Maret 27, 2022

Hari Teater Sedunia


Selamat Hari Teater Sedunia!

Menurut sebuah lagu, dunia ini panggung sandiwara. Namun nyatanya, di atas panggung selalu ada panggung yang lain.

Bagi saya, berteater adalah menumbuhkan lebih banyak empati. Mencoba merasakan apa yang orang lain rasakan. Bermain teater juga menjadi jalan bagi saya memahami diri sendiri.

Lebih sulit memahami kehendak dan gerak diri ternyata. Selamat hari teater sedunia. Sebab kita, seringkali merindukan tepuk tangan selepas lampu padam.

Juni 29, 2021

Harta Karun dalam Permainan


Tak jauh dari tempat saya tinggal, tepatnya di Lembur Cibunar, Sukajadi, setiap hari Minggu pagi, selalu bisa dijumpai anak-anak yang sedang bermain. Mereka memainkan permainan-permainan anak-anak yang kini sudah jarang sekali dimainkan. Kang Deni Weje menamai lembur itu sebagai Lembur Kaulinan Cibunar.

Jika saya sedang memiliki waktu luang, di hari Minggu pagi, saya akan mengajak anak-anak ke Lembur Cibunar. Anak-anak saya akan bergabung bersama anak-anak di sana untuk bermain bersama. Mereka terlihat bahagia.

Permainan anak-anak itu biasa disebut sebagai Kaulinan Barudak. Permainan anak-anak tradisional di masa lalu yang sengaja dihidupkan kembali di masa kini, di saat permainan anak-anak telah beralih ke layar gawai.


Anak-anak di Lembur Kaulinan Cibunar akan bermain dengan riang. Tawa mereka terdengar dari kejauhan. Anak-anak itu ditemani beberapa Akang-akang dan Teteh-teteh yang sengaja datang di antara kesibukan kuliah atau pekerjaannya. Merekalah para pegiat kaulinan barudak yang dengan sukacita mengajak anak-anak yang tinggal di lingkungan sekitar atau yang sengaja datang ke sana untuk bermain bersama.

Lagu anak-anak akan terdengar kembali. Dinyanyikan dengan riang gembira, dengan sukacita dan tawa. Para pegiat biasanya mengiringi lagu-lagu yang dinyanyikan anak-anak dengan gitar atau ukulele.

Para pegiat kaulinan barudak itu ada yang sudah bekerja, ada juga yang masih kuliah, ada juga yang baru mau masuk kuliah. Salah satunya bernama Muhammad Rizky Ramdani. Tahun ini dia baru mau mendaftar untuk kuliah. Katanya mau daftar kuliah ke Institut Agama Islam Darussalam, Ciamis.

Rizky, begitu biasa saya menyebutnya. Saya tak mengira, di tengah-tengah keasyikannya menjadi pegiat kaulinan, diam-diam dia menuliskan semua pengalamannya bersama anak-anak itu ke dalam sebuah novel. Novel itu diberi judul, Harta Karun dalam Permainan.

Tokoh-tokoh dalam novel ini adalah anak-anak yang tak sengaja memasuki petualangan seru dalam permainan-permainan anak di masa lalu. Maka kita akan diajak untuk bermain kucing-kucingan, ular tangga, kwartet, petak umpet, main kelereng, dan banyak lagi permainan lainnya.

Februari 16, 2021

Membaca Novel Babad Kopi Parahyangan


Membaca buku Babad Kopi Parahyangan karya Evi Sri Rezeki membuat saya terlempar jauh ke masa lalu. Menyusuri Parahyangan yang diliputi kegelapan karena pribumi tercekik sistem tanam paksa demi mutiara hitam.

Maka menyesap kopi hari ini adalah juga mengingat bagaimana banyak orang mati demi biji-biji hitam dan rakusnya kaum kompeni. Menindas bukan kata yang pas saya kira. Menghisap darah pribumi rasanya lebih tepat.

Beruntung saya hidup di masa kini. Bisa membaca buku, menikmati kopi, sambil sesekali makan roti. Di masa lalu, mereka menanam tanpa pernah menuai hasil.

Evi, saya kira mampu bertutur dengan bahasa yang jernih. Ada sosok Euis yang membuat saya merasa bahwa perempuan bisa menjadi sosok yang lembut sekaligus kuat. Euis adalah lambang sebuah perlawanan kaum perempuan terhadap ketidakadilan.

Desember 31, 2019

penghujung tahun

penghujung tahun 2019 memberi banyak kejutan. kejutan menyenangkan yang sungguh tak mudah dilupakan. Tuhan maha adil, dia memberikan kejutan yang lain juga. seiring peristiwa demi peristiwa membahagiakan, kejutan lain datang. sebuah kabar kehilangan. kehilangan paling purna dari segala bentuk kehilangan.

penghujung tahun 2019 adalah lambai tangan, salam perpisahan, kecup dan cium terakhir untukmu, Ibu. kepergianmu menggetarkan seluruh kesadaran. aku menjelma bunga layu di hadapan kuburmu, Ibu.

Oktober 31, 2017

Serunya Terbang Ke Luar Negeri Bersama Bayi dan Anak-anak

Serunya Terbang Ke Luar Negeri Bersama Bayi dan Anak-anak
Serunya Terbang Ke Luar Negeri Bersama Bayi dan Anak-anak - Sumber Pixabay

Pernah merasakan terjebak dalam penerbangan bersama bayi dan anak-anak? Percayalah, rasanya bisa campur aduk karena bayi dan anak-anak kerap susah diprediksi tingkah lakunya. Apalagi saat terbang ke luar negeri yang membutuhkan waktu perjalanan berjam-jam, potensi bayi dan anak-anak jadi rewel pun akan semakin besar. Jika tak bisa menghindar untuk terbang bersama mereka, berikut beberapa tips agar orang tua dan traveler bisa merasakan serunya terbang ke luar negeri bersama bayi dan anak-anak.

Januari 03, 2017

Gedung Baru Perpusipda Ciamis



Siang tadi, Iqbal dan Kania meminta berhenti di Perpusipda Ciamis yang sebetulnya masih belum selesai renovasi. Gerbangnya masih tertutup. Perpusipda Ciamis sementara dipindahkan ke Aula Pramuka. Sejak kepindahan sementaranya itu, beberapa kali mereka kami ajak ke sana. Tapi tetap saja, mereka merasa harus berhenti di depan gerbang perpustakaan yang sedang direnovasi jika kebetulan kami sedang lewat ke sana.

Bagi Kania dan Iqbal, perpustakaan adalah tempat bermain dan berpetualang yang lain selain pohon jambu di halaman. Mereka akan bertemu banyak buku-buku yang tak mungkin bisa kami beli. Iqbal menyukai buku-buku tebal tentang alam semesta dan berbagai jenis dinosaurus. Saya seringkali mesti membacakannya sampai letih jika kami tengah bermain ke sana. Itu karena dia belum bisa membaca.
Kania lain lagi. Dia lebih senang berpetualang ke dalam buku-buku dengan penuh gambar binatang. Dia akan menyebut nama-nama binatang yang ada dalam buku itu sambil menceritakan sendiri apa yang dilihatnya, seolah-olah dia bisa membaca.

Selain buku, Iqbal menyukai perpustakaan karena di sana dia bisa merangkai puzzle peta Indonesia, bermain balok-balok kayu, dan banyak permainan lain yang tidak dimilikinya di rumah.

Iqbal sempat kecewa dan enggan ke perpustakaan lagi setelah dia tak bisa meminjam buku-buku dinosaurus yang disukainya. Petugas di sana melarang meminjam buku itu. Dan sebaiknya hanya dibaca di tempat saja. Namun, kesenangannya saat berada di perpustakaan mengalahkan kekecewaannya. Tak lama, dia mengajak kami kembali ke sana.

Kami tentu berharap, Perpusipda Ciamis yang kini gedungnya semakin mentereng ini, semakin menarik juga buku-bukunya. Semakin banyak buku-buku terbitan terbaru dibanding buku-buku lawasnya. Bagi Iqbal, mungkin dia akan lebih senang jika di dalam gedung itu, ruang untuknya bermain dan bertualang ke dalam buku semakin menyenangkan.

Desember 28, 2016

Cerita Tiga Kota


Bagi mahasiswa iseng seperti saya, yang masuk kuliah hanya karena iseng-iseng. Iseng ikut UMPTN, iseng memilih jurusan Bahasa Indonesia, dan iseng-iseng diterima. Ternyata Pentagon lantai 3 menjadi tempat yang bukan sekadar tempat iseng-iseng.

Di lantai 3 gedung Pentagon, saya bertemu Eddi Koben, Anka Wijaya, dan banyak nama lainnya (nama-nama lain akan saya ceritakan di lain waktu). Koben dan Anka, dua tahun lebih tua dibanding saya. Merekalah yang mengospek saya saat saya masuk ke kampus UPI (dulunya IKIP). Koben menjadi ketua himpunan saat itu. Anka, saya ingat dia juga bagian dari senior yang aktif (tidur) di kampus.

Saat masih tingkat satu, iseng-iseng saya main ke Himpunan yang letaknya di lantai 3 itu. Keisengan saya berlanjut, sampai akhirnya, saya lebih senang kuliah di sebuah ruangan bekas toilet dibandingkan kuliah di kelas. Saya lebih senang mendengarkan pelajaran dari para senior ketimbang menyimak pelajaran dari para dosen.

Bersama Koben dan Anka, saya seringkali menghabiskan malam-malam di kampus. Mencari buah-buahan yang matang, mencuri singkong di kebun orang, sampai suatu kali kami pernah mendapati ikan lele menggelepar di sebuah gedung asrama putri.

Koben orangnya kalem, baik hati dan tidak sombong. Dia tipe pria idaman wanita. Sedangkan Anka, laki-laki satu ini, punya kemampuan yang unik. Sinyalnya 4G jika berhubungan dengan mahasiswi. Dia akan tahu jika beberapa menit lagi akan ada mahasiswi yang datang. Saya seringkali merasa menjadi laki-laki juga jika sedang bersama mereka berdua.

Lantai 3 gedung tua itu menjadi saksi bagaimana saya belajar mencatat segala peristiwa. Menyusun sunyi jadi puisi. Menangkap riuh dan gelegak jadi sajak. Saya belajar menangkap kata-kata yang berhamburan untuk dituliskan. Di sana juga, saya mengasah kata-kata menjadi senjata.

Waktu bergulir. Saya melepaskan diri dari kampus, menyusur jalan sendiri. Belasan tahun saya berpisah dengan seluruh penghuni lantai 3. Belasan tahun berpisah adalah belajar memendam rindu, menyimpan baik-baik seluruh kenangan agar bisa dikenang di saat yang tepat.

Koben yang pertama menikah di antara kami bertiga. Dia sempat merantau ke Serang lalu kembali ke Cimahi. Saya sendiri menikah tahun 2009. Selepas menikah, saya menetap di Ciamis. Sedangkan Anka, akhirnya menikah di tahun ini dengan gadis Sukabumi. Sukabumi kini menjadi rumahnya.

Tahun 2016 mempertemukan kami kembali. Lalu muncul keinginan untuk membuat buku bersama. Sebagai pengajar, Koben ingin bukunya menjadi bahan bacaan pelajar. Maka dia memberi gambaran, bahwa cerpen-cerpen yang kami kirimkan untuk buku haruslah layak dibaca oleh pelajar.

Maka buku kumpulan cerpen Cerita Tiga Kota ini adalah bentuk reuni sederhana kami.

Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus

Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...