surat untuk seorang kawan seperjalanan
jika memaafkan terlalu berat bagimu, maka lupakan perjalanan kita satu tahun ke belakang. lupakan semua tentang aku. anggap saja kita tak pernah saling mengenal sebelumnya. dan aku akan berusaha memulai hidup baru, tanpa harus merasa takut tersakiti atau menyakiti.
jika rasa sakit yang kurasakan tak cukup menjadi alasan bagimu untuk memaafkanku yang lancang berbuat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan, maka sudahi saja kisah (yang entah kita beri nama apa) ini. sudah terlalu banyak kesalahanku di hadapanmu sejak kita saling mengenal. sedangkan kamu, tak pernah sedikit pun membuat kesalahan.
untuk yang terakhir kalinya, maafkan aku!
walau kau mungkin akan tetap membiarkan aku menjadi pesakitan dan pecundang yang picik di hadapanmu.
salam.
Desember 15, 2005
Desember 10, 2005
Mungkinkah binatang lebih berkebudayaan?
Wajar kalau pertanyaan di atas muncul begitu saja. Seakan-akan manusia tidak lebih berharga dari binatang. Ya, bukankah sudah banyak terjadi bahwa anak membunuh ayahnya dan ayah memperkosa anaknya? Perbuatan macam itu lebih hina daripada binatang bukan? Itu baru satu sisi saja. Mari kita tinjau sisi yang lainnya.
Tiba-tiba saya harus dihadapkan pada satu kejadian yang sangat dilematis. Di satu sisi, saya tahu bahwa saya sedang melakukan banyak kesalahan. Saya membiarkan diri saya dizalimi secara terang-terangan. Tapi saya tidak bisa melawan. Kalau pun saya memaksakan melawan, maka satu kompi bahkan satu batalyon di belakang saya akan hancur tanpa pernah bisa merasakan hasil dari jerih payah yang selama ini kami lakukan dengan harapan kelak punya kekuatan untuk bisa melawan dengan sepenuh taktik, sepenuh strategi.
Mereka mengatasnamakan kebudayaan dengan cara menzalimi kami yang berada pada kasta paling rendah dalam urutan birokrasi. Saya hanya ingin berkegiatan dengan hati riang gembira, dan kawan-kawan saya pun akan menyepakatinya. Kami cukup bahagia dengan sedikit cemilan dan segelas air mineral. Tidak lebih. Tapi kami cukup bahagia.
Lantas kenapa mereka masih saja mengambil sedikit cemilan itu dengan paksa dari lidah kami? Kami dijambaknya dan apa yang baru akan dikunyah itu lepas dari mulut kami. Kami hanya menemukan remah dari sisa-sisa mereka yang mengatasnamakan kebudayaan.
Anjing!
Terkutuklah mereka yang berada di balik kursi-kursi birokrasi, yang ongkang-ongkang kaki dengan memakan uang korupsi. Anjing! Terkutuklah kalian binatang!
Amin.
Semoga doa orang-orang yang dizalimi ini terkabul, Tuhan!
Wajar kalau pertanyaan di atas muncul begitu saja. Seakan-akan manusia tidak lebih berharga dari binatang. Ya, bukankah sudah banyak terjadi bahwa anak membunuh ayahnya dan ayah memperkosa anaknya? Perbuatan macam itu lebih hina daripada binatang bukan? Itu baru satu sisi saja. Mari kita tinjau sisi yang lainnya.
Tiba-tiba saya harus dihadapkan pada satu kejadian yang sangat dilematis. Di satu sisi, saya tahu bahwa saya sedang melakukan banyak kesalahan. Saya membiarkan diri saya dizalimi secara terang-terangan. Tapi saya tidak bisa melawan. Kalau pun saya memaksakan melawan, maka satu kompi bahkan satu batalyon di belakang saya akan hancur tanpa pernah bisa merasakan hasil dari jerih payah yang selama ini kami lakukan dengan harapan kelak punya kekuatan untuk bisa melawan dengan sepenuh taktik, sepenuh strategi.
Mereka mengatasnamakan kebudayaan dengan cara menzalimi kami yang berada pada kasta paling rendah dalam urutan birokrasi. Saya hanya ingin berkegiatan dengan hati riang gembira, dan kawan-kawan saya pun akan menyepakatinya. Kami cukup bahagia dengan sedikit cemilan dan segelas air mineral. Tidak lebih. Tapi kami cukup bahagia.
Lantas kenapa mereka masih saja mengambil sedikit cemilan itu dengan paksa dari lidah kami? Kami dijambaknya dan apa yang baru akan dikunyah itu lepas dari mulut kami. Kami hanya menemukan remah dari sisa-sisa mereka yang mengatasnamakan kebudayaan.
Anjing!
Terkutuklah mereka yang berada di balik kursi-kursi birokrasi, yang ongkang-ongkang kaki dengan memakan uang korupsi. Anjing! Terkutuklah kalian binatang!
Amin.
Semoga doa orang-orang yang dizalimi ini terkabul, Tuhan!
Desember 04, 2005
Macbeth,
Tragedi Berdarah dan Kerakusan Manusia
Kekuasaan, Harta, dan Perempuan selalu saja berkaitan erat dengan satu bentuk tragedi. Seperti dalam drama yang sengaja saya tonton di Rumentang Siang malam tadi dengan judul Macbeth, begitu jelas, perempuan menjadi otak dibalik kejahatan laki-laki. Saya tidak sedang membela laki-laki, tapi begitulah gambaran drama yang saya tonton dengan sedikit tidak nyaman, karena badan yang remuk-redam sehabis terjatuh.
Yang menarik adalah artistik panggungnya saya pikir. Bagaimana sebuah awalan dari pertunjukan, kita telah diperlihatkan sebuah ilustrasi di balik selembar kain warna putih dengan gambaran dua bayangan yang satu sama lain saling menghunus pedang dan berduel. Gambaran yang memberi semangat saya, bahwa saya takkan menyesal menonton drama ini, yang mungkin akan berlangsung 2-3 jam. Tapi kenyataan terkadang jauh dari harapan. Tragedi yang seakan-akan mencekam tiba-tiba harus terlihat seperti dagelan. Ahhh.. sungguh, aku kecewa dengan permainan Yosef Muldiyana.
Kekuasan itu berdarah. Begitu banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk bisa menikmati satu bentuk yang bernama kekuasaan. Dan itu, tidak terlepas dari kondisi bangsa kita saat ini. Begitulah kisah yang dibangun dalam Macbeth. Karya dari Shakespeare yang juga penulis Hamlet dan Romeo and Juliet.
Macbeth, takkan pernah terkalahkan oleh lelaki yang terlahir dari kelamin perempuan! Begitulah Macbeth mencoba mempertahankan kekuasaan sampai titik darah penghabisannya di bawah pedang Macduff.
Selain STB, denger-denger Cassanova juga mau membawakan naskah yang sama pada pementasan yang akan datang. Sungguh, saya tak sabar melihatnya. Bukankah hasil kerja anak muda biasanya lebih menyenangkan? Hahaha.. :D Ayoo, buktikan pada dunia, anak muda lebih cerdas meski nakal!
Tragedi Berdarah dan Kerakusan Manusia
Kekuasaan, Harta, dan Perempuan selalu saja berkaitan erat dengan satu bentuk tragedi. Seperti dalam drama yang sengaja saya tonton di Rumentang Siang malam tadi dengan judul Macbeth, begitu jelas, perempuan menjadi otak dibalik kejahatan laki-laki. Saya tidak sedang membela laki-laki, tapi begitulah gambaran drama yang saya tonton dengan sedikit tidak nyaman, karena badan yang remuk-redam sehabis terjatuh.
Yang menarik adalah artistik panggungnya saya pikir. Bagaimana sebuah awalan dari pertunjukan, kita telah diperlihatkan sebuah ilustrasi di balik selembar kain warna putih dengan gambaran dua bayangan yang satu sama lain saling menghunus pedang dan berduel. Gambaran yang memberi semangat saya, bahwa saya takkan menyesal menonton drama ini, yang mungkin akan berlangsung 2-3 jam. Tapi kenyataan terkadang jauh dari harapan. Tragedi yang seakan-akan mencekam tiba-tiba harus terlihat seperti dagelan. Ahhh.. sungguh, aku kecewa dengan permainan Yosef Muldiyana.
Kekuasan itu berdarah. Begitu banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk bisa menikmati satu bentuk yang bernama kekuasaan. Dan itu, tidak terlepas dari kondisi bangsa kita saat ini. Begitulah kisah yang dibangun dalam Macbeth. Karya dari Shakespeare yang juga penulis Hamlet dan Romeo and Juliet.
Macbeth, takkan pernah terkalahkan oleh lelaki yang terlahir dari kelamin perempuan! Begitulah Macbeth mencoba mempertahankan kekuasaan sampai titik darah penghabisannya di bawah pedang Macduff.
Selain STB, denger-denger Cassanova juga mau membawakan naskah yang sama pada pementasan yang akan datang. Sungguh, saya tak sabar melihatnya. Bukankah hasil kerja anak muda biasanya lebih menyenangkan? Hahaha.. :D Ayoo, buktikan pada dunia, anak muda lebih cerdas meski nakal!
November 28, 2005
tentang pernikahan dan tahun ketiga
hari ini, genap tiga tahun aku menulis di sini. sebuah rumah sederhana yang terkadang bocor atapnya. tapi aku sungguh merasa rumah ini adalah rumah ternyaman yang aku punya. meski hanya sunyi yang kudapati setiap kali aku membuka pintunya sepulang dari menengok hidup yang terlampau riuh.
di tahun ketiga ini, tiba-tiba aku dihadapkan pada sebuah peristiwa yang menurutku teramat sangat sayang untuk dilewatkan. apalagi kalau bukan sebuah pernikahan. walau menurutku, pernikahan dan kematian berbeda tipis, aku sendiri sampai sekarang masih sulit membedakan di mana letak perbedaannya. kematian, senantiasa diselubungi warna kafan, begitu pun dengan pernikahan. tapi ini bukanlah satu bentuk protes terhadap seorang sahabat yang kemarin melangsungkan pernikahan. bukan sama sekali. ini hanya bentuk perasaan yang mungkin terharu orang bilang, ketika melihat betapa mereka berdua akhirnya duduk juga di kursi pelaminan.
selamat untuk Pramita Gayatri dan Firman Venayaksa,
kata-kata tak akan bisa mewakili kebahagiaanku atas pernikahan kalian berdua.
hari ini, genap tiga tahun aku menulis di sini. sebuah rumah sederhana yang terkadang bocor atapnya. tapi aku sungguh merasa rumah ini adalah rumah ternyaman yang aku punya. meski hanya sunyi yang kudapati setiap kali aku membuka pintunya sepulang dari menengok hidup yang terlampau riuh.
di tahun ketiga ini, tiba-tiba aku dihadapkan pada sebuah peristiwa yang menurutku teramat sangat sayang untuk dilewatkan. apalagi kalau bukan sebuah pernikahan. walau menurutku, pernikahan dan kematian berbeda tipis, aku sendiri sampai sekarang masih sulit membedakan di mana letak perbedaannya. kematian, senantiasa diselubungi warna kafan, begitu pun dengan pernikahan. tapi ini bukanlah satu bentuk protes terhadap seorang sahabat yang kemarin melangsungkan pernikahan. bukan sama sekali. ini hanya bentuk perasaan yang mungkin terharu orang bilang, ketika melihat betapa mereka berdua akhirnya duduk juga di kursi pelaminan.
selamat untuk Pramita Gayatri dan Firman Venayaksa,
kata-kata tak akan bisa mewakili kebahagiaanku atas pernikahan kalian berdua.
November 10, 2005
aku lagi di ultimus
kulihat hakim, fajar, niki sama seseorang yang baru aku lihat sekarang tengah sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke bromo. aku ingin ikut. tapi sayang, mendadak sekali. huh! coba kalo tahu sebelumnya, kan bisa merampok bank dulu waktu libur lebaran kemarin.
kini, aku cuma bisa melihat mereka dengan rasa iri.
aku pengennn ikuttttttttttttt!
kulihat hakim, fajar, niki sama seseorang yang baru aku lihat sekarang tengah sibuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke bromo. aku ingin ikut. tapi sayang, mendadak sekali. huh! coba kalo tahu sebelumnya, kan bisa merampok bank dulu waktu libur lebaran kemarin.
kini, aku cuma bisa melihat mereka dengan rasa iri.
aku pengennn ikuttttttttttttt!
Langganan:
Postingan (Atom)
Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Cikurai Suatu Ketika 04-06 Juli 2008 Di antara kami belum pernah ada yang sebelumnya ke Cikurai. Gunung yang terletak di kota Garut ini nyat...
-
Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...
-
Tak jauh dari tempat saya tinggal, tepatnya di Lembur Cibunar, Sukajadi, setiap hari Minggu pagi, selalu bisa dijumpai anak-anak yang sedang...