Agustus 22, 2009
Agustus 18, 2009
kepada agustus
apa yang harus kukabarkan kepadamu, agustus?
jika warna hanya melulu merah di atas putih
jika hidup tak punya pilihan selain kematian
jika aku pada akhirnya akan menujumu
apa yang harus kukabarkan kepadamu, agustus?
ketika udara tidak lagi memberi nafas
dan aku terhimpit di antara batu besar kehidupan
apa yang harus kukabarkan kepadamu, agustus?
jika warna hanya melulu merah di atas putih
jika hidup tak punya pilihan selain kematian
jika aku pada akhirnya akan menujumu
apa yang harus kukabarkan kepadamu, agustus?
ketika udara tidak lagi memberi nafas
dan aku terhimpit di antara batu besar kehidupan
Juni 30, 2009
selamat ulang tahun rasa sakit!
selamat ulang tahun, kepadamu.
rasa sakit yang mengekal dari tahun ke tahun.
selamat ulang tahun, kepadamu. akhirnya berjumpa lagi kita di persimpangan tanggal dan bulan yang sama. setahun telah lewat. ada yang diam-diam bersijingkat, kenangan yang mencoba mengekalkan dirinya lewat hal-hal sederhana. mungkin sebuah merk pasta gigi, sabun mandi, atau sebuah kursi bambu yang miring dan makin tua, atau mungkin sebuah tempat, mungkin jalan, yang dilewati hampir setiap pagi.
selamat ulang tahun, kepadamu. segala peristiwa di masa lalu itu, yang tentu saja ada kamu di dalamnya, hari ini masih juga segar dalam ingatan. sesuatunya tidak bisa dilupakan begitu saja. bahkan untuk sejenak lenyap dalam pikiran. di hari ulang tahunmu kali ini, aku masih juga merasa kamu tak pergi kemana pun. kamu tetap ada di sini. bersatu dalam jantungku.
selamat ulang tahun, kepadamu. segala peristiwa di masa lalu itu, yang tentu saja ada kamu di dalamnya, hari ini masih juga segar dalam ingatan. sesuatunya tidak bisa dilupakan begitu saja. bahkan untuk sejenak lenyap dalam pikiran. di hari ulang tahunmu kali ini, aku masih juga merasa kamu tak pergi kemana pun. kamu tetap ada di sini. bersatu dalam jantungku.
selamat ulang tahun, kepadamu.
rasa sakit yang mengekal dari tahun ke tahun.
Juni 27, 2009
Selamat Jalan Samsir Mohamad
Samsir, Selamat Jalan!
Kini Bung tak akan dirisaukan lagi oleh sesuatu bernama Indonesia.
kemarin sore, pukul 18.22 wib, saya menerima sms dari seorang kawan, dia mengabarkan bahwa Samsir telah meninggal dunia. Samsir, seorang petani tua yang sampai akhir hidupnya, di kala sehat, selalu menjadi kawan diskusi, teman main catur, sambil merokok dan ngopi. Samsir di masa perjuangannya dulu sempat beberapa kali masuk penjara. Di Bandung, dia sempat masuk penjara kebonwaru beberapa tahun, dia juga sempat dibuang ke pulau buru.
Pagi ini, pukul 09.00 wib, Samsir dikebumikan di padasuka, Cimahi. kami mengantarnya sampai tempat paling tanah. airmata jatuh. bukan, ini bukan airmata kesedihan. ini airmata perpisahan. airmata selamat jalan.
Samsir, Selamat Jalan!
Kini Bung tak akan dirisaukan lagi oleh sesuatu bernama Indonesia.
Juni 10, 2009
di sebuah kota
di sebuah kota tak bernama, lengkung matamu yang itu membuatku merasa bahwa hidup tidak melulu harus diakhiri dengan airmata. disaat kenangan memburuku, aku memburumu. segalanya kini telah lenyap. aku membunuh kenangan di sebuah subuh. menyusun kenangan baru di atas kuburnya. suatu ketika, akan kuziarahi kembali sebagai masa lalu. sesuatu yang tumbuh subur dalam ingatan.
Juni 03, 2009
juni
tak terasa sudah juni lagi. seperti baru kemarin meninggalkan juni. tapi juni sudah datang begitu saja, menyerahkan seluruh aroma, seluruh cuaca. juni berdiri menatapku. aku menatap juni. kami berhadap-hadapan, seolah dua orang ronin yang sedang saling mengukur kemampuan. juni menatapku tajam. aku menatap juni dalam. kami saling tatap seolah ingin saling mendalami seberapa kuat bisa saling bertahan.
juni melangkah, semakin dekat, semakin dekat. aku berjalan, menyongsong juni. sebentar lagi aku dan juni akan saling tikam. satu hal yang pasti, kami tak yakin akan ada yang keluar sebagai pemenang.
juni melangkah, semakin dekat, semakin dekat. aku berjalan, menyongsong juni. sebentar lagi aku dan juni akan saling tikam. satu hal yang pasti, kami tak yakin akan ada yang keluar sebagai pemenang.
Mei 23, 2009
Kepada Mei
Mei, di tubuhmu aku menemukan laut
lengkap dengan gelombang dan pasirnya
di matamu aku menemukan matahari dan bulan saling dekap
di jantungmu, waktu melulu berdetak, meledak
Mei, jika malam telah larut, senyap ini akan merayap
dalam gelap, melulu ada yang kalap serupa pembalap
tapi aku dan kamu senantiasa terjaga dalam lelap
ah, tapi begitu cepat jalan-jalan terlewat
dan kamu sebentar lagi berangkat
Mei, kepada siapakah kutitipkan getir ini?
jika dadamu tak lagi menerima segala luka.
Mei, di tubuhmu aku menemukan laut
lengkap dengan gelombang dan pasirnya
di matamu aku menemukan matahari dan bulan saling dekap
di jantungmu, waktu melulu berdetak, meledak
Mei, jika malam telah larut, senyap ini akan merayap
dalam gelap, melulu ada yang kalap serupa pembalap
tapi aku dan kamu senantiasa terjaga dalam lelap
ah, tapi begitu cepat jalan-jalan terlewat
dan kamu sebentar lagi berangkat
Mei, kepada siapakah kutitipkan getir ini?
jika dadamu tak lagi menerima segala luka.
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...
-
negeri di atas awan itu, katon! dulu, saya tak percaya ada negeri di atas awan, meski berulang kali saya mendengarkan lagu milik katon bagas...