Nak, esok hari aku akan mengajakmu ke Tempat Pemilihan Suara. Tidak. Aku tidak akan memilih calon gubernur mana pun. Aku hanya ingin mengajakmu melihat bagaimana orang-orang diam-diam menyimpan harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Aku bukannya tidak punya harapan, sehingga tak ada keinginan untuk memilih. Bukan. Aku hanya merasa, bahwa saat ini, kehidupan yang lebih baik, tidak ditentukan oleh siapa yang memimpin.
Ibumu ini mungkin adalah manusia pesimis. Tidak percaya bahwa semuanya akan berubah. Akan ada pemimpin yang dengan kerendahan hatinya, memikirkan kepentingan masyarakat, bukan kepentingan serikat.
Aku ingin mengajakmu belajar di TPS. Sebab di TPS itulah, sebenar-benarnya sekolah politik. Di TPS, kita akan bertemu dengan tetangga-tetangga kita. Satu RT. Satu RW. Di sana, kita akan melihat wajah-wajah resah saat nama dan nomor antrian yang dipegang belum terpanggil. Namun kamu akan mendapati bahwa wajah itu akan sumringah seketika, saat dia baru keluar dari bilik suara. Raut wajah yang hampir tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.
Hampir sebagian dari pemilih itu, Nak. Tetangga kita. Mereka satu sama lain, telah saling memahami, bahwa Pak A, adalah pendukung nomor sekian. Ibu C adalah pendukung fanatik nomor lain. Dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan, sebagian dari mereka tahu, bahwa ibumu ini datang ke TPS hanya untuk mencoblos semua gambar calon.
Tapi pengetahuan yang mereka miliki itu, tidak menjadikan mereka enggan saling mengirim makanan. Ibu B, yang mendukung nomor sekian, nyatanya masih mengirim buah rambutan yang tumbuh di halaman rumahnya kepada Ibu D, meski Ibu B mengetahui bahwa Ibu D adalah pendukung nomor yang berbeda.
Perbedaan tidak melahirkan tawuran antar tetangga. Tidak menghentikan kebaikan demi kebaikan yang terus bergulir, seperti sebelum waktu pemilihan.
Saat hasil pemilihan diumumkan. Yang memilih pemenang, mungkin akan sedikit bahagia, karena harapannya mungkin akan menjadi kenyataan. Sedangkan pendukung yang kalah, tak sakit hati, tidak pula dendam, pada mereka yang menang. Selepas di TPS, semua kembali pada kehidupan semula. Saling berbagi. Saling mengunjungi. Menjenguk jika mendengar ada seorang tetangga yang sakit. Semua kembali seperti biasa.
Namun kehidupan politik tidak sesederhana yang aku gambarkan di atas, Nak.
Mereka, yang mengatasnamakan rakyat, seringkali malah melupakan rakyatnya, lantas baku hantam, saling berebut piring, untuk memasukan nasi sebanyak yang mereka bisa, untuk diri mereka sendiri, untuk golongan mereka sendiri. Mereka tak lagi ingat, bagaimana wajah-wajah penuh pengharapan yang keluar dari bilik suara. Bermimpi kehidupan akan lebih baik dari hari ini.
Nak, esok aku akan mengajakmu ke Tempat Pemilihan Suara. Agar kelak, jika kau sudah dewasa, dan bertekad menjadi pemimpin, akan selalu ingat bagaimana raut wajah mereka yang keluar dari bilik suara itu. Di sana, segala harapan tersimpan. Dan yang terpilih, berkewajiban mewujudkannya.
Februari 24, 2013
Februari 17, 2013
Kepada Ahmad Halwani, atau Mereka yang Mencari Cinta
Saat dirimu membaca suratku ini, jangan pernah berpikir bahwa ini sebuah nasehat. Sebab aku belum terlalu tua
untuk bisa menulis sebuah nasehat yang bijak. Anggap saja aku tengah berbagi masa lalu padamu. Sesuatu yang tidak penting bagimu, namun dengan mengetahuinya, kau akan lebih matang memilih jalan.
Ketika kau mencintai jarak. Sesuatu yang sesungguhnya begitu asing. Sesuatu yang kau harap bisa membawamu pada arti bahagia, mungkin juga akan membawamu pada wilayah yang lain. Dengan mencintai jarak, maka kau harus bersiap kecewa, bersiap patah hati dan terluka. Aku tidak sedang menakut-nakuti. Namun selalu ada yang mengintai dari jarak yang tak mungkin bisa kita lipat. Aku tak tahu, sejauh mana kau mencintainya. Atau dia mencintaimu. Aku hanya mengenal jarak jauh sebelum kau mengenalnya.
Aku tahu bagaimana rasanya rindu dendam memahami waktu, mencoba bersiasat dengan tepat, menebak-nebak, sedang apa sesungguhnya dia. Aku tahu bagaimana rasanya berdamai dengan sebuah situasi, sebuah kondisi yang seringkali membuat kita ingin mati tapi tak ingin bunuh diri. Tidak ada yang salah dengan jarak, jika kamu mengenalnya lebih dari kamu mengenal saudara kandungmu. Namun jika kamu mengenalnya hanya sebagai bayang dari kisah remang-remang. Bersiaplah untuk angkat jangkar. Berlayarlah kembali. Hadapi lautmu sendiri.
Carilah pulau yang mampu kau rengkuh. Agar perahumu bisa benar-benar berlabuh. Utuh. Agar kelak, kau benar-benar bisa merasakan hangat airmatanya, indah senyumnya, dan dadamu bisa bergetar karenanya. Jangan bertahan pada wilayah yang kamu sendiri tak mengenalinya. Dalam gelap sekali pun, akan selalu ada cahaya yang menuntunmu.
Maka, tegaklah berdiri sebagai laki-laki. Tinggalkan dunia bayangmu itu. Lalu tatap harimu yang penuh matahari... Aku akan selalu ada, saat kau perlu tempat bercerita.
Ketika kau mencintai jarak. Sesuatu yang sesungguhnya begitu asing. Sesuatu yang kau harap bisa membawamu pada arti bahagia, mungkin juga akan membawamu pada wilayah yang lain. Dengan mencintai jarak, maka kau harus bersiap kecewa, bersiap patah hati dan terluka. Aku tidak sedang menakut-nakuti. Namun selalu ada yang mengintai dari jarak yang tak mungkin bisa kita lipat. Aku tak tahu, sejauh mana kau mencintainya. Atau dia mencintaimu. Aku hanya mengenal jarak jauh sebelum kau mengenalnya.
Aku tahu bagaimana rasanya rindu dendam memahami waktu, mencoba bersiasat dengan tepat, menebak-nebak, sedang apa sesungguhnya dia. Aku tahu bagaimana rasanya berdamai dengan sebuah situasi, sebuah kondisi yang seringkali membuat kita ingin mati tapi tak ingin bunuh diri. Tidak ada yang salah dengan jarak, jika kamu mengenalnya lebih dari kamu mengenal saudara kandungmu. Namun jika kamu mengenalnya hanya sebagai bayang dari kisah remang-remang. Bersiaplah untuk angkat jangkar. Berlayarlah kembali. Hadapi lautmu sendiri.
Carilah pulau yang mampu kau rengkuh. Agar perahumu bisa benar-benar berlabuh. Utuh. Agar kelak, kau benar-benar bisa merasakan hangat airmatanya, indah senyumnya, dan dadamu bisa bergetar karenanya. Jangan bertahan pada wilayah yang kamu sendiri tak mengenalinya. Dalam gelap sekali pun, akan selalu ada cahaya yang menuntunmu.
Maka, tegaklah berdiri sebagai laki-laki. Tinggalkan dunia bayangmu itu. Lalu tatap harimu yang penuh matahari... Aku akan selalu ada, saat kau perlu tempat bercerita.
Februari 04, 2013
Catatan Kesedihan
sudah lama saya tidak menceritakan riwayat kesedihan di sini. setelah saya menemukan dia, seseorang yang rela berbagi kehidupannya dengan saya.saya nyaris tidak pernah mengalami kesedihan yang teramat. kesedihan, dia singgah sebagai kesedihan yang sewajarnya. datang, lalu pergi. pamit sebagai sesuatu yang kelak akan datang lagi, lalu pergi lagi. serupa kebahagiaan. tak ada yang benar abadi.
namun akhir-akhir ini, kesedihan, dia begitu setia. berulangkali saya mencoba untuk memintanya pergi, namun dia tetap saja enggan. dia seolah ingin menjadi teman yang siap berbagi apa saja dengan saya. lalu saya, tak bisa menolaknya.
sumber kesedihan?
jika ada seseorang bertanya pada saya, apakah sumber dari segala kesedihan saya? jawabannya hanya satu. saya merasa kaum saya, perempuan, yang konon katanya satu bagian dengan saya dalam sebuah perkumpulan, dia benar-benar tidak peduli pada saya. alih-alih memberikan empati. mereka bahkan membuat ungkapan-ungkapan yang menyakitkan. dan lebih memilih senior mereka daripada memilih berempati pada saya, seorang perempuan, sama halnya seperti mereka.
ah sudahlah. kesedihan, dia masih setia memeluk saya.
biarkan saya memeluknya lebih lama...
Januari 22, 2013
Mungkin Beginilah Rasanya Menjadi Ibu
harapan seperti hantu, terkadang menakutkanku. seringkali aku berharap bahwa aku bisa melewati hari ini dan esok dengan baik-baik saja. tanpa ketakutan. tanpa kecemasan. namun seringkali yang terjadi adalah aku diliputi rasa tak menentu. bukan, ini bukan soal yang menyangkut lagi perasaan remeh-temeh, yang dulu malah menjadi seperti penting.
perasaanku tak menentu saat pekerjaanku belum juga selesai, sedangkan deadline di depan mata. perasaanku tak menentu saat aku tahu bahwa sebentar lagi bulan berganti, dan aku, bahkan tak punya uang hanya untuk sekadar membayar iuran sampah. bahkan yang seringkali terjadi adalah, perasaanku tak menentu saat aku menyadari bahwa aku benar-benar tak bisa memberikan yang terbaik buat anakku.
mungkin beginilah rasanya menjadi ibu. begitu tak menentu, ketika segala sesuatu terjadi dalam rumahku.
Januari 15, 2013
Januari Hampir Matang, Sayang
ketika kau masih terlelap, sayang. aku terjaga entah untuk ke berapa kalinya. tidur nyatanya tidak bisa menghilangkan ingatan kita pada apa-apa yang semestinya kita ingat.
januari hampir matang. sedang aku masih juga mencari kata-kata, mencari ke dalam diri, ke luar diri. akulah ibu yang kehilangan anaknya. berulangkali mencoba memanggil segala mantra, namun yang kutemukan hanya tanda baca yang berserak, hanya tanda baca.
untuk apa mereka jika semua kata-kata menghilang? untuk apa?
Januari 05, 2013
Rumah Baru dan Rumah Lama
tahun 2012 adalah tahun yang penuh dengan jeda. hampir satu tahun itu, saya alpa menulis di blog. pada bulan mei, saya berpikir, mungkin saya butuh rumah yang baru, agar keinginan menulis di blog muncul kembali, seperti dulu. dulu sekali.
namun sia-sia saja. rumah baru saya pun tidak terurus. apalagi rumah yang lama. keduanya saya biarkan tak berpenghuni. kedua rumah itu nampak kesepian. menggigil pada malam-malam paling sunyi. padahal dulu, saya paling suka menulis di malam hari. membiarkan kata-kata bercumbu dengan kegelapan.
memasuki 2013, tahun dengan angka sial di ujungnya. saya kembali mencoba untuk membuka lagi pintu rumah saya. berharap kesialan tidak singgah pada rumah ini. padahal kesialan bagi sebuah blog adalah tak pernah dijamah pemiliknya. ya, saya berharap, tahun ini kata-kata akan senantiasa ada, mengisi seluruh ruang dalam rumah ini. agar malam, agar sunyi, tetap menjadi sahabat paling dekat, paling likat.
Bismillah...
saya menulis lagi di sini. mari, mendekatlah...
namun sia-sia saja. rumah baru saya pun tidak terurus. apalagi rumah yang lama. keduanya saya biarkan tak berpenghuni. kedua rumah itu nampak kesepian. menggigil pada malam-malam paling sunyi. padahal dulu, saya paling suka menulis di malam hari. membiarkan kata-kata bercumbu dengan kegelapan.
memasuki 2013, tahun dengan angka sial di ujungnya. saya kembali mencoba untuk membuka lagi pintu rumah saya. berharap kesialan tidak singgah pada rumah ini. padahal kesialan bagi sebuah blog adalah tak pernah dijamah pemiliknya. ya, saya berharap, tahun ini kata-kata akan senantiasa ada, mengisi seluruh ruang dalam rumah ini. agar malam, agar sunyi, tetap menjadi sahabat paling dekat, paling likat.
Bismillah...
saya menulis lagi di sini. mari, mendekatlah...
Mei 29, 2012
rumah baru
lama sekali tak menulis di sini. bukan karena saya tak menulis lagi. tidak. saya masih menulis. dan tentu saja akan masih terus menulis. hanya saya untuk bisa menulis di sini, rasanya kok butuh energi yang lebih banyak lagi. saya sudah tua. sudah waktunya tidak lagi menulis caci maki, sumpah serapah, racau igau, dan hal-hal yang sebetulnya hanyalah tumpahan kekesalan saya, atau bahkan bentuk kemarahan saya. maka dari itu, saya sepertinya akan memutuskan untuk menulis sesuatu yang lebih bersahaja, lebih bermakna, dan agar kelak anak saya bisa membacanya tanpa mengerutkan kening dan berkata; oh, jadi ibu saya dulu seperti ini ya... hehehe... untuk itu pula, saya punya rumah baru, meski sederhana, agar tidak menyatu dengan halaman-halaman hitam ini. bagi yang masih ingin membaca tulisan-tulisan saya, silahkan buka: karena menjadi ibu itu indah
lama sekali tak menulis di sini. bukan karena saya tak menulis lagi. tidak. saya masih menulis. dan tentu saja akan masih terus menulis. hanya saya untuk bisa menulis di sini, rasanya kok butuh energi yang lebih banyak lagi. saya sudah tua. sudah waktunya tidak lagi menulis caci maki, sumpah serapah, racau igau, dan hal-hal yang sebetulnya hanyalah tumpahan kekesalan saya, atau bahkan bentuk kemarahan saya. maka dari itu, saya sepertinya akan memutuskan untuk menulis sesuatu yang lebih bersahaja, lebih bermakna, dan agar kelak anak saya bisa membacanya tanpa mengerutkan kening dan berkata; oh, jadi ibu saya dulu seperti ini ya... hehehe... untuk itu pula, saya punya rumah baru, meski sederhana, agar tidak menyatu dengan halaman-halaman hitam ini. bagi yang masih ingin membaca tulisan-tulisan saya, silahkan buka: karena menjadi ibu itu indah
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
cukup kutulis begini, pelukanmu itulah yang senantiasa kurindukan. haha... tidak, ini serius. aku tidak butuh apapun saat ini. kecuali peluk...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...