Maret 30, 2016

Sebentar Lagi April

ini penghujung maret yang basah. malam-malam yang basah. hujan selalu menyapa. kita tidak sedang di rumah. ada dingin yang diam-diam menyusup ke dalam tubuh. meminta tempat. menyisihkan segala bentuk perasaan yang ingin kubangun. aku tak ingin merasa, kita seperti dua manusia yang kesepian, mencoba mencari cara agar bisa lepas dari belenggu sunyi.

kau tak banyak berkata-kata. aku lebih suka memutar film dalam kepala.

Desember 31, 2015

Catatan Akhir Tahun

Bagaimana aku menceritakan semua ini kepadamu kelak? Jika hari demi hari cepat berganti, dan tiba-tiba angka-angka dalam almanak telah berguguran, menyisakan satu saja angka. Ya, tak terasa, aku sudah sampai lagi di sini. Di penghujung tahun.

Tahun 2015 adalah tahun yang membutuhkan begitu banyak kesabaran. Begitu banyak penantian. Aku berharap bisa dengan mudah melewati tahun ini. Namun nyatanya, langkah ini begitu berat. Ada saat-saat di mana aku harus merelakan semuanya.

Lalu di penghujung tahun, dunia seolah melulu angka-angka. Aku dikejar-kejar angka. Dikerubungi begitu banyak angka. Aku tak sanggup melawan. Mereka serupa tentara yang ganas. Menyerangku dari berbagai penjuru.

Bagaimana aku harus menceritakan semua ini kepadamu kelak? Jika angka-angka itu, sampai hari ini, masih juga mengintaiku. Memburuku. Menungguku tunduk. Aku tahu, begitu banyak cinta tahun ini. Dan, hanya cinta, yang mampu menyelamatkanku. Hanya cinta!

Juni 20, 2015

Ramadhan dan Blog

Bagi saya, menulis blog itu seperti sedang berbicara dengan diri sendiri. Diri saya yang lain. Diri saya yang tak muncul saat saya bahagia atau bersedih. Diri saya yang seringkali menjadi teman, atau lawan, saat saya ingin berbicara banyak hal. Banyak persoalan. Blog pertama saya buat di tahun 2002. Sungguh, angka itu tidak menunjukkan apa-apa. Selain bahwa saya sudah lama sekali selalu berbicara dengan diri sendiri.

Saat bulan Ramadhan, saya punya kebiasaan menulis di blog yang berbeda. Bukan di alamat blog yang biasa. Saya membayangkan bahwa blog sebagai rumah. Saya memiliki ruang ini untuk berbicara ini, lalu ruang itu untuk berbicara itu. Dan, ramadhan, punya ruang khusus dalam blog yang saya buat. Saat ramadhan itulah, saya selalu mencoba menyempatkan diri, menulis satu tulisan dalam sehari. Inginnya sih menulis puisi, tapi seringkali yang jadi hanyalah racauan tidak jelas.

Dalam sebulan itulah, saya menguji diri untuk disiplin menulis. Pernah berhasil. Seringkali gagal. Seringkali rajin di awal, lalu alpa di penghujung ramadhan. Dulu, ketika orang harus penuh perjuangan untuk bisa menulis di blog, bayangkan saja, bahwa warnet masih hitungan jari, lalu handphone tak secanggih sekarang, dan kalaupun ada modem, jalannya masih seperti kura-kura, saya harus menulis rutin, sungguh ujian yang sangat berat. Saat berhasil itu, kebahagiaan saya tak terhingga. Namun saat tak berhasil, saya seringkali merasa puasa saya tak sempurna.

Ramadhan kali ini, saya tiba-tiba teringat, bahwa saya sudah lama meninggalkan kebiasaan menulis di blog selama puasa. Sejak menikah, saya tak lagi menulis di blog itu. Itu artinya, saya melewati lima kali ramadhan.

Sekarang, ketika menulis di blog sudah bisa dilakukan dengan mudah, dan dunia blog sudah begitu hiruk, sosial media selain blog pun sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari sebagian banyak orang, saya tiba-tiba ingin menulis lagi di blog ini. Menulis apa saja. Seperti dulu. Seperti dulu saat saya seringkali berbicara dengan diri sendiri. Tak peduli ada orang yang membacanya atau tidak.

Jadilah saya menulis lagi. Di blog ini. Blog yang saya tinggalkan saat saya masih sendiri. Dan kini, saya datangi, saat saya sudah memiliki seseorang untuk berbagi, dan dua anak yang selalu berhasil membuat saya tersenyum dan bahkan tertawa.

Februari 03, 2014

Kania

telah lahir ke dunia, anak kedua kami
seorang anak perempuan dengan berat 3,8 Kg
pada tanggal 03 Februari 2014 pukul 22.00 WIB
yang kami beri nama Kania Athifa Syahadah

Oktober 06, 2013

Antara Kehamilan Kedua, Menulis, dan Mengedit

tidak terasa, kehamilan yang kedua ini sudah menginjak bulan kelima. ya, hampir lima bulan juga saya merasa benar-benar leha-leha. kehamilan kali ini bawaannya males. males mengerjakan banyak hal. kalau mual-mualnya sih, udah gak harus diceritain lagi. waktu kehamilan pertama pun, hampir sembilan bulan saya merasakan mual-mual.

kehamilan yang kedua ini, entah kenapa, di samping mual-mual seperti di kehamilan pertama, ada juga tambahannya, saya benar-benar malas. asli. malas. bahkan, untuk menyapu saja, saya malas. jadi, seringkali saya hanya mengerjakan pekerjaan yang benar-benar penting.

kemalasan itu pun berefek pada pekerjaan. saya benar-benar malas menulis. menulis apapun. malas membaca. membaca apapun. untungnya tidak terlalu malas jika mengedit. hanya, yang jadi persoalannya, saya seringkali merasa begitu lelah ketika berhadapan dengan layar monitor. saya hanya kuat duduk di depan komputer sekitar satu jam saja. selepas itu, saya leyeh-leyeh. tiduran sampe tidur beneran.

alhasil, editan saya beberapa terbengkalai. meski ada beberapa editan yang saya pastikan tepat dengan jadwal deadline. kalau nggak, saya yang kena akibatnya sendiri. kena pecat. hehehe...

lepas dari segala kemalasan yang menghantui selama kehamilan kedua ini, saya benar-benar merindukan untuk bisa menulis. maka, malam ini, dengan ditemani michael buble, saya menuliskan catatan ini.

beberapa hari ini, setelah Iqbal disunat, saya mencoba untuk melawan rasa malas itu. semoga saja, si malas itu tidak terus menghantui saya. semoga... Aamiin...

September 13, 2013

Iqbal dan Sunatan

Hari ini, jumat, 13 September 2013, Iqbal sudah disunat. Subuh tadi, saya, suami, ibu mertua, Iqbal dengan ditemani dua ponakan, datang ke sebuah Klinik Khitan. Hanya setengah jam kami berada di Klinik. Mungkin karena hari ini hanya Iqbal satu-satunya pasien yang disunat. Alhasil, proses berjalan cepat dan lancar.



Saat masuk ke ruang praktek, Iqbal tidak mau lepas, dia terus memeluk saya. Tapi asisten klinik itu dengan cepat menggendong Iqbal dan meminta saya untuk menunggu di luar ruangan. Tidak tega sebetulnya. Tapi saya pasrah saja. Saya hanya bisa berdoa, semoga semuanya lancar.

Setelah selesai, asisten menggendong Iqbal keluar ruangan. Sungguh, saya tak bisa menjelaskan dengan kata-kata, bagaimana ekspresi Iqbal saat dia baru keluar ruangan. Mungkin dia tidak mengira, kalau disunat itu akan begitu. Hehehe...

Untungnya, Iqbal tidak rewel. Selama perjalanan pulang, kami bercerita. Ya, beruntung kedua ponakan itu mau ikut ke Klinik. Sehingga bisa menghibur yang sudah selesai dikhitan.

Hari ini, hari jumat. Bulan September. Bulan yang bertepatan dengan bulan lahir Iqbal. 9 September kemarin, usia Iqbal tepat tiga tahun. Saya bahagia. Tugas kami sebagai orangtua terhadap anak laki-laki baru selesai sebagian. Tentu. Masih banyak tugas lainnya menanti kami. Semoga kami bisa menjalaninya sebaik-baik orangtua. Aamiin....

Sore nanti, akan ada pengajian ibu-ibu di rumah kami. Syukuran sunatan Iqbal dan syukuran kehamilan kedua saya yang sudah menginjak empat bulan. Semoga semua agenda hari ini berjalan lancar. Aamiin...

April 18, 2013

Iqbal dan Kolam Renang


Sabtu, tanggal 13 April 2013, saya mengajak Iqbal ke sebuah acara yang berlokasi di Pageur Ageung, Tasikmalaya. Acara ini berjudul Cuang Lawung 1 yang digagas oleh sebuah grup di FB. Grup Fiksimini Basa Sunda. Sebuah acara yang sebetulnya sangat tidak cocok untuk anak batita seperti Iqbal. Namun, sejak usia balita, saya sudah terbiasa mengajak Iqbal untuk turut ke acara-acara yang saya ikuti. Meskipun acara tersebut berlangsung di outdoor. Apalagi setelah saya tahu kalau di lokasi acara ada sebuah kolam renang. Ya, Iqbal paling suka dengan kolam renang. Sejak masih usia empat bulan, saya seringkali mengisi bak mandi dengan air hangat, lalu membiarkan Iqbal berenang dengan ban khususnya. Hingga saat ini, berenang menjadi kegiatan favoritnya.

Kami sampai di lokasi sekira jam 10 pagi. Benar saja, Iqbal langsung merengek minta turun ke kolam renang. Padahal rencananya, saya baru akan membiarkannya turun ke kolam renang, sore nanti. Mungkin memang karena usianya yang kini sudah 2.5 tahun, sehingga untuknya, ketika turun, ya harus turun. Konon menginjak pada usia inilah, seorang anak sedang belajar menegakkan ke-aku-annya. Saya pun menyerah, saya biarkan dia masuk ke kolam renang yang dangkal. Dia pun nampak gembira sekali.
Saya benar-benar tak mengira, kalau pada hari pertama saja, Iqbal meminta turun ke kolam renang sebanyak 3 kali. Pagi, Siang, Sore. Seperti minum obat saja. Dengan durasi hampir 30 menit lebih setiap kali dia turun ke kolam renang. Hari kedua pun demikian. Iqbal dua kali turun ke kolam renang. Saya sudah khawatir, takut-takut dia flu, atau bahkan sakit sepulangnya dari acara.
Benar saja, saat pulang ke Ciamis. Di perjalanan badan Iqbal demam. Perasaan saya berkecamuk. Antara khawatir dan merasa bersalah. Namun, sesampainya di Ciamis, saya langsung ke apotek, membeli obat penurun demam. Ke warung, membeli timun untuk mengompresnya.
Dan sekarang, empat hari selepas acara, Iqbal sudah sangat normal lagi. Demamnya hanya sebentar saja. Pelajaran berharga bagi saya adalah, saya harus lebih pandai lagi mengalihkan perhatian Iqbal. 

Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus

Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...