuatu yang sesungguhnya begitu asing. Sesuatu yang kau harap bisa membawamu pada arti bahagia, mungkin juga akan membawamu pada wilayah yang lain. Dengan mencintai jarak, maka kau harus bersiap kecewa, bersiap patah hati dan terluka. Aku tidak sedang menakut-nakuti. Namun selalu ada yang mengintai dari jarak yang tak mungkin bisa kita lipat. Aku tak tahu, sejauh mana kau mencintainya. Atau dia mencintaimu. Aku hanya mengenal jarak jauh sebelum kau mengenalnya.
Aku tahu bagaimana rasanya rindu dendam memahami waktu, mencoba bersiasat dengan tepat, menebak-nebak, sedang apa sesungguhnya dia. Aku tahu bagaimana rasanya berdamai dengan sebuah situasi, sebuah kondisi yang seringkali membuat kita ingin mati tapi tak ingin bunuh diri. Tidak ada yang salah dengan jarak, jika kamu mengenalnya lebih dari kamu mengenal saudara kandungmu. Namun jika kamu mengenalnya hanya sebagai bayang dari kisah remang-remang. Bersiaplah untuk angkat jangkar. Berlayarlah kembali. Hadapi lautmu sendiri.
Carilah pulau yang mampu kau rengkuh. Agar perahumu bisa benar-benar berlabuh. Utuh. Agar kelak, kau benar-benar bisa merasakan hangat airmatanya, indah senyumnya, dan dadamu bisa bergetar karenanya. Jangan bertahan pada wilayah yang kamu sendiri tak mengenalinya. Dalam gelap sekali pun, akan selalu ada cahaya yang menuntunmu.
Maka, tegaklah berdiri sebagai laki-laki. Tinggalkan dunia bayangmu itu. Lalu tatap harimu yang penuh matahari... Aku akan selalu ada, saat kau perlu tempat bercerita.
Ketika kau mencintai jarak. Sesuatu yang sesungguhnya begitu asing. Sesuatu yang kau harap bisa membawamu pada arti bahagia, mungkin juga akan membawamu pada wilayah yang lain. Dengan mencintai jarak, maka kau harus bersiap kecewa, bersiap patah hati dan terluka. Aku tidak sedang menakut-nakuti. Namun selalu ada yang mengintai dari jarak yang tak mungkin bisa kita lipat. Aku tak tahu, sejauh mana kau mencintainya. Atau dia mencintaimu. Aku hanya mengenal jarak jauh sebelum kau mengenalnya.
Aku tahu bagaimana rasanya rindu dendam memahami waktu, mencoba bersiasat dengan tepat, menebak-nebak, sedang apa sesungguhnya dia. Aku tahu bagaimana rasanya berdamai dengan sebuah situasi, sebuah kondisi yang seringkali membuat kita ingin mati tapi tak ingin bunuh diri. Tidak ada yang salah dengan jarak, jika kamu mengenalnya lebih dari kamu mengenal saudara kandungmu. Namun jika kamu mengenalnya hanya sebagai bayang dari kisah remang-remang. Bersiaplah untuk angkat jangkar. Berlayarlah kembali. Hadapi lautmu sendiri.
Carilah pulau yang mampu kau rengkuh. Agar perahumu bisa benar-benar berlabuh. Utuh. Agar kelak, kau benar-benar bisa merasakan hangat airmatanya, indah senyumnya, dan dadamu bisa bergetar karenanya. Jangan bertahan pada wilayah yang kamu sendiri tak mengenalinya. Dalam gelap sekali pun, akan selalu ada cahaya yang menuntunmu.
Maka, tegaklah berdiri sebagai laki-laki. Tinggalkan dunia bayangmu itu. Lalu tatap harimu yang penuh matahari... Aku akan selalu ada, saat kau perlu tempat bercerita.
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...



