percakapan kita sudah lama lewat
tapi aku masih mencium bau tubuhmu yang laut
mungkin memang harus seperti ini
membohongi diri sendiri
dan merasa cukup bahagia
saat kamu menjelma kata
Agustus 11, 2007
Agustus 03, 2007
dia, kawan saya itu...
Kenaka, begitulah dia mengenalkan dirinya. Sebuah nama yang cukup asing di telinga saya. Kami berkenalan dalam sebuah kebetulan. Dia menyapa saya lebih dulu, lantas saya, tiba-tiba saja cepat larut dalam sebuah percakapan. Percakapan sederhana sesungguhnya. Tapi saya demikian cepat masuk pada percakapan itu. Sampai akhirnya kami menyadari malam sudah berangkat dari tadi, dan pagi sudah kembali menyapa kami. Dia pamitan dengan begitu cepat. Menghilang dari pandangan saya. Lenyap tak berbekas. Lantas saya baru tersadar, saya tak cukup tahu tentangnya. Saya hanya tahu dia bernama, Kenaka.
Sejak pertemuan pertama itu, kebetulan demi kebetulan mendatangi saya, berkali-kali. Sampai saya merasa bahwa ini sepertinya bukan hanya sekadar kebetulan. Tapi pada akhirnya saya tepis semua. Saya makin akrab dengan nama yang semula asing itu. Saya makin akrab dengan hari-harinya yang menurut saya menakjubkan: menyelam, mendatangi pulau-pulau tak bertuan, tidur di kasur angin, mengambil kiriman dengan harus melewati lautan.
Semua dalam dirinya membuat saya terkadang bengong karena takjub. Dan semakin hari, saya semakin menyadari, bahwa malam saya belum lengkap tanpa kehadirannya. Maka sejak saat itu, saya berharap dia menjadi kawan saya. Sehingga pada sebuah malam, saya katakan, bolehkah saya berjalan di sampingmu? Sebagai kawan. Ya, kawan. Saya letih berjalan seorang diri.
Dia mungkin ingin menolak. Tapi sepertinya tak sanggup. Akhirnya malam berikutnya dia mengatakan, Anggap aku kawanmu mulai sekarang. Mungkin saja dia enggan mengatakan itu. Tapi sepertinya tak sanggup. Saya, malah tak peduli, apakah dia, kawan saya itu enggan atau tidak menerima saya sebagai kawan. Saya lebih menyukai dia berbicara banyak hal kepada saya. Bicara tentang dunia yang menakjubkan itu. Lagi. Lagi. dan Lagi.
Malam ini, seperti malam kemarin-kemarin juga. Saya berbicara dengannya. Percakapan sederhana yang biasa. Malah terlampau biasa. Tapi saya merasa, malam saya sudah lengkap karena dia, kawan saya itu, Kenaka , sudah mau berbagi banyak hal.
aku ingin menulis banyak hal tentangmu. tapi terlalu banyak hal berjejalan dalam kepala. jadi ini hanya awalan. kelak, ingin kutulis lagi, tentangmu, tentu.
Kenaka, begitulah dia mengenalkan dirinya. Sebuah nama yang cukup asing di telinga saya. Kami berkenalan dalam sebuah kebetulan. Dia menyapa saya lebih dulu, lantas saya, tiba-tiba saja cepat larut dalam sebuah percakapan. Percakapan sederhana sesungguhnya. Tapi saya demikian cepat masuk pada percakapan itu. Sampai akhirnya kami menyadari malam sudah berangkat dari tadi, dan pagi sudah kembali menyapa kami. Dia pamitan dengan begitu cepat. Menghilang dari pandangan saya. Lenyap tak berbekas. Lantas saya baru tersadar, saya tak cukup tahu tentangnya. Saya hanya tahu dia bernama, Kenaka.
Sejak pertemuan pertama itu, kebetulan demi kebetulan mendatangi saya, berkali-kali. Sampai saya merasa bahwa ini sepertinya bukan hanya sekadar kebetulan. Tapi pada akhirnya saya tepis semua. Saya makin akrab dengan nama yang semula asing itu. Saya makin akrab dengan hari-harinya yang menurut saya menakjubkan: menyelam, mendatangi pulau-pulau tak bertuan, tidur di kasur angin, mengambil kiriman dengan harus melewati lautan.
Semua dalam dirinya membuat saya terkadang bengong karena takjub. Dan semakin hari, saya semakin menyadari, bahwa malam saya belum lengkap tanpa kehadirannya. Maka sejak saat itu, saya berharap dia menjadi kawan saya. Sehingga pada sebuah malam, saya katakan, bolehkah saya berjalan di sampingmu? Sebagai kawan. Ya, kawan. Saya letih berjalan seorang diri.
Dia mungkin ingin menolak. Tapi sepertinya tak sanggup. Akhirnya malam berikutnya dia mengatakan, Anggap aku kawanmu mulai sekarang. Mungkin saja dia enggan mengatakan itu. Tapi sepertinya tak sanggup. Saya, malah tak peduli, apakah dia, kawan saya itu enggan atau tidak menerima saya sebagai kawan. Saya lebih menyukai dia berbicara banyak hal kepada saya. Bicara tentang dunia yang menakjubkan itu. Lagi. Lagi. dan Lagi.
Malam ini, seperti malam kemarin-kemarin juga. Saya berbicara dengannya. Percakapan sederhana yang biasa. Malah terlampau biasa. Tapi saya merasa, malam saya sudah lengkap karena dia, kawan saya itu, Kenaka , sudah mau berbagi banyak hal.
aku ingin menulis banyak hal tentangmu. tapi terlalu banyak hal berjejalan dalam kepala. jadi ini hanya awalan. kelak, ingin kutulis lagi, tentangmu, tentu.
Juli 16, 2007
Bandung, wajahmu kini...

Ya, ini wajah cikapundung sekarang.
Ada dua gedung angkuh yang tiba-tiba meranggas, di ujung jalan sana. Tentu semua orang Bandung sudah tak asing lagi dengan gedung itu. Betul, tak salah lagi, itu dia Braga City Walk. Sebuah bangunan yang berkonsep hunian mewah dengan mall dan beragam hal di dalamnya yang sampai saat ini saya sendiri belum tahu sepenuhnya, karena menginjakkan kaki ke sana pun baru sekali saja, saat hunian itu masih belum benar-benar selesai.
Ini bukan hanya gedung angkuh satu-satunya yang hadir di Bandung. Masih ada banyak gedung-gedung angkuh lainnya yang tiba-tiba hadir, lantas begitu saja menghiasi kota ini. Sejak saat itu, saya tak lagi mengenali kota Bandung.
Bukannya bagus?
Bagus? Tentu saja bagus. Siapa yang tidak mau melihat Bandung menjadi kota yang maju. Tapi baik? Belum tentu. Nyatanya, setelah Braga City Walk hadir, tiba-tiba saja pada musim penghujan kemarin, daerah Braga kebanjiran. Wow! Sesuatu yang ajaib. Jalan Braga yang dibangun sedemikian rupa pada masa kolonial Belanda tiba-tiba saja mengalami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Ironis bukan?
Tidak hanya itu, jalanan di kota ini pun seringkali macet, apalagi menjelang hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Hadirnya mall-mall baru semakin menambah keruwetan jalanan. Belum lagi persoalan sampah. Ini hal yang sebetulnya paling mengerikan. Pemerintah daerah hanya mencari solusi jangka pendek, tanpa berpikir solusi jangka panjang. Saya tak tahu sepuluh tahun lagi, Bandung akan menjelma apa.

Bukan hanya itu. Semakin banyak pengemis, anak jalanan, dan pengamen, yang menghiasi kota Bandung, entah itu di lampu merah, trotoar jalan, atau bahkan di depan Gedung Merdeka. Semuanya menjadi bukti bahwa di kota ini semakin lebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Saya tidak membenci pengamen, pengemis, dan anak jalanan, tapi mereka sepertinya selalu ada sebagai cermin bagaimana pemerintah masih belum juga selesai mengurus warga negaranya. Agh.. jangankan selesai, bukankah mereka masih sibuk mengurus diri mereka sendiri?
Dan sepertinya memang tak ada yang mau bercermin.
Bandung, benarkah siap menjadi sebuah kota wisata dan budaya? Huh!
Ya, ini wajah cikapundung sekarang.
Ada dua gedung angkuh yang tiba-tiba meranggas, di ujung jalan sana. Tentu semua orang Bandung sudah tak asing lagi dengan gedung itu. Betul, tak salah lagi, itu dia Braga City Walk. Sebuah bangunan yang berkonsep hunian mewah dengan mall dan beragam hal di dalamnya yang sampai saat ini saya sendiri belum tahu sepenuhnya, karena menginjakkan kaki ke sana pun baru sekali saja, saat hunian itu masih belum benar-benar selesai.
Ini bukan hanya gedung angkuh satu-satunya yang hadir di Bandung. Masih ada banyak gedung-gedung angkuh lainnya yang tiba-tiba hadir, lantas begitu saja menghiasi kota ini. Sejak saat itu, saya tak lagi mengenali kota Bandung.
Bukannya bagus?
Bagus? Tentu saja bagus. Siapa yang tidak mau melihat Bandung menjadi kota yang maju. Tapi baik? Belum tentu. Nyatanya, setelah Braga City Walk hadir, tiba-tiba saja pada musim penghujan kemarin, daerah Braga kebanjiran. Wow! Sesuatu yang ajaib. Jalan Braga yang dibangun sedemikian rupa pada masa kolonial Belanda tiba-tiba saja mengalami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Ironis bukan?
Tidak hanya itu, jalanan di kota ini pun seringkali macet, apalagi menjelang hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Hadirnya mall-mall baru semakin menambah keruwetan jalanan. Belum lagi persoalan sampah. Ini hal yang sebetulnya paling mengerikan. Pemerintah daerah hanya mencari solusi jangka pendek, tanpa berpikir solusi jangka panjang. Saya tak tahu sepuluh tahun lagi, Bandung akan menjelma apa.
Bukan hanya itu. Semakin banyak pengemis, anak jalanan, dan pengamen, yang menghiasi kota Bandung, entah itu di lampu merah, trotoar jalan, atau bahkan di depan Gedung Merdeka. Semuanya menjadi bukti bahwa di kota ini semakin lebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Saya tidak membenci pengamen, pengemis, dan anak jalanan, tapi mereka sepertinya selalu ada sebagai cermin bagaimana pemerintah masih belum juga selesai mengurus warga negaranya. Agh.. jangankan selesai, bukankah mereka masih sibuk mengurus diri mereka sendiri?
Dan sepertinya memang tak ada yang mau bercermin.
Bandung, benarkah siap menjadi sebuah kota wisata dan budaya? Huh!
Juli 09, 2007
dasa muka dan malam yang panjang
akhir-akhir ini saya kembali menjalani rutinitas yang terbalik. malam-malam beraktivitas, tak bisa tidur. bukan karena tidak ngantuk. tapi selalu saja ada yang harus dikerjakan. kegiatan di luar rumah dan menghabiskan waktu sampai esok siangnya. baru bisa tidur ketika jam sudah menunjukan pukul dua siang hari. bangun kembali ketika adzan magrib menyalak di setiap pengeras suara masjid. mandi. lalu bersiap melakukan aktivitas lagi. sudah hampir seminggu jam hidup begini terus.
malam tadi sebetulnya tak ada yang harus saya kerjakan. semua agenda selesai. tapi nyatanya, saya tak bisa tidur, mungkin ini karena kebiasaan seminggu kemarin. dan sampai tulisan ini ditulis, saya masih belum bisa memejamkan mata.
katamu puisiku seperti dasa muka, satu sudah terlihat, dan sembilan lagi masih sembunyi. haha... pesan pendekmu telah menemani malam panjangku kali ini. meski pada akhirnya pesanku tak lagi berbalas karena kamu yang mungkin sudah terlelap.
akhir-akhir ini saya kembali menjalani rutinitas yang terbalik. malam-malam beraktivitas, tak bisa tidur. bukan karena tidak ngantuk. tapi selalu saja ada yang harus dikerjakan. kegiatan di luar rumah dan menghabiskan waktu sampai esok siangnya. baru bisa tidur ketika jam sudah menunjukan pukul dua siang hari. bangun kembali ketika adzan magrib menyalak di setiap pengeras suara masjid. mandi. lalu bersiap melakukan aktivitas lagi. sudah hampir seminggu jam hidup begini terus.
malam tadi sebetulnya tak ada yang harus saya kerjakan. semua agenda selesai. tapi nyatanya, saya tak bisa tidur, mungkin ini karena kebiasaan seminggu kemarin. dan sampai tulisan ini ditulis, saya masih belum bisa memejamkan mata.
katamu puisiku seperti dasa muka, satu sudah terlihat, dan sembilan lagi masih sembunyi. haha... pesan pendekmu telah menemani malam panjangku kali ini. meski pada akhirnya pesanku tak lagi berbalas karena kamu yang mungkin sudah terlelap.
Juni 29, 2007
29 Juni 2007
ini hari terlampau biasa
tak ada upacara, tak ada doa
hanya serangkaian kalimat selamat
dikirim lewat pesan singkat
aku tertawa
tapi bukan karena bahagia
sudah lama si bahagia tak mau berkunjung
mungkin malas atau malah pundung
ini tawa hanya tawa biasa
sekadar mengamini hidup yang juga biasa
ini tanggal hanya mengulang
di tahun berbeda pada kalender yang makin tua
Haha...!
lantas kenapa masih juga kutulis hari biasa ini?
entahlah. mungkin hanya sekadar
mengabadikan rasa sakit. mungkin.
ini hari terlampau biasa
tak ada upacara, tak ada doa
hanya serangkaian kalimat selamat
dikirim lewat pesan singkat
aku tertawa
tapi bukan karena bahagia
sudah lama si bahagia tak mau berkunjung
mungkin malas atau malah pundung
ini tawa hanya tawa biasa
sekadar mengamini hidup yang juga biasa
ini tanggal hanya mengulang
di tahun berbeda pada kalender yang makin tua
Haha...!
lantas kenapa masih juga kutulis hari biasa ini?
entahlah. mungkin hanya sekadar
mengabadikan rasa sakit. mungkin.
Juni 11, 2007
Juni 02, 2007
sebuah puzzle
hemmm... setelah sebelumnya disibukan dengan tugas-tugas gak penting, yang membuat saya tidak bisa tidur dua hari dua malam, akhirnya saya menemukan kata LIBUR. malam jumat nginap di ultimus. jumat pagi jalan-jalan bareng etca di seputaran kota kembang, mesjid raya bandung, cikapundung, sampai akhirnya balik ke rumah dan menikmati es krim di gelato bar, paris van java. makan malam dengan bakso. dan terlelap saat menerima telepon. gila!
hari ini saya dan etca kembali jalan-jalan. mengunjungi seorang kawan di taman sari, menitipkan paket buku untuk mahwi di jogja. ke kampus unisba untuk bertemu dengan kawan lain. lantas ke metro, menemani etca menemui kembali masa lalunya. hahaha...
sekarang saya dan dia terdampar di sebuah warnet. menunggu jam sembilan malam, karena rencananya mau nonton pirates of the caribbean. lantas dalam layar monitor inilah saya bertemu kawan-kawan lama. saya menerima banyak kabar. ada aiko yang sempat dirawat di rumah sakit karena demam berdarah, dan saya tak tahu kalau dia sempat pulang ke indonesia. sekarang tentu saja saya terlambat, karena mereka sekeluarga sudah kembali ke jepang. ada bunga rumput liar, yang sedang hamil empat bulan. duh, sungguh ini membuat saya turut berbahagia. empat bulan, ya? hmm... semoga baik-baik saja ya, Bur! malam ini tiba-tiba segalanya berkumpul. kebahagiaan juga duka.
lantas apa lagi yang akan hidup berikan pada saya? saya tak pernah tahu dan tak akan pernah mengetahuinya sampai hidup itu yang akan mengatakannya sendiri.
hemmm... setelah sebelumnya disibukan dengan tugas-tugas gak penting, yang membuat saya tidak bisa tidur dua hari dua malam, akhirnya saya menemukan kata LIBUR. malam jumat nginap di ultimus. jumat pagi jalan-jalan bareng etca di seputaran kota kembang, mesjid raya bandung, cikapundung, sampai akhirnya balik ke rumah dan menikmati es krim di gelato bar, paris van java. makan malam dengan bakso. dan terlelap saat menerima telepon. gila!
hari ini saya dan etca kembali jalan-jalan. mengunjungi seorang kawan di taman sari, menitipkan paket buku untuk mahwi di jogja. ke kampus unisba untuk bertemu dengan kawan lain. lantas ke metro, menemani etca menemui kembali masa lalunya. hahaha...
sekarang saya dan dia terdampar di sebuah warnet. menunggu jam sembilan malam, karena rencananya mau nonton pirates of the caribbean. lantas dalam layar monitor inilah saya bertemu kawan-kawan lama. saya menerima banyak kabar. ada aiko yang sempat dirawat di rumah sakit karena demam berdarah, dan saya tak tahu kalau dia sempat pulang ke indonesia. sekarang tentu saja saya terlambat, karena mereka sekeluarga sudah kembali ke jepang. ada bunga rumput liar, yang sedang hamil empat bulan. duh, sungguh ini membuat saya turut berbahagia. empat bulan, ya? hmm... semoga baik-baik saja ya, Bur! malam ini tiba-tiba segalanya berkumpul. kebahagiaan juga duka.
lantas apa lagi yang akan hidup berikan pada saya? saya tak pernah tahu dan tak akan pernah mengetahuinya sampai hidup itu yang akan mengatakannya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
perempuan macam apakah saya? pagi tadi, seperti biasa, saya berangkat ke kampus dengan memakai sandal jepit hitam, celana jeans hitam, dan j...