November 06, 2023

Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus



Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan kawasan hutan tersebut karena sebuah acara bertajuk Ranca Upas 2023 Camping Adventure Explore. Kerusakan kawasan tersebut bahkan sampai viral di sosial media.

Peristiwa kerusakan hutan bukanlah persoalan baru. Indonesia yang memiliki jumlah hutan terbesar kedua di dunia memposisikan Indonesia sebagai paru-paru dunia. Namun, posisi itu nyatanya tidak menjadikan masyarakat dan pemerintah lebih peduli.

Pada Tahun 1998 misalnya, kondisi Gunung Lemongan sudah sangat memprihatinkan akibat illegal logging besar-besaran. Saat itu, 2000 hektare hutan Lemongan habis dibabat. Akibat pohon-pohon yang ditebang secara liar inilah, berdampak pada kerusakan ekosistem serta menurunnya debit air 13 ranu yang ada di sekitar Gunung Lemongan. Jika penebangan pohon ini terjadi terus-menerus dan hutan tak kembali pulih, maka bisa dipastikan, banyak ranu akan kekeringan.

Abdullah Al-Kudus, atau akrab dipanggil A’ak, seorang pemuda yang hanya lulusan SMP, tidak tinggal diam. A’ak tidak mau berpangku tangan melihat kondisi kritis Gunung Lemongan.

A’ak, pria kelahiran 12 Oktober 1974 ini mengumpulkan puluhan  anak muda untuk mengajak dan terlibat aktif menanam pohon dan merawat lingkungan. A’ak membuat sebuah kelompok yang diberi nama “Laskar Hijau”.

 

Laskar Hijau

Misi Laskar Hijau ini adalah untuk menyelamatkan lingkungan yang telah rusak akibat penebangan liar. A’ak meyakini bahwa kalau tidak ada yang melakukan sesuatu maka bukan mustahil anak cucu kita ke depannya akan mengalami hal yang lebih buruk dari hari ini.

Pada Tahun 2010, penghijauan ala Laskar Hijau sudah berbuah. Sedikitnya 400 hektare hutan di Gunung Lemongan sudah hijau. Ranu Klakah, danau terpenting di kawasan itu, debit airnya kembali naik. Danau-danau di sekitar lereng Gunung Lamongan merupakan penyuplai air untuk lahan pertanian masyarakat yang hidup di kaki Gunung Lemongan.

 

Maulid Hijau

A’ak pernah menggagas peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dia gabungkan dengan gerakan penghijauan menanam pohon. A’ak menyebut peringatan tersebut dengan Maulid Hijau.

Gerakan yang dilakukan oleh A’ak dan kawan-kawannya di Laskar Hijau bukan sesuatu yang mudah. Bahkan bisa dibilang dipenuhi tantangan. Bahkan pernah juga datang dari kaum agamawan, salah satunya Majelis Ulama Indonesia Lumajang.

MUI Lumajang pernah memfatwa A’ak sesat, karena mengaitkan maulid Nabi dengan cara yang dianggap ‘aneh’. Namun A’ak kukuh pada pendiriannya.  A’ak justru makin mantap untuk memberikan segenap waktu dan tenaga yang dimilikinya untuk konservasi Gunung Lemongan.

 

Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2010

Atas apa yang telah dilakukannya, A’ak menerima Apresiasi SATU Indonesia Awards pada tahun 2010. Selain menerima penghargaan dari Satu Indonesia Awards, A’ak juga pernah meraih gelar penghargaan melalui Unit Kerja Presiden Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila di tahun 2017.

A’ak Abdullah Al-Kudus menjadi salah satu peraih penghargaan dari 72 orang penerima penghargaan dari seluruh Indonesia. Nama Aak Abdullah Al-Kudus bersanding dengan nama Alan Budi Kusuma, peraih medali emas bulu tangkis  Olimpiade Barcelona 1992 dan Lisa Rumbeiwas, atlet Angkat Besi peraih medali perak pada Olimpiade Athena Tahun 2004.

Apa yang dilakukan oleh A’ak memang selayaknya mendapat apresiasi. Gerakannya menghijaukan kembali Gunung Lemongan yang telah rusak bisa menjadi inspirasi bagi kaum muda hari ini. Sebab semakin hari, hutan-hutan di Indonesia semakin banyak yang mengalami nasib yang sama dengan Gunung Lemongan dulu, bahkan sebagian gunung  mengalami nasib yang lebih buruk.

Semestinya, dengan hadirnya A’ak dan gerakan Laskar Hijau, akan lahir juga A’ak A’ak berikutnya bersama laskar-laskar hijau lainnya. Sebab seperti kata A’ak, hutan adalah masa depan kita. Tanpa hutan, kita tak punya masa depan.

A’ak adalah sosok dengan 1001 aktivitas. Dunia seni digelutinya, terutama seni rupa, sastra, dan teater. Dia pernah berguru kepada sejumlah seniman hebat, seperti pelukis Uki Sukisman di Pasar Seni Ancol, Jakarta, WS. Rendra (almarhum), penyair sufistik Dik Munthalib, 75 tahun, serta cerpenis nyentrik Julius Siyaranamual (almarhum).

Generasi muda hari ini semestinya bisa belajar banyak dari A’ak. Idealismenya tentang lingkungan dan masa depan masyarakat Indonesia yang tidak bisa dilepaskan dari hutan dan ekosistem di dalamnya.Tanpa lingkungan yang baik, masa depan Indonesia adalah masa depan dengan suhu yang panas, air yang susah didapat, bahan pangan yang sulit didapat.

A’ak telah memahami bahwa semesta bekerja dengan timbal balik. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Jika hari ini kita menanam pohon, maka kita akan menuai bukan saja buah, tapi kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

 

Merawat Jangan Merusak

A’ak memiliki keyakinan bahwa merawat lingkungan adalah jalan untuk keberlangsungan ekosistem makhluk hidup, termasuk kita, manusia. Jika tidak bisa merawat, maka jangan sekali-kali merusak.

Apa yang terjadi dan sempat viral di Ranca Upas beberapa bulan lalu, rusaknya bunga rawa oleh kendaraan bermotor dalam sebuah acara, tentu saja tidak perlu terjadi jika semua orang memiliki pemikiran yang sama seperti A’ak.

Indonesia di masa depan tentu adalalah Indonesia dengan segala permasalahan di dalamnya yang semakin berat. Masalah kerusakan lingkungan adalah ancaman utama bagi keberlangsungan alam lestari Indonesia. Gerakan yang dilakukan A’ak adalah gerakan yang harus terus diperluas. Agar masa depan Indonesia adalah masa depan yang gemilang.

Terima kasih A’ak, terima kasih Laskar Hijau. Kami harus belajar kepadamu.

 



April 01, 2022

Budaya Remixed: Sebuah Perjalanan Menemukan

 


Apa yang saya pikirkan saat berusia 15 tahun? Rasa-rasanya saat itu hanya pikiran-pikiran sederhana saja. Mau main ke mana sepulang sekolah, bagaimana caranya bisa bolos di mata pelajaran matematika tanpa ketahuan, atau bagaimana caranya bisa mencontek saat ulangan Fisika nanti.

Apakah ada dalam diri saya keinginan untuk menyusun sebuah pemikiran tentang apa itu kebudayaan? Apa itu seni? Apa itu kehidupan? Sama sekali tak ada. Jangankan menyusunnya, terlintas saja tidak.

Berbeda dengan saya saat di usianya, Lil’li Latisha, seorang gadis berusia 15 tahun telah berpikiran jauh ke depan. Pikirannya tentang budaya, seni, jauh melampaui anak seusianya. Lil’li adalah seorang aktor, penari, content creator, dan pemenang Global Winner Rise for the World 2021 di usianya yang masih sangat muda.

Pandi lewat Program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (Mimdan) di acara Bincang MIMDAN seri ke-5 pada hari Rabu, 30 Maret 2022 pukul 19.30 WIB di akun IG @merjut_indonesia telah menghadirkan Lil’li Latisha sebagai narasumber.



Dari perbincangan yang dipandu oleh Evi Sri Rezeki itulah, saya semakin menyadari bahwa Lil’li bukan saja memiliki visi tentang seni dan kebudayaan, tapi juga dia bisa menyadari di mana tempatnya berdiri hari ini. Dia paham betul bahwa dia terlahir dari dan dengan banyak budaya.

Lil’li menyadari dirinya adalah bagian dari negeri yang bernama Indonesia, maka dia mempelajari sejarah budaya melalui sejarah sebuah tempat. Dia misalnya datang ke Candi Borobudur, belajar membatik, dan belajar beberapa tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Bukan hanya tari tradisional saja. Sejak usia 5 tahun, Lil'li telah belajar tari Balet.

Sebagai keturunan Tionghoa, dia juga mempelajari budaya Tionghoa. Dia merasakan bagaimana lingkungan keluarganya membentuknya sebagai orang Tionghoa. Dia merasakan juga bagaimana Budaya K-POP dan K-Drama menjadi salah satu budaya yang diminati juga oleh masyarakat.

Sebagai Gen-Z, tentu dia juga melakukan apa yang dilakukan anak-anak satu generasinya. Memotret setiap momen melalui handphone-nya, mengunggahnya di Instagram, Facebook, dan Tiktok. Bahkan bersama beberapa teman yang mempunyai minat yang sama, Lil'li membuat konten video untuk channel Youtube. Generasi Z banget, kan?

Dengan melakukan berbagai perjalanan budaya itulah, akhirnya Lil’li memiliki caranya pandangnya sendiri tentang budaya, tentang seni, tentang kehidupan yang sedang dan akan dilaluinya. Dia menamakannya sebagai Budaya Remixed.

Saya berkali-kali berdecak kagum selama bincang Live IG itu berlangsung. Anda mungkin juga akan melakukan hal yang sama seperti saya, saat Anda menonton perbincangan itu, atau lebih jauh lagi, Anda menonton video yang telah Lil’li Latisha buat bersama teman-temannya. Videonya diberi judul Budaya Remixed - Pilot Episode.


Dalam video yang dibuatnya, Lil’li menceritakan bagaimana dirinya seringkali mendapat kecaman (bullying) karena seringkali berbicara dalam Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia. Di sana juga terlihat, bagaimana langkah Lil’li menghadapi kecaman tersebut bukan dengan balik mengecam, tapi justru melakukan apa yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang yang mengecamnya.

 Lil’li melakukan perjalanan budaya untuk menemukan apa yang sesungguhnya benar-benar ingin dia lakukan di masa depan. Dia kembali  ke masa lalu melalui seni dan budaya yang ditinggalkan dari masa lalu, untuk bisa tegak berdiri hari ini, dan menyongsong hari depan yang gemilang.

Selama perbincangan, saat Evi sebagai host, memberikan pertanyaan demi pertanyaan, Lil’li menjawabnya dengan ringan. Seolah-olah perbincangan soal budaya, seni, kebudayaan, adalah perbincangan keseharian yang asyik dan menarik.

Mungkin itu yang membedakan generasi saya dengan generasi, Lil’li. Internet telah banyak mempengaruhi cara berpikir seseorang, bahkan sebuah generasi. Pengetahuan tidak sulit lagi didapat, tapi justru sebaliknya, melimpah dan murah. Tinggal bagaimana kita memilahnya, untuk mendapatkan apa yang sebetulnya kita butuhkan.


Satu hal yang saya garisbawahi dari perbincangan IG Live Mimdan seri ke-5 itu adalah bahwa Lil’li mengutamakan empati dan adab, dalam segala hal yang berhubungan dengan sesama, baik daring (online) maupun luring (offline).

Kesetaraan, mendapat kesempatan yang sama, adalah impian Lil’li untuk masa depan yang lebih baik. Terima kasih untuk PANDI, karena telah mengadakan Bincang Mimdan bersama Lil’li Latisha. Saya berharap, masih banyak lagi orang-orang seperti Lil’li di luar sana. Sebab di tangan merekalah masa depan Indonesia yang gemilang akan terwujud.

Maret 27, 2022

Hari Teater Sedunia


Selamat Hari Teater Sedunia!

Menurut sebuah lagu, dunia ini panggung sandiwara. Namun nyatanya, di atas panggung selalu ada panggung yang lain.

Bagi saya, berteater adalah menumbuhkan lebih banyak empati. Mencoba merasakan apa yang orang lain rasakan. Bermain teater juga menjadi jalan bagi saya memahami diri sendiri.

Lebih sulit memahami kehendak dan gerak diri ternyata. Selamat hari teater sedunia. Sebab kita, seringkali merindukan tepuk tangan selepas lampu padam.

Juni 29, 2021

Harta Karun dalam Permainan


Tak jauh dari tempat saya tinggal, tepatnya di Lembur Cibunar, Sukajadi, setiap hari Minggu pagi, selalu bisa dijumpai anak-anak yang sedang bermain. Mereka memainkan permainan-permainan anak-anak yang kini sudah jarang sekali dimainkan. Kang Deni Weje menamai lembur itu sebagai Lembur Kaulinan Cibunar.

Jika saya sedang memiliki waktu luang, di hari Minggu pagi, saya akan mengajak anak-anak ke Lembur Cibunar. Anak-anak saya akan bergabung bersama anak-anak di sana untuk bermain bersama. Mereka terlihat bahagia.

Permainan anak-anak itu biasa disebut sebagai Kaulinan Barudak. Permainan anak-anak tradisional di masa lalu yang sengaja dihidupkan kembali di masa kini, di saat permainan anak-anak telah beralih ke layar gawai.


Anak-anak di Lembur Kaulinan Cibunar akan bermain dengan riang. Tawa mereka terdengar dari kejauhan. Anak-anak itu ditemani beberapa Akang-akang dan Teteh-teteh yang sengaja datang di antara kesibukan kuliah atau pekerjaannya. Merekalah para pegiat kaulinan barudak yang dengan sukacita mengajak anak-anak yang tinggal di lingkungan sekitar atau yang sengaja datang ke sana untuk bermain bersama.

Lagu anak-anak akan terdengar kembali. Dinyanyikan dengan riang gembira, dengan sukacita dan tawa. Para pegiat biasanya mengiringi lagu-lagu yang dinyanyikan anak-anak dengan gitar atau ukulele.

Para pegiat kaulinan barudak itu ada yang sudah bekerja, ada juga yang masih kuliah, ada juga yang baru mau masuk kuliah. Salah satunya bernama Muhammad Rizky Ramdani. Tahun ini dia baru mau mendaftar untuk kuliah. Katanya mau daftar kuliah ke Institut Agama Islam Darussalam, Ciamis.

Rizky, begitu biasa saya menyebutnya. Saya tak mengira, di tengah-tengah keasyikannya menjadi pegiat kaulinan, diam-diam dia menuliskan semua pengalamannya bersama anak-anak itu ke dalam sebuah novel. Novel itu diberi judul, Harta Karun dalam Permainan.

Tokoh-tokoh dalam novel ini adalah anak-anak yang tak sengaja memasuki petualangan seru dalam permainan-permainan anak di masa lalu. Maka kita akan diajak untuk bermain kucing-kucingan, ular tangga, kwartet, petak umpet, main kelereng, dan banyak lagi permainan lainnya.

Februari 16, 2021

Membaca Novel Babad Kopi Parahyangan


Membaca buku Babad Kopi Parahyangan karya Evi Sri Rezeki membuat saya terlempar jauh ke masa lalu. Menyusuri Parahyangan yang diliputi kegelapan karena pribumi tercekik sistem tanam paksa demi mutiara hitam.

Maka menyesap kopi hari ini adalah juga mengingat bagaimana banyak orang mati demi biji-biji hitam dan rakusnya kaum kompeni. Menindas bukan kata yang pas saya kira. Menghisap darah pribumi rasanya lebih tepat.

Beruntung saya hidup di masa kini. Bisa membaca buku, menikmati kopi, sambil sesekali makan roti. Di masa lalu, mereka menanam tanpa pernah menuai hasil.

Evi, saya kira mampu bertutur dengan bahasa yang jernih. Ada sosok Euis yang membuat saya merasa bahwa perempuan bisa menjadi sosok yang lembut sekaligus kuat. Euis adalah lambang sebuah perlawanan kaum perempuan terhadap ketidakadilan.

Desember 31, 2019

penghujung tahun

penghujung tahun 2019 memberi banyak kejutan. kejutan menyenangkan yang sungguh tak mudah dilupakan. Tuhan maha adil, dia memberikan kejutan yang lain juga. seiring peristiwa demi peristiwa membahagiakan, kejutan lain datang. sebuah kabar kehilangan. kehilangan paling purna dari segala bentuk kehilangan.

penghujung tahun 2019 adalah lambai tangan, salam perpisahan, kecup dan cium terakhir untukmu, Ibu. kepergianmu menggetarkan seluruh kesadaran. aku menjelma bunga layu di hadapan kuburmu, Ibu.

Oktober 31, 2017

Serunya Terbang Ke Luar Negeri Bersama Bayi dan Anak-anak

Serunya Terbang Ke Luar Negeri Bersama Bayi dan Anak-anak
Serunya Terbang Ke Luar Negeri Bersama Bayi dan Anak-anak - Sumber Pixabay

Pernah merasakan terjebak dalam penerbangan bersama bayi dan anak-anak? Percayalah, rasanya bisa campur aduk karena bayi dan anak-anak kerap susah diprediksi tingkah lakunya. Apalagi saat terbang ke luar negeri yang membutuhkan waktu perjalanan berjam-jam, potensi bayi dan anak-anak jadi rewel pun akan semakin besar. Jika tak bisa menghindar untuk terbang bersama mereka, berikut beberapa tips agar orang tua dan traveler bisa merasakan serunya terbang ke luar negeri bersama bayi dan anak-anak.

Januari 03, 2017

Gedung Baru Perpusipda Ciamis



Siang tadi, Iqbal dan Kania meminta berhenti di Perpusipda Ciamis yang sebetulnya masih belum selesai renovasi. Gerbangnya masih tertutup. Perpusipda Ciamis sementara dipindahkan ke Aula Pramuka. Sejak kepindahan sementaranya itu, beberapa kali mereka kami ajak ke sana. Tapi tetap saja, mereka merasa harus berhenti di depan gerbang perpustakaan yang sedang direnovasi jika kebetulan kami sedang lewat ke sana.

Bagi Kania dan Iqbal, perpustakaan adalah tempat bermain dan berpetualang yang lain selain pohon jambu di halaman. Mereka akan bertemu banyak buku-buku yang tak mungkin bisa kami beli. Iqbal menyukai buku-buku tebal tentang alam semesta dan berbagai jenis dinosaurus. Saya seringkali mesti membacakannya sampai letih jika kami tengah bermain ke sana. Itu karena dia belum bisa membaca.
Kania lain lagi. Dia lebih senang berpetualang ke dalam buku-buku dengan penuh gambar binatang. Dia akan menyebut nama-nama binatang yang ada dalam buku itu sambil menceritakan sendiri apa yang dilihatnya, seolah-olah dia bisa membaca.

Selain buku, Iqbal menyukai perpustakaan karena di sana dia bisa merangkai puzzle peta Indonesia, bermain balok-balok kayu, dan banyak permainan lain yang tidak dimilikinya di rumah.

Iqbal sempat kecewa dan enggan ke perpustakaan lagi setelah dia tak bisa meminjam buku-buku dinosaurus yang disukainya. Petugas di sana melarang meminjam buku itu. Dan sebaiknya hanya dibaca di tempat saja. Namun, kesenangannya saat berada di perpustakaan mengalahkan kekecewaannya. Tak lama, dia mengajak kami kembali ke sana.

Kami tentu berharap, Perpusipda Ciamis yang kini gedungnya semakin mentereng ini, semakin menarik juga buku-bukunya. Semakin banyak buku-buku terbitan terbaru dibanding buku-buku lawasnya. Bagi Iqbal, mungkin dia akan lebih senang jika di dalam gedung itu, ruang untuknya bermain dan bertualang ke dalam buku semakin menyenangkan.

Desember 28, 2016

Cerita Tiga Kota


Bagi mahasiswa iseng seperti saya, yang masuk kuliah hanya karena iseng-iseng. Iseng ikut UMPTN, iseng memilih jurusan Bahasa Indonesia, dan iseng-iseng diterima. Ternyata Pentagon lantai 3 menjadi tempat yang bukan sekadar tempat iseng-iseng.

Di lantai 3 gedung Pentagon, saya bertemu Eddi Koben, Anka Wijaya, dan banyak nama lainnya (nama-nama lain akan saya ceritakan di lain waktu). Koben dan Anka, dua tahun lebih tua dibanding saya. Merekalah yang mengospek saya saat saya masuk ke kampus UPI (dulunya IKIP). Koben menjadi ketua himpunan saat itu. Anka, saya ingat dia juga bagian dari senior yang aktif (tidur) di kampus.

Saat masih tingkat satu, iseng-iseng saya main ke Himpunan yang letaknya di lantai 3 itu. Keisengan saya berlanjut, sampai akhirnya, saya lebih senang kuliah di sebuah ruangan bekas toilet dibandingkan kuliah di kelas. Saya lebih senang mendengarkan pelajaran dari para senior ketimbang menyimak pelajaran dari para dosen.

Bersama Koben dan Anka, saya seringkali menghabiskan malam-malam di kampus. Mencari buah-buahan yang matang, mencuri singkong di kebun orang, sampai suatu kali kami pernah mendapati ikan lele menggelepar di sebuah gedung asrama putri.

Koben orangnya kalem, baik hati dan tidak sombong. Dia tipe pria idaman wanita. Sedangkan Anka, laki-laki satu ini, punya kemampuan yang unik. Sinyalnya 4G jika berhubungan dengan mahasiswi. Dia akan tahu jika beberapa menit lagi akan ada mahasiswi yang datang. Saya seringkali merasa menjadi laki-laki juga jika sedang bersama mereka berdua.

Lantai 3 gedung tua itu menjadi saksi bagaimana saya belajar mencatat segala peristiwa. Menyusun sunyi jadi puisi. Menangkap riuh dan gelegak jadi sajak. Saya belajar menangkap kata-kata yang berhamburan untuk dituliskan. Di sana juga, saya mengasah kata-kata menjadi senjata.

Waktu bergulir. Saya melepaskan diri dari kampus, menyusur jalan sendiri. Belasan tahun saya berpisah dengan seluruh penghuni lantai 3. Belasan tahun berpisah adalah belajar memendam rindu, menyimpan baik-baik seluruh kenangan agar bisa dikenang di saat yang tepat.

Koben yang pertama menikah di antara kami bertiga. Dia sempat merantau ke Serang lalu kembali ke Cimahi. Saya sendiri menikah tahun 2009. Selepas menikah, saya menetap di Ciamis. Sedangkan Anka, akhirnya menikah di tahun ini dengan gadis Sukabumi. Sukabumi kini menjadi rumahnya.

Tahun 2016 mempertemukan kami kembali. Lalu muncul keinginan untuk membuat buku bersama. Sebagai pengajar, Koben ingin bukunya menjadi bahan bacaan pelajar. Maka dia memberi gambaran, bahwa cerpen-cerpen yang kami kirimkan untuk buku haruslah layak dibaca oleh pelajar.

Maka buku kumpulan cerpen Cerita Tiga Kota ini adalah bentuk reuni sederhana kami.

Desember 22, 2016

Menjadi Perempuan


Saya atau pun juga Anda, tentu tidak pernah bisa menentukan ingin dilahirkan sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Saya hanya memahami bahwa menjadi perempuan adalah menampung seluruh perasaan yang ada di alam semesta.

Menjadi perempuan adalah memahami seluruh duka nestapa yang dikirim pada seluruh umat manusia. Menjadi perempuan adalah belajar sepanjang hayat untuk selalu ikhlas menerima kepergian, dan terbuka pada segala kedatangan. Anak-anak yang pergi, lalu kembali saat mereka ingin kembali.

Menjadi perempuan tidak selamanya menjadi ibu. Tapi tidak ada perempuan yang tidak lahir dari seorang ibu.

Selamat hari perempuan. Selamat hari Ibu. Selamat hari Ibu. Selamat hari Ibu, untukmu....

November 29, 2016

Buku dan Dapur


Saya rasa, tak banyak orang yang berpikiran bahwa buku itu identik dengan dapur. Buku mungkin lebih identik dengan perpustakaan, ruang keluarga, cafe, atau sejumlah tempat lain yang lebih prestisius dibandingkan sebuah dapur. Namun bagi kami, buku sangatlah erat dengan dapur.

Dapur kami ngebul karena ada penerbit yang mau menerbitkan karya kami menjadi sebuah buku. Saya seringkali terbantu dengan buku-buku yang telah diterbitkan itu. Apalagi jika kondisi sedang terdesak. Kami sudah tak punya uang sama sekali. Sedangkan dalam hati, kami berjanji, bahwa kami sebisa mungkin untuk tidak meminta atau meminjam dalam urusan dapur.

Lalu saya mulai menghubungi beberapa teman yang belum memiliki buku kami. Saya tawarkan buku-buku kami itu kepada beberapa kawan. Dan beruntung, kami punya kawan-kawan yang peduli. Yang mau membeli buku di saat kami sedang terdesak keuangan. Saat itulah, saya seringkali merasa bahwa buku menyelamatkan hidup kami. Dapur kami ngebul kembali.

Suatu hari, tulisan kami tak ada satu pun yang dimuat di media. Ada honor tulisan, tapi entah kapan tiba. Sedangkan hari itu, uang kami hanya tinggal dua ribu rupiah saja. Saya memutar otak, mencoba mengingat, siapa kawan yang belum memiliki buku kami. Tapi saya menyerah.

Entah kenapa, saat itu saya tiba-tiba teringat perpustakaan daerah. Saya pikir, menawarkan buku kami ke perpustakaan adalah ide yang bagus. Kami tinggal di sebuah daerah, dan perpustakaan daerah di kota ini belum memiliki buku kami, yang notabene penulis yang menetap di daerah ini.

Dengan keyakinan penuh, kami berangkat ke perpustakaan. Beberapa pejabat di sana, kami mengenalnya. Sebab ada yang selalu meminta kami menjadi juri lomba dongeng atau juri baca puisi jika perpustakaan sedang memiliki kegiatan.

Sesampainya di perpustakaan, anak-anak kami biarkan membaca di ruangan khusus anak. Kami akhirnya berbincang dengan salah seorang pejabat di sana. Kami mengutarakan maksud kami untuk menjual buku-buku kami ke perpustakaan, agar pembaca yang datang bisa membaca karya penulis dari daerahnya sendiri.

“Di sini, ada agenda rutin untuk membeli buku, ada jadwal khusus. Kami harus mengajukan dulu ajuan anggaran untuk bisa membeli buku baru. Dan biasanya, kami membeli tidak secara eceran.” Begitu jawaban diplomatis dari pejabat perpustakaan itu. “Tapi kami sangat menerima sekali, jika ada yang mau menyumbangkan buku-bukunya.” Lanjutnya lagi.

Sesaat badan saya lemas. Saya berkata, kami tidak butuh dibeli banyak-banyak. Cukup satu eksemplar untuk satu judul. Itu artinya, hanya 3 eksemplar saja. Tapi Ibu itu bergeming. Dia keukeuh, bahwa perpustakaan tidak membeli secara eceran. Kalau mau menyumbang, silakan saja.

Andai ibu pejabat itu mau, cukup dia membeli satu eksemplar buku saja, itu telah membuat dapur kami ngebul kembali. Tapi ibu itu mungkin kurang peka. Dikiranya, penulis macam kami ini mau minta proyek mungkin.

Hari itu, saya masih ingat, kami pulang ke rumah dengan tangan hampa. Dalam tas yang kami bawa, tiga buah buku saling berpelukan.

NB: Terima kasih tak terhingga, untuk kawan-kawan yang berkenan membeli buku kami di saat-saat sulit kami. Kalian adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kami.

November 23, 2016

Mahar dan Sajak

Awal tahun 2009 tak pernah tebersit dalam pikiran saya bahwa saya akan menjadi seorang istri, mengurus rumah tangga, mengasuh anak-anak. Saat itu saya tak pernah punya niat untuk menikah. Saya adalah perempuan yang paling tidak cocok untuk dijadikan seorang istri.

Begajulan, tak bisa memasak, hidup seenaknya saja. Paling tak suka dinasihati. Paling bandel dalam berbagai variasi. Itu juga mungkin yang menyebabkan orangtua menyerah untuk menasehati dan akhirnya membiarkan saya hidup seenaknya.

Lalu menjelang akhir tahun itu, seorang laki-laki yang baru saya kenal tiga bulan terakhir tiba-tiba mengajak saya menikah. Ajakan yang sungguh tak masuk akal. Manusia macam apa yang ingin menjadikan saya sebagai seorang istri?

Butuh waktu satu bulan lebih untuk meyakinkan diri dan menjawab iya. Dan tepat pada tanggal 23 November 2009, kami akhirnya menikah. Maharnya dibeli dengan sebuah sajak yang ditulis olehnya.

Tepat sebulan sebelum menikah, sajaknya mendapat hadiah dari Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS). Hadiahnya langsung dibelikan mahar. Sampai hari ini, saya masih mengingat sajak itu.


Nu Lumampah ti Peuting

Ngimpleng-ngimpleng pangreureuhan
Sabot damar sakarat. Boa lebah janari
dina dzikir reumis
lebah sora ajag nu pamungkas

Ngimpleng-ngimpleng pangreureuhan
Sabot damar sakarat. Boa lebah balébat
Dina salambar halimun
Lebah sora manuk munggaran

Ngimpleng-ngimpleng pangreureuhan
Damar saukur dadamaran
Da léngkah geuning tuluy lumampah
Boa moal kungsi reureuh: duh tatu geus ngakut lukut!

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira begini bunyi sajaknya:

Yang Berjalan Tengah Malam

Membayangkan tempat istirah
Sementara cahaya damar sekarat. Mungkin di dini hari
dalam dzikir embun
pada penghujung suara seekor srigala

Membayangkan tempat istirah
Sementara cahaya damar sekarat. Mungkin pada sebuah fajar
dalam selembar kabut
Pada suara pertama seekor burung

Membayangkan tempat istirah
Cahaya damar cuma bayang-bayang
Sebab langkah mewujud perjalanan
Mungkin tak akan pernah istirah: duh, luka sudah mengakut lumut

November 14, 2016

Bandung dan Banjir

Saya tinggal dan besar di Bandung. Tepatnya di Karang Tinggal Dalam, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi. Dulu, kalau ada yang nanya, saya bandungnya di mana, saya bilang di Sukajadi. Sekarang, kalau ada yang nanya dengan pertanyaan yang sama, jawabnya lebih mudah lagi. Rumah orangtua saya tepat di belakang Mall Paris Van Java atau PVJ.

Meski saya tidak lahir di Bandung, tapi Bandung bagi saya seperti kampung halaman. Saya merasakan bagaimana sejak kecil main hujan-hujanan. Saya masih ingat sampai sekarang, hari itu hari Senin. Saya ke sekolah memakai sepatu baru yang dibelikan ibu. Tepat saat pulang sekolah, hujan turun. Dan saya, saat hujan seperti itu, seringkali memilih pulang daripada menunggu hujan reda di sekolah.

Saat itu, saya buka sepatu baru saya karena takut basah. Saya masukan keresek, lalu kereseknya saya talikan di tas punggung saya. Lalu dengan bahagianya, saya pulang hujan-hujanan. Hujan yang besar membuat saya semakin bahagia. Beberapa teman melakukan hal yang sama. Kami pulang dan hujan-hujanan bersama.

Sampai rumah, saya dimarahi. Tapi ini bukan karena pulang hujan-hujanan. Ini lebih karena sepatu yang saya gantungkan di tas punggung saya raib. Hilang entah ke mana. Mungkin karena ikatannya tak kuat, jadi terlepas begitu saja saat saya terlalu bahagia main hujan-hujanan. Sore itu adalah sore yang paling menyedihkan. Saya kehilangan sepatu baru.

Hari ini, saya mendengar Bandung dilanda hujan besar. Dan jalan-jalan menjelma sungai. Sungai dengan arus yang deras. Anak-anak di Bandung hari ini saya yakin, tak akan lagi merasakan bagaimana indah dan nikmatnya hujan-hujanan.

Hujan di Bandung kini hanya terlihat sebagai ancaman. Sesuatu yang bisa saja menghancurkan rumah, pertokoan, atau menghanyutkan kendaraan dan bahkan membunuh diri kita sendiri.

Lalu saya mengingat, sejak kapan Bandung menjadi mimpi buruk bagi warganya? Saya benar-benar tak ingat. Mungkin sejak Bandung dipenuhi Mall, dipenuhi hotel-hotel, dipenuhi orang-orang rakus. Mungkin.

Saya teringat sumur di belakang rumah yang tak pernah kering meski musim kemarau. Sumur itu, kini selalu kekeringan saat tiba musim kemarau. Adik saya bilang, airnya dilarikan ke Mall semua. Hehehe....

Bandung, oh Bandung!

November 12, 2016

Toni Lesmana dan Tamasya Cikaracak


Toni Lesmana, begitu orang mengenalnya. Beberapa tahun yang lalu, pernah saya merasa sangat bersalah kepadanya. Saya merasa telah membunuh sesuatu dalam dirinya.

Perasaan bersalah itu muncul karena saya memaksanya menulis dalam bahasa Indonesia. Memaksanya menulis dengan bahasa Indonesia berarti membunuh hasratnya untuk menulis dalam bahasa Sunda.

Ya, saya memang memaksanya. Ini bukan semata-mata karena saya tak menyukai dia menulis dalam bahasa Sunda. Bukan. Ini semata-mata karena tuntutan kebutuhan. Menulis dalam bahasa Sunda tak akan bisa menghidupi keluarga.

Satu carpon di Majalah Mangle honornya hanya Rp. 50.000,- saja saat itu. Kalau puisi, lebih murah lagi. Sekarang ada Tribun Jabar yang memuat carpon seminggu sekali, honornya lumayan besar, sama dengan honor cerpen dalam bahasa Indonesia. Tapi masa iya, dia mesti mengirim ke koran yang itu-itu juga?

Hari-hari berikutnya, selepas kami bersama-sama. Dia lebih memilih menulis dalam bahasa Indonesia. Cerpen-cerpen terlahir lebih banyak karena tuntunan biar dapur bisa tetap ngebul. Biar anak-anak bisa tetap jajan seperti teman-temannya yang lain.

Sepanjang tujuh tahun, banyak cerpen terlahir. Seorang teman sempat menawari menerbitkannya menjadi sebuah buku. Saya menangkap kebahagiaan di wajahnya. Penawaran dari seorang teman itu, baginya adalah sebuah pengakuan. Pengakuan bahwa tulisannya dalam bahasa Indonesia mempunyai nilai lebih. Bukan semata-mata nilai materiil yang selama ini didapatnya dari media-media yang memuat cerpen-cerpennya itu.

Dan sepanjang tujuh tahun itu, dalam jedanya menulis cerpen, sesekali dia masih menulis puisi. Baik yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Sunda. Itu sesekali saja. Saat cerpen-cerpen yang ditulisnya mulai terasa kering, mulai terasa biasa-biasa saja. Mungkin.

Puisi baginya adalah jalan untuk berbicara dengan semesta, dengan Tuhan. Momen yang lahir tidak dipaksakan. Pernah sekali, saat dia tak bisa menulis cerpen, entah karena apa, saya memintanya menulis puisi, biar dikirim ke media. Toh, sudah lama juga dia tak pernah mengirim lagi puisi. Dia hanya menjawab, puisi sedang tidak bersamanya. Puisi sedang ada di tempat yang jauh. Tak bisa dijangkaunya.

Malam kemarin, tiba-tiba dia mendekati saya, dia katakan, bahwa royaltinya dari sebuah penerbit sudah ditransfer padahal buku puisinya belum juga terbit. Saat itu, ada yang diam-diam ingin keluar dari dua kelopak mata saya. Tapi saya tahan semampunya.

Saya tahu, ini bukan soal royalti. Ini tentang bagaimana seseorang menghargai puisi-puisinya. Puisi yang baginya adalah jalan spiritual. Jalan untuk mendekatkan dia pada yang maha memiliki. Puisi yang selama ini dia jauhkan dari keinginan untuk dia jadikan sebagai jalan penghidupan.

Jika tak ada aral, bulan depan buku puisinya akan terbit. Judulnya Tamasya Cikaracak. Buku ini yang kelak mungkin akan mengingatkan saya bahwa puisi-puisi di dalamnya adalah bentuk usaha dia untuk tetap menyatakan cinta kepada tanah Sunda, meski ditulis dengan bahasa Indonesia.

Oktober 17, 2016

Masuk Perangkap

Perangkap sedang dipasang. Gas 3 Kg sedikit demi sedikit dihilangkan. Sudah hampir dua bulan gas 3 kg susah dicari. Beberapa pombensin yang biasanya menyediakan gas tersebut, kini selalu bilang tak ada.

Beberapa pombensin dan agen penjual gas sudah mengganti beberapa tabung gas berwarna hijau muda itu dengan tabung gas berwarna merah muda. Tabung gas dengan kapasitas yang lebih besar dari tabung gas hijau muda.

Konon, satu tabung gas berwarna merah muda itu harganya 350.000,-  Itu baru tabungnya. Konon lagi, isinya akan dijual 65.000,-/tabung. Dan gas merah muda ini katanya tidak akan disubsidi oleh pemerintah.

Peralihan ini nyaris tak disadari, sebab tentu saja, banyak di antara kita, lebih asyik mengamati Pilkada DKI, Persidangan Jesica, penggandaan uangnya Kanjeng Dimas, dan hal-hal yang lebih menarik lainnya, daripada harus memikirkan sebuah tabung gas 3 kg.

Kelak, saat tabung gas 3 kg sudah sedikit demi sedikit tergantikan oleh tabung gas merah muda, pemerintah akan mengumumkan bahwa gas 3 kg akan ditarik. Dan masyarakat dipaksa untuk hanya memakai gas dengan tabung merah muda saja. Subsidi rakyat miskin dihapuskan.

Saat itu tiba, semua sudah terlambat. Demonstrasi mahasiswa hanya akan jadi buah cibiran saja. Protes-protes hanya jadi angin lalu. Kita sudah terjebak. Sudah terlanjur masuk perangkap.

Saat itu tiba, saya membayangkan, bagaimana pedagang-pedagang keliling itu terpaksa harus membuat gerobak dorong, sebab mereka tak mungkin memikul tabung gas dengan ukuran dan berat yang lebih besar.

Lalu saya membayangkan, saya harus kembali memakai kayu bakar agar dapur kami bisa ngebul. Sebab 65.000,-/tabung adalah harga yang terlalu tinggi untuk kami beli.

Tapi, semoga saja, ini hanya bayangan yang tak akan terjadi. Mimpi buruk dari seorang ibu rumah tangga yang ketakutan akan masa depan dapurnya. Akan masa depan negerinya.

Oktober 14, 2016

Kematian

Begitu hening kematian itu. Langkahnya seperti pencuri yang mahir, mengendap-endap, tak ada yang bisa mendengarnya. Di antara kita, siapa yang akan lebih dulu bertemu? Tak pernah ada yang tahu.

Kematian bersijingkat, pelan tapi pasti, merasuk ke dalam rasa sakit, kecelakaan, banjir bandang, longsor, puting beliung, kebakaran, kelaparan, peperangan, genosida. Namun seringkali, kematian benar-benar senyap. Dia datang begitu saja pada mereka yang tengah khusyuk beribadah, tertidur lelap, atau bahkan duduk-duduk minum kopi.

Dia, kematian itu, tak pernah memilih agama, warna kulit, usia, jenis kelamin, jabatan, keahlian, bahkan kepintaran. Dia datang pada siapa saja yang dikehendakinya. Anak-anak. Orang tua. Anak muda. Si Kaya. Si Miskin. Kita begitu awam di hadapan kematian.

Beberapa detik setelah kematian datang, kita yang hidup baru disadarkan. Bahwa seseorang di dekat kita sudah tak ada. Sekejap. Hanya sekejap. Begitu tak terduga.

Tangis kehilangan, tangis kesedihan, tangis perpisahan, tangis kengerian, tangis-tangis pecah begitu saja. Seringkali kita yang hidup berlarut-larut dengan rasa kehilangan dan ditinggalkan. Seringkali kita yang hidup terus-menerus memelihara ingatan pada mereka yang meninggalkan.

Kita yang hidup seolah merasa lebih beruntung karena masih bisa menjaga tubuh tetap bernafas. Masih bisa ngopi, masih bisa makan makanan favorit, masih bisa meraih cita-cita yang diimpikan, masih bisa, masih bisa, dan masih bisa lainnya.

Padahal dalam hati kecil kita yang hidup, diam-diam kita berucap lirih, sungguh beruntung si fulan karena dia sudah tak ada. Dia tak akan lagi dikejar hutang, tak akan lagi dikejar cicilan di bank, tak akan lagi berpikir mau makan apa besok pagi dengan uang yang tinggal goceng, tak akan lagi berpikir apakah Ahok akan menang Pilkada DKI.

Mereka yang telah berjumpa kematian adalah mereka yang telah merdeka dari hal-hal remeh-temeh dunia. Terlepas dari perdebatan tak usai-usai di media sosial. Terlepas dari beban bahwa bumi ini semakin hari semakin rusak, dan kelak dia tak layak dihuni manusia lagi.

Lalu kehidupan setelah kematian? Kita yang hidup hanya bisa menduga-duga. Apakah mereka benar-benar merdeka dan bahagia setelah berjumpa kematian, ataukah sebaliknya.


Kita hanya perlu menginsyafi diri, bahwa di hadapan kematian, segala kepintaran, kekayaan, dan kesombongan kita benar-benar tak ada artinya.  

Oktober 08, 2016

Menikah Itu ....

:untuk E Imam Rakhman dan Desi Rahmayanti

Menikah itu seperti mendaki gunung. Mendaki gunung berdua, meretas jalan baru yang tak pernah terinjak orang lain sebelumnya. Begitulah saya memberi perumpamaan. Kami berdua asing satu sama lain pada awalnya. Ada perasaan aneh dalam diri saya saat terbangun dan menyadari ada seseorang di tempat tidur. Rasa asing itu juga saya rasakan pada banyak hal.

Membuka jalan baru dengan ransel yang tidak bisa dibilang ringan, tentu bukan hal mudah. Dalam ransel saya ada tanggung jawab seorang istri. Di dalam ranselnya, ada tanggung jawab seorang suami. Beban dalam ransel itu benar-benar baru. Dan kami harus memikulnya sendiri-sendiri. Ransel yang saya pikul tak mungkin dia bawakan, begitu pun sebaliknya. Kami punya peran masing-masing dalam pendakian ini.

Seringkali kami merasa terlampau lelah untuk melanjutkan perjalanan. Lalu kami memutuskan istirahat sejenak. Pernah beberapa kali kami harus membuka tenda bukan pada tempatnya. Sebab cuaca dan terjal jalan membuat kami membangun tenda darurat.

Pengertian adalah peta yang akan menunjukkan sebuah titik yang ingin kami tuju. Kesabaran adalah senter yang akan menerangi kami dalam kondisi paling gelap sekali pun. Dan komunikasi adalah kompas yang akan memberi arah ke mana kami harus melangkah. Pendakian kami hanya sia-sia tanpa itu semua.

Sepanjang pendakian itulah, kami merasakan bagaimana rasanya kehabisan perbekalan. Bagaimana pada satu ketika kami bersitatap dengan hewan buas. Bagaimana rasanya cuaca yang tak bersahabat menghajar tubuh kami sampai babak belur.

Namun kelelahan itu, kesulitan itu, begitu mudah terlupakan saat kami sudah membuka tenda, membuat perapian, menyeduh kopi, menatap bintang-bintang di langit.

Jutaan bahkan ribuan bintang itu seolah berkata, bahwa kami adalah manusia paling beruntung. Karena kami dipertemukan dan diberi kesempatan untuk bisa berdua, menuju sebuah puncak yang sama.

Kini kami sudah berempat. Dua bocah mungil di samping kami masih menggendong ransel mungil. Isinya hanya air dan makanan. Jika mereka haus dan lapar, mereka tak lagi hanya bisa menangis.

Puncak yang kami tuju masihlah jauh. Masihlah tinggi. Tapi kami masih terus mencoba menapakinya. Dengan senter, peta, dan kompas yang sama sejak pendakian ini dimulai.

Dan besok, besok adalah hari istimewa untukmu, untuk kalian berdua. Kami tak bisa hadir di sana. Menyaksikan bagaimana kalian bersatu dalam satu ikatan. Namun percayalah, kebahagian kalian berdua adalah kebahagiaan kami juga. Doa kami tercurah untuk kalian, sepasang pengantin yang berbahagia.


Selamat mendaki kehidupan. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Catatan ini kami buat sebagai hadiah untuk kalian berdua.

September 23, 2016

Kota Ini Asing Tanpamu

:Ridwan Hasyimi

Malam ini aku terjaga. Mengingat hari-hari yang panjang dan melelahkan, mengingat bencana yang datang tanpa terduga, dan tiba-tiba aku mengingatmu. Entah kenapa, beberapa malam ini, aku selalu mengingatmu. Seringkali aku terbangun, dan dalam mimpiku kau berpaling. Saat itulah, aku tiba-tiba merasa kehilangan.

Malam ini, aku ingin membuka sebuah rahasia. Rahasia yang kusimpan bertahun-tahun dan tak seorang pun mengetahuinya. Aku telah lama menyayangimu, mungkin jauh sebelum kau menyadari bahwa aku ada. Dalam kelebihan, aku selalu memanggilmu, berharap kau datang, membuka pintu, lalu kita bercerita tentang apa saja.

Aku bahagia saat diam-diam kau lahap memakan apa yang kumasak.  Aku tenggelam saat kau bercerita tentang hari-hari yang seringkali pelik di tanganmu. Entahlah, sejak dulu, aku selalu berharap bisa menjadi ibu bagi rasa cemasmu. Dalam kesempitanku, seringkali aku memintamu datang, meminta bantuanmu, meminta hal-hal yang sesungguhnya tak layak kuminta darimu.

Aku seringkali merasa, bahwa tanpamu, aku tidaklah menjadi apa-apa di kota asing ini. Tanpamu, aku selalu merasa betapa kesunyian ini tak punya alamat lagi. Seringkali, saat aku mendengar kisahmu, aku merasa bahwa kesunyianmu adalah kesunyianku juga. Aku merasa bahwa kita datang ke kota yang salah. Kota yang selalu menolak siapa saja yang mencoba untuk mencintainya seperti cinta seorang kekasih kepada kekasihnya.

Padamulah aku menyimpan banyak harapan. Kepadamu aku berharap kota ini kelak menjadi kota yang tak lagi asing. Aku seringkali memintamu untuk pergi, menjelajahi kota-kota lain, agar kau bisa memberi kado istimewa untuk kota ini. Namun kau adalah orang yang teguh pendirian. Kau ingin mencintai kota ini dengan caramu sendiri. Tanpa tendensi. Tanpa pretensi.

Kini, aku melihat semua usahamu mulai bertunas. Cintamu kepada kota ini tumbuh semakin tinggi. Saat itulah, aku merasa, bahwa cintaku kepadamu semakin besar. Cinta ini akan senantiasa ada. Untukmu. Meski kelak kau merasa tak lagi membutuhkannya.

September 20, 2016

Teater dan Kebahagiaan


Nanti sore adalah pentas kami terakhir di Ciamis. Tak terasa, sudah tujuh hari kami mementaskan Kalangkang. Naskah yang berbulan-bulan kami masuki, berusaha mencari inti rasa sakit, kecewa, penyesalan, juga kesunyian dari tokoh-tokoh yang kami perankan. Seringkali kami merasa gagal, dan hanya beberapa saja kami merasa berhasil.

Jadwal pementasan yang panjang, membuat kami menyadari, energi kami haruslah besar. Perlu lebih banyak kesabaran, perlu lebih luas lagi pemafhuman, perlu lebih dalam lagi saling memahami antar pemain. Tidak jarang kami saling mengutuk. Memaki karena si A begitu keras kepala, dan si B begitu sering memendam kecewa. Betapa si Z lebih sering melucu, dan si Y lebih sering menangis. Semuanya berkelindan. Membangun hari-hari yang ajaib.

Namun selebihnya, adalah kebahagiaan tak terkira. Bukan, bukan karena tiket kami banyak yang terjual. Bukan itu. Sebab sebanyak apa pun tiket terjual, nyatanya, kami hanya cukup dihonori selembar kaos. Selain karena sisa uang yang hanya cukup untuk kaos, kami juga seringkali merasa mesti menyisipkan sedikit sisa uang untuk pementasan selanjutnya, setelah uang tiket itu dipakai membayar sewa lampu, konsumsi, membeli tata rias, dan tetek-bengek lainnya.

Kebahagiaan kami begitu sederhana, kami merasa bahwa bermain teater nyatanya lebih mudah dibandingkan menjalani kehidupan kami yang sebenarnya. Kami hanya perlu memainkan apa yang dituliskan dalam naskah. Sedang kehidupan?

Kesadaran itu pula, mungkin, yang membuat penata musik garapan ini melakukan apa yang tidak bisa saya lakukan jika saya berada dalam posisinya kemarin. Neneknya meninggal, dia harus berada di lokasi pemakaman tepat saat pementasan.

Tanpa sepengetahuan kami, dia merekam apa yang mestinya dia lakukan di atas panggung. Dia cukup memberikan beberapa panduan jarak jauh sebelum pementasan. Dan kami berhasil melakukannya. Pementasan tetap berjalan tanpa kehadiran tubuh penata musiknya. Namun suaranya, energinya, tetap hadir di antara kami.

Kebahagiaan lainnya adalah, bahwa penonton yang kebanyakan pelajar itu, begitu apresiatif. Mereka mengikuti pementasan dengan khidmat. Selepas pertunjukan, banyak yang mengajukan pertanyaan dengan penuh antusias. Diam-diam kami berdoa, semoga di antara mereka ada yang jatuh cinta pada seni peran, lalu tertarik untuk terlibat dalam garapan berikutnya.

Pada akhirnya, dari garapan Kalangkang ini, kami belajar untuk mengatakan pada diri kami sendiri, bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diciptakan bukan dicari-cari. Seperti apa yang dikatakan Bi Isah, salah satu tokohnya, bahwa, “Kabagjaan horeng aya ku diciptakeun, lain diteangan.”

September 09, 2016

Ulang Tahun Iqbal


Hari ini Iqbal ulang tahun. Awalnya, kami ingin berpura-pura lupa bahwa ini adalah hari ulang tahunnya. Kami akan menjalani hari ini seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi niat itu cukuplah jadi niat. Sebab sehari sebelum hari ini, Iqbal bertanya, apakah benar besok adalah hari ulangtahunnya? Kami tak mungkin bisa berbohong. Dan tak ingin membohonginya. Berbohong dan pura-pura tak mengingat itu jelas dua hal yang berbeda. Hehehe....

Sejak bulan Juli, Iqbal selalu bertanya, kapan dia berulang tahun? Kami selalu menjawab, masih lama. Bulan Juli adalah bulan kelahiran sahabatnya, rumahnya berada tepat di depan rumah kami. Kami penasaran dan bertanya, kenapa dia melulu bertanya kapan ulang tahunnya. Iqbal menjawab, dia ingin meniup lilin seperti sahabatnya. Iqbal ingin kue ulang tahun.

Pertanyaan Iqbal tak pernah berhenti. Sampai seminggu yang lalu, dia masih bertanya dengan pertanyaan yang sama, kapan dia berulang tahun?

Kami menjawab, sekembalinya saya dari Bandung, ulang tahunnya sudah dekat. Dan saat saya pulang ke Ciamis di hari Minggu pagi, Iqbal masih juga melontarkan pertanyaan yang sama. Kapan dia akan ulang tahun?

Saat itu, tanpa berpikir banyak hal, saya menjawab, ulang tahunnya lima hari lagi. Lalu dia bertanya lagi, apakah dia akan mendapatkan kue ulangtahun seperti sahabatnya? Lalu apakah dia akan meniup lilin?

Saya sempat ragu menjawabnya. Saya ragu, kami sebagai orangtuanya bisa memenuhi keinginannya atau tidak. Tapi saat itu, akhirnya saya jawab juga, bahwa dia akan meniup lilin di atas kue ulang tahunnya.

Sejak hari itu Iqbal tak pernah bertanya lagi, kapan dia akan berulang tahun. Dan tepat sehari sebelum ulang tahunnya tiba, dia kembali bertanya, apakah besok benar adalah ulang tahunnya? Apakah besok saya akan membelikan kue ulang tahun untuknya?

Saya yang pernah menjanjikan untuknya sebuah kue ulang tahun, tentulah kelimpungan. Jangankan untuk kue ulang tahun, tempat penyimpanan beras kami, sudah beberapa hari ini kosong.

Pada titik inilah, saya merasa menjadi orangtua yang gagal. Orang tua yang tak bisa memberikan kebahagiaan kecil kepada anaknya. Orang tua yang terlalu mudah memberi janji, tapi lupa menepati.

Malam menjelang ulang tahunnya, saya berlatih teater dengan ingatan yang kacau. Memikirkan bagaimana menghadirkan sebuah kue ulang tahun untuk besok. Tentu, saya tak ingin memberikan hadiah ingatan yang buruk untuk Iqbal di hari ulang tahunnya, dengan tidak menepati janji saya.

Dan hari ini, melalui tangan seorang kawan, akhirnya kami bisa menghadirkan sebuah kue ulang tahun sederhana. Hari ini, di hari ulang tahunnya, Iqbal akhirnya bisa meniup lilin. Sesuatu yang sejak lama dia nantikan.

Iqbal meniup lilin disaksikan beberapa temannya. Tak ada kado. Hanya kue. Hanya melingkar. Iqbal meniup lilin, lalu selepas itu, semua makan kuenya sampai habis.

Selamat enam tahun, Nak!
Dunia seringkali memberi kita kejutan.
Ada banyak kado istimewa di balik setiap kejutannya.
Kelak, kau akan mengerti, kado-kado itu adalah hadiah langsung dari Tuhan, untukmu. Hanya untukmu.

Hutan untuk Masa Depan: Kisah Inspiratif A'ak Abdullah Al-Kudus

Beberapa bulan ke belakang, tepatnya bulan Maret 2023, kawasan hutan Lindung Ranca Upas rusak, hamparan bunga rawa tak bersisa. Kerusakan ka...