kau tahu? akulah pengkhianat itu!
seperti apa rasanya menjadi pengkhianat? mungkin seperti yang tengah saya rasakan sekarang. saya tidak sedang berbicara tentang sebuah hubungan antara sepasang kekasih yang sedang saling meninggalkan dan merasa saling mengkhianati. tidak sama sekali. saat ini saya sedang berbicara tentang keadaan saya sekarang.
berkhianat terhadap apa?
pertanyaan itu yang tentu akan anda ajukan sebagai seorang pembaca. jika memang semuanya tidak berhubungan dengan sebuah ikatan perjanjian sepasang anak manusia.
jika anda sebagai pembaca mengenal dunia teater, tidak harus sepenuhnya tentu saja. mengenal sekilas bahkan hanya meraba-raba saja, saya yakin anda pun akan mengatakan kepada saya, bahwa saya adalah seorang pengkhianat.
bulan oktober 2005 yang lalu, saya bergabung dalam sebuah garapan. sebut saja nama garapannya adalah Pra Produksi. saya berproses bersama beberapa teman-teman yang lain. setiap hari senin, rabu, dan jumat saya berlatih. mengeksplor gerak, mengeksplor benda yang ada, yang mungkin bisa dipergunakan, mengeksplor teks, sampai mengeksplor instrumen bunyi, suara dan musik. semuanya berjalan perlahan dan tertatih-tatih. beberapa teman saya tumbang, entah itu karena sakit atau bahkan karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. tinggalah kami 10 orang.
saya sudah mulai bisa menikmati suasana latihan ketika memasuki bulan januari sebetulnya. hanya tiba-tiba saja saya dikagetkan dengan sebuah berita bahwa pementasan akan diselenggarakan pada akhir februari, tepat ketika saya akan pergi diklat. mulai saat itu, mimpi buruk menghantui malam-malam saya. sebagai seorang calon aktor, seharusnya saya tetap bertahan dan mempertahankan apa yang selama ini telah saya korbankan. dari mulai rasa bosan dan malas ketika latihan, waktu latihan yang seringkali sampai larut. dan ongkos angkot saat saya akan latihan. semuanya seharusnya menjadi pertimbangan bagi saya untuk tetap bertahan dalam garapan.
TAPI HIDUP ADALAH PILIHAN!
begitu orang mengatakan. dan saya harus memilih tentu saja. kedua-duanya adalah sesuatu yang sangat berarti bagi saya. entah itu diklat, entah itu pementasan. dan bagi sebuah kerja teater, seseorang yang lari dari proses garapan adalah seorang PENGKHIANAT, ketika pementasan masih hitungan bulan. tapi ketika pementasan hanya tinggal hitungan hari, maka seseorang begitu sangat diharapkan kehadirannya, baik sakit bahkan mati sekali pun. sangat sarkas? tentu tidak, begitulah dunia teater. teater adalah dunia yang sangat keras. seorang pecundang seperti saya hanyalah menjadi onak dan duri bagi sebuah grup.
jadi kepadamu, jangan kaget ketika kelak kita berjalan berdua, tiba-tiba ada yang beteriak kepadaku seperti meneriaki seorang maling ayam. mulut mereka mungkin hanya bungkam. tapi mata mereka akan menghunjam dengan tajam dan berteriak sangat lantang: hai kamu sang perempuan pengkhianat, matilah seperti anjing!
Januari 22, 2006
Januari 01, 2006
kata pertama tahun ini

ini kalimat pertama yang kutulis di tahun ini. tapi adakah yang membedakan tahun ini dengan tahun lalu? rasanya tak ada. semuanya sama saja bukan?
tapi baiklah, agar semua tak kecewa, maka akan saya ucapkan satu kalimat pembuka, mungkin juga semacam mantra:
Selamat Tahun Baru, Semua!
Semoga harapan anda semua menjadi nyata di tahun ini.
Ahh... kalimat yang terlampau biasa bukan? tapi memang hanya kalimat itu yang saya punya saat ini.
ini kalimat pertama yang kutulis di tahun ini. tapi adakah yang membedakan tahun ini dengan tahun lalu? rasanya tak ada. semuanya sama saja bukan?
tapi baiklah, agar semua tak kecewa, maka akan saya ucapkan satu kalimat pembuka, mungkin juga semacam mantra:
Selamat Tahun Baru, Semua!
Semoga harapan anda semua menjadi nyata di tahun ini.
Ahh... kalimat yang terlampau biasa bukan? tapi memang hanya kalimat itu yang saya punya saat ini.
Desember 29, 2005
aku harus pergi sebelum senja menjadi gelap dan malam menikam matahari. ya, aku harus pergi. esok akan kukecup kembali rekah bibirmu. akan kupeluk kembali tubuhmu yang bearoma kenanga. tapi detik ini, aku harus pergi.
"kau tak lagi mencintaiku?" rengekmu.
"tak seorang pun yang kucintai selain engkau!"
"gombal!"
aku mencintaimu, maka aku pergi. inilah cinta yang sesungguhnya. cinta sebenarbenar cinta. harum tubuhmu akan kubawa terus kemana pun aku pergi. hingga esok, akan kudekap kembali jasadmu yang nyata. tapi sekarang, aku harus pergi.
"kau akan kembali?" ucapmu lirih, jemarimu masih erat menggenggam tanganku.
"aku akan kembali untukmu." kukecup keningmu.
"kapan?"
"esok!"
"selalu kau katakan esok. sedang kau tak punya ukuran untuk esokmu. esokmu bisa seminggu, sebulan, setahun. aku tak tahu, juga engkau. untuk itu, kularang engkau pergi lagi. tinggallah disini. di dekatku... selamanya....!"
lelaki harus pergi* tapi ia akan kembali. suatu hari nanti. esok!
kulepaskan seluruh genggaman jemarimu. kuhapus bening airmata di pipimu. kulangkahkan kakiku tanpa menoleh kembali.
"esok, aku akan pulang!"
*) Diambil dari Catatan Perjalanan Asia Gola Gong
"kau tak lagi mencintaiku?" rengekmu.
"tak seorang pun yang kucintai selain engkau!"
"gombal!"
aku mencintaimu, maka aku pergi. inilah cinta yang sesungguhnya. cinta sebenarbenar cinta. harum tubuhmu akan kubawa terus kemana pun aku pergi. hingga esok, akan kudekap kembali jasadmu yang nyata. tapi sekarang, aku harus pergi.
"kau akan kembali?" ucapmu lirih, jemarimu masih erat menggenggam tanganku.
"aku akan kembali untukmu." kukecup keningmu.
"kapan?"
"esok!"
"selalu kau katakan esok. sedang kau tak punya ukuran untuk esokmu. esokmu bisa seminggu, sebulan, setahun. aku tak tahu, juga engkau. untuk itu, kularang engkau pergi lagi. tinggallah disini. di dekatku... selamanya....!"
lelaki harus pergi* tapi ia akan kembali. suatu hari nanti. esok!
kulepaskan seluruh genggaman jemarimu. kuhapus bening airmata di pipimu. kulangkahkan kakiku tanpa menoleh kembali.
"esok, aku akan pulang!"
*) Diambil dari Catatan Perjalanan Asia Gola Gong
Desember 20, 2005
putih bolong
beginilah ketika alam mencoba berteriak dan melawan. sesuatu tiba-tiba menjelma batu. air, pepohonan, tanah dan dedaunan tak lagi ada. semua menjelma batu. hujan batu. lantas adakah yang bisa mengembalikan semuanya? selain kita? pelaku-pelaku kejahatan yang diam-diam telah membunuh seluruh kehidupan. merubahnya menjadi batu.
kitalah pembunuh itu, tuan!
beginilah ketika alam mencoba berteriak dan melawan. sesuatu tiba-tiba menjelma batu. air, pepohonan, tanah dan dedaunan tak lagi ada. semua menjelma batu. hujan batu. lantas adakah yang bisa mengembalikan semuanya? selain kita? pelaku-pelaku kejahatan yang diam-diam telah membunuh seluruh kehidupan. merubahnya menjadi batu.
kitalah pembunuh itu, tuan!
Desember 15, 2005
surat untuk seorang kawan seperjalanan
jika memaafkan terlalu berat bagimu, maka lupakan perjalanan kita satu tahun ke belakang. lupakan semua tentang aku. anggap saja kita tak pernah saling mengenal sebelumnya. dan aku akan berusaha memulai hidup baru, tanpa harus merasa takut tersakiti atau menyakiti.
jika rasa sakit yang kurasakan tak cukup menjadi alasan bagimu untuk memaafkanku yang lancang berbuat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan, maka sudahi saja kisah (yang entah kita beri nama apa) ini. sudah terlalu banyak kesalahanku di hadapanmu sejak kita saling mengenal. sedangkan kamu, tak pernah sedikit pun membuat kesalahan.
untuk yang terakhir kalinya, maafkan aku!
walau kau mungkin akan tetap membiarkan aku menjadi pesakitan dan pecundang yang picik di hadapanmu.
salam.
jika memaafkan terlalu berat bagimu, maka lupakan perjalanan kita satu tahun ke belakang. lupakan semua tentang aku. anggap saja kita tak pernah saling mengenal sebelumnya. dan aku akan berusaha memulai hidup baru, tanpa harus merasa takut tersakiti atau menyakiti.
jika rasa sakit yang kurasakan tak cukup menjadi alasan bagimu untuk memaafkanku yang lancang berbuat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan, maka sudahi saja kisah (yang entah kita beri nama apa) ini. sudah terlalu banyak kesalahanku di hadapanmu sejak kita saling mengenal. sedangkan kamu, tak pernah sedikit pun membuat kesalahan.
untuk yang terakhir kalinya, maafkan aku!
walau kau mungkin akan tetap membiarkan aku menjadi pesakitan dan pecundang yang picik di hadapanmu.
salam.
Desember 10, 2005
Mungkinkah binatang lebih berkebudayaan?
Wajar kalau pertanyaan di atas muncul begitu saja. Seakan-akan manusia tidak lebih berharga dari binatang. Ya, bukankah sudah banyak terjadi bahwa anak membunuh ayahnya dan ayah memperkosa anaknya? Perbuatan macam itu lebih hina daripada binatang bukan? Itu baru satu sisi saja. Mari kita tinjau sisi yang lainnya.
Tiba-tiba saya harus dihadapkan pada satu kejadian yang sangat dilematis. Di satu sisi, saya tahu bahwa saya sedang melakukan banyak kesalahan. Saya membiarkan diri saya dizalimi secara terang-terangan. Tapi saya tidak bisa melawan. Kalau pun saya memaksakan melawan, maka satu kompi bahkan satu batalyon di belakang saya akan hancur tanpa pernah bisa merasakan hasil dari jerih payah yang selama ini kami lakukan dengan harapan kelak punya kekuatan untuk bisa melawan dengan sepenuh taktik, sepenuh strategi.
Mereka mengatasnamakan kebudayaan dengan cara menzalimi kami yang berada pada kasta paling rendah dalam urutan birokrasi. Saya hanya ingin berkegiatan dengan hati riang gembira, dan kawan-kawan saya pun akan menyepakatinya. Kami cukup bahagia dengan sedikit cemilan dan segelas air mineral. Tidak lebih. Tapi kami cukup bahagia.
Lantas kenapa mereka masih saja mengambil sedikit cemilan itu dengan paksa dari lidah kami? Kami dijambaknya dan apa yang baru akan dikunyah itu lepas dari mulut kami. Kami hanya menemukan remah dari sisa-sisa mereka yang mengatasnamakan kebudayaan.
Anjing!
Terkutuklah mereka yang berada di balik kursi-kursi birokrasi, yang ongkang-ongkang kaki dengan memakan uang korupsi. Anjing! Terkutuklah kalian binatang!
Amin.
Semoga doa orang-orang yang dizalimi ini terkabul, Tuhan!
Wajar kalau pertanyaan di atas muncul begitu saja. Seakan-akan manusia tidak lebih berharga dari binatang. Ya, bukankah sudah banyak terjadi bahwa anak membunuh ayahnya dan ayah memperkosa anaknya? Perbuatan macam itu lebih hina daripada binatang bukan? Itu baru satu sisi saja. Mari kita tinjau sisi yang lainnya.
Tiba-tiba saya harus dihadapkan pada satu kejadian yang sangat dilematis. Di satu sisi, saya tahu bahwa saya sedang melakukan banyak kesalahan. Saya membiarkan diri saya dizalimi secara terang-terangan. Tapi saya tidak bisa melawan. Kalau pun saya memaksakan melawan, maka satu kompi bahkan satu batalyon di belakang saya akan hancur tanpa pernah bisa merasakan hasil dari jerih payah yang selama ini kami lakukan dengan harapan kelak punya kekuatan untuk bisa melawan dengan sepenuh taktik, sepenuh strategi.
Mereka mengatasnamakan kebudayaan dengan cara menzalimi kami yang berada pada kasta paling rendah dalam urutan birokrasi. Saya hanya ingin berkegiatan dengan hati riang gembira, dan kawan-kawan saya pun akan menyepakatinya. Kami cukup bahagia dengan sedikit cemilan dan segelas air mineral. Tidak lebih. Tapi kami cukup bahagia.
Lantas kenapa mereka masih saja mengambil sedikit cemilan itu dengan paksa dari lidah kami? Kami dijambaknya dan apa yang baru akan dikunyah itu lepas dari mulut kami. Kami hanya menemukan remah dari sisa-sisa mereka yang mengatasnamakan kebudayaan.
Anjing!
Terkutuklah mereka yang berada di balik kursi-kursi birokrasi, yang ongkang-ongkang kaki dengan memakan uang korupsi. Anjing! Terkutuklah kalian binatang!
Amin.
Semoga doa orang-orang yang dizalimi ini terkabul, Tuhan!
Desember 04, 2005
Macbeth,
Tragedi Berdarah dan Kerakusan Manusia
Kekuasaan, Harta, dan Perempuan selalu saja berkaitan erat dengan satu bentuk tragedi. Seperti dalam drama yang sengaja saya tonton di Rumentang Siang malam tadi dengan judul Macbeth, begitu jelas, perempuan menjadi otak dibalik kejahatan laki-laki. Saya tidak sedang membela laki-laki, tapi begitulah gambaran drama yang saya tonton dengan sedikit tidak nyaman, karena badan yang remuk-redam sehabis terjatuh.
Yang menarik adalah artistik panggungnya saya pikir. Bagaimana sebuah awalan dari pertunjukan, kita telah diperlihatkan sebuah ilustrasi di balik selembar kain warna putih dengan gambaran dua bayangan yang satu sama lain saling menghunus pedang dan berduel. Gambaran yang memberi semangat saya, bahwa saya takkan menyesal menonton drama ini, yang mungkin akan berlangsung 2-3 jam. Tapi kenyataan terkadang jauh dari harapan. Tragedi yang seakan-akan mencekam tiba-tiba harus terlihat seperti dagelan. Ahhh.. sungguh, aku kecewa dengan permainan Yosef Muldiyana.
Kekuasan itu berdarah. Begitu banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk bisa menikmati satu bentuk yang bernama kekuasaan. Dan itu, tidak terlepas dari kondisi bangsa kita saat ini. Begitulah kisah yang dibangun dalam Macbeth. Karya dari Shakespeare yang juga penulis Hamlet dan Romeo and Juliet.
Macbeth, takkan pernah terkalahkan oleh lelaki yang terlahir dari kelamin perempuan! Begitulah Macbeth mencoba mempertahankan kekuasaan sampai titik darah penghabisannya di bawah pedang Macduff.
Selain STB, denger-denger Cassanova juga mau membawakan naskah yang sama pada pementasan yang akan datang. Sungguh, saya tak sabar melihatnya. Bukankah hasil kerja anak muda biasanya lebih menyenangkan? Hahaha.. :D Ayoo, buktikan pada dunia, anak muda lebih cerdas meski nakal!
Tragedi Berdarah dan Kerakusan Manusia
Kekuasaan, Harta, dan Perempuan selalu saja berkaitan erat dengan satu bentuk tragedi. Seperti dalam drama yang sengaja saya tonton di Rumentang Siang malam tadi dengan judul Macbeth, begitu jelas, perempuan menjadi otak dibalik kejahatan laki-laki. Saya tidak sedang membela laki-laki, tapi begitulah gambaran drama yang saya tonton dengan sedikit tidak nyaman, karena badan yang remuk-redam sehabis terjatuh.
Yang menarik adalah artistik panggungnya saya pikir. Bagaimana sebuah awalan dari pertunjukan, kita telah diperlihatkan sebuah ilustrasi di balik selembar kain warna putih dengan gambaran dua bayangan yang satu sama lain saling menghunus pedang dan berduel. Gambaran yang memberi semangat saya, bahwa saya takkan menyesal menonton drama ini, yang mungkin akan berlangsung 2-3 jam. Tapi kenyataan terkadang jauh dari harapan. Tragedi yang seakan-akan mencekam tiba-tiba harus terlihat seperti dagelan. Ahhh.. sungguh, aku kecewa dengan permainan Yosef Muldiyana.
Kekuasan itu berdarah. Begitu banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk bisa menikmati satu bentuk yang bernama kekuasaan. Dan itu, tidak terlepas dari kondisi bangsa kita saat ini. Begitulah kisah yang dibangun dalam Macbeth. Karya dari Shakespeare yang juga penulis Hamlet dan Romeo and Juliet.
Macbeth, takkan pernah terkalahkan oleh lelaki yang terlahir dari kelamin perempuan! Begitulah Macbeth mencoba mempertahankan kekuasaan sampai titik darah penghabisannya di bawah pedang Macduff.
Selain STB, denger-denger Cassanova juga mau membawakan naskah yang sama pada pementasan yang akan datang. Sungguh, saya tak sabar melihatnya. Bukankah hasil kerja anak muda biasanya lebih menyenangkan? Hahaha.. :D Ayoo, buktikan pada dunia, anak muda lebih cerdas meski nakal!
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Tak jauh dari tempat saya tinggal, tepatnya di Lembur Cibunar, Sukajadi, setiap hari Minggu pagi, selalu bisa dijumpai anak-anak yang sedang...